
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
****
[ Ayo semuanya pergi ke jalan menuju ke sekolah. Karena kami telah menemukan misteri baru lagi! ]
Seketika semuanya terkejut. Lalu dengan cepat, Rei pun merebut ponsel yang sedang dipegang Dennis. "Kalian mau ngapain lagi, sih? Misteri apa lagi?"
[ Eh? Ini masih tentang kematian orang yang memiliki truk itu. Kami sekarang akan menyelidikinya. Sebenarnya... kamu masih belum tahu pasti orang itu dibunuh atau bunuh diri, tapi sekarang ini kami sudah menemukan petunjuk baru. ] Jelas Rashino.
Lalu tak lama setelah Rashino berhenti berbicara, mulailah Nashira yang mengeluarkan suaranya. [ Jadi apakah kalian semua ingin ikut bersama ke sana? Sekalian membantu kami. ]
Rei terdiam. Ia sedikit ragu menjawabnya. Begitu juga dengan semuanya. Sebenarnya, mereka tidak ingin pergi ikut dengan Rashino dan Nashira. Bukan berarti mereka tidak ingin membantu si kembar. Tapi mereka sedang ada urusan lain, dan menurut mereka juga, kasus yang sedang diselidiki Rashino dan Nashira itu tidak sepenuhnya penting.
[ Hei, kenapa kalian diam saja? Dennis! Rei? Kalian masih di sana, kan? ]
"E–Eh! Begini... maaf, ya? Bukannya kami tidak ingin membantu kalian. Tapi saat ini, kami semua sedang tidak bisa karena kami juga ingin pergi ke suatu tempat." Rei akhirnya menjawab.
[ Huf... begitu, ya? Ya sudah, deh! Tidak apa-apa. Biar aku saja dengan Nashira. Kalian hati-hati, ya? ]
"Iya kamu ju–"
TUT!
Belum saja Rei menyelesaikan perkataannya. Tiba-tiba saja Rashino langsung mematikan teleponnya.
Setelah telepon diakhiri, Rei pun kembali mengembalikan ponsel Dennis pada pemiliknya. Dennis menerimanya, dan langsung memasukan ponsel itu ke dalam saku celananya.
"Baiklah, sekarang ayo kita jalan!" ajak Rei. Ia menggendong tasnya di belakang dan kedua tangannya menggenggam dua gagang koper besar dan kecil. Sebanyak itukah barang-barang Rei?
Mata Rei melirik ke arah Akihiro yang masih sibuk dengan cemilannya. "Ayo, Dian! Kita harus pergi sekarang."
"Tu–tunggu dulu sebentar! Aku ingin meng–"
"Tidak ada waktu, ah! Cepatlah! Jangan memikirkan makanan terus, dong, Dian!" bentak Mizuki sambil menarik-narik tangan kiri Akihiro.
Akihiro yang masih duduk bersila di depan televisi itu hanya bisa memberontak untuk melepaskan genggaman tangannya dari Mizuki. Karena saat ini, Akihiro sedang bersantai sambil menikmati cemilan di rumah Dennis dan juga sambil menonton Televisi.
"Ah tunggu sebentar lagi, dong! I–ini sebentar lagi habis."
"Kenapa kau tidak membawanya saja! Ayolah cepat! Nanti keburu menjelang sore. Terus nanti malam lagi. Udah tau waktu itu cepat!" omel Mizuki pada Akihiro.
"Iya, deh! Aku bawa saja. Kan makan sambil jalan itu enak juga, loh! Hehe...."
"Ya sudah ayo cepat. Dan jangan lupa matikan TV-nya."
"Oke... eh?! Rei tunggu dulu. Lihatlah ini sebentar!" Akihiro memanggil Rei sambil menarik kerah belakang bajunya. Dengan cepat, Rei langsung menengok ke arah Akihiro dengan tatapan tajamnya. "Apaan, sih?!"
"I–itu..." Akihiro menunjuk ke layar Televisi yang saat ini sedang menayangkan acara berita secara langsung. Semuanya menonton berita itu sebentar sambil membaca judul berita yang tertulis di bagian bawah layar Televisi.
"Ujian Sekolah yang Aneh. Ratusan Murid Meninggal Secara Misterius."
Setelah membaca judul berita itu, seketika semuanya langsung terkejut. Lalu mereka pun duduk manis di depan televisi untuk menonton berita itu sebentar saja. Karena menurut mereka, berita yang ditayangkan kali ini amatlah penting.
Terlihat di layar televisi sudah ada seorang pembawa acara di siaran langsung yang memakai jas hitam dengan setumpuk kertas di genggamannya. Orang itu mulai berbicara setelah acara kamera dipasang dan acara pun dimulai.
[ Selamat siang. Saya dengan Rifky Hari Syahputra akan membawakan laporan kasus yang mengerikan hari ini. Tapi sebelum kita memulainya, saya ingin memperkenalkan bintang tamu kita hari ini. ]
Orang yang dimaksud itu pun datang ke hadapan kamera. Seorang wanita berumur 30 tahunan datang dengan memakai baju yang tertutup dan sopan.
[ Selamat siang, mbak Dewi! ]
[ Ya, Mas Rifky? ]
[ Begini... menurut anda, bagaimana perasaan anda tentang kasus yang sedang viral di belakangan ini? Apakah anda merasa cemas atau khawatir dengan kejadian ini? ]
[ Kenapa anda mempercayai kasus itu? ]
[ Ya... karena sudah terbukti. Korban sudah semakin banyak. Dan jarang sekali ada orang yang selamat dari kasus pembunuhan itu. ]
[ Hmm... kira-kira bagaimana pembunuhan atau kasus kematian yang aneh itu bisa terjadi? Tolong jelaskan! ]
[ Saya tidak tahu terlalu banyak tentang ini, ya, Mas? Tapi yang saya ketahui, banyak laporan yang masuk dari para korban yang selamat. Katanya, sebelum pembunuhan itu terjadi, para korban sempat mendapatkan sebuah pesan Message dari ponsel atau laptop mereka. Salah satu korban selamat mengatakan kalau mereka mendapatkan pesan itu pada jam 11 malam dan isi pesannya menunjukan hal-hal yang aneh dan tidak wajar. Para korban disuruh untuk melakukan tindakan kriminal dan lain sebagainya lewat pesan yang masuk itu. ]
Wanita itu terdiam sejenak, lalu kembali berbicara. [ Pesan aneh itu berisi tentang ajakan untuk menarik si korban ke tempat lain sambil melakukan kegiatan yang harus dilakukan seperti yang tertulis di dalam pesan. Ada yang suruh membunuh orang, membunuh saudara, tetangga, anak dan lain sebagainya. Ada juga yang harus memperkosa orang lain, mencuri, merampok, dan melakukan hal yang tidak senonoh lainnya. ]
[ Oh jadi cukup bahaya juga, ya? Lalu... bagaimana kalau si korban tidak ingin mengikuti apa yang disuruh di dalam pesan itu? ] tanya sang pembawa berita utama.
Wanita itu menjawab, [ Saya tidak tahu. Tapi kalau menurut laporan yang masuk ke saya, jika si korban tidak ingin melakukan hal itu, maka ia akan mati dengan sendirinya. Kadang, tempat terjadinya kematian mereka adalah di dalam kamar mereka sendiri. Tidak hanya meninggal biasa, tapi mereka meninggal dengan keadaan yang tidak wajar. Sebagian besar, kamar korban pastinya penuh dengan bercak darah dari tubuh korban. Entah bagaimana bisa seperti itu. Karena belum ada saksi yang melihat kematiannya secara langsung. ]
[ Sungguh mengerikan juga, ya, pemirsa? Tapi... katanya juga ada juga kematian yang sama. Tapi kematian yang sedang tersebar kali ini, adalah kematian para murid yang sedang mengikuti ujian sekolah. ]
[ Iya. Saya juga mendengar berita seperti itu akhir-akhir ini. ]
[ Tapi bagaimana bisa, ya? Para murid yang katanya sedang mengikuti Ujian Berbasis Komputer itu kok bisa meninggal seperti korban Terror Internet? Apa mungkin komputer juga ada hubungannya dengan kasus pesan kematian itu juga? ]
[ Sepertinya begitu. Tapi kalau soal kematian para murid, saya belum melihatnya secara langsung. Tapi yang saya ketahui, katanya hampir seluruh sekolah di kota telah menjadi korban. Murid yang meninggal sudah tidak dapat dihitung dengan jari lagi. ]
Seketika Dennis dan teman-temannya yang sedang menonton acara berita itu pun terkejut mendengarnya.
[ Waduh... sebanyak itu, kah? ]
[ Iya, Mas! Entah kapan bisa berakhir kasus seperti ini. Semoga, polisi bisa menemukan pelaku dari semua ini. ]
[ Benarkah ada pelaku dibalik semua ini? Saya dengar, katanya kalau kejadian ini disebabkan oleh terror dari makhluk halus yang jahat! ]
[ Entahlah. Saya tidak tahu jika kasus ini berhubungan dengan hal ghaib seperti itu. Tapi semoga saja, di hari anak sekolah untuk berprestasi tidak akan bisa terganggu dengan hal yang mengerikan seperti itu lagi. ]
[ Iya. Lagipula sekarang kan sedang masa-masa anak-anak untuk meraih impian mereka. Dan seluruh sekolah juga sedang melaksanakan Ujian Akhir Semester yang dilakukan melalui Perangkat Komputer. Kan bahaya jika kasus itu muncul di sekolah lainnya. ]
[ Iya... bisa bahaya juga. ]
Laporan beritanya pun diakhiri. Saat ini, Dennis dan teman-temannya benar-benar ketakutan. Karena... hanya sekolah mereka saja yang belum mengikuti Ujian Akhir Semester itu.
Mereka benar-benar takut. Takut karena jika kasus Terror Internet itu benar-benar datang menghampiri mereka disaat mereka sedang melakukan ujian di hari kedepannya nanti.
"Haduh... Rei... semoga kau bisa percaya dengan kasus seperti ini." Mizuki menggoyangkan tubuh Rei dengan tubuhnya yang masih bergetar karena ketakutan dengan berita yang tadi.
"Kok... aku jadi takut ingin masuk sekolah, ya?" gumam Dennis.
"Se–setidaknya kita masih ada di sini. Ba–bagaimana kalau saat masuk sekolah nanti, kita tidak usah mengikuti Ujian Akhir Semester itu?" kata Akihiro.
"Haduh... semuanya tenang saja! Hal seperti itu tidak mungkin terjadi." Ujar Rei berusaha untuk menenangkan teman-temannya. Sebenarnya, dirinya sendiri juga sudah merasa ketakutan.
"Jadi kau masih belum percaya dengan berita itu, Rei?!" bentak Mizuki.
"Bukan aku tidak percaya, tapi bagaimana, ya? Apakah kalian tidak berpikir kalau semua berita itu terdengar omong kosong? Terror Internet itu tidak mungkin ada, loh!"
"Reeeii...!"
"Dan lagipula, jika memang benar ada, bagaimana kejadian itu bisa terjadi? Kalian sendiri juga tidak bisa memikirkan kejadian yang masuk akal dan logis dengan pikiran kalian sediri, kan?!" Kali ini Rei mengeluarkan suaranya agak membentak.
Semuanya terdiam. Rei pun menghembuskan nafas berat, lalu kembali berkata, "Percayalah padaku! Semua berita itu tidak ada. Kita akan baik-baik saja saat mengikuti ujian nanti. Tapi jika memang benar ada, aku... akan berusaha untuk melindungi kalian semua!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8