
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
✿Diharapkan Crazy up ini, kalian me like semua eps. Jangan di ending doang ya^∀^' ⊃♥⊂
*
*
*
Setelah menuruni bukit, Dennis dan Risa kembali berjalan ke tanjakan kosong yang akan membawa mereka ke tempat yang lebih indah dari Villa. Rina yang memberitahukan jalan itu. Dia akan membawa Dennis ke sana.
"Rina, apakah masih jauh tempatnya?" tanya Dennis sambil mengeluh. Ia merasa kakinya sakit karena terus menanjak di jalan kosong itu. Tapi saat ia melirik Rina, sepertinya dia sudah terbiasa. Dia tidak terlihat kelelahan sama sekali.
Saat Dennis bertanya, ternyata jawaban Rina sama seperti dugaan Dennis. "Aku kan sudah biasa melewati jalan ini."
"Tapi biasanya... kau kemari untuk ngapain?" tanya Dennis.
"Kalau malam dari atas sana bisa melihat bintang dan kadang suka terlihat bintang jatuh untuk membuat harapan." Jawab Rina. Ia senang sekali bisa menceritakan kebiasaanya pada Dennis.
Dennis hanya mengangguk paham. Di dalam hatinya, ia bergumam jengkel dengan perkataan Rina. "Sebenarnya bintang jatuh itu tidak ada. Itu hanya meteor jatuh yang sudah menjadi kecil akibat gesekkan atmosfer. Dan lagi, tidak ada yang namanya bintang jatuh bisa mengabulkan permintaan."
"Ah, aku tidak ingin menyelesaikan ini dengan cepat. Tapi aku juga tidak ingin membunuh dia saat dia sedang bahagia seperti ini." Dennis menggerutu lagi. Lalu matanya secara perlahan melirik ke arah Rina yang sedang senyum-senyum sendiri di sampingnya.
Dennis menggeleng cepat, lalu mengeluh sekali lagi. Rina melirik ke arahnya dan tersenyum padanya dengan manis. Sementara Dennis masih menggerutu di dalam hati. "Tapi mau bagaimanapun situasinya, aku harus menyelesaikan ini dengan cepat!"
"A–anu... Dennis?" Rina memanggil.
Dennis yang sedang bengong itu tersentak kaget. Dengan cepat, ia langsung menjawab, "Iya?"
"Emm... sebenarnya... orang yang kau sukai saat ini itu siapa?" tanya Rina ragu.
Dennis hanya menggeleng sambil tertawa. "Oh? Aku menyukai semuanya. Aku sayang pada teman-temanku juga."
"Bu–bukan itu. Orang yang paling saja! Paling, paling, paling kau sukai!"
Dennis menatap heran pada Rina, lalu meneleng. "Orang yang disukai?" Dennis memikirkannya. Ia akan menjadi cowok yang pura-pura polos di depan Rina untuk sementara.
Rina menunggu jawabannya. Lalu tak lama kemudian, Dennis kembali melirik ke arah Risa dengan jawabannya. "Aku menyukai Kak Rei!"
"Eh?!" Rina terkejut mendengarnya. Lalu setelah itu ia membentak Dennis. "Kau menyukai anak laki-laki?!"
"Iya." Dennis mengangguk sambil tertawa. "Kak Rei itu baik padaku. Baik banget. Makanya aku suka sama dia."
Rei menggeram. Lalu ia membuang muka dari Dennis. "Ah, ya ampun! Sepertinya anak ini tidak mengerti dengan apa yang aku tanyakan padanya." Rina bergumam kesal. Sementara di belakangnya, Dennis menyipitkan mata sambil tersenyum sinis padanya. Berusaha menahan tawa karena dugaannya Rina telah terpercaya oleh kepolosan Dennis.
Setelah puas menggerutu dengan dirinya sendiri, Rina kembali menghadap ke jalan di depannya. Setelah itu, ia menoleh ke arah Dennis dan kembali bertanya dengan nada suara yang lembut. "Dennis~ Kalau anak perempuan yang kau sukai itu siapa?"
"Oh, tentu saja adikku sendiri. Aku sangat menyayanginya." Dennis menjawab.
"Selain saudaramu!" Rina membentak kesal. Dennis tidak terlihat kaget. Ia malah tertawa. "Oh? Emm... siapa, ya? Tentu saja semua teman perempuanku."
"Ah, Dennis!"
"Eh? Apa?!"
"Aku nanya sekarang, anak perempuan yang sangat kau cintai itu siapa?!" Rina memperjelas sedikit.
"Eeh? Kau itu bertanya apa mau memarahi aku, sih?"
"Aku bertanya!"
Rina tersenyum senang mendengarnya. Ia suka sekali dengan jawaban Dennis itu. "Jadi kau belum menyukai siapapun, ya?"
"Entah, deh," Dennis menggeleng pelan. "Tapi untuk sekarang ini, aku tidak ingin memiliki orang yang dicintai gitu deh! Kayak... apa sih namanya?"
"Eh? Nama apa?"
"Itu... nama orang yang punya orang yang dicintai gitu. Kan ada dua pasangan. Apa ya namanya? Aku kayak pernah dengar."
"Pacar?"
"Nah, itu pacar!" Dennis mengangguk cepat. Ia tersenyum menatap Rina. "Aku tidak ingin punya pacar dulu. Aku ingin kerja dulu, baru nyari orang yang aku sukai. Karena diluar sana, ada banyak wanita lain, kok! Jadi jangan khawatir kalau kita belum dapat sekarang, dikedepan hari kita akan kehabisan wanita. Ahaha... tidak mungkin, lah!" Dennis tertawa. Tapi Rina hanya memasang ekspresi datarnya. Ia agak kecewa dengan perkataan Dennis yang bilang jika dia tidak ingin mempunyai pacar.
"Ah, Dennis ternyata tidak ingin mempunyai pacar." Gerutu Rina dalam hati. "Ugh! Padahal Dennis itu laki-laki paling sempurna yang baru pertama kali aku temui. Saat aku baca-baca di buku, lelaki itu paling suka dengan wanita yang tubuhnya bagus. Tapi ini apa? Dennis berbeda ternyata. Payah!"
Dennis menyamarkan senyumannya. Ia berwajah datar lagi saat menghadap ke jalan di depannya. Bukan menatap Rina lagi. Tapi secara diam-diam, Rina melirik ke arah Dennis. Dari kepalanya, lirikkan mata Rina mengarah ke seluruh tubuh Dennis. Sampai akhirnya, ia menemukan sesuatu yang membuatnya terkejut.
Ada benda lain yang tersembunyi di kantung belakang celana Dennis. Saat Rina ingin mengambil benda itu secara diam-diam. Tapi tiba-tiba saja Dennis menoleh ke arahnya. Dengan cepat, Rina kembali mengalihkan pandangan dari Dennis.
Setelah menoleh, Dennis memanggil Rina dan bertanya, "Kapan kita akan sampai?"
"Oh, sebentar lagi, kok!" Rina menjawab tanpa menoleh ke lawan bicaranya. Tapi tak lama kemudian, Rina memberanikan diri untuk menatap mata Dennis. "Benar-benar sebentar lagi."
"Oh? Apa tempat itu ada di... atas sana? Setelah kita selesai melewati jalan menanjak yang melelahkan ini."
"Ah, iya! Lagipula, sebentar lagi sampai, kok!" Rina dan Dennis terdiam. Lalu tak lama kemudian, mereka akhirnya sampai. Walau belum sampai di tujuan, tapi mereka sudah selesai melewati jalan menanjak.
Dari sana, Dennis tidak menemukan apapun yang menarik. Tapi setelah Rina menghela napas sejenak, ia menunjuk ke arah lain. Dennis melirik ke objek yang ditunjuk Rina itu. Tapi tidak ada apapun yang menarik. Rina hanya menunjuk ke pohon dan jalan lurus yang masih tersisah di depan.
"Di sana! Setelah kita ke sana, kita bisa sampai di tempat indah yang aku bilang itu, Dennis!"
"Oh," Dennis mengangguk. "Kalau begitu ayo cepat! Sekarang mungkin saja sudah jam 2 siang. Hawanya agak panas di sini. Mungkin kita bisa dapat tempat teduh dan istirahat di bawah pohon."
"Ya tentu saja! Tempat yang ingin aku tunjukkan itu memang memiliki banyak pohon di sekitarnya."
"Kalau begitu ayo cepat jalan lagi."
"Ya!"
****
Saat sampai di tujuan, Rina ternyata ingin menunjukkan tempat paling indah pada Dennis. Tapi saat ia menunjukkannya, Dennis sedikit terkejut dengan tempat itu.
"Gua? Gua gelap ini kau anggap indah?" tanya Dennis tidak percaya.
"Makanya untuk sebentar saja kita menunggu di sini. Di depan gua. Karena sesuatu yang indah akan muncul pada senja." Jelas Rina. Ia berlari menghampiri Gua tersebut, lalu menunjuk ke dalamnya. "Jika kau haus, di dalamnya terdapat mata air yang jernih, kok! Ayo kita periksa dulu."
"Mata air, ya?" Dennis bergumam. Ia akan mengikuti Rina dari belakang. Dennis juga ikut memasuki Gua. Dalamnya tidak terlalu gelap seperti dugaan Dennis. Karena ada beberapa celah dan lubang yang membawa masuk cahaya matahari. Dennis tidak pernah tau kalau ada Gua dipinggir jalan.
"Tapi sepertinya... di dalam Gua ini, aku bisa langsung membunuh Rina tanpa ada orang yang mengetahuinya." Dennis tersenyum. Ia akan melakukan tugasnya tepat setelah Rina menunjukkan sesuatu yang indah itu padanya.
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8