Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 12– Rei Menghilang


****


Pukul 5 pagi, alarm di ponsel Dennis pun berbunyi. Sedikit pergerakan dari tubuh Dennis. Lalu ia pun mengangkat kepalanya dan melirik ke arah ponselnya.


Tangannya terangkat lemas untuk menekan tombol di ponselnya itu. Tentunya untuk mematikan alarm berisik yang berbunyi di ponselnya.


Setelah alarm itu mati, Dennis kembali melemaskan badannya. Lalu tak lama kemudian, ia bangun terduduk di atas tempat tidurnya. Ia meregangkan tubuhnya sambil menguap.


Setelah itu, matanya melirik ke atas tempatnya Akihiro tidur. Yaitu di atas tempat tidurnya Rei. "Kak Dian...? Pagi!" ucapnya pelan. Wajahnya masih seperti orang mengantuk.


"Kak Dian? Bangun..." Dennis berujar pelan. Tapi Akihiro masih belum menggerakkan tubuhnya sedikit pun.


"Eh? Alarm sebesar itu masih dia abaikan? Apa mungkin dia gak dengar?" pikir Dennis.


Karena energi Dennis sudah terisi penuh, ia pun memutuskan untuk turun dari tempat tidurnya, lalu membangunkan Akihiro yang masih terlelap. Pulas sekali!


"Kak Dian! Banguuun!" Dennis berteriak di dekat Akihiro.


Tapi hanya dengan cara itu, tidak dapat membangunkan Akihiro. Tubuhnya bergerak sendiri saja masih belum. Dennis jadi heran. Kenapa kakak yang mungkin lebih tua dari dia itu selalu bangun terlambat? Sudah dibangunkan saja masih tidak mau. Apalagi jika tidak ada yang membangunkannya?


"KAKAAAK! BANGUUUN! BANGUN WOY!" sekali lagi Dennis berteriak. Lalu karena sudah merasa geram, ia pun menarik paksa selimut yang menutupi seluruh tubuh Akihiro itu.


"Eh?!" Dennis tersentak. Di bantalnya, ia melihat ada ponselnya Akihiro yang sedang disambungkan seutas kabel putih yang panjang. Dennis mencari ujungnya kabel itu. Ia pikir kabel itu terhubung ke stop kontak. Tapi bukan. Karena stop kontak saat ini sedang kosong.


Ternyata... itu kabel dari earphone yang digunakan Akihiro selama ia tidur. "Cih! Pantas saja dia tidak mendengar apapun!" Dennis menggerutu.


Lalu ia pun mencopot earphone yang menempel di telinga Akihiro. Setelah itu, Dennis kembali berteriak. "Kakaaak! Sudah waktunya untuk bangun! Ayo kita siap-siap!"


Akihiro menyentakan matanya dengan cepat, lalu berbalik badan. Di sampingnya, ia melihat ada Dennis yang berdiri di sana dengan earphone miliknya yang Dennis pegang.


"Dennis? Bikin kaget saja! Kembalikan earphone ku sini!" pinta Akihiro.


"Bangun dulu. Baru kuberikan."


Akihiro menurut. Ia pun terduduk di pinggiran tempat tidurnya. "Sudah, sini!"


Sesuai janjinya, Dennis pun mengembalikan earphone itu kepada Akihiro. "Sebenarnya kakak dengar lagu apa, sih? Sampai tidak dengar begitu. Pasti lagunya keras, kan?"


"Tidak. Ini lagu lembut. Hanya saja aku meninggikan volume suaranya, hehe... kau mau dengar? Yang sekarang dia sedang menyanyikan lagu Kiseki."


*(♪Greeeen–Kiseki\= Keajaiban.)


"Oh, Kiseki? Aku tahu lagu itu." Dennis menepuk tangannya sekali. Lalu ia mengambil kembali earphone yang diberikan Akihiro. Memasangnya di telinga, dan mulai mendengarkan.


"Hmm... aku tahu ini. Lagu super lembut yang paling enak di dengar di pagi hari." Gumam Dennis.


"Nah, benar, kan? Makanya aku suka mendengarkan lagu seperti itu. Malah aku mengoleksinya juga." Akihiro membuka ponselnya. Mengetik sesuatu. Lalu memperlihatkan layarnya ke hadapan Dennis.


"Lihat! Aku juga mengoleksi lagu-lagu dari grup Vocaloid. Ada lebih dari 500 lagu. Kau tahu itu, kan?" Akihiro menunjukkan koleksinya dengan bangga ke Dennis.


*( Vocaloid, adalah perangkat lunak yang dibuat oleh Yamaha Corporation yang dapat menghasilkan suara nyanyian manusia. Singkatnya, penyanyi dari Vocaloid adalah penyanyi virtual/tidak nyata. )


Dennis terlihat senang sekali. "Waaah! Kau pasti menyimpan lagunya Miku, kan? Pasti banyak nih!"


*( Hatsune Miku\= karakter Vocaloid yang paling terkenal dari yang lainnya.)


"Oh iya pasti! Miku lagi... aku fans beratnya banget, loh! Lihatlah... ada banyak sekali, kan? Hehe..."


"Ah, oke." Dennis mengangguk. Lalu ia mengembalikan earphone Akihiro kepada pemiliknya. "Nanti saja kita bahas ini. Sekarang ayo! Kita harus siap-siap untuk ke kelas nanti."


"Ya! Sekalian lewat bawah, ayo mampir ka kamarku juga. Aku yakin, Rei pasti masih tidur. Haha...."


"Dia anak rajin. Pasti dia sudah duluan pergi."


****


Tok... Tok....


Saat Dennis dan Akihiro sudah sampai di depan kamar Akihiro yang sebenarnya, mereka mengetuk pintu sambil memanggil nama Rei di dalamnya.


"Rei? Kau ada di dalam? Aku masuk, ya?" teriak Akihiro.


Dari tadi Rei tidak menjawab. Lalu karena penasaran dengan apa yang Rei lakukan di dalam sana, Akihiro memutuskan untuk membuka pintu kamarnya sendiri.


Saat di lihat di dalamnya, Akihiro dan Dennis terkejut. Karena mereka melihat kamar Akihiro itu berantakan. Masih tidak ada yang berubah seperti semalam. Saat Akihiro meninggalkan kamarnya. Dan... di dalam kamar itu mereka tidak menemukan Rei.


"Pantas saja tidak ada jawaban. Rei tidak ada di dalam." Keluh Akihiro.


"Kan sudah aku bilang, dia pasti sudah pergi duluan." Kata Dennis. "Sudahlah... ayo kita kembali saja."


"Tapi kok aneh, ya? Kamarku masih berantakan seperti tadi malam?" pikir Akihiro.


"Mungkin Rei belum sempat merapihkannya."


"Ah, iya kali, ya? Sudahlah... ayo kita pergi."


"Ya."


"Eh, Dennis, lewat sini saja lebih dekat. Kalau balik lagi ke jalan itu, sama saja kita muter-muter. Ayo ikuti aku!"


"Huh... sekolah ini sungguh besar sekali."


"Ya... tapi entah kenapa muridnya juga guru yang mengajar sedikit sekali."


"Mungkin karena angker." Dennis menjawabnya dalam hati.


Akihiro kembali menutup pintu kamarnya. Lalu setelah itu, mereka berdua kembali melangkah. Berjalan di lorong yang semalam bekas dilewati Rei dan Hantu menyeramkan itu.


Saat di pertigaan di pojok lorong itu, Dennis dan Akihiro berbelok ke kanan. Sedangkan semalam, Rei berlari ke kiri. Itu berarti, mereka berdua tidak sepenuhnya melewati jalan yang dilewati Rei semalam saat ia sedang kejar-kejaran sama hantu itu.


"Kak Dennis!"


Dennis berbalik badan. Begitu juga dengan Akihiro. "Eh, Adel?"


Adel dan teman sekamarnya itu sedang berdiri di lorong yang satunya. Lorong yang ada di sebrang Akihiro dan Dennis. Lorong itu menuju ke lapangan luar dan tangga menuju lantai dua.


Dennis berlari kecil menghampiri adiknya itu. "Adel sedang apa di sini?"


"Aku hanya lewat saja. Tadinya kami ingin ke kamar mandi juga sama kayak kakak. Tapi... di sana... di sana kami menemukan...."


"Kami menemukan bercak darah di depan gudang." Karena Adel terlalu gugup untuk mengatakannya, jadi Yuni menyela perkataan Adel.


Dennis dan Akihiro terkejut. "Eh? Bercak darah?" mereka mengatakannya bersamaan. "Di mana itu? Apa telah terjadi pembunuhan lagi?!" Mereka juga bertanya dengan nada yang kompak.


"Entahlah. Aku belum tahu. Tapi... yang kami temukan hanya bercak darahnya saja." Ujar Yuni.


"Ayo kakak! Kita harus panggil guru!" ajak Adel menarik-narik tangan kakaknya.


"E, eh! Coba kakak mau lihat dulu. Baru kita panggil guru."


"Itu kak, di sana..." Adel menunjuk


Dennis mensipitkan matanya. Lalu ia dengan Akihiro berjalan secara perlahan mendekati bercak darah itu. Saat dilihat lebih jelas lagi, ternyata itu hanya bercak. Darahnya tidak terlalu banyak.


"Kira-kira ini bercak darah siapa, ya?" tanya Dennis.


"Mungkin ini darah serangga." Jawab Akihiro santai.


"Tidak mungkin! Serangga tidak punya darah, tahu!"


"Eh, ada ya? Nyamuk kalau ditepok keluar darah, tuh!"


"Oh iya! Tapi hanya sedikit. Lebih dikit dari ini."


"Halah... anggap saja nyamuknya besar."


"Oh, mungkin saja, ya?"


"Haduuuh... kakak-kakak ini malah bicara omong kosong! Jangan bercanda di waktu yang seperti ini." Celoteh Adel sambil menjambak rambut kedua kakak-kakak yang ada di depannya itu. Walaupun tinggi tubuhnya pendek, tapi tangan Adel masih bisa meraih rambut kakaknya.


"Ma, maaf! A, ayo kita lapor ke guru." Ujar Dennis cepat sambil berusaha untuk melepaskan genggaman tangan adiknya dari rambutnya itu.


"Tapi sebelum itu, kita hubungi Kak Rei terlebih dahulu. Dia pasti akan tahu apa yang akan dia lakukan." Kata Yuni pelan.


"Oh iya. Ayo kalian telepon Abang Rei sekarang juga!" perintah Adel pada kedua kakaknya itu.


"Eh, ponselku kan ada di kamar." Kata Akihiro.


"Aku juga!" Dennis menimpali.


"Biar aku saja." Yuni mengeluarkan ponsel yang sedari tadi ia sembunyikan di balik handuk yang ia bawa itu. Yuni mengetik di ketikan ponselnya, lalu menempelkannya ke telinga kanannya.


*TUUUT... TUUUTT....


TRIIING... TRIIIING*....


Yuni terkejut. Ia mendengar suara nada dering ponsel lain. Ia menurunkan tangan yang memegang ponselnya, lalu bertanya, "Kalian ada yang membawa ponsel?"


"Eh? Apa maksudmu?" tanya Dennis bingung. "Kan sudah aku bilang, ponselku di kamar."


"Lalu itu bunyi ponsel siapa?"


"Mana? Tidak ada suara tuh!"


Yuni kembali melihat ke layar ponselnya. Ternyata, tanpa sengaja ia telah mematikan teleponnya. Lalu, Yuni kembali menekan nomor Rei lagi untuk menghubunginya sekali lagi.


TRIIING... TRIIING....


"Tuh? Kalian tidak dengar itu? Ada suara ponsel lain di sini!"


Akhirnya semuanya juga mendengarnya. Mereka mencari asal suara itu. Yuni juga menjaga ponselnya agar tidak tertekan tombol lain lagi.


Mereka menemukannya! Suaranya tak jauh dari bercak darah tadi. Ternyata suara bunyi ponsel itu ada di dalam gudang yang ada di lorong sana.


"Asal suaranya dari dalam sini." Kata Akihiro.


"Tunggu Yuni, kamu sedang menelpon siapa itu?" tanya Dennis.


"Rei." Jawab Yuni singkat.


"Masih mencoba untuk menghubunginya?"


"Iya. Ini masih terhubung. Belum ku matikan." Yuni memperlihatkan layar ponselnya pada Dennis.


"Suara nada dering itu masih ada. Coba kau matikan."


"Oke."


TUT!


.....


Setelah Yuni mematikan ponselnya, suara nada dering itu juga ikut mati. "Tidak salah lagi." Dennis bergumam. "Bunyi ponsel itu berasal dari ponsel Rei. Dan suara ponsel Rei itu berasal dari dalam gudang ini. Itu berarti, Rei ada di dalam gudang ini!"


*


*


*


To be Continued-