Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 53– Rencana Dennis Gagal (?)


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


DOR!!


Peluru melesat dengan cepat dan langsung mengenai kepala Ibu Villa. Bahkan peluru itu sampai menembus ke kepala belakang. Tapi setelah Zainal menembak, ia langsung menjatuhkan pistolnya karena merasa senjatanya itu terlalu berat dan setelah menembak, seketika pistol itu langsung terasa panas.


"Aw... Aku belum pernah belajar menembak sebelumnya. Ini pertama kali untukku." Zainal tertawa kecil sambil mengibaskan tangannya yang masih kaku dalam menembak.


Tapi walau masih pemula, ternyata Zainal bisa membibik dengan benar hanya dengan mata kanannya saja.


Setelah peluru itu menembus kepala Ibu Villa, Ibu itu langsung terjatuh ke atas tubuh anaknya yang sudah meninggal. Sekarang kesempatannya. Ethan dan Zainal akan bergerak menghampiri Ibu Villa untuk langsung membawanya ke tempat lain untuk menyembunyikan tubuh mereka berdua. Karena Ethan dan Zainal pikir, setelah tembakan itu, Ibu Villa pasti mati.


Tapi sebelum Ethan dan Zainal sampai di tengah lapangan, mereka sempat dipanggil oleh Akihiro. Sontak mereka berdua itu langsung menoleh ke belakang dan menyahut.


Akihiro menunjukkan layar ponselnya. Ia baru saja memeriksa kiriman pesan yang dikirim dari Rei. Isi pesan itu adalah, [ Potong leher dan hancurkan kepalanya! Karena itulah kelemahan orang-orang Villa itu! ]


"Kata Rei, hancurkan kepalanya! Dengan begitu, orang itu akan mati!" Akihiro berteriak.


"Eh? Jadi... Ibu ini belum mati, dong?" Zainal bergumam. Ia mempersiapkan pisaunya untuk berwaspada kalau Ibu Villa itu akan bangun kembali secara tiba-tiba.


Tapi saat Ethan dan Zainal berada dekat dengan tubuh Ibu Villa, mereka tidak menemukan tanda pergerakkan dari tubuh Ibu Villa. Dia masih belum hidup kembali atau memang sudah mati?


Yah... intinya kelemahannya tetap ada pada lehernya!


"Biar aku saja," ujar Ethan sambil mengangkat senjata berupa mata pisau panjang yang terbuat dari besi tipis yang mungkin saja bisa digunakan untuk menebas sesuatu seperti daging. "Kelemahannya ada pada leher, kan? Kalau begitu, biar aku tebas saja sekalian!"


ZLEB!


Ethan mengayunkan senjatanya, lalu menusuk tepat di leher Ibu Villa sampai menembus tenggorokannya. Lalu setelah itu, ia mencabutnya dan kembali mengayunkannya untuk menebas leher Ibu Villa sampai kepalanya terpisah dari tubuhnya.


Seketika darah yang keluar dari kepala Ibu Villa yang sudah terpisah langsung muncrat mengenai pakaian Ethan dan Zainal yang ada di dekatnya. Jadi terlihat seperti lembu yang sedang disembelih.


Setelah selesai dengan Ibu Villa, Ethan menjatuhkan senjatanya yang sudah berlumuran darah. Lalu Zainal menginjak tubuh Ibu Villa untuk memastikan kalau dia masih hidup atau tidak.


Ternyata tidak. Saat diperiksa, Ibu Villa sudah tidak bergerak lagi. Seluruh darahnya sudah keluar lewat saluran darah yang terputus dari lehernya. Tidak ada tanda kehidupan lagi.


Akihiro berlari menghampiri Ethan dan Zainal. Ia akan memberitahu tempat persembunyian yang bagus untuk menyembunyikan kedua mayat tersebut tanpa bisa diketahui oleh orang lain.


Tapi sebelum itu, Akihiro meminta Davin untuk menjaga Rashino dan Adit selagi mereka bertiga pergi untuk sementara. Davin menerima tugasnya. Ia akan menunggu sampai Akihiro, Ethan dan Zainal kembali.


****


"Hah... hah... setidaknya aku berhasil membuatnya tak sadarkan diri dulu sebelum aku membunuhnya." Tubuh Dennis sudah basah kuyup setelah pertarungannya melawan Rina.


Sebelumnya saat Dennis sedang menjambak rambut Rina untuk mencelupkan kepalanya ke dalam kolam kecil berbatu di dalam gua, Rina selalu melakukan perlawanan. Menurut Dennis, untuk seorang wanita, ternyata tenaganya itu kuat sekali.


Tapi untungnya, Dennis berhasil membuat Rina pingsan dengan cara menenggelamkan kepalanya ke dalam kolam selama 30 detik. Tadinya Dennis ingin terus menenggelamkan kepalanya itu sampai Rina mati. Tapi ia sempat mengingat perkataan Cahya kalau keluarga pemilik Villa itu tidak bisa dibunuh dengan cara apapun kecuali dengan memisahkan kepala dari tubuhnya. Alias memotong langsung lehernya.


Dennis kembali menarik kepala Rina keluar dari air, lalu Dennis menarik tubuh Rina sampai keluar dari dalam kolam. Setelah itu, ia kembali berdiri lalu mengeluarkan ponselnya yang sedikit basah karena terkena air.


Ia ingin mengelap ponselnya tapi tidak tahu harus bagaimana. Seluruh pakaiannya basah dan ia tidak memiliki kain kering untuk mengelap ponselnya. Dennis tidak bisa melakukan apapun terhadap ponselnya. Ia hanya bisa berharap semoga ponselnya itu bisa bertahan lama dan tidak cepat mati karena air.


Dennis membuka layar ponselnya. Ternyata masih bisa menyala. Ia lega sekali. Tapi ia tahu ponselnya tidak akan bertahan lama. Jadi ia harus cepat sekarang.


Cepat-cepat mencari sesuatu untuk langsung membunuh Risa tepat di dalam gua itu.


Dennis melihat banyak batu di dalam gua. Ia bisa menumbuk kepala Risa sampai hancur dengan batu. Tapi menurutnya, tindakan pembunuhan itu terlalu berbahaya. Ia tidak tega melakukannya.


Ia ingin membunuh Rina tanpa harus menyakiti korbannya. Tapi bagaimana, ya?


Dennis mencari benda tajam di dalam gua yang ampuh untuk memotong leher Rina dengan sekali tebasan. Tapi yang ia temukan di dalam gua itu hanya batu, batu dan batu. Tidak ada benda tajam lainnya.


Ada pesan Message yang masuk.


Langsung saja, Dennis mengambil ponselnya, lalu membukanya. Ia melihat pesan yang dikirim dari Rei untuknya. Saat Dennis membacanya, ia terlihat terkejut.


[ Bapak Tertua akan kembali! Dia katanya ingin segera pulang dan Cahya tidak bisa menahannya lebih lama lagi. Kau sudah membunuh Rina belum, Dennis? ]


"Eh? Bapak Tertua itu ingin kembali ke Villa?" Dennis bergumam sambil mengetik sesuatu untuk membalas Rei.


Pesannya dikirim. [ Tidak apa jika Bapak Tertua itu ingin kembali. Kan yang penting sesuai rencana. ]


TRING!


Rei langsung membalasnya. [ Seharusnya begitu. Tapi sekarang ini, kami lupa untuk menyembunyikan mayat kedua orang yang berhasil kami bunuh. ]


[ Eh? Terus bagaimana? ]


[ Kau tenang saja. Akihiro dan yang lainnya sudah mengurus hal itu. ]


[ Oh, sekarang apa yang kak Rei cemaskan? ]


[ Aku takut kalau setelah Bapak Tertua itu kembali, dia bisa mencurigai hilangnya istri dan anak tertuanya itu. Juga dengan hilangnya si Rina. ]


TRING!


[ Jadi sekarang aku mau kau cepat kembali, ya? Aku juga jadi khawatir denganmu. Setelah kau kembali, kita memulai penyerangan terakhir kita. Dan kalau bisa, semoga saja kita bisa pergi dari Villa sebelum matahari terbenam. ]


"Oh, begitu." Dennis bergumam. Ia kembali mengetik untuk berjanji pada Rei kalau dia akan segera kembali secepatnya setelah ia berhasil membunuh Rina.


Tapi saat dipertengahan kata yang Dennis ketik, tiba-tiba saja Dennis merasa ada yang telah mencengkram kakinya. Dennis akan menoleh ke belakang. Tapi tidak sempat karena sesuatu yang mencengkram kakinya itu malah menarik kakinya sampai tubuh Dennis terjatuh dan membentur tanah yang keras.


Ponselnya terlepas dari tangannya. Padahal Dennis belum sempat mengetik lanjutan katanya dan belum sempat mengirim. Ia khawatir Rei akan menjadi semakin cemas karena dirinya tidak menjawab pesan terakhirnya itu.


Setelah terjatuh, ia mengeluh dadanya sakit. Tapi ia tidak peduli dengan keadaan tubuhnya. Sekarang juga, ia harus mengetahui sesuatu yang telah menarik kakinya itu.


"Dennis... Dennis sayang jangan pergi meninggalkan... aku... he he he...."


Sebelum menoleh, Dennis sempat terkejut dengan suara seseorang yang ia kenal di belakangnya itu. Ia jadi tidak berani untuk menoleh ke belakang karena ia tahu siapa orang itu!


"Rina! Berhenti menahan kakiku!" Dennis berteriak berusaha untuk melepaskan diri dari Rina di belakangnya yang sudah mulai menggila. Walau Dennis sudah menendang wajah Rina berkali-kali untuk melepaskan kakinya, tapi tetap saja Rina tidak ingin melepaskan Dennis.


"Dennis! Dennis... kau milikku. Kau tidak akan aku lepaskan karena kau akan menjadi milikku yang paling berharga, haha...." Rina terus menarik kaki Dennis sampai ia bisa memeluk Dennis. Ia tidak akan melepaskannya. Bahkan walau hidungnya telah berdarah akibat dari hantaman kaki Dennis, Rina tetap tidak ingin melepaskan Dennis.


"Ah, sial! Aku terlalu lama untuk membunuhnya sih! Sekarang kalau sudah begini jadi gawat!" batin Dennis yang mulai panik. Ia tidak bisa melepaskan diri dari wanita seperti Rina itu. Kekuatannya terlalu tinggi. Bahkan hanya untuk menarik kakinya saja, Dennis tidak mampu.


"Ah, sekarang juga aku harus meminta bantuan Rei saja!" Dennis mulai mengulurkan tangan. Ia ingin meraih ponselnya yang tergeletak tak jauh di hadapannya itu. Tapi agak sulit karena Rina semakin menarik tubuh Dennis untuk menjauh dari ponselnya itu.


"Rina! Lepaskan aku!!" Dennis yang mulai kesal itu pun berteriak geram. Tadi ia hampir saja bisa mendapatkan kembali ponselnya. Tapi sekarang sudah tidak bisa.


"Tidak mau! Tidak mau! Kemarilah Dennis sayang... ayo kita mati bersama di dalam gua ini, hahaha!"


"Dia benar-benar sudah gila!"


Bagaimanapun caranya, Dennis harus bisa melepaskan diri dari perempuan gila di belakangnya itu dengan tenaganya sendiri. Kalau tidak maka berakhir sudah. Rencananya bisa gagal!


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8