Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 18– Rei masih hidup?


Malam harinya....


Saat semuanya sudah membersihkan rumah neneknya Dennis, mereka pun langsung tertidur begitu saja di atas sofa karena kelelahan. Dengan peralatan bersih-bersih yang masih tergeletak di lantai, dan kantung sampah yang masih belum dibuang ke tempatnya, Dennis dan teman-temannya tidur dengan nyenyak di ruang tamu.


Saat waktu menunjukan pukul 10 malam, Dennis sempat terbangun karena ia mendengar suara yang mengganggu tidurnya. Secara perlahan, ia membuka mata. Pada awalnya masih terlihat kabur dan samar-samar.


Tapi pada akhirnya, pengelihatan Dennis kembali normal. Ia menyentakan matanya dengan cepat karena terkejut. Ia melihat semua teman-temannya telah mati dimakan oleh makhluk besar berwarna hitam.


Tepat di atas sofa yang mereka tiduri itu penuh dengan darah teman-temannya. Dan suara yang mengganggu tadi, adalah suara dari raungan dan suara makhluk-makhluk itu yang sedang mengunyah daging teman-temannya Dennis.


Semuanya benar-benar sudah mati. Lalu dengan cepat, Dennis menengok ke samping kirinya. Karena sebelumnya, di sana ada adiknya yang sedang bersandar di pundaknya. Tapi sekarang ini, adiknya itu hanya tersisah kepalanya saja.


Dennis pun berteriak ketakutan. Lalu setelah itu, ia langsung beranjak dari sofa berdarah itu. Ia ingin pergi keluar dari rumah neneknya. Tapi tiba-tiba saja seseorang telah menahan kakinya sampai akhirnya Dennis pun terjatuh di lantai.


Dennis menengok ke belakang dan terkejut. Karena ada satu makhluk berbulu hitam itu yang mencengkram kakinya. Dennis berusaha untuk melepaskan dirinya sambil berteriak minta tolong.


Makhluk itu sangat kuat dengan cengkeramannya. Sampai akhirnya, Dennis pun kalah dalam usahanya untuk membebaskan diri itu. Ia berhasil ditarik oleh makhluk itu. Lalu, seluruh tubuhnya mulai di cengkram oleh beberapa tangan berduri dengan jari-jari tangan yang penuh dengan kuku tajam.


Dennis mulai pasrah dengan hidupnya. Ia tidak bisa berbuat apa-apa lagi saat ini. Dan pada akhirnya, tiba saatnya untuk makhluk itu memakan korban terakhirnya. Makhluk itu akan membuka mulutnya lebar-lebar. Tapi sebelum itu....


BRAK!!


Dennis kembali membuka matanya. Pintu depan yang ada di hadapannya itu terbuka sendirinya. Ia terkejut sekaligus senang. Karena ada seseorang yang berdiri di depan pintu itu. Orang itu adalah Reizal Alfathir. Teman Dennis yang ia cari-cari selama ini!


Rei terlihat kaget saat melihat keadaan teman-temannya yang sudah tidak bisa diselamatkan lagi dengan tubuh yang sudah terkoyak itu.


Rei mulai membuka mulutnya. Ia sedikit mengeraskan suaranya. "A–aku... akan menyelamatkan kalian semua. Akan aku–"


KRAUKS!


"A–Aaaaa! Tidak!" Rei semakin terkejut sekaligus ketakutan karena ia telah melihat teman sekamarnya, sahabat satu-satunya yang masih bertahan itu tiba-tiba kehilangan kepalanya setelah makhluk berbulu hitam itu memasukan kepala Dennis ke dalam mulut besarnya.


Cipratan darah dari kepala Dennis yang terkoyak itu pun mengenai wajah serta tubuh Rei. Rei yang masih ketakutan itu hanya bisa berdiam diri di depan pintu sambil melihat pemandangan mengerikan yang ada di depannya itu. Karena... semua teman-temannya benar-benar telah terbunuh oleh makhluk aneh menyeramkan itu!


Rei jatuh terduduk di depan pintu. Lalu tiba-tiba saja semuanya jadi gelap. Yang terlihat di sekitarnya hanya terlihat beberapa potongan daging teman-temannya yang sudah tidak utuh lagi. Sisahnya... gelap gulita.


Rei mulai meneteskan air matanya. Lalu kedua tangannya itu mengepal dengan kuat, ia menahan. Berusaha untuk tidak menangis dan menjadi anak cengeng. Lalu pada akhirnya, Rei pun mengeluarkan semua yang ia pendam.


Rei berteriak sekencang-kencangnya sampai akhirnya lantai hitam atau apalah itu yang ada di bawahnya, tiba-tiba saja retak dan hancur. Dirinya terjatuh ke dalam retakan itu. Sekarang yang terlihat hanya ruangan kosong berwarna putih.


Tubuh Rei masih lemas sepenuhnya. Ia membiarkan tubuhnya itu terjatuh di ruangan itu. Ia tidak bisa apa-apa lagi. Yang sekarang sedang ia lakukan hanya menutup mata sambil bergumam di benaknya, kalau semua ini hanya mimpi saja!


****


"UWAAAAAKH! A–aduh!"


Rei tiba-tiba berteriak, lalu membuka matanya dan langsung bangun terduduk. Ia mengatur nafasnya yang masih terengah-engah. Lalu tak lama kemudian, ia mendengar ada sesuatu yang terjatuh di dekatnya.


Lalu tiba-tiba muncul seorang anak kecil di sampingnya. Rei sangat terkejut. "Eh? Siapa kamu?" tanya Rei lirih.


"Kakak mengagetkanku saja! Sakit tahu! Tadi aku ketendang kaki kakak. Aduh..." Anak kecil itu sedikit membentak Rei.


Mata Rei melirik ke sekitar. Ia tidak tahu dirinya ada di mana saat ini. Untuk mengetahuinya, Rei pun kembali bertanya pada anak kecil yang ada di sampingnya itu. "Em... anu... bisa kamu beritahu aku, ini di mana? Dan kamu ini siapa?"


Anak kecil itu mensipitkan matanya sambil meneleng dan tersenyum. Mata besarnya itu telah membuat wajah anak kecil itu semakin imut. "Umm... masa kakak lupa. Kan aku ini adik kakak. Ah, tunggu... biar kupanggil Ibu dan Ayah saja, ya? Kakak tunggu di sini saja."


Setelah mengatakan itu, anak kecil laki-laki itu pun langsung berlari begitu saja meninggalkan Rei. Ia pergi dari ruangan tempat Rei berada saat ini.


Rei melirikkan matanya ke atas sambil berpikir. "Dia adikku?" Lalu Rei menggeleng cepat. "Ah, tidak mungkin! Mungkin aku salah dengar."


Rei kembali memperhatikan lingkungan sekitarnya saat ini. Ia masih merasa heran dengan tempatnya berada. "Hmm... ini seperti gubuk atau rumah panggung? Tapi kalau dilihat... ini masih berada di pedalaman desa." Rei bergumam sambil menatap keluar jendela yang ada di sampingnya itu.


Lalu setelah itu, Rei pun membuka selimut yang menutupi tubuhnya. Bergerak secara perlahan karena ia mencoba untuk turun dari atas tempat tidur itu. Sayang sekali Rei masih belum bisa untuk berdiri. Karena saat menghentakkan kakinya di lantai, Rei merasakan sakit yang luar biasa di salah satu anggota badannya. Yaitu di bagian perutnya.


"A–aduh! Sakit..." Rei merintih sambil memegang perutnya. Lalu karena ia merasa tidak bisa untuk turun dari tempat tidur itu, Rei pun memutuskan untuk tetap berdiam diri di atas tempat tidur sampai seseorang yang tidak ia kenal datang menemuinya.


"Itu Ayah! Dia benar-benar sudah bangun, loh!"


"Eh? Suara anak kecil yang tadi." Rei bergumam setelah mendengar suara itu dan juga suara hentakan kaki yang perlahan semakin mendekat ke arahnya.


Lalu tak lama kemudian, muncul sosok seseorang dari balik pintu. Seorang wanita setengah baya yang datang. Juga di belakangnya ada seorang pria tua yang sedang ditarik tangannya oleh anak itu.


Wanita itu terkejut dengan ekspresi wajah senang. Lalu dengan cepat, wanita itu berlari ke arah Rei dan langsung memeluknya. Rei hanya bisa diam dengan heran.


Ia benar-benar tidak mengenal beberapa orang yang ada di dekatnya itu. Tapi... Rei merasakan sesuatu. Pelukan wanita itu terasa hangat di tubuh Rei. Rei sedikit menyukainya.


"Oh, Rhino kamu masih hidup, Nak! Ibu sangat bersyukur sekali." Ucap wanita itu lirih. Lalu setelah itu, ia melepaskan pelukannya.


"Kamu baik-baik saja, kan, Nak? Karena saat Ibu menemukanmu, keadaanmu sedang tidak baik. Apa yang telah terjadi padamu?" tanya Wanita itu.


Rei mengerjap. Ia tidak akan menjawab wanita itu, melainkan ia malah mengeluarkan satu pertanyaan yang telah membuat semua orang yang ada di hadapannya itu terkejut.


"Siapa kalian?" tanya Rei.


Wanita itu terkejut. Lalu ia menjawab dengan cepat. "Mana mungkin kamu lupa, Nak! Ini Ibu. Dan ini Ayahmu, Rei. Lalu... ini Lino, adikmu! Kami adalah keluargamu."


"Hah? Keluarga?!"


*


*


*


To be Continued-


Bonus:


Ternyata selama ini, Rei ada di rumah Author :v