
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
“Ini bencana! Kita harus cepat pergi dari sini!” teriak Dennis. Semuanya terkejut mendengarnya. Mereka juga melihat tumbuhan baru dari si inti Flytrap itu yang mulai menumbuhkan tubuh baru yang lebih besar dan lebih banyak lagi.
“Ayo cepat, cepat! Semuanya lari ke sana!” Ethan yang akan memberikan arahan untuk jalan keluarnya. Ia menemukan celah yang mungkin bisa digunakan sebagai jalan untuk keluar dari terowongan itu.
“Dibalik bunga-bunga raksasa ini adalah jalan keluar kita?” pikir Rei. Ia juga akan ikut dengan yang lainnya untuk melarikan diri. Dia juga mengajak Mizuki yang sedang ketakutan itu. Sedangkan Dennis akan menuntun adiknya dan Yuni. Dan Akihiro akan membantu Nashira untuk bergerak lebih cepat.
Karena langkah Nashira yang lambat karena masalah pada fisiknya, terpaksa Akihiro akan menggendong Nashira di punggungnya. Lalu diikuti oleh Rashino juga yang ikut berlari di samping Akihiro.
“Kau tidak apa-apa, Nashira?” tanya Akihiro. Nashira mengangguk. Ia mengalungkan lengannya di leher Akihiro. Menyembunyikan setengah wajahnya dibalik punggung Akihiro. “Bodoh. Seharusnya aku yang bertanya seperti itu.” Bisik Nashira. Ia merasa tidak enak pada Akihiro karena dirinya itu telah membuat Akihiro jadi kerepotan.
“Loh? Haha... kau ini kenapa, sih? Masih mending aku mau menolongmu.” Akihiro terkekeh. Begitu juga dengan Rashino. Nashira tersipu malu. Ia ingin berusaha untuk keluar dari Ujian itu dengan tenaganya sendiri. Tapi karena fisiknya yang tidak mendukung, Nashira harus dibantu oleh teman-temannya juga.
“Andai saja aku masih memiliki kaki. Mungkin sekarang aku bisa berlari sendiri tanpa harus merepotkan teman-temanku!” gerutu Nashira dalam hati.
“Nah! Sekarang siapa yang belum keluar? Ayo cepat! Cepat!” Teriak Rei yang sudah berdiri di depan lubang untuk keluar. Semuanya sudah keluar. Dan sekarang yang tersisah hanya tinggal Akihiro, Nashira dan Rashino. Mereka masih berlari mendekati Rei.
“Nashira berat juga ternyata! Tapi aku tidak boleh menyerah sekarang. Aku tidak boleh meninggalkannya! Si kembar harus bisa keluar bersamaku.” Batin Akihiro. Nashira bisa merasa langkah Akihiro yang semakin melambat dan ia juga mendengar suara nafas Akihiro yang mulai terengah-engah.
“Dian. Turunkan aku.” Pinta Nashira. “Aku tidak ingin membebanimu lagi. Kau sudah banyak membantuku.”
“Tidak! Aku tidak akan menurunkanmu! Kita harus pergi bersama-sama!” tegas Akihiro. Ia melajukan dan menambah kekuatan pada otot kakinya untuk bergerak lebih cepat dalam melangkah.
“Rashino! Kau duluan saja.” Suruh Akihiro. Rashino tersentak. “Eh, kenapa?”
“Sudah duluan saja!”
“Eh, ba–baiklah!”
“Nashira, tahan, ya?” Akihiro akan menambah laku kecepatannya. Mungkin akan ada sedikit guncangan. Makanya Nashira harus menggenggam erat tubuh Akihiro agar tidak terjatuh.
“Kak Dian! Cepat!” Dennis berteriak untuk mengingatkan Akihiro kalau beberapa akar yang muncul dari inti tumbuhan Flytrap itu mulai bergerak bebas. Dan sekarang, akar-akar itu sedang mengejar Akihiro dari belakang.
“Kita sudah tidak memiliki banyak waktu lagi!” teriak Dennis lagi. Rei melirik ke arah Dennis dan bertanya, “Kenapa kau terlihat panik sekali? Kan akar-akar itu masih jauh.”
“Bukan akar itu masalahnya, kak! Tapi yang harus kita khawatirkan adalah... Bunga-bunga ini.”
“Eh, memangnya ada apa dengan bunga ini?”
“Sebentar lagi bunga-bunga ini akan tumbuh dengan cepat karena cahaya matahari dari lubang yang kita buat. Nanti, saat bunga sudah tumbuh, otomatis lubang ini akan tertutup rapat dan dipenuhi oleh bunga-bunga lainnya. Dengan begitu, tidak ada orang yang bisa melewati bunga-bunga ini jika mereka sudah tumbuh.” Jelas Dennis.
Rei melebarkan matanya karena terkejut. Ia melirik ke arah Akihiro lalu kembali melihat ke Dennis. “Jadi maksudmu... Bunga-bunga ini akan–“
GRRRDDD... GGGRRRR....
Dennis dan Rei terkejut. Mereka merasakan pergerakan pada bunga-bunga yang ada di samping kiri dan kanan mereka. Dennis khawatir kalau bunganya itu akan segera tumbuh dengan cepat.
“Hei! Apa yang kalian lakukan di sana?! Bunganya akan menutup! Kalian harus pergi dari sana!” teriak Davin pada Dennis dan Rei. Tapi Dennis dan Rei tidak mempedulikan teguran Davin itu. Mereka tetap ingin menunggu Akihiro sampai.
“Kalian dengar, tidak?! Apa kalian mau mati di sana, hah?!” bentak Davin lagi. Karena sudah terlanjur menahan emosi, Rei pun membalas bentakannya. “Berisik! Masih ada teman kita di sana!”
“Bodoh! Jika kita tidak segera pergi dari sini sebelum bunga itu menutup, kita semua akan mati! Kau tahu? Beberapa dari bunga itu berjenis mawar. Jika tangkai bunga itu semakin berkembang, maka duri yang ada di tangkai bunga akan menusuk kita! Kau tahu kan kalau bunga mawar itu berduri?!”
Dennis terkejut mendengarnya. Kata-kata Davin ada benarnya juga. Ia harus segera pergi dari sana sebelum terlambat. Tapi di sana Dennis juga masih menunggu temannya yang belum sampai di tempat yang aman. Ia harus bagaimana?
“Aku akan membantu Kak Dian!” Dennis sudah memutuskan. Ia lebih memilih keselamatan temannya itu. Dennis bergerak kembali ke tempat yang tidak aman untuk membantu Akihiro yang sudah tidak kuat menggendong Nashira itu.
Rei berusaha untuk meneriakinya dan memperingati Dennis untuk tidak pergi ke sana. Tapi ternyata peringatan dari Rei, Dennis abaikan begitu saja.
“Mereka itu memang ingin mati.” Gumam Davin. Ia berbalik badan menghadap ke semua orang yang sudah menunggu anak yang tertinggal. Semuanya masih menunggu Dennis dengan yang lainnya. Padahal jalan keluar dari terowongan itu sudah ada tepat di depan mata mereka.
“Ayo kita pergi dari sini sekarang juga!” teriak Davin pada semuanya. Ia sudah tidak sabar untuk menyelesaikan ujiannya. Jadi dengan teganya, dia ingin meninggalkan orang lain yang masih tertinggal di belakangnya. “Kita tinggalkan saja mereka. Sekarang ini kita sudah tidak punya banyak waktu lagi!”
Seketika semuanya terkejut. Mereka tidak ingin meninggalkan teman yang masih ketinggalan di belakang. Sebagian besar orang masih ingin tetap tinggal untuk menunggu Dennis dengan yang lainnya kembali muncul ke hadapan mereka.
“Kami ingin tetap di sini! Rei masih ada di dalam sana. Kita harus menunggunya!” bentak Mizuki pada Davin.
“Jadi kau ingin mati di sini? Apa kau tidak melihat situasinya? Jika bunga-bunga yang ada di sana itu tumbuh dengan cepat, maka kita akan mati, loh! Tangkai bunga mawar. Ingat itu! Tangkai mawar itu memiliki duri-duri yang besar. Duri-duri itu akan menusuk tubuh kita sampai mati jika kita tidak segera keluar dari sini!” jelas Davin yang berusaha untuk menakuti semua orang. Dengan begitu, semuanya mau mengikuti ajakan Davin untuk keluar bersama-sama dan meninggalkan beberapa orang lainnya yang masih tertinggal di depan.
“Keadaanya memang mendesak. Tapi–“
“Kami sudah di sini.” Rei menyela. Ia ternyata berhasil kembali. Tidak hanya Rei, tapi semua anak yang tertinggal juga berhasil melewati celah di antara bunga-bunga itu.
Semuanya senang sekali. Apalagi dengan semua anak perempuan yang masih bisa melihat idola mereka (Rei) yang keren itu. Dengan hebatnya, dia bisa keluar dari tempat berbahaya hanya untuk menyelamatkan seorang teman. Lagi-lagi Rei mendapatkan banyak pujian dari para kaum hawa.
Tapi Rei tidak mempedulikan, apalagi mendengarkan semua pujian yang dilontarkan dari mulut ke mulut. Ia sudah bosan mendengar banyak pujian dari orang yang sama.
“Sekarang tidak ada waktu lagi! Bunga itu akan menutup dan sekarang waktunya kita lari!” tegas Dennis. Semuanya mengangguk. Mereka mengikuti Dennis dan berlari keluar. Mengejar cahaya di depan mereka. Cahaya itulah yang akan menjadi kalah keluar untuk menyelesaikan ujian IPA ini.
Tapi sebelum semuanya sampai di dekat pintu keluar terowongan, tiba-tiba saja semuanya mendengar suara hantaman yang keras dan seketika tanahnya bergetar. “Tu–tumbuhannya! Bunga itu semakin besar!”
“Semuanya ayo cepat!”
Bunga–bunga raksasa itu benar-benar menutup. Langsung rapat begitu saja. Dan beberapa bunga lainnya menumbuhkan teman baru. Saat di situlah, bahaya yang sebenarnya muncul!
Duri dari tangkai bunga mawar yang ditakuti semuanya itu mulai muncul dan merambat dengan cepat. Beberapa duri mulai tumbuh dengan cepat dan mengejar kelompok murid-murid yang sedang menyelamatkan diri itu. Sebagian juga ada yang sudah merambat di bagian tembok.
Jalan keluarnya dekat lagi. Tapi duri-duri dari tangkai mawar itu juga semakin mendekat. Semuanya jadi semakin panik. Tapi mereka berusaha untuk berlari sekuat yang mereka bisa agar dapat keluar dari terowongan mematikan itu.
“Tanaman ini tidak akan berhenti mengejar sebelum mereka mendapatkan korban.” Ujar Dennis. “Inilah yang aku takuti! Kita semua bisa selamat, jika ada salah satu anak yang tertangkap dan menjadi mangsa tanaman itu.”
Davin yang ada di samping Dennis pun tersenyum sinis setelah mendengar perkataan Dennis itu. Ia menengok ke arah Dennis dan berkata, “Tanaman itu akan berhenti jika dia mendapatkan mangsanya, ya?”
Dennis mengangguk sambil tersenyum. Lalu ia menggeleng pelan. “Yah... Semoga saja kita masih ada waktu untuk keluar dari terowongan ini tanpa adanya korban lagi.”
“Tapi percuma, kan?”
“Eh, apa maksudmu, Kak Davin?”
“Tanaman itu tidak akan berhenti mengejar kita sebelum mereka mendapatkan makanan. Kalau begitu....”
GDBUK!!
“... lebih baik kau saja yang menjadi makanan para tanaman itu, Dennis!” Davin tertawa dengan keji setelah ia berhasil menyelengkat kaki Dennis sampai terjatuh. Davin tega sekali. Ia ingin tubuh Dennis lah yang menjadi korbannya!
“DENNIS!” Rei menghentikan langkahnya. Ia melihat Dennis sudah tidak bisa bangun lagi setelah ia terjatuh cukup keras ke tanah. Kakinya terluka karena tertendang oleh kakinya Davin, dan saat terjatuh tadi kakinya sempat terkilir dan pada bagian dengkulnya tergesek oleh tanah sampai menyebabkan luka berdarah.
Dalam keadaan seperti itu, apakah Dennis masih bisa selamat sementara beberapa tanaman dan duri-duri yang merambat itu sudah semakin dekat ke arah Dennis?
Apakah aku akan mati di sini?
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8