De Lawrence : Ambisi Masa Lalu

De Lawrence : Ambisi Masa Lalu
Kau Bodoh?!


"Ingin pergi tanpa memberitahuku, hm?"


Xavier memeluk istrinya dari belakang, tak lupa memberi gigitan kecil di telinganya.


"Tidak. Aku akan memberitahumu setelah kau datang." Sembari menyentuh telinganya yang geli.


"Aku bahkan belum mengatakan iya, kau sudah mengemas barangmu?"


"Kau tidak mengizinkan?" Jessie bertanya balik.


"Tidak!" Xavier mendorong istrinya ke ranjang dan menindihnya, "aku ingin bayi," bisiknya mulai memberi banyak kecupan singkat di wajah Jessie.


Jessie nampak membeku sesaat. Akhirnya perkataan itu keluar lagi dari mulut suaminya setelah setahun ini Xavier memendam. Jessie menggigit bibir bawahnya khawatir.


"Xav ..." Jessie mencoba bicara di tengah cumbuannya.


"Aku membatalkan tiket pesawatmu," ungkap Xavier kemudian. Jessie terkejut dan melepas ciuman Xavier di lehernya.


"Why?!" tanya Jessie tidak suka, "ada pekerjaan yang harus ku—"


"Aku tidak peduli dengan pekerjaanmu," potong Xavier mulai menekan bibirnya kembali.


"Xav!" Mendorong dada pria itu.


Xavier tersenyum miring. "Sudah berani meninggikan suara padaku?" Leher ini sangat pas di genggamannya. Ia bisa mencekiknya hingga wanita di bawahnya ini mengerang.


"Ada apa denganmu?" Jessie merasa ada yang salah dengan Xavier bahkan ciuman darinya sedikit kasar dari biasanya.


"Aku tidak mengizinkanmu pergi jauh dari sini," katanya tak dapat dibantah.


"Aku tidak pergi untuk bermain, tapi—"


"Jika kubilang tidak, maka tidak!" potong Xavier lagi.


Jessie menghela nafas sesaat kemudian mendekati suaminya yang telah bertelanjang dada itu. Terlihat juga tato yang digambar memanjang dari pinggang hingga bahunya.


"Ada sesuatu yang mengganggumu? Tak ingin bercerita?" Memeluk tubuh Xavier dari belakang.


Xavier masih sibuk menyesap sebatang nikotin itu dan mengabaikan istrinya.


"Aku hanya pergi sebentar mengurus dokumen Lawrence di kantor pusat di Finlandia. Paman Edgar tidak bisa selalu menemuiku. Dia tidak boleh meninggalkan tuan besar." Lengah sedikit saja, tidak tahu hal nekat apa yang akan terjadi pada penguasa tertinggi itu.


Xavier hanya melirik namun masih mendengarkan. Meski begitu ia tak berniat untuk merespon.


Melihat itu, Jessie melepas pelukannya. Ia merebut sebatang rokok itu dari tangan Xavier yang langsung mendapat tatapan tajam pemiliknya.


Meski wajah itu tampak dingin dengan mata setajam elang, Jessie tidak takut. Bukan membuangnya atau menukar dengan perman seperti yang pernah ia lakukan dulu, Jessie justru ikut menyesap benda itu di mulutnya. Xavier sampai terkejut dibuatnya.


"KAU BODOH?!" bentaknya, mengambil rokok itu dan mematikannya segera.


"Aku sudah lama menjadi bodoh," jawabnya sambil menatap sisa rokok itu.


Tatapannya kini membalas Xavier tak kalah tajam.


"Jika kau ingin mati, aku akan ikut mati bersamamu." Mata itu mengkilat basah namun Jessie tidak membiarkan genangan air tertinggal lama disana.


"Hentikan omong kosongmu," datar Xavier. Ia sudah tak tega tapi wanita itu menampakkan wajah tak kalah darinya. Lihat air mata yang tidak pernah dibiarkannya keluar itu. Sebegitu tidak bergunanya kah dirinya untuk wanita itu sehingga masih menahan diri bersamanya?


"Kau kesal padaku karena pekerjaanku atau karena aku belum mampu memberimu bayi? Atau keduanya?"


Ia tidak kesal pada keduanya. Xavie hanya takut! Takut jika wanita itu tidak kembali lagi padanya. Xavier sekuat mungkin menjaga wanita itu agar tetap disisinya.


Dengan bayi Xavier berpikir itu akan semakin mengikat hubungan mereka.


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...