
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
BUK!
"KYAAAA!!"
Semuanya dikejutkan oleh suara teriakan dari seorang anak perempuan. Dennis sangat mengenal suara itu. Lalu dengan cepat, ia langsung berteriak memanggil nama adiknya sambil berlari ke tengah lapangan untuk mencari adiknya.
Setelah Dennis berlari, Rashino juga pergi mengikuti Dennis. Begitu juga dengan yang lainnya. Tapi tidak dengan Yuni. Dia masih berdiri diam di tempatnya sambil... berbicara dengan orang lain yang hanya bisa dilihat oleh matanya.
"Eh?" Rei menggeleng kepalanya dengan cepat, lalu menyentakan matanya. Ia terlihat terkejut saat melihat keadaan tubuhnya yang sudah dipenuhi oleh noda darah yang berbau amis. Lalu setelah itu, secara tidak sengaja matanya melirik ke arah Bob yang sudah tergeletak bersimbah darah di mana-mana.
"E–eh? Apa yang kulakukan?" gumam Rei heran. Ia mengangkat kedua tangan dan melihat kedua tangannya itu telah berubah menjadi warna merah sepenuhnya. Rasanya lengket dan bau darah yang sangat menyengat. Rei sampai tidak tahan dengan bau dari tubuhnya sendiri. "Apakah... si Bob itu sudah–"
"Kak Rei!" Dennis menegur teman sekamarnya, lalu menghampirinya. Dennis menyentuh pundak Rei dan bertanya tentang keadaanya. Tapi Rei hanya menjawab dengan menggelengkan kepalanya.
Sesekali ia menengok ke arah Dennis, lalu kembali menoleh ke arah si Bob. Dennis mengangguk senang. "Ooh! Si Bob itu sudah mati sekarang. Kau memenangkan pertarungannya, Kak Rei!"
"Ta–tapi... apa aku yang sudah membunuhnya dengan cara seperti itu?" tanya Rei dengan nada suara kecil.
Dennis tersentak. Ia tahu kalau kalau Rei sedang ketakutan saat ini karena dirinya sudah berani membunuh orang dengan tangannya sendiri. Dennis menggeleng dan menjawab, "Eh, ti–tidak... ah, sebenarnya–"
Tapi tiba-tiba saja perkataannya sempat disela oleh teriakan adiknya yang memanggil namanya. Sontak Dennis langsung menengok ke arah adiknya datang. "A–adel! Ada apa?"
"Kak! Kakak! Ini gawat!" Adel terlihat panik. Lalu tak lama setelah Adel berhenti di hadapan kakaknya, ada beberapa teman sekelompoknya yang juga datang membawakan kabar buruk yang sama.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Rei.
"I–itu! I–ibu kantin... Ibu kantin tiba-tiba saja pergi meninggalkan kami. Dia pergi ke atap sekolah... lalu... lalu...."
"Coba ceritakan perlahan-lahan, Adel. Tenangkan dirimu dulu." Dennis mengelus kepala Adel untuk membuat adiknya lebih tenang dan tidak panik lagi.
Tapi tetap saja Adel masih uring-uringan. Dia terus melompat pelan dengan wajah cemasnya. Lalu dengan cepat, ia melepaskan tangan kakaknya dari rambutnya, lalu menarik tangan kakaknya itu untuk membawanya ke suatu tempat.
Setelah Adel dan Dennis pergi, Rei juga berlari mengikuti kedua adik kakak itu. Lalu setelah mereka pergi, beberapa anak lain yang merasa penasaran juga ikut pergi. Tidak hanya anak-anak, tapi beberapa guru lainnya juga mengikuti Adel untuk melihat apa yang telah terjadi di tempat yang dicemaskan Adel.
Ternyata Adel membawa kakaknya ke belakang gedung 2. Setelah sampai di sana, mereka semua terkejut. Karena mereka melihat mayat Ibu kantin yang sudah tergeletak bersimbah darah di atas jalan beraspal dan bagian kepalanya itu membentur batu pinggir jalan yang membuat kepalanya bocor dan mengeluarkan banyak darah.
"A–apa yang telah terjadi di sini, Adel?! Bukankah kamu dan kelompokmu ditugaskan untuk menjaga Ibu kantin?" tanya Dennis cepat setelah ia mundur dua langkah untuk menjauh dari mayat si Ibu Kantin.
"Adel tadi jagain Ibu kantinnya. Tapi saat kejadian Kak Rei sedang menusuk-nusuk penjahatnya, tiba-tiba saja Ibu kantin berlari gitu aja ke arah tangga. Kita semua mengejar dia sampai ke atas atap. Nah! Saat di atap gedung 2, Ibu ini tiba-tiba saja menaikan kakinya ke atas pembatas tembok, lalu menjatuhkan dirinya dari sana. Dan akhirnya... Ibu kantin jatuh sampai ke sini." Jelas Adel.
Semuanya terkejut mendengar cerita dari Adel. Sampai akhirnya, ada beberapa pertanyaan yang muncul. Salah satunya, pertanyaan yang membuat Rashino bingung. Ia bertanya, "Kenapa Ibu kantin bunuh diri?"
Belum tahu motif kematiannya, Rashino sudah menganggap kalau Ibu kantin itu bunuh diri. Tapi kalau didengar dari ceritanya Adel, sepertinya Ibu kantin memang bunuh diri. Mereka bisa langsung menyimpulkan kematian Ibu kantin karena ada banyak saksi yang melihat kematian Ibu kantin.
"Iya, yah..." Rei sedikit menunduk dan melipat kedua tangannya ke depan untuk berpikir. "Kenapa tiba-tiba saja dia mengakhiri hidupnya dengan cara seperti ini?"
Semuanya terkejut. Kepala Ibu kantin itu bergerak kembali lalu mengeluarkan beberapa kata yang terdengar lirih. Tapi setelah kata-kata terakhirnya itu, ia pun menghembuskan nafas terakhirnya.
Semuanya menundukkan kepalanya untuk berduka dan berharap semoga kematian Ibu kantin tidak membawa bencana dan arwahnya bisa pergi dengan tenang. Lalu setelah itu, mereka kembali mengangkat kepala, dan beberapa guru yang ada di sana langsung menghampiri Ibu kantin untuk membawa tubuhnya ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Tapi sebelum para guru membawa tubuh Ibu kantin yang sudah tidak bernyawa, tiba-tiba saja Yuni muncul di samping Dennis. Sungguh, Dennis sangat terkejut dengan kehadirannya. Ia datang tanpa tanda dan langsung berujar dengan perkataan yang tidak jelas. "Ibu itu ingin membunuh kita."
"Eh? Apa maksudmu, Yuni?" tanya Rei.
"Kak Rei, apa kau tidak sadar kalau selama ini Ibu kantin itu selalu mengawasimu? Target dia adalah dirimu, Kak Rei. Dia ingin membunuhmu." Ujar Yuni pelan.
Rei melebarkan matanya, lalu menggeleng cepat. "Eh? Perkataanmu semakin tidak jelas. Kenapa kau berkata seperti itu? Orangnya baru saja meninggal, loh!"
"Tapi ini fakta. Coba yang terakhir itu. Saat sore ini, pas kita sedang berkumpul di kantin untuk mendiskusikan tentang rencana ini."
Rei mengangguk. Ia akan mencoba untuk mengingatnya. Yuni melanjutkan, "Kau tahu saat Kak Dian ingin memesan sebuah sup kari ayam itu? Lalu setelah dia berdiri, tiba-tiba saja dirinya menawarkan dirimu juga, kan, Kak Rei?"
"I–iya, lalu?"
"Yah... setelah ibu kantin pergi, kita kan melanjutkan diskusinya. Tak lama setelah Ibu kantin pergi ke dapur, aku minta izin pergi ke kamar mandi. Aku mencurigai sesuatu."
"Apa yang kau lihat?"
"Menuju ke toilet, aku sempat mengintip lewat pintu dapur. Di dalam sana, aku melihat Ibu kantin memasukan bubuk putih ke dalam mangkuk yang akan ia siapkan untuk Kak Dian dan Kak Rei. Aku juga mencium bau yang tidak enak dari dalam dapur. Tapi untuk bau itu, aku tidak peduli. Yang aku curigai adalah... bubuk putih apa yang dia masukan itu?"
"Oke... lalu apa jangan-jangan... saat makanan itu datang, kau sengaja menabrak Ibu kantin sampai makanan itu terjatuh ke lantai agar aku tidak memakannya, kan?" Rei menebak. Yuni mengangguk. Ternyata dugaannya benar.
"Tapi kan... bisa saja bubuk putih itu garam." Dennis menyangkal.
Yuni menggeleng pelan. "Tidak. Karena... aku melihat ada bungkusan kecil berwarna putih di samping mangkuk makanannya. Aku curiga kalau bungkusan itu adalah... racun yang bisa menyebabkan kematian."
"Aaaah! Aku tidak tahu itu racun atau bukan. Tapi... kenapa Ibu kantin itu ingin membunuh Rei?!" tanya Dennis sambil menggaruk kepalanya.
"Mungkin suruhan dari si Bob itu." Nashira menjawab. "Kalian tahu, kan? Ibu kantin pernah bilang kalau nyawanya terancam jika dia membocorkan rahasia di sekolah ini. Kalau dia melakukannya, dia akan dibunuh oleh Bob."
"Dan... kalau sudah tahu dia tidak boleh membocorkan rahasia itu, kenapa dia malah memberikan informasi tentang sekolah ini dengan alasan dia mau membantu kita semua." Rashino menimpali. "Lalu setelah ia berniat ingin menolong kita, kenapa dia juga masih ada niat untuk membunuh Rei juga? Ini aneh sekali!" lanjut Rashino sambil menghentakkan kakinya beberapa kali ke tanah karena merasa kesal.
"Mungkin Ibi kantin hanya melaksanakan rencananya saja." Ujar Rei. Ia akan menjawab semua pertanyaan dari temannya setelah lama berpikir. "Semua informasi itu memang benar. Tapi sebenarnya hanyalah sandiwara semata saja untuk membuat kita semua percaya padanya. Lalu setelah itu, kita pasti akan membuat rencana di depan dirinya. Nah! Si ibu kantin itu adalah mata-mata yang akan memberikan informasi tentang rencana kita pada Bob."
"Makanya tadi... Kak Dian dan si Adit ketahuan karena Bob telah mengetahui rencana kita, gitu?" tanya Dennis.
"Mungkin bisa seperti itu." Rei mengangguk. Semuanya mempercayai pemikiran dari Rei saja. Karena semuanya tidak tahu harus berpikir apa-apa lagi tentang kejadian malam ini. Sampai-sampai... tujuan Bob untuk membuat ujian virtual kematian itu juga masih belum ada tang tahu! Mereka hanya harus mencari informasi lainnya yang akan datang....
*
*
*
To be continued
Follow IG: @pipit_otosaka8