Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 9– Es Krim


[ Iya. Dia sudah menungguku di depan jalan raya. Dan dia juga sudah membantuku membawakan barang-barangku. Dia baik sekali. ] Jelas Mizuki.


"Eh? Benarkah? Kau pasti bohong!" tanya Akihiro tidak percaya.


[ Wehh... kalau tidak percaya coba kamu samperin aku. Aku sudah ada di depan gerbang, nih! ]


"Wah! Kakak ada di depan gerbang?" tanya Adel senang. "Aku ingin menemui kakak!" lanjutnya dan langsung berlari keluar dari gedung itu.


Semuanya pun mengikuti Adel dari belakang. Sampai akhirnya... mereka pun sampai di depan gerbang sekolah. Di sana, mereka bisa melihat ada Mizuki yang sedang berdiri sambil memegang ponsel yang ia tempelkan di dekat telinganya.


Ia juga menggendong tasnya di belakang, dan tangan yang satunya membawa koper. Sedangkan Dennis?


Dia ada di samping Mizuki. Dirinya membawa dua kotak kardus yang merupakan oleh-oleh dari Mizuki.


"Kakaaaak!" teriak Adel senang sambil berlari cepat ke arah kakaknya.


"Eh? Adel!" Dennis tersentak. Ia tidak bisa bicara saat ini karena dirinya sedang mengangkat dua kotak kardus yang lumayan berat.


"Kakak dari mana saja? Aku mencarimu, tahu!" bentak Adel.


Dennis tertawa kecil. Setelah itu secara perlahan ia membungkuk, lalu meletakan dua kotak kardus itu di bawahnya. "Aku... ah sulit untuk dijelaskan, haha...." Itulah jawaban Dennis.


"Oh, hei kalian! Aku sudah kembali. Lebih cepat dari dugaan kalian, kan? Hehe... apa kalian tidak kangen sama aku?" tanya Mizuki. Ia terlihat senang.


"Ah, tentu saja aku kangen! Haha...." Akihiro menjawab dan tertawa.


"Kau pulang cepat ternyata. Apa sudah merasa puas di Jepang?" tanya Rei.


"Iya. Okaa-san dan Otou-san sehat-sehat saja di sana. Aku sangat bersyukur." Jawab Mizuki dengan senyum. Lalu tak lama kemudian, ia membesarkan matanya sambil mengangkat telunjuknya ke atas. "Oh iya! Ayo kita ke kamarku. Aku membawakan banyak oleh-oleh khas Jepang untuk kalian."


"Waaah! Yeay! Ayo!" Akihiro melompat kegirangan. Sepertinya dia yang lebih bersemangat dari yang lainnya.


Dan ternyata semuanya juga begitu. Mereka merasa sangat senang karena sahabat mereka akhirnya bisa berkumpul bersama lagi. Semuanya pun berjalan ke arah kamarnya Mizuki.


*( Okaa-san\= Ibu. → Otou-san\= Ayah. )


****


Saat sampai di sana, Mizuki merogoh saku jaketnya, lalu mengeluarkan kunci kamar yang di genggamnya. Ia memasukan kunci itu ke dalam lubang kunci, lalu setelah pintu sudah bisa terbuka, mereka semua masuk ke dalam kamar Mizuki.


Tapi sebelum itu, ia menyalakan lampunya terlebih dahulu. Setelah lampu menyala, Mizuki pun langsung duduk di pinggiran kasurnya yang kecil tapi empuk.


"Hah... melelahkan sekali. Di sini hangat, di Jepang dingin sekali, haha...." Ujar Mizuki pada teman-teman. Ia memberitahu keadaan iklim yang ekstrim di Jepang kepada temannya.


"Yah, kan Jepang dengan Indonesia itu berbeda. Di sini iklim tropis, jadi terasa hangat selalu." Jelas Rei.


"Ya! Andai saja di sini ada salju." Keluh Akihiro.


Semuanya mengangguk lemas. Mereka juga ingin merasakan salju seperti di Jepang. Semuanya ingin merasakan apa yang Mizuki rasakan di tempat asalnya.


Tapi ternyata... Mizuki sendiri lebih menyukai negara yang saat ini ia tempati dibanding tempat asalnya. Bahkan, ia sendiri sangat ingin berendam di lumpur yang ada di sawah. Karena menurutnya, merendam di lumpur itu sangat hangat seperti Onsen di Jepang.


*(Onsen: Pemandian Air Panas.)


"Ah sudahlah... tidak perlu memikirkan salju saat ini. Lagipula, di Jepang tidak selalunya turun salju, kok!" Mizuki berusaha untuk membangkitkan semangat teman-temannya. Lalu setelah ia berkata itu, Mizuki membuka kardus yang Dennis bawakan tadi. "Daripada salju, lebih baik kita makan ini, yuk!"


Semuanya mendekat ke Mizuki. Ternyata di dalam kardus itu ada tempat khusus untuk menyimpan makanan dingin. Tempat itu ia bawa langsung dari Jepang. Di dalamnya, ternyata berisi Es Krim, loh!


Mizuki mengangkat tempat pendingin itu dari kardus, lalu mengeluarkannya. Ia meletakan tempat itu di depan teman-temannya. "Ini Es Krim yang ku buat sendiri. Ayo makanlah! Ambil saja."


Semuanya senang sekali. Apalagi Dennis dan Akihiro. Mereka langsung mengambil Es Krim itu dari tempatnya. Lalu yang ke tiga, Adel mengambil Es Krimnya, lalu Rei, kemudian Yuni. Dan yang terakhir adalah Mizuki.


Sebelum mulai memakannya, Mizuki ingin menjelaskan tentang rasa Es Krim yang ia buat terlebih dahulu. "Es Krim ku ini rasa Strawberry pastinya. Bisa dilihat dari warnanya. Begitu juga dengan Adel." Mata Mizuki melirik ke arah Rei. "Kalau punya Rei itu rasa Matcha. Karena kebetulan tempat tinggalku di Kyoto, jadi aku bisa mendapatkan banyak teh hijau untuk membuatnya."


Mizuki masih menjelaskan. Lalu ia menengok ke arah Yuni dan Dennis yang ada di sampingnya Yuni. "Kalau punya Yuni dan Adel itu rasa Vanilla dicampur dengan Almon, lalu...."


"HUEEK! Ahh... yang ini rasanya agak aneh. Emm...."


Semuanya terkejut saat mendengar suara Akihiro yang tersedak Es krimnya sendiri. Semua langsung menengok ke arah Akihiro.


"Hei, kau kenapa?" tanya Rei yang ada di samping Akihiro.


"Ada apa dengan Es Krimnya?" tanya Dennis.


"Warnanya hijau. Itu kan matcha? memangnya tidak enak?" Adel juga ikut-ikutan bertanya.


Mizuki tertawa. Semuanya menengok ke arahnya. "Hiro... itu Es Krim Wasabi. Kenapa? Pedas, ya?"


"Ah?! Wasabi? Yang benar saja, Zuki!"


"Hehe... ini hanya percobaanku saja. Aku menabur bubuk Wasabi di atas es krimnya. Es krim sebenarnya ini adalah rasa Vanilla. Lihat, Vanilla nya ada di dalam taburan Wasabinya." Jelas Mizuki.


"Haduh... bilang dong dari tadi. Jadi aku bisa tahu. Huh, untung pedasnya tidak sama dengan cabai." Gumam Akihiro. Lalu, ia pun melanjutkan memakan Es Krimnya.


"Makan saja. Tidak akan pedas jika kau memakannya langsung dengan Vanilla nya. Jadi jangan di jilat, ya?"


"Iya, iya!"


PLOK!


Mizuki menepuk tangannya sekali, lalu bertanya, "Yosh! Semuanya sudah kebagian, kan? Hehe... bagaimana rasanya?"


Semuanya mengacungkan jempol. Rasanya ternyata enak sekali. Mizuki memang sudah pintar memasak sejak kecil. Bahkan, ia sendiri juga sudah mengetahui banyak resep makanan Indonesia.


"Wah... senang mendengarnya. Nanti jika kalian mau lagi, masih ada di tempatnya, kok!"


Semuanya mengangguk. Lalu mereka melanjutkan memakan es krimnya lagi sampai habis.


****


Malam harinya....


Saat di kamar, Dennis sedang membaca bukunya seperti biasa. Lagi-lagi ia membaca buku pelajaran Bahasa Indonesia. Sedangkan Rei? Dia sedang memainkan ponselnya sambil rebahan di atas kasurnya.


Lalu, karena merasa tidak nyaman dengan posisinya, Rei pun membalikkan mengesampingkan tubuhnya–menghadap ke Dennis.


Mata Rei sedikit terangkat. Ia menatap Dennis lewat kamera di ponselnya yang tidak sengaja ia pencet tadi. Lalu, Rei melirik ke bawah tempat tidurnya. Di bawah tempat tidur Dennis ada keranjang kecil berisi baju kotor milik Dennis.


Tadinya mau ia cuci, tapi karena hari sudah petang, jadi Dennis memutuskan untuk mencucinya besok pagi.


Di baju itu, bagian lengannya keluar dari dalam keranjang. Rei memerhatikan lengan baju Dennis itu, lalu terkejut. Ia kaget saat melihat ada bercak goresan warna merah di lengan baju itu. Walau hanya sedikit, tapi bercak merah itu telah menarik perhatian Rei.


Setelah melihat bercak itu, Rei pun bangun terduduk. Ia menatap Dennis lagi. Rei akan mencoba untuk bertanya pada temannya yang ada di hadapannya itu. "Dennis? Itu... bajumu...."


Dennis tersentak. Lalu, ia menjauhkan buku Bahasa Indonesia itu dari wajahnya. Dennis menaikan alis sebelahnya. "Ada apa, kak?"


"Itu di lengan bajumu, kok ada...."


TOK TOK TOK!


Belum saja Rei menyelesaikan pertanyaannya, tiba-tiba ada yang mengetuk pintu kamar mereka. Rei dan Dennis langsung menengok ke arah pintu yang tertutup itu.


"Eh? Sebentar, kak! Biar aku saja yang membukakan pintunya." Dennis turun dari tempat tidurnya, lalu berjalan mendekati pintu.


Dennis membuka pintunya. Ternyata di depan sana ada Akihiro dengan piyamanya dan juga Dakimakura miliknya yang ia peluk itu. Ada apa Akihiro datang ke kamar mereka?


*( Dakimakura\= Bantal peluk yang bergambar karakter di Anime/manga.)


"Kak Dian? Ada apa?" tanya Dennis.


"Emm... aku ingin tidur di kamar kalian boleh, tidak? Karena... aku takut." Jawab Akihiro. Ia semakin memeluk erat Dakimakura-nya itu.


"Eh? Memangnya kenapa? Takut karena apa?" tanya Dennis lagi.


"Aku takut. Karena di kamarku ada sesuatu yang menyerangku."


....


*


*


*


To be Continued-


*Jangan lupa vote cerita ini jika kalian suka, ya^^ Terima kasih :)