
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Ayahnya Dennis sampai di ruang menonton TV. Ia berdiri di depan pintu dan kembali berseru, “Anak-anak, ayah pulang! Ibu! Apa kalian–“
“Ssstttt! Diam ayah, jangan berisik. Lihat tuh!” Ibu Dennis yang sedang duduk di sofa tiba-tiba menyela Ayahnya Dennis dan mengejutkannya.
Ibu Dennis melirik dan menunjuk ke bawahnya. Ternyata, di depan sofa, di sana semuanya sedang berkumpul. Dan mereka semua... Tertidur?
“Eh? Anak-anak kenapa kau biarkan tidur di sini?” tanya Ayahnya Dennis.
“Mereka tertidur setelah menonton film horror di TV. Sambil menunggu kamu pulan. Kamu pulangnya lama sekali, sih... Jadi mereka sudah keburu ngantuk duluan.” Jelas Ibu Dennis.
Mereka yang dimaksud itu adalah Dennis dengan yang lainnya. Kecuali Rei. Dia tertidur karena buku yang ia baca itu, bukan karena film horror. Dan dia tidur dalam posisi duduk di sofa. Sementara yang lainnya tergeletak begitu saja di atas karpet yang lembut dengan bulu-bulu kecil yang halus.
“Kalau begitu, kamu ajak anak-anak masuk kamar, gih!” perintah Ayahnya Dennis.
Ibu Dennis menolak. “Sebaiknya jangan. Nanti kalau kita bangunkan mereka, mereka jadi terganggu. Nanti yang ada mereka malah tidak bisa tidur lagi. Biarkan saja, yang penting tidak di atas lantai, kok!”
“Kalau begitu, berikan mereka selimut agar tidak kedinginan.”
“Iya,”
****
Hari semakin larut. Jam sudah menunjukan pukul 11 malam. Dan saat itulah, Dennis terbangun karena ia merasa ingin buang air kecil.
Sudah beberapa kali Dennis mengubah posisi untuk menahannya karena ia sedang malas pergi ke kamar mandi. Tapi ternyata, Dennis tidak bisa menahannya dan malah makin kebelet.
“Aduh, udah gak tahan!” Dengan cepat, Dennis membuka selimut yang diberikan Ibunya, lalu ia langsung beranjak dari tempatnya untuk pergi ke kamar mandi.
Setelah keluar dari kamar mandi, Dennis merasa lega. Lalu ia akan kembali ke tempat teman-temannya tidur, yaitu di ruang TV. Tadinya, Dennis ingin ke kamarnya saja, tapi ia tidak enak dengan temannya. Masa dia sendiri yang merasakan kenyamanan di dalam kamar, sementara yang lainnya hanya tidur di luar.
Tapi sebelum Dennis kembali, ia sempat merasa tenggorokannya kering. Lalu Dennis berjalan ke arah dapur untuk mengambil segelas air bening.
Dennis mengambil gelas dari rak piring, lalu membuka kulkas yang ada di samping rak piring itu. Ia ingin meminum air dingin malam ini.
Setelah menuangkan air dingin dari botol beling ke gelas plastiknya, Dennis kembali berdiri lalu menutup kulkasnya. Ia duduk di kursi depan meja makan untuk minum sejenak. Karena dirinya tidak pernah minum sambil berdiri.
Setelah rasa hausnya hilang, Dennis menaruh gelas yang ia gunakan tadi ke atas meja, lalu ia akan beranjak dari kursi. Tapi sebelum itu, Dennis melihat ada beberapa buku-buku kecil panjang. Ada yang warna pink, biru, dan kuning.
Dennis mengambil buku itu, lalu melihatnya. Ia tersentak. “Eh? Ini kan... Buku absen kelas? Loh? Kok bisa ada di sini?” pikir Dennis. “Apa ada seseorang yang telah meletakkannya di sini? Ah, untuk apa?”
“Berikan buku absen itu... berikan....”
Dennis terkejut. Tiba-tiba saja ada seseorang yang berbicara padanya. Orang itu meminta buku absen yang sedang dipegang Dennis.
Dennis celingak-celinguk mencari orang yang berbicara padanya itu. Tapi ia tidak menemukannya. Di dapur, tidak ada siapa-siapa selain dirinya.
“Eh? Aneh... Perasaan tadi ada yang... Ah!” Dennis menggeleng cepat. “Tidak! Jangan berpikir yang macam-macam! Mungkin aku salah dengar. Ah sudahlah... Mungkin karena otaku sedang lelah saja. Aku masih perlu tidur lagi.” Gumam Dennis.
Ia sedikit menguap, lalu kakinya kembali melangkah. Ia ingin pergi ke kamarnya untuk menaruh buku-buku absen itu di dalam lemari kamarnya. Besok baru ia akan berbincang dengan teman-temannya tentang buku absen yang tiba-tiba ada di rumahnya itu.
Saat sampai di kamar, Dennis akan membuka lemari bajunya yang lumayan besar. Di dalam lemari itu terdapat laci kecil yang akan ia gunakan untuk menyimpan beberapa buku absen yang ia temukan di sana.
Tapi setelah Dennis membuka lemarinya, tiba-tiba saja ia dikejutkan oleh sosok manusia berbadan gemuk dan besar berdiri di dalam lemari pakaiannya. Sosok itu memiliki wajah menyeramkan. Wajah yang penuh luka dan darah. Juga matanya yang sudah tidak terlihat pupilnya dan mata itu terlihat menyeramkan karena sosok itu menatap Dennis sambil melotot.
“UWAAAAA!” Dennis berteriak ketakutan dan langsung pergi berlari kembali ke pintu kamarnya. Ia akan keluar dari kamarnya itu. Tapi sebelum ia menyentuh kenop pintunya, tiba-tiba saja Dennis terjatuh ke lantai karena kakinya telah tertarik oleh sesuatu.
Ternyata sosok itu yang telah menarik kakinya Dennis dan membawanya masuk ke dalam lemari bersama dengan sosok itu. “Buku absennya... Buku absen....” Itulah yang dikatakan sosok menyeramkan itu saat ia menarik tubuh Dennis untuk lebih mendekat ke hadapannya.
Dennis berusaha untuk memberontak dan berteriak pinta tolong. Tapi tidak ada yang datang untuk menolongnya. Sampai akhirnya, tubuh Dennis pun terbawa masuk ke dalam lemari bersama dengan sosok menyeramkan itu.
Lemari tertutup dengan cepat dan bergoyang-goyang. Terdengar suara teriakan dan jeritan kesakitan dari Dennis di dalam lemari itu. Entah apa yang sosok itu lakukan padanya.
****
“Hah!”
Dennis membuka matanya dengan cepat. Ia hanya berdiam diri di tempatnya sambil mengatur nafasnya yang sedikit terengah-engah. Ternyata sosok tadi hanya ada di mimpinya saja.
“Tadi itu... tidak nyata, kan?” Dennis bergumam. Lalu ia pun terduduk. Tempatnya saat ini masih berada di ruang TV. Di atas karpet bulu yang lembut bersama dengan teman-temannya yang masih tertidur.
Dennis melirik ke arah jam dinding yang terletak di tengah ruangan itu. “Baru jam 11 lewat ternyata. Hmm... Aku pikir sudah mulai pagi. Ah, aku harus tidur lagi.”
Dennis kembali membaringkan tubuhnya. Kali ini, ia tidur menghadap ke arah adiknya yang ada di samping kanannya. Sedangkan samping kirinya adalah sofa dengan kolongnya yang terlihat gelap.
Sesaat, setelah Dennis kembali menutup mata, tiba-tiba saja di belakangnya muncul sosok gemuk menyeramkan itu lagi. Kali ini sosok itu muncul di kolong sofa dan mengintipi orang yang ada di dekatnya.
****
Keesokan paginya–
Pukul 7 pagi, Dennis akhirnya terbangun dari tidur malamnya yang nyenyak. Ia terduduk dan melirik ke sekitar. Ternyata teman-temannya sudah pada bangun semua. Di ruangan itu hanya tinggal dirinya sendiri.
Dua sosok imut itu adalah Sachiko dengan Adel yang ternyata mereka sedang bermain kejar-kejaran. Kali ini Adel yang mengejar Sachiko. Lalu mereka berdua malah berlari menghampiri Dennis yang masih terduduk di tempatnya.
Mereka berdua berlari mengelilingi Dennis. Dan samoai akhirnya, perbuatan mereka telah membuat Dennis jadi risih dan terlihat kesal. Karena kebisingan dan keusilan kedua anak-anak itu.
Tapi untuk kali ini, Dennis akan bersabar. Dia pun berdiri, lalu melangkah secara perlahan dan pergi dari ruangan itu. Meninggalkan Adel dan Sachiko yang masih sibuk main kejaran di sana.
Dennis pergi ke dapur. Karena ia mendengar ada beberapa orang yang sedang berbicara. Mungkin saat ini semuanya sedang berkumpul di sana untuk sarapan bersama.
“Pagi Ibu...” Dennis menyapa Ibunya yang sedang masak di dapur. Tampangnya masih seperti orang mengantuk dan rambutnya terlihat masih acak-acakan karena baru bangun tidur. Ia juga terlihat seperti orang yang tidak bertenaga sama sekali.
“Pagi Dennis! Lemas amat dah. Pagi-pagi juga!” tegur Ayahnya Dennis yang sedang duduk di meja makan bersama dengan temannya yang lain. Sesekali beliau juga menyesap kopinya sambil membaca koran.
“Entahlah, Ayah... Namanya juga baru bangun tidur. Ah, aku ingin mencuci muka.”
“Jangan dulu. Ada Rei sedang mandi di dalam sana.” Ujar Akihiro.
“Lebih baik ayo kumpul dulu sini! Makan cemilan. Nanti keburu dihabisin si rakus ini, loh!” ajak Mizuki. Maksudnya si rakus itu adalah julukan yang diberikan Mizuki untuk Akihiro karena ia selalu menghabiskan cemilan di rumahnya Dennis.
“Ah, iya...” Dennis mengangguk. Lalu ia menarik kursi yang ada di samping Akihiro lalu duduk di sana. Dennis menidurkan kepalanya di atas meja, lalu mendesah berat.
“Hei...! Ada apa dengan anak ayah yang satu ini?” tegur Ayahnya Dennis lagi sambil memijit kepala anaknya. “Ini masih pagi, loh! Apa tidurmu tidak nyenyak? Kau juga bangun telat hari ini.” Lanjut ayahnya.
“Aku tidak tahu, ayah! Semalam aku habis bermimpi buruk soalnya.” Jawab Dennis pelan tanpa mengubah posisi tempatnya. Ia bahkan tidak mengherankan tubuhnya sedikit pun.
“Eh? Mimpi apa itu?”
“Ah, tidak usah dibicarakan. Intinya mimpi yang tidak menyenangkan. Aku tidak ingin mengingatnya lagi.”
Semuanya memasang wajah kasihan pada Dennis. Lalu untuk menghibur temannya itu, Akihiro dengan iseng, ia malah memasukan satu Biskuit ke dalam mulut Dennis dengan paksa.
Dennis kembali terbangun, lalu ia membuka mulutnya untuk membiarkan biskuit yang diberikan Akihiro itu masuk ke dalam mulutnya. Setelah biskuitnya masuk, Dennis langsung mengunyah makanan itu lalu menelannya secara perlahan.
“Gimana? Enak, kan?” tanya Akihiro dengan senyum manisnya. Lalu ia kembali mengambil biskuit dari piring dan kembali memberikannya kepada Dennis. “Bilang 'aaa...’. Aku akan menyuapi dirimu!”
Dennis tertawa kecil, lalu mengambil biskuit dari tangan Akihiro. “Ah, tidak usah, kak! Aku bisa sendiri, kok, hehe....”
“Oke, kalau begitu!”
Akihiro terdiam sejenak, lalu tak lama kemudian, ia kembali mengambil biskuit itu untuk dirinya. Karena... Sebelum cemilan itu habis, Akihiro tidak akan berhenti.
Melihat mulut Akihiro yang selalu mengunyah tanpa henti itu telah membuat Mizuki jadi geram. Karena jika Akihiro tidak berhenti makan, maka ia akan menghabiskan biskuit di piring dan tidak akan menyisahkan makanan itu untuk yang lainnya.
Sebelum tangan Akihiro kembali mengambil satu Biskuit lagi, tiba-tiba saja Mizuki menarik piring berisi biskuit itu. Agar Akihiro tidak bisa mengambilnya.
Akihiro melirik ke arah Mizuki sambil mengerutkan keningnya. “Kau kenapa, sih, Zuki? Berikan itu padaku. Aku belum selesai!”
“Belum selesai apanya?!” Mizuki membentak. “Jika dibiarkan, kau bisa menghabiskan makanan ini. Nanti orang lain tidak kebagian. Memangnya hanya dirimu saja yang ingin menikmati biskuit ini?”
“Ugh!” Akihiro memasang wajah cemberut, lalu ia langsung membuang muka dari Mizuki. Berdecih pelan dan bergumam, “Suka mengganggu kenikmatan orang saja. Untung perempuan.”
Dennis tertawa kecil dan berkata, “Ahaha... Kak Mizuki, biarkan saja Kak Dian memakan biskuit itu. Kami masih punya banyak, kok! Iya, kan, Ayah?”
Ayahnya tersentak. Lalu menjawab cepat. “Ah, apa? Oh iya, iya!” Beliau kembali membaca korannya.
Mizuki menggeleng. “Tidak boleh! Itu tidak sopan namanya. Memangnya ini rumahmu, apa?! Pokoknya tidak boleh!”
“Mizuki menyebalkan.” Gerutu Akihiro.
KRIEEETT....
Suara decitan pintu yang terbuka. Pintu kamar mandi. Semuanya melirik ke arah kamar mandi yang ada di samping kulkas di dapur itu.
Setelah pintu itu terbuka, keluarlah sosok Rei dari balik pintunya. Ia hanya memakai handuk untuk menutupi setengah tubuhnya dari bagian perut sampai kaki. “Ah? Kalian semua sudah berkumpul di sini?” tanya Rei sambil mengelap rambutnya dengan handuk kecil.
“Re–Reeeii?!” Mizuki berteriak di dalam hatinya. Ia benar-benar terkejut. Pipinya seketika memerah. Tidak hanya pipi, tapi sampai ke seluruh wajahnya.
Mizuki berekspresi seperti itu semenjak Rei keluar dari kamar mandi dan matanya melihat bagian perut Rei yang berbentuk. Mizuki tidak tahan melihatnya. Lalu dengan cepat, ia langsung memutar kursinya ke belakang. Duduk dengan posisi membelakangi meja makan. Ia benar-benar tidak ingin melihat Rei saat ini.
“Tahan Mizuki...! Ya ampun... Rambutnya yang basah dan terlihat acak-acakan, membuat Rei semakin... Kyaaaa! Aduh... Jantungku. Ditambah lagi dengan... Ukh! Roti sobek di perutnya, Uuuummmm! Tahan Mizuki. Kau jangan memikirkan hal itu!” Mizuki mengoceh dengan dirinya sendiri di dalam hati. Ditambah lagi dengan sikapnya yang aneh. Sambil berbicara di dalam hatinya, Mizuki menggelengkan kepalanya dengan cepat, dan wajahnya semakin memanas saja.
“A–ada apa dengan Kak Mizuki?” tanya Dennis. Ia heran dengan tingkahnya Mizuki.
Akihiro kembali mengambil piring yang berisi biskuit di dekat Mizuki secara perlahan. Lalu Akihiro menjawab, “Biasa. Anak perempuan. Sekalinya melihat roti sobek, langsung deh... Salting pasti.”
“Eh? Roti sobek?” Dennis tidak mengerti dengan perkataan Akihiro. Oh, ternyata dia masih menjadi anak yang polos dan belum terlalu mengerti dengan yang begituan.
Rei juga masih terheran. Lalu tanpa mempedulikan Mizuki, ia akan berjalan masuk ke dalam kamar Dennis. Tapi sebelum ia merangkak dari tempatnya, Rei berkata, “Kamar mandi kosong, tuh! Jika ada yang mau mandi cepatlah!” Setelah mengatakan itu, Rei pun berjalan masuk ke kamar Dennis dan menutup pintunya.
“Baiklah kalau begitu, aku mandi duluan!” Dennis berdiri dari kursinya, mengambil handuk dari tempatnya, lalu berjalan memasuki kamar mandi.
*
*
*
To be Continued-