
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Rei berlari di lorong lantai satu. Setelah ia sampai di depan kamarnya Mizuki, Rei pun menghentikan langkahnya. Lalu ia membuka pintu kamar Mizuki dengan cepat.
"Mi–Mizuki!" Nafasnya yang masih terengah-engah itu memanggil nama teman perempuannya.
Serontak semua yang ada di dalam sana langsung menengok ke arah Rei. Ternyata semuanya sudah ada di kamarnya Mizuki. Setelah mereka melihat Rei datang, Dennis memberikan jalan, begitu juga dengan yang lainnya agar Rei bisa menghampiri Mizuki.
Terlihat sosok Mizuki yang sedang duduk di atas tempat tidurnya. Menghadap ke tembok dan membelakangi teman-temannya. Rei melangkah perlahan menghampiri Mizuki lalu sebelum ia menyentuh atau menegur Mizuki, Rei ingin memastikan keadaanya dulu. Karena sedari tadi, Mizuki terus duduk terdiam dan termenung seperti itu.
"Apa yang telah terjadi pada Mizuki?" tanya Rei pada semuanya.
Akihiro menggeleng lalu menjawab, "Kami tidak tahu. Cobalah kau hibur dirinya."
"Menghiburnya? Memangnya apa yang sudah kalian lakukan pada Mizuki?!" bentak Rei. "Apa kalian telah membuatnya bersedih?"
Seketika semuanya tersentak. Lalu mereka menjawab cepat, "Tidak, kok! Tidak!"
Rei terdiam sambil menatap dingin pada teman-temannya. Lalu ia kembali berbalik badan. Ia mengangkat tangannya untuk menyentuh pundak Mizuki. "Mi–Mizuki... kau baik-baik saja, kan?" tanya Rei lirih pada teman perempuannya itu.
"Kau tidak usah mengkhawatirkan aku, Rei."
Mizuki berujar pelan. Rei hanya mendengarnya sedikit saja. "Apa yang kau katakan?" tanya Rei.
Mizuki tidak menjawab. Rei ingin melihat wajah Mizuki yang terus membelakangi dirinya itu. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja Rei mencium bau sesuatu yang enak. Rei sepertinya tahu dengan bau itu. "Eh, ini kan aroma dari..." Rei bergumam di dalam hatinya.
Setelah Rei bergumam seperti itu, tiba-tiba saja Mizuki kembali berkata sesuatu pada Rei. "Kau jangan mengkhawatirkan aku. Karena..." Mizuki berbalik badan dengan cepat, lalu tersenyum ke arah Rei. "... Aku ini baik-baik saja, kok! Tada~"
Mizuki menunjukan dan memberikan sesuatu pada Rei. Rei terkejut saat melihat benda yang Mizuki berikan padanya itu. Lalu tak lama kemudian, semua orang yang ada di belakang Rei juga ikut bersorak.
"Ba–bagaimana kalian bisa tahu?" tanya Rei ragu. Pipinya sedikit memerah dan lirikan matanya tidak menatap langsung ke lawan bicaranya. Rei benar-benar terkejut. Karena sesuatu yang Mizuki berikan itu adalah semangkuk kecil Sup kari ayam kesukaannya Rei!
"Karena... kau adalah teman kami yang terbaik! Pastinya kami tahu, lah!" Mizuki melebarkan senyumnya. "Ini ambilah! Tanganku mulai pegal tahu memegang mangkuk ini melulu!"
Rei tersentak, lalu ia mengambil semangkuk makanan kesukaannya itu dari tangan Mizuki. Lalu setelah itu, Rei berbalik badan. Ia kembali terkejut saat tiba-tiba saja ada beberapa mangkuk lainnya yang menghampiri Rei. Semua temannya ternyata memegang satu mangkuk berisi Kari Ayam itu!
"Ba–banyak sekali?!"
"Tentu saja. Biar kau tidak balik lagi ke kantin. Kan enak bisa kenyang langsung, hehe..." Jawab Akihiro. Lalu ia mensipitkan matanya dan tersenyum miring. "Aku tahu kau pasti akan menyukai makanan ini, kan?" lanjut Akihiro.
Rei menghembuskan nafas pelan, lalu tersenyum kecil. "Iya, iya. Aku mengakuinya!"
"Haha... makanan pilihanku itu memang tidak salah! Kau sih orangnya tidak pernah percaya padaku!"
"Iya, kau memang selalu benar."
"Oh, baiklah! Kalau begitu, saatnya kau makan ini semua, Rei! Ayo duduk di bawah." Ajak Mizuki sambil menarik lengan Rei untuk mengajaknya duduk di lantai. Rei menurut. Begitu juga dengan semuanya. Mereka duduk di lantai bersama, lalu semuanya meletakan mangkuk berisi makanan kesukaan Rei itu tepat di depan penggemar makanan itu, yaitu Rei.
"Banyak sekali! Aku tidak mungkin bisa menghabiskan ini semua." Gumam Rei.
"Tenang saja. Kan masih ada perut aku yang siap untuk menerima makanan itu." Jawab Akihiro santai.
"Iya! Sekarang kan sudah ada banyak. Kau bisa makan sepuasnya, kak Rei!" timpal Dennis.
Rei tertawa kecil, lalu ia mengangkat satu mangkuk dan menyentuh sendok yang sudah ada di dalam mangkuk itu. Rei akan memakannya, tapi sebelum itu ia kembali bertanya, "Bagaimana kalian bisa tahu kalau aku sudah mulai suka dengan makanan ini?"
"Hehe... itu berkat si kembar." Jawab Dennis.
"Maksudmu Rashino dan Nashira?"
"Iya." Dennis mengangguk. "Mereka bilang kalau Kak Rei mau makanan ini lagi. Jadi... kami berikan saja langsung pada kakak. Langsung banyak seperti ini agar Kak Rei bisa puas dan tidak kembali lagi ke kantin."
"Haduh... dasar si kembar itu!" Rei menggerutu di dalam hatinya. Ia senang karena teman-temannya telah memberikan makanan kesukaannya itu untuk dirinya. Rei jadi terharu. Ternyata teman-temannya bisa sebaik ini padanya.
"Oh iya, kak Rei? Jangan lupa untuk belajar, ya? Nanti supaya kakak bisa dapat rangking pertama lagi di bimbel nanti sore." Ujar Dennis.
Rei melirik ke arah Dennis dan menjawab, "Sebaiknya aku memang belajar. Tapi dengan mendapatkan rangking satu itu sudah mencukupi kepuasanku. Sekarang... aku ingin kalian semua bisa menyusul diriku juga!"
"Emm... tapi bagaimana caranya?" tanya Akihiro dengan nada mengeluh. "Rangking ku tadi masa dapat urutan ke 14, sih?"
"Kalau Adel dapat peringkat 13."
"..." Yuni masih diam. Tapi setelah ia mendengar semua temannya telah memberitahu rangking mereka, akhirnya Yuni juga ikutan. "Aku rangking 5."
Rei mengacungkan jempol pada Yuni setelah ia memberitahu rangkingnya. Lalu setelah itu, Rei kembali berujar, "Itu semua bagus. Yang penting kalian tidak ada yang dibawah 20. Sekarang... aku sedang geregetan sama rangkingnya Dennis, nih! Dia sudah masuk urutan ke 4, loh! Dan sekarang... untuk Dennis, kau akan aku buat menjadi anak yang akan bisa mengalahkan aku." Kata Rei pada Dennis.
Dennis terkejut mendengarnya. Ia tertawa kecil sambil memainkan rambutnya. "Ah, tidak usah, kak Rei. Lebih baik aku belajar sendiri saja, deh!"
"Tidak bisa! Aku ingin kalian semua bisa mengalahkan rangking ku. Akan aku ajar kalian semua sampai masuk 5 besar di Ujian Akhir Semester kali ini. Karena aku ingin kalian semua lulus bersama-sama."
Seketika semuanya mengeluh. Mereka saling melirik satu sama lain. Lalu tak lama, mereka mengangguk pelan untuk menjawab perkataan Rei tadi.
"Baguslah. Sekarang, usahakan sebisa kalian untuk mendapat rangking 10 ke atas di bimbel sore ini!"
"Ba–baiklah, Rei!"
"Yosh! Aku juga akan berusaha untuk memberikan yang terbaik pada kalian dan juga diriku."
****
Sore harinya–
Semua sudah kembali ke kelas mereka masing-masing untuk mengikuti bimbel pertama mereka. Bimbel ini hanya dilaksanakan selama 7 hari sebelum Ujian Akhir Semester itu dilaksanakan.
Bimbel ini hanya tambahan ilmu saja untuk semuanya. Karena para murid pastinya tahu kalau Ujian Akhir Semester kali ini tidak akan mudah. Karena... dengan Ujian itu diadakan, mereka bisa mengetahui apakah mereka masih bisa naik kelas atau tidak.
Bimbel pertama sore ini adalah mata pelajaran Matematika. Selalu pelajaran tersulit terlebih dahulu.
Saat ini, guru matematika khusus sedang menerangkan beberapa materi. Papan tulis penuh dengan angka dan rumus-rumus. Semuanya berusaha untuk menelaah isi dari rumus tersebut.
Saat jam 5 sore, Guru matematika itu selesai menerangkan. Lalu sekarang, saatnya memberikan beberapa soal yang harus semua murid isi di atas kertas dan buku mereka. Pada akhirnya, mereka semua harus menggunakan semua kemampuan otak mereka untuk mengerjakan beberapa soal yang telah diberikan itu.
****
KRIIIING... KRIIIING... KRIIING....
"Letakan pensil kalian! Sekarang tinggalkan kertas kalian di atas meja dan kalian boleh kembali ke kelas." Ujar si Guru matematika setelah mendengar bel berbunyi sebanyak 3 kali.
Semua murid menurut. Kelas pun diakhiri, dan mereka semua pergi meninggalkan kelas lewat pintu belakang. Sementara guru matematika yang masih berada di kelas itu, mengambil kertas soal dari meja para murid.
****
"Haduh... tegang rasanya." Dennis menghembuskan nafas lega sambil berjalan. Ia benar-benar senang semua telah berakhir. Karena menurutnya, soal matematika tadi lumayan sulit juga.
"Tenang saja. Ini baru satu hari. Masih ada hari esok, Dennis!" ujar Rei santai.
"Ah, kak Rei enak! Kakak pasti bisa mengerjakan soal berikutnya!"
"Tapi setidaknya, dari semua soal yang ada, pasti ada beberapa soal yang kau mengerti, kan?"
"Nah, iya itu! Soal yang Kak Rei ajarkan padaku sebelumnya itu ternyata muncul di soal yang tadi. Hebat sekali! Aku jadi bisa mengerjakannya dengan mudah."
"Nah, itu yang dinamakan usaha. Jika bukan karena ajaran dariku juga, kau pasti bisa mengerjakannya. Aku yakin kau pasti bisa masuk 5 besar lagi, nanti! Kalau bisa, mendapat rangking satu, deh!"
"Iya! Terima kasih banyak, Kak Rei! Aku akan berusaha untuk mendapatkan rangking satu itu! Akan aku dapatkan!" Dennis terlihat senang sekali dan penuh semangat. Ia akan berusaha sebisanya.
Sekarang, saatnya kembali ke kamar. Tapi sebelum itu, Dennis dan Rei ingin ke kelas adiknya dulu untuk menjemput Adel dan Yuni agar mereka berdua juga bisa ke kamar bersama-sama. Sementara Akihiro dan Mizuki sudah duluan kembali ke kamar mereka.
"Heh! Yakin kau bisa mendapatkan rangking satu itu, Dennis?" gumam Adit yang sedari tadi sudah berdiri dibalik tembok tempat Dennis dan Rei berbincang tentang rangking. Adit sudah mendengar semua pembicaraan mereka itu.
"Kalian semua akan kalah. Karena juara satu yang akan coming soon itu adalah aku!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8