
Saat memasuki bagian mansion utama tepatnya di ruang keluarga, ternyata sudah banyak orang yang berkumpul. Lawrence Family, hari ini untuk kedua kalinya Jessie melihat mereka lagi di satu tempat.
Jangan lupakan Rebecca dan orang tuanya. Kejutan mereka juga ada disini. Namun ada dua orang yang baru dilihatnya.
Mereka semua berdiri dengan senyum menyambut kehadirannya. Bukan ia, tapi ....
"Sir. Xavier, maaf tidak menyambut sebelumnya. Kami tidak tahu jika anda kemari." Mrs. Maurice menyapa lebih dulu, "ini anak dan cucuku." Mulai menunjuk satu-persatu.
Jessie jadi mengetahui dua orang yang baru dilihatnya hari ini merupakan Mr. Arthur Lawrence dan istrinya, Mrs. Julia Lawrence. Keduanya juga orang tua kandung dari Ellard yang sekarang berdiri di sebelahnya.
Xavier terlihat malas meladeni mereka. Terlalu banyak omong kosong dan bicara. Mereka semua tak lebih dari seorang penjilat.
Mungkin hanya Rexanne yang banyak diam diantara yang lain.
"Kita bertemu lagi, Sir. Xavier," sapa Austin.
"Jessie, apa yang kau lakukan dengan berdiri disana. Pergilah ambil air untuknya!" kata Julia.
"Aku?" tanya Jessie bingung. Ada banyak pelayan, apakah harus dirinya?
"Tentu saja!"
Jika tidak ingat statusnya masih seorang pesuruh, mungkin Jessie sudah pergi tanpa memperdulikan yang lain.
Baru saja berdiri, Xavier sudah menarik lengannya agar duduk kembali. Yang lain cukup terkejut melihatnya.
"Kau baru saja memerintah istriku?" tanya Xavier dingin.
"Istri?" Wanita itu kebingungan, begitupun dengan Maurice yang mengerjit.
"Ah! Sepertinya ada kesalahpahaman. Begini ... Sir. Xavier telah menikah dengan Jessie sejak setahun yang lalu," jelas Austin.
"What?!" pekik Julia.
"Kenapa? Kalian tidak suka?" tanya Xavier lagi.
"Bukan begitu, Sir. Istriku hanya terkejut." Arthur ikut menengahi.
"Luar biasa," ucap Maurice mengalihkan pandangan orang-orang, "aku juga terkejut, Sir. Xavier. Suamiku benar. Kemampuan Jessie tidak biasa," katanya tersenyum. Namun jelas terdapat sindiran dalam ucapannya.
Jessie lebih beruntung daripada Lawrence sendiri, bukan?
"Aku penasaran bagaimana tanggapan Lawrence."
"Apa itu penting? Lawrence sudah menikah dengan pilihannya sendiri. Kenapa tanggapan dia perlu?"
"Menikah? Lawrence sudah menikah?!" Kali ini semua ikut terkejut tak terkecuali Austin dan keluarganya.
Pantas saja tuan besar sudah menyerahkan kekuasaan padanya. Lawrence diam-diam sudah bertindak!
-
-
-
-
"Maaf soal perlakuan keluargaku, Jess," ucap Ellard, "mereka memang keterlaluan."
Ketiganya sudah berada diluar untuk kembali ke hotel.
"Xav," tegur Jessie. Ia cukup lelah hari ini. Mungkin akan langsung tidur setelah sampai.
Baru saja Xavier membukakan pintu mobil untuknya, seseorang sudah berteriak dan memeluknya.
"Mamaa!" Buk, "jangan tinggalkan, Naomi."
"Naomi!" Jessie kaget.
"Bocah ini lagi!" desis Xavier kesal.
Ellard sendiri langsung mencari sekitarnya pemilik bocah ini, tapi tidak ada.
"Xav, biarkan saja," bujuk Jessie. Ia semakin tidak tega dengan gadis kecil ini. Padahal hanya ingin mama, tapi seperti mengemis demi keinginannya.
Dengan lembut Jessie membawanya ke gendongannya dan membersihkan sisa air mata yang sudah lengket di wajahnya. Sudah seberapa sering Naomi menangis hingga hidung dan matanya memerah.
"Mama— " Suaranya hampir menghilang. Jessie nyaris ikut menangis melihatnya.
Ibumu sudah berkorban untukmu, Sayang. Kau seharusnya bahagia agar ibumu senang.
Tidak terbayang rasa sakitnya jika suatu hari anak yang dilahirkannya harus memiliki keadaan seperti ini. Dirinya pasti akan menderita.
Tapi bagaimana caranya agar anak ini mau mengerti?
"Naomi. Kau harus kembali pada papamu ya," pinta Jessie.
"Naomi ingin ikut mama," cicitnya.
Xavier hampir bicara lagi, tapi Jessie memberi kode untuk diam.
"Jess! Naomi!"
"Ck! Ini dia orangnya," ujar Xavier malas.
Alroy datang dengan tergesa-gesa. Nampaknya ia kehilangan putrinya lagi.
"Ini bukan ulahku, sungguh!" katanya dengan nafas memburu, "dia menghilang lagi."
Aku percaya, batin Jessie.
Anak ini memang tidak biasa. Meski masih kecil tapi ia pintar.
"Biarkan aku membawanya. Aku janji akan menjaganya."
"Apa?" serentak Alroy dan Xavier. Ellard memilih diam tak mau ikut campur.
"Sayang—"
"Tapi Jess—"
"Kau tidak bisa menjelaskan padanya, kan? Biar dia bersamaku selama aku disini. Aku akan menjelaskan dengan perlahan."
Setelah diam beberapa saat sambil memandangi putrinya yang tak mau menatapnya, dengan berat hati Alroy akhirnya menyetujui.
"Jangan merepotkankannya!" peringat Alroy pada putrinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...