
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Dennis dan Adel terlihat ketakutan. Kalau Rei hanya biasa saja. Tapi ia juga sedikit terkejut saat melihat satu ruangan yang penuh dengan darah itu. Dengan berani, Rei pun masuk ke dalamnya untuk memeriksa ruangan tersebut. Dennis dan Adel juga ikut. Mereka jadi penasaran.
Bau amis darah dan busuk dari daging di sekitar mulai tercium saat mereka masuk. Di pojok ruangan terdapat papan yang tertempel di dinding kayu. Di sana terdapat beberapa benda tajam yang pastinya digunakan untuk memotong daging.
"Apakah benar ini semua ulah si Hantu Hitam itu?" gumam Rei sambil memeriksa beberapa benda tajam yang ia lihat di atas papan. Lalu Rei menyentuh satu pisau daging dan bergumam, "Tidak mungkin, kan?"
"Aku tidak tahu Kak Rei." Dennis menjawab gumaman Rei. "Tapi... semua ini terlihat nyata. Aku tidak nyangka Cahya bercerita kisah nyata pada kita."
Dennis berjalan mendekati pintu lain yang ada di bagian belakang gubuk. Tadinya ia ingin membuka pintu itu, tapi ia sempat mendengar gumaman Rei lagi.
"Sepertinya ini semua lebih dari sekedar cerita." Rei mengangkat satu golok dari atas papan. Lalu karena beban golok itu terasa berat, secara tidak sengaja Rei menjatuhkan goloknya ke bawah dan menyenggol satu karung (yang penuh dengan kepala manusia) di sampingnya.
Karungnya terjatuh, lalu ada satu kepala manusia yang menggelinding mendekat ke Adel. Karena terkejut, Adel pun langsung berlari mendekati kakaknya sambil berteriak. Dennis dan Rei terkejut saat mereka berdua melihat kepala yang keluar dari dalam karung yang Rei jatuhkan.
"I–itu kan ... kepalanya ..." Dennis melebarkan mata sambil menunjuk ke arah kepala manusia yang menggelinding sampai depan pintu gubuk. Setelah Dennis, Rei bergumam, "Kepala itu kan yang ada di foto dalam grup." Sambil mengingat foto yang ia maksud.
"I–iya. Apakah pesan yang dikirim Bu Mia tadi pagi?" Dennis menimpali Rei. Lalu secara perlahan, ia mengeluarkan ponselnya. Mengetik beberapa detik, lalu memperlihatkan layar ponselnya pada Rei dengan tangannya yang gemetar.
"Ya–yang I–ini kan ... fotonya?"
Rei hanya mengangguk.
"Be–berarti ... kepala ini adalah milik ... Adriell dari sekolah Adiwata itu!"
"Selama ini dia tidak menghilang. Tapi diculik oleh Hantu Hitam itu untuk dijadikan korbannya!" Adel berteriak tiba-tiba. Ia ingin pergi dari gubuk itu karena sudah merasa tidak tahan dengan suasana seram di dalamnya. Ia tidak ingin terjebak di dalam gubuk dan bernasib sama seperti Adriell.
Dennis dan Rei juga ingin keluar untuk memberitahu laporan mereka tentang kematian dan pembunuhan Adriell itu. Tapi saat mereka bertiga ingin berlari keluar gubuk, tiba-tiba saja ada orang lain yang muncul dari depan pintu dan menghalangi jalan keluar mereka bertiga.
Dennis, Rei dan Adel terkejut. Adel bersembunyi dibalik tubuh kakaknya, kalau Rei berdiri di belakang Dennis juga. Mereka bertiga mundur ke belakang untuk menghindar dari si orang dewasa yang ada di hadapan mereka.
Orang itu tidak diketahui wajahnya karena memakai kain hitam yang menutupi seluruh kepalanya. Yang terlihat hanya matanya saja yang berwarna coklat gelap. "Haha... kalian anak-anak dari Villa itu, ya?"
Suara berat seorang lelaki. Dennis tidak berani menjawab. Tapi Rei hanya mengangguk. Dan tangannya secara diam-diam berusaha untuk membuka pintu yang ada di belakangnya. Itu pintu yang Dennis lihat tadi. Pintu kedua dibelakang gubuk. Rei pikir, ia bisa kabur lewat pintu itu bersama dengan yang lainnya. Karena pintu depan telah dihalang dan ditutup oleh orang dewasa di depan mereka itu.
CKLEK!
Dennis dan Rei terkejut saat orang di hadapan mereka itu mengeluarkan sebuah senapan angin. Apakah orang itu akan membunuh mereka bertiga langsung dengan senjatanya?!
Ia mengangkat senjatanya, lalu mengarahkannya ke arah Dennis. Seketika Adel pun langsung berteriak dan membentak orang asing di depannya. "Kau mau apa?! Jangan lukai kakakku!!"
"Ah~ Berkat kamu gadis kecil, aku jadi tahu kalau kalian semua menyelinap ke tempat persembunyianku." Ujar Orang itu dengan tertawaannya. Lalu ia merubah bibikan senapannya ke arah Adel. Setelah itu....
PSYU!
Orang itu menembak! Tapi tidak terdengar suara ledakan, melainkan suara tembakannya agak lembut. Peluru yang dilesatkan berbentuk seperti Dart.
"A–awas!" Rei berteriak. Tapi semuanya tidak sempat menghindar. Dart itu berhasil mengenai lengan Adel. Padahal senapan tersebut telah membibik tepat di dada Adel. Tapi karena Adel bergerak, jadi peluru itu meleset.
"Aduh!" Adel tidak merasa sakit. Ia hanya terkejut saja. Tapi tiba-tiba saja Adel merasa pusing dan seketika tubuhnya pun terjatuh. Dennis menahan adiknya, lalu Rei langsung menggendong Adel yang tiba-tiba saja jatuh pingsan.
"A–apa yang terjadi, Kak Rei?" tanya Dennis panik. Rei mencabut Dart yang menancap di lengan Adel lalu menunjukannya pada Dennis. "Ini Peluru Bius. Isi senapan itu tidak mematikan, tapi dapat melumpuhkan kita dengan seketika."
Setelah berhasil menembak Adel, orang asing itu kembali mengambil peluru lainnya, lalu mengisi senapannya yang kosong. "Oh tidak! Kita akan mati di sini!" Dennis jadi semakin panik.
"Oh, tidak akan!" Rei tahu sesuatu. Dengan cepat, ia membuka pintu yang ada di belakangnya itu, lalu meminta Dennis untuk cepat menggunakan pintu itu sebagai pelarian dirinya.
"Tu–tunggu! Jangan kabur lewat situ, kalian!"
"Cepat, Kak Rei!"
Rei yang menggendong Adel, jadi ia yang akan keluar duluan. Tapi saat Rei melihat jalan di depan pintu itu, ia terkejut karena pintu tersebut bukan jalan keluar yang aman. Karena di depan pintu tersebut terdapat jurang yang lumayan dalam. Mereka bisa mati jika terjatuh ke sana. Untung Rei sempat menyadarinya sebelum it bergerak maju. Tapi... setelah orang asing itu selesai mengisi senapannya, ia langsung membibik lalu menembak lagi. Pelurunya mengenai leher belakang Rei!
Rei sedikit terdorong ke depan. Ia masih bisa menahan tubuhnya agar tidak terjatuh ke dalam jurang itu. Tapi Rei tetap tidak bisa menahan kesadarannya setelah ia terkena tembakannya. Rei berusaha untuk menahannya, tapi sangat sulit. Lalu secara perlahan, matanya tertutup dan seketika tubuhnya pun langsung melemah.
"Kak Rei!!" Dennis masih bisa menahan jatuhnya tubuh Rei. Tapi Rei yang sedang menggendong Adel tidak bisa menahan tubuh Adel sehingga adik kecilnya Dennis itu pun terjatuh ke dalam jurang.
Dennis mengangkat tubuh Rei yang ingin terjatuh sambil bergumam, "Tidak. Aku tidak boleh menyerah. Yang terpenting sekarang, aku bisa menyelamatkan–"
PSYU!
"Ah! Oh tidak. Aku juga... terkena... pelurunya..." Dart itu menancap di punggung Dennis. Sebelum ia kehilangan kesadarannya juga, Dennis ingin menarik Rei agar tidak terjatuh seperti Adel. Tapi karena obat bius itu terlalu kuat, Dennis sampai tidak bisa menahannya. Secara perlahan ia menutup mata dan mulai kehilangan keseimbangannya. Ia juga melepaskan tubuh Rei, sehingga Rei juga ikut terjatuh ke dalam jurang itu. Tapi tidak dengan Dennis.
Orang asing itu masih sempat menahan tubuh Dennis agar tidak ikut terjatuh juga. Hanya Dennis yang berhasil ia tangkap. Ia juga berhasil melumpuhkan mangsanya, tapi keduanya menghilang. Ia tidak mungkin mau masuk ke dalam jurang hanya untuk menangkap mangsanya yang hilang itu.
"Dua ternak hilang. Paling mereka mati di bawah sana. Tapi... aku mendapatkan satu ternak. Malam ini pasti akan seru~"
****
Di depan Villa–
Sekarang sudah jam 3. Hampir mau sore hari. Saatnya untuk berkumpul lagi dan membersihkan diri. Bu Mia memanggil semua muridnya untuk berkumpul. Karena mereka akan mengadakan game sore hari di kolam renang.
Tapi setelah semuanya berkumpul, Bu Mia melihat ada 3 orang muridnya yang tidak ada. Saat ia mengecek daftar absen, ternyata Dennis, Rei dan Adel yang tidak ikut berkumpul.
"Perhatian semuanya!" Bu Mia menepuk tangan. Semuanya melirik ke arahnya dan menyahut. "Apakah ada yang melihat Dennis, Rei sama Adel?" tanya Bu Mia.
Semuanya melirik ke arah lain. Mencari nama murid yang Bu Mia sebutkan. Karena mereka tidak menemukannya, jadi beberapa anak pun menggeleng. Setelah itu, Akihiro dan Mizuki mengacungkan tangan. "Aku akan mencari mereka!" teriak Mizuki.
"Iya! Aku juga. Mereka pasti sedang tidur di kamar!" Akihiro menimpali.
Bu Mia mengangguk untuk mengizinkan kedua murid lainnya untuk mencari ketiga orang yang belum berkumpul itu. Langsung saja Mizuki dan Akihiro pergi ke kamar Dennis dan Rei. Tapi saat mereka sampai di sana, tidak ada siapapun di dalam kamar itu.
"Mungkin ada di kamar Adel." Ujar Akihiro.
"Tidak." Mizuki menggeleng. "Adel sedari tadi tidak ada di kamar. Kami kan sekamar, jadinya aku tahu."
"Eh? Lalu pergi ke mana mereka?"
"Coba kita telepon salah satunya saja." Mizuki mengeluarkan ponselnya, lalu mengetik beberapa nomor.
"Kau menelepon siapa?" tanya Akihiro.
"Dennis."
"Oh, oke. Kalau begitu, aku coba telepon Rei, ya?"
"Iya."
TUT! TUT....
Tulisan di ponsel Mizuki sudah "menghubungkan", yang artinya telepon darinya itu sudah masuk ke ponsel Dennis. Tapi tak lama kemudian, seseorang telah mematikan telepon Dennis. Mizuki langsung menjauhkan ponsel dari telinganya, lalu melihat ke layar ponsel.
"Dennis! Kenapa kau mematikan ponselnya? Dia kenapa, sih?" Mizuki menggerutu. Setelah itu, ia mendengar suara dari ponsel Akihiro yang mengatakan, [ Maaf, telepon anda tidak dapat dihubungi. Silahkan–]
TUT!
Langsung saja Akihiro mematikan teleponnya. Lalu menggerutu sama seperti Mizuki. "Sial. Rei kalau sedang dibutuhkan selalu saja seperti ini."
"Mereka bertiga itu pergi ke mana, sih?" tanya Mizuki kesal.
"Apa mereka pergi ke suatu tempat secara diam-diam?"
"Apa jangan-jangan... mereka menghilang juga seperti anak dari sekolah lain itu?"
"Eh? Benarkah?"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8