Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 52– Ujian IPA, part 5


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Teman-teman! Kalian masih hidup?" tanya Dennis pada semuanya dengan perasaan senang.


Semua orang yang masih bisa bertahan itu pun mengangguk. Dan seluruh teman sekelasnya Dennis membalas perkataanya.


"Tentu saja kami masih hidup!"


"Ya! Tadi kami juga bekerja sama untuk keluar dari tempat ini!"


"Sekarang, mohon bantuannya, ya? Kita sama-sama berusaha!"


Dennis tidak percaya. Ia senang sekali. Dalam kesulitan seperti ini, tidak membuat semua teman-temannya akan bersikap egois, melainkan mereka semua ingin membantu agar bisa keluar dari terowongan itu dengan selamat!


Kan biasanya, dalam keadaan seperti ini, semua orang pasti akan berusaha untuk menyelamatkan diri mereka sendiri. Mau menang sendiri dan kadang suka sampai mengorbankan temannya sendiri. Itulah yang dinamakan teman egois dalam Ujian seperti ini!


Sebagian besar, Dennis tidak mengenal semua orang yang ada di depannya. Kecuali teman sekelasnya. Kalau para murid dari kelas lain, Dennis tidak mengenalnya. Tapi, ia akan tetap memanggil para murid yang ikut serta itu adalah teman-teman barunya.


Dennis mengangguk cepat. "Terima kasih banyak atas bantuan kalian semua! Sekarang, ayo kita keluar dari sini bersama-sama!" ucapnya bangga.


Semuanya mengangguk. "Iya! Kita juga tidak boleh menyia-nyiakan pengorbanan dari teman-teman kita yang sudah meninggal duluan!" ujar Ethan yang merupakan pemimpin dari kelompok para murid itu.


"Eh, tidak mungkin. Be–berapa banyak teman kita yang sudah mati?" tanya Dennis dengan ekspresi wajah cemas.


"Banyak. Mereka semua... telah mengorbankan nyawanya untuk menyelamatkan kami semua." Ethan kembali mengingat kejadian sebelumnya. Di mana ia melihat semua teman-temannya mati satu persatu tepat di depan matanya.


Sebagian besar, mereka semua dimakan dan dicerna oleh monster tumbuhan pemakan manusia. Dan ada juga yang terkena racun mematikan dari beberapa tumbuhan. Ada juga yang tertancap di batang suatu tumbuhan yang penuh dengan duri.


"Ikh! Aku... tidak bisa membayangkan betapa mengerikannya kematian mereka itu." Ethan menundukkan kepalanya untuk berduka. Lalu tak lama kemudian, ia kembali mengangkat kepala dengan cepat dan mengepal kedua tangannya. "Sekarang juga! Ayo selesaikan Ujian ini bersama-sama!"


Semua mengangguk. Rei melirik ke arah Dennis dan berkata, "Kau pasti punya rencana, kan, Dennis?"


Dennis mengangguk cepat. "Iya! Tapi... rencana ini butuh kerja sama yang besar agar berhasil!"


"Baiklah kalau begitu, katakan pada kami, apa rencanamu?" tanya Rei. "Kami siap melaksanakannya."


"Oke. Tapi sekarang yang lebih penting... kita harus mengalahkan monster yang ada di depan kita ini terlebih dahulu. Lalu menyelamatkan Kak Dian dan adikku!"


"Kalau soal itu mah gampang! Kami bisa melakukannya!" Beberapa anak dari kelas 3-A mulai berkumpul. Mereka yang masih selamat mendekati Dennis dan menunjukan beberapa senjata yang mereka bawa.


Dennis terkejut melihat senjata tajam yang mereka dapatkan itu. "Pe–pedang?! Dan... senapan angin, juga pistol?! E–eh! Dari mana kalian mendapatkan semua senjata ini?"


"Entah. Kami menemukannya tergeletak begitu saja. Jadi kami memungutnya saja. Saat diperiksa, ternyata senapan dan pistolnya masih memiliki peluru." Jelas si ketua kelas 3-A.


Dennis mengangguk. Lalu batinnya kembali bergumam. "Ini pasti pertolongan dari si gadis misterius itu."


Tanpa membuang waktu lagi, semua kelompok dari kelas 3-A pun bergerak untuk menyerang. 2 orang yang memegang pedang itu akan memotong semua akar yang mengganggu dan tidak lupa juga mereka menebas dua akar yang telah mengikat Akihiro dan Adel.


ZRAAASSHH!


Dua orang itu berhasil memotong akar yang telah menjebak Akihiro dan Adel. Setelah tubuh mereka berdua terlepas dari akar-akar itu, Akihiro dan Adel langsung terjatuh ke tanah. Dennis masih sempat menangkap adiknya. Tapi tidak dengan Akihiro.


"Sa–sakiiit..." Akihiro mengerang sambil berusaha untuk bangun lagi. Dennis menurunkan adiknya, dan langsung menghampiri Akihiro. "Ma–maafkan aku, Kak Dian! Aku tidak sempat menangkapmu!" ucap Dennis dengan perasaan tidak enak.


Akihiro kembali berdiri dan tertawa. "Haha... tidak apa-apa, Dennis! Jangan khawatir. Aku baik-baik saja, kok! Hehe...."


"Ah, syukurlah." Dennis menghembuskan nafas lega. Lalu ia kembali ke hadapan adiknya. Dennis mengelus kepala Adel dan bertanya tentang keadaanya. "Kau baik-baik saja, kan? Apa ada yang sakit?"


Adel mengangguk sambil tersenyum manis. "Iya, kak! Aku baik, kok. Tapi... oh iya! Yuni. Yuni ada di mana?"


Dennis tersentak. Ia lupa kalau sedari tadi, dirinya juga tidak melihat Yuni dan Mizuki. Ia kembali teringat, kalau sebelumnya dirinya juga telah melihat keadaan Yuni dan Adel yang sudah terjebak oleh tanaman merambat seperti Rei.


"Emm... Adel! Aku baru ingat kalau sebenarnya Yuni dan Kak Mizuki itu...."


"Kenapa, kak? Mereka kenapa?!"


"Mereka–"


"Jangan khawatir. Aku di sini." Nada bicara Yuni yang dingin itu pun terdengar. Dennis dan Adel langsung menengok ke belakang mereka. Ternyata... Yuni masih bisa selamat. Saat ini, dirinya sedang digendong oleh teman sekelasnya Dennis yang bernama Zainal.


"Yuniii!" Adel berteriak sambil menghampiri temannya itu. Zainal berbisik pada Yuni. "Kau sudah bisa berdiri sekarang?"


Yuni mengangguk untuk mengiyakan."Turunkan aku." Pintanya pelan. Zainal mengangguk. Ia berposisi jongkok agar Yuni bisa turun dari atas punggungnya. Setelah Zainal menurunkan Yuni, ia kembali berdiri dan tidak beranjak ke mana-mana. Tetap berdiri di belakang Yuni.


"Oh, Yuni! Kau tidak apa-apa, kan? Aku senang sekali!" Adel memeluk Yuni dengan erat. Yuni tetap terdiam dengan tampangnya yang biasa. Lalu tak lama, ia membalas pelukan Adel itu dan berbisik. "Aku baik."


Dennis tersenyum saat melihat adiknya yang terlihat bahagia bersama teman dekatnya, Yuni. Dalam keadaan seperti ini, Adel masih bisa tertawa dan tersenyum gembira.


Dennis merubah ekspresinya. Ia tidak akan bermuka masam di depan adiknya. Dia akan selalu terlihat tenang karena dirinya juga tidak ingin kalau dari adiknya kalau soal perasaan.


DOR! DOR!


"ARRRGGGHHH!"


Dennis terkejut mendengar suara tembakan yang sangat keras itu. Ia menutup telinganya, lalu berjalan perlahan ke arah Rei. Setelah itu, Dennis melirik ke arah si monster tanaman yang tak jauh darinya itu.


Monster tanaman itu mengerang kesakitan. Setiap tumbuhan, pastinya memiliki kelemahan di akar mereka. Tanpa akar, tumbuhan tidak akan bisa berdiri kokoh. Oleh karena itu, semua kelompok kelas 3-A selalu menyerang dan mengincar akar si tumbuhan.


Yang memegang senjata angin, mereka selalu menembaki kepala di monster sampai pecah dan mengeluarkan getah berwarna hijau. Sedangkan yang memegang pedang, mereka menebas semua akar-akar si monster sampai habis tanpa meninggalkan sisah sedikitpun. Kecuali banyaknya getah hijau yang mengalir dari luka-luka si monster itu.


"Ini yang terakhir untukmu!" Ketua kelas 3-A selalu membibik sasaran dengan tepat. Karena dia memang ahli dalam bidang persenjataan dan pertahanan. Ia pintar memainkan pistol karena sudah sering berlatih.


Ketua kelas 3-A bernama Davin. Anak yang bercita-cita ingin menjadi seorang tentara saat ia dewasa nanti. Orangnya baik dan cukup terkenal. Rangking ke-2 di kelasnya. Dan sekarang... ia akan menembakan pelurunya ke dalam....


DOR! ZLEB!


"Yes! Kena!"


Tepat sasaran! Davin berhasil melesatkan pelurunya masuk ke dalam mulut si Monster itu. Dan sekarang bagaimana keadaan si tumbuhan besar itu? Tentu saja dia mati!


Monster tumbuhannya menggeliat kesakitan. Lalu secara perlahan, tubuhnya menjadi keriput dan berubah warna menjadi coklat kekuningan. Setelah itu, tumbuhan itu pun terjatuh ke tanah dan tidak bergerak lagi. Posisinya seperti tanaman yang sudah layu dan mati.


Semuanya senang sekali Davin bisa melenyapkan tumbuhan yang mengganggu itu. Mereka semua mendekati Davin untuk memberikan dirinya semangat.


"Wah~ Ketua kelas 3-A itu keren sekali, ya?" kagum Mizuki yang ada di samping Akihiro. Ia benar-benar terpesona oleh si ketua kelas 3-A itu.


"Apanya yang keren? Itu biasa saja. Aku bisa melakukan sesuatu yang lebih keren darinya!" Akihiro berbangga diri.


"Bisa apa memangnya kau ini?!" bentak Mizuki. Ia melipat tangannya ke depan dan berteriak. "Daviiin! Semangat, ya?! Kau hebat sekali!"


"Eh, kak Mizuki mengenal cowok itu?" tanya Dennis.


"Tentu saja."Jawab Akihiro. Lalu ia melirik ke arah Dennis. "Jangan bilang kalau kau itu tidak mengenalnya."


Dennis tertawa kecil sambil mengangguk. "Iya, hehe...."


"Ah, parah. Dia itu anak terpopuler di kelasnya. Dan juga, anak paling digemari oleh banyak cewek dalam satu sekolah. Aku iri dengannya." Jelas Akihiro.


"Eh, iri kenapa?"


"Dia bisa didekati oleh banyak cewek! Masa aku enggak, sih?!"


"Cih! Kenapa kau suka sekali dekat-dekat dengan anak perempuan? Mereka itu sangat mengganggu." Ujar Rei dengan nada menyindir.


"Siapa yang kau bilang mengganggu?! Kau tahu? Anak perempuan itu cantik-cantik! Apalagi kalau... tubuh mereka bagus. Hi hi hi...."


"Kau memang ingin merasakan tubuh mereka saja. Dasar!"


"Hei! Tidak juga kali! Ah, sudahlah... kau kan tidak suka perempuan, jadi lupakan saja." Gerutu Akihiro. Ia membuang muka dari Rei lalu bergumam. "Pantas saja jomblo terus."


"Nyadar diri juga, dong. Kayak sendirinya punya cewek, aja!" Rei menyindir lagi.


Mendengar omongan Akihiro dengan Rei telah membuat Dennis tertawa. Tapi ia berusaha untuk menahannya.


Tak lama, ada yang menyentuh pundak Dennis. Dennis tersentak, dan langsung menengok. Ia melihat ada seorang anak yang terkenal berada dekat dengannya. Orang itu adalah si Davin!


"Ka–kak... kak... Kak Davin, kan?" tanya Dennis gugup.


Davin mengangguk. Ia meneleng dan tersenyum. Lalu ia menjatuhkan senjata yang ia pegang ke tanah. "Jadi sekarang Dennis, bagaimana rencanamu?"


Davin tersenyum sinis dan mensipitkan matanya. "Kau tahu caranya untuk keluar dari tempat ini, kan?"


"Ta–tatapannya... kenapa... kenapa dia menatapku seperti itu?!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8