
"Iya. Pelakunya itu adalah... pacarnya Dennis sendiri." Jawab Ibunya Adel pelan.
"Tidak mungkin!" Adel dan Mizuki membentak. "Tidak mungkin pacarnya!"
Mizuki tersentak. "Tunggu! Dennis punya pacar?!" tanyanya pada Ibunya Adel.
Ibunya Adel mengangguk. Lalu kepalanya mendongak ke atas. Ibu Adel menjawab pelan, "Iya. Tapi pacarnya... sudah meninggal satu tahun yang lalu karena jatuh ke dalam jurang."
"Hah? Siapa nama pacarnya itu?" tanya Mizuki lagi. Ia jadi penasaran juga ternyata.
"Namanya Diana."
****
"... Dia... wanita yang telah menarik hati Dennis. Mereka sudah bersama lama sekali dari mereka SMP. Tapi... entah kenapa kejadian itu pun terjadi."
"Ugh!...."
Dennis mengernyitkan keningnya, lalu membuka mata. Setelah pandangannya jadi normal kembali, Dennis pun melirik ke sekitarnya.
Tempat yang gelap. Dennis tidak tahu dirinya ada di mana saat ini. Yang masih bisa ia lihat hanya rak buku dengan meja yang ada di sampingnya itu.
Dennis akan mencari jalan keluar. Ia menggerakkan tubuhnya untuk bangun dari atas tempat tidur yang saat ini sedang ia tiduri itu. Tapi tidak bisa. Dennis merasa ada yang telah menggenggam kedua tangannya. Ia tidak dibiarkan untuk bangun. Terduduk saja tidak bisa.
"Oh tidak, apa yang terjadi padaku?!" batin Dennis. "Aku... pasti ada di dalam kamar seseorang. Apa ini kamarku sendiri? Dan apakah aku sudah balik ke sekolah?"
Dennis kembali bergerak lagi. Ia berusaha untuk bangun dari tempat tidurnya. Tapi masih belum bisa hanya karena kedua tangannya yang telah ditahan oleh sesuatu.
Setiap ia menarik tangannya, itu malah menyakiti pergelangan tangannya. Setiap Dennis bergerak, pasti terdengar suara "Kricing, Kricing" seperti suara rantai yang terbanting dan suara lonceng yang berbunyi.
Karena penasaran dengan apa yang telah menahan tangannya itu, Dennis mendongak. Ia mengarahkan pandangannya ke atasnya itu. Berusaha untuk melirik ke arah tangannya berada.
Ia membesarkan matanya. Ia tahu kenapa tangannya tidak bisa digerakkan. Karena ada rantai yang melilit tangannya dengan pinggiran tempat tidur. Tangannya terikat oleh rantai itu.
"Uh, sial! Siapa yang sudah melakukan ini padaku?" gumam Dennis sambil terus menarik tangannya dengan harapan dirinya bisa terbebas dari rantai yang mengikatnya itu.
"Ah... aku tidak bisa. Sakit rasanya jika aku tarik tanganku dengan paksa. Ikh! Awas saja. Jika aku tahu siapa yang telah melakukan ini padaku, akan aku laporkan dia pada guru di sini!" Dennis membentak. Lalu ia pun berteriak meminta pertolongan. Berkali-kali. Ia akan berhenti jika ada seseorang yang datang dan membukakan pintu kamar itu untuk menyelamatkannya.
"Ugh! Kau itu berisik sekali, sih!"
Dennis berhenti berteriak. Ia mendengar suara seseorang yang menegur dirinya. Lalu tak lama kemudian, Dennis melihat ada cahaya oranye yang muncul dari bawah tempat tidurnya. Ia menengok ke arah cahaya itu.
Setelah cahaya itu muncul, akhirnya Dennis bisa melihat benda-benda di sekelilingnya. Saat diperhatikan, ruangan ia berada saat ini bukanlah kamarnya. Melainkan kamar orang lain.
"Hei! Siapa kau tadi? Keluar ayo!" Dennis teriak lagi.
"Aduh... sabar dikit, ngapa! Ini aku sedang membuat penerangan dulu."
"Eh! Suara ini kan... Diana?!"
"Nah, Dennis sayang, kau ternyata masih mengenalku, ya?" Seorang gadis berambut panjang itu akhirnya menampakan dirinya. Ia membawa satu buah batang lilin di genggamannya.
Dennis sangat terkejut. Ia kembali menarik tangannya sambil memberontak untuk melepaskan diri. Karena tidak bisa, Dennis pun jadi geram dan akhirnya malah membentak Diana. "Cewek aneh! Apa yang kau mau dariku?!"
Diana tersentak. Ia mengecilkan pupil matanya karena terkejut. Lalu kembali membesarkan pupilnya dan memasang wajah imut. "Ah, Dennis! Kamu kok membentak aku, sih? Dulu... dulu kamu gak pernah sejahat ini padaku."
"Yang jahat itu kau duluan! Akh! Dasar pembunuh! Lepaskan aku!"
Diana menempelkan telunjuknya di bibir Dennis. "Suutt... jangan berisik, dong! Anak-anak di sini kan sedang belajar untuk menenangkan diri mereka. Khu~khu~"
"Kenapa mereka–"
"Oh mereka tidak apa-apa, kok! Mereka mungkin hanya trauma saja. Apa kau tidak tahu? Penghuni sekolah ini... sudah mulai sedikit alias habis, loh~" Ucap Diana dengan nada yang menyeramkan. Ia mensipitkan matanya sambil tersenyum. Lalu ia meletakan telapak tangannya di atas bibir Dennis, dan langsung mencium pipinya Dennis.
Lalu tepat di samping telinganya, Diana berbisik, "Aku mau."
Seketika Dennis terkejut mendengarnya. Lalu ia kembali memberontak lagi. Ingin berteriak tapi Diana masih membekap mulutnya dengan tangan kotor Diana itu.
"Kau kenapa? Tidak mau, hah? Tapi sepertinya..., dulu kamu selalu suka memainkan bibirku." Ujar Diana. Lalu ia menjauhkan tangannya dari mulut Dennis. Akhirnya Dennis bisa berbicara kembali.
"Ke–kenapa kau mau melakukan itu lagi?!" Dennis membentak.
"Sudah kubilang bukan aku yang membunuhmu!" bentaknya lagi. "Eh, tapi tunggu dulu. Kenapa kau... masih hidup?"
Diana terdiam. Lalu ia mengeluarkan senyum miringnya. Sedikit tertawa lalu menjawab, "Hah, kau tahu? Setelah kamu pergi sehabis mendorongku ke jurang, tiba-tiba muncul seorang pertapa tua yang datang di dekatku. Saat aku sudah sampai di dasar jurangnya. Pertapa itu menawarkan aku sesuatu. Yaitu, tentang hidup dan mati."
"Eh? Apa maksudmu?" Dennis mengerutkan keningnya.
"Kubilang hanya ada seorang pertapa tua. Entahlah, dia... aku tidak tahu dia siapa. Tapi orang itu menawarkan aku tentang kehidupan ke dua. Dia bisa menyembuhkan aku, tapi dengan syarat..." Diana mensipitkan matanya sambil tersenyum. Lalu ia membisikan kalimat selanjutnya pada Dennis. "Dengan syarat, aku harus memberinya makan si orang tua itu dengan daging manusia~"
Dennis terkejut. "Ti–tidak mungkin! Tidak!" Ia berteriak ketakutan.
"Hah, tidak perlu takut. Aku tidak akan menjadikan dirimu tumbal, kok! Tapi aku hanya menggunakan dirimu untuk memancing teman-temanmu agar mereka datang. Setelah mereka datang, baru aku akan membunuh mereka." Jelas Diana. Lalu ia tertawa dengan jahatnya.
"Diana! Jangan teman-temanku! Kumohon. Mereka tidak salah apa-apa. Jika kau perlu tumbal lagi, korbankan nyawaku saja!"
"Ah, tidak mau~ Aku masih sayang sama kamu, Beruang kecilku. Kau masih ingat julukan itu, kan? Bagaimana dengan julukan yang kau berikan untukku dulu? Kau memanggilku...?"
"Kelinci Putih." Jawab Dennis pelan.
"Ahaha~" Diana tertawa senang sambil menepuk tangannya. "Aku senang kau masih mengingatnya! Itu berarti kamu masih sayang sama aku, dong!"
"Cish! Aku sudah tidak peduli dengan hubungan kita dulu! Aku sudah tahu kalau kau itu wanita yang jahat sejak dulu. Sampai sekarang, sikapmu tidak berubah!"
"Ah, Dennis~ Kamu kalau marah lucu, deh! Tapi... kalau aku tidak membunuh orang lagi, nanti aku bisa mati. Hum... tumbal itu bukan hanya untuk mempertahankan nyawaku, tapi tubuhku juga dapat kekebalan, haha... kan jika tubuhku kuat, tidak ada orang lain yang bisa melukaiku!"
"Hentikan, Diana!"
"Kamu bawel! Ah, sudah ya? Aku pergi dulu." Diana melambai kecil, lalu ia mengambil sebuah pisau berukuran besar yang ada di atas meja samping Dennis. Pisau itu sudah terlihat berlumuran darah. Dennis jadi merinding melihat sosok Diana yang menyeramkan dengan pisaunya itu.
"Sampai jumpa lagi, Dennis! Aku ingin menambah nyawaku dulu. Seperti di game saja, ya? Haha... Dadah~ Aku akan kembali lagi. Kita akan bersenang-senang bersama, nanti!" Diana tersenyum sambil memejamkan matanya. Lalu ia berjalan pelan ke arah pintu depan.
Tapi sebelum Diana membuka pintunya, tiba-tiba Dennis kembali menegur Diana. "Tunggu, Dian!"
Diana menengok. "Ada apa?"
"Ikh! Aku sebenarnya tidak ingin melakukan ini." Dennis bergumam. Lalu matanya kembali melirik ke Diana. "Diana, aku akan membantumu!"
Diana tersenyum lebar. "Eh? Benarkah? Jika ada bantuannmu, aku bisa cepat selesai!"
"I–iya. Aku akan membantumu. Jadi sekarang, lepaskan aku dari sini dan berikan aku senjata ampuh untuk membunuh mereka."
"Bagus! Dengan begini, setelah ia melepaskan ku, dia pasti akan memberikan aku pisaunya itu. Lalu aku bisa langsung menusuknya di sini saja dan aku akan mengakhiri kematian di sekolah ini." Batin Dennis yang merasa rencananya itu akan berhasil.
"Wah, kamu baik sekali, ya? Sama seperti dulu. Tapi... tidak akan mudah. Pertama kamu harus bertemu dengan temanku dulu."
Dennis terkejut. Setelah Diana berkata seperti itu, tiba-tiba saja muncul sosok bayangan hitam yang tidak jelas bentuknya. Sosok itu muncul di belakang Diana.
Lalu Diana mengarahkan tangannya ke hadapan Dennis dengan cepat. Dan seketika, bayangan hitam itu terlempar ke arah Dennis. Sosok itu merasuki tubuh Dennis. Rasanya sangat menyakitkan karena setelah sosok itu merasuki tubuh Dennis, tiba-tiba saja dia berteriak keras.
Diana tersenyum. "Biarkan temanku itu membantumu juga, Dennis!" Lalu ia bergumam, "Hm! Memangnya aku tidak tahu isi hatimu itu? Kau berniat untuk membunuhku lagi, kan? Tapi tidak akan bisa."
****
Hari sudah semakin sore... sementara itu, di depan halte Bus dekat rumah Dennis–
"Akihiro di mana Bus-nya?!" teriak Rei geram sambil menarik kerah baju Akihiro. Mereka semua merasa kesal karena sedari tadi Busnya belum datang juga!
*
*
*
To be Continued-
_______________________
*Infonya sudah ada di Story' ig Thor, kok ^^
Cuma sedikit doang, jadi silahkan lihat dan jangan terkejut, ya? Hehe.... :) Semoga kalian suka juga :)