Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 65– Dennis VS Bapak Tertua (3)


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Tu–tunggu!!" Dennis berteriak dan berharap orang yang ada di dalam helikopter yang sedang ia kejar itu bisa mendengarnya. Tapi tidak mungkin bisa kedengaran. Karena suara baling-balingnya yang berisik memungkinkan pilot dan orang yang ada di dalam helikopter tersebut tidak bisa mendengar apapun.


SRAK!!


"Aduh!" Dennis terjatuh ke tanah setelah ia menginjak sesuatu yang lembek dan agak keras. Kemudian kakinya tersandung batu yang membuat dirinya jadi kehilangan keseimbangan dan terjauh.


Sikunya tergesek dan terluka. Lagi-lagi Dennis mendapat luka yang menyakitkan di tubuhnya. Ia hampir tidak bisa menahannya. Tapi ia akan berjuang untuk tetap hidup dan jangan sampai tumbang di dalam hutan itu.


Ia harus mencari pertolongan untuk membantu Cahya yang sedang menunggu di tempat persembunyian.


Dennis pun kembali bangkit. Tapi sebelum ia pergi, Dennis menoleh ke belakang. Ia ingin mencaritahu sesuatu yang ia injak tadi.


Sebelumnya ia pikir, sesuatu yang lembek itu adalah tanah yang basah atau lumpur. Tapi ternyata daging manusia yang sudah mulai membusuk. Ia melihat ada dua mayat yang sebagian tubuhnya tertutup tanah.


Karena terkejut, Dennis pun berteriak dan menjauh dari kedua mayat tersebut. Ia tidak tahu itu mayat siapa karena kedua orang tersebut telah kehilangan kepalanya.


Tapi setelah Dennis memperhatikannya dengan jelas, sepertinya dia tahu kedua mayat siapa itu. Seharusnya ia tidak perlu takut. "Tidak memiliki kepala. Yang satu memiliki tubuh gemuk, dan satunya kurus. Mayat seorang wanita dan laki-laki. Apa mungkin saja... mereka ini adalah si Ibu Villa dan kakaknya Rina itu?" pikir Dennis.


"Apa?! Jadi kau telah membunuh keluargaku?!"


Dennis terkejut. Ia melirikkan matanya ke depan. Di sana ia melihat ada bayangan yang sedang berjalan pelan ke arahnya. Karena takut, Dennis pun mundur ke belakang.


Pada akhirnya sosok bayangan itu dapat memperlihatkan wujudnya. Dia adalah Bapak Tertua yang sudah tidak memiliki kedua tangan dan masih bisa berjalan normal dengan kedua kakinya.


Dennis tidak tahu keluarga Villa itu manusia jenis apa?! Soalnya pada bagian tubuh yang telah hancur dan menghilang, serta darah yang terus mengalir keluar dari dalam tubuh, masih saja bisa membuat manusia itu tetap bertahan hidup. Mereka semua seakan tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Dan yang Dennis tahu, hanya leher saja yang menjadi kelemahan manusia seperti mereka itu.


Tapi untungnya, Bapak Tertua yang ada di hadapannya ini tidak membawa senjata apapun. Dan ia tidak bisa melawan karena tidak memiliki kedua tangan untuk menyerang. "Sepertinya akan mudah bagiku untuk membunuhnya. Aku bisa menggunakan alat apapun yang ada di sekitarku untuk membunuhnya."


Tapi sepertinya dugaan Dennis salah. Bapak Tertua itu masih bisa menyerang. Ia akan menggunakan kakinya.


Pertama, Bapak Tertua itu melompat melewati kedua mayat keluarganya. Lalu berlari mendekati Dennis. Setelah itu dengan tubuhnya yang gemuk, Bapak Tertua mendorong Dennis dengan kuat sampai Dennis terjatuh.


Karena terkejut, Dennis pun kembali bangkit lalu ia mengambil batu kecil yang ada di samping tubuhnya. Setelah itu, Dennis melempar batu itu dengan kencang ke kepala Bapak Tertua.


Tetap tidak ada hasil. Dennis akan lari untuk menghindarinya. Tapi jika berlari, Dennis tidak bisa melihat jelas jalan di depannya yang gelap. Sampai akhirnya, Dennis harus mengurangi kecepatannya dalam berlari.


Tapi Bapak Tertua berhasil mendapatkan Dennis. Karena gerakan Dennis lamban, Bapak Tertua menggunakan kesempatan itu untuk menendang tubuh Dennis sampai ia terdorong menabrak pohon.


Setelah Dennis terjatuh kembali ke tanah, Bapak Tertua itu pun menginjak tubuhnya sebelum Dennis kembali bangun. Berkali-kali Bapak Tertua menggunakan kakinya untuk menghantam dan memukuli Dennis.


Dennis tetap ingin melawan selagi ia bisa. Ia memaksakan dirinya untuk berguling ke samping dan menghindari serangan Bapak Tertua. Setelah itu, Dennis kembali bangun dan mengayunkan kakinya.


BUK!


Dari bawah ia menyerang dan memukul ************ Bapak Tertua dengan kakinya. Setelah itu, ia menggunakan tangannya untuk menonjok wajah Bapak Tertua. Tapi setelah pukulan itu, yang ada tangan Dennis yang merasa kesakitan. Ia merasa kepala Bapak Tertua itu sekeras batu.


"Anak sialan. Kemari kau!" Bapak Tertua membentaknya setelah ia menahan sakit dari selangkanya yang baru saja Dennis serang.


Sekarang yang harus Dennis lakukan adalah menemukan gubuk itu. "Intinya aku harus menemukan cahaya dari lampu minyak. Karena sebelumnya, di sekitar gubuk itu saja yang memiliki cahaya. Pasti tidak jauh dari sini. Karena sedari tadi aku hanya berjalan lurus." Pikir Dennis dalam hati.


"Hei, jika kau menginginkan aku, maka tangkaplah aku sekarang juga!" teriak Dennis pada Bapak Tertua. Setelah itu ia berbalik badan dan kembali berlari sekencang mungkin untuk menemukan gubuk yang ia cari. Sementara di belakangnya, Bapak Tertua itu kembali mengejar Dennis.


"Aku hanya tinggal berjalan lurus, kan? Selama aku berlari, aku masih bisa melihat jalanan bertanah di depanku." Batin Dennis. Sambil berlari, sesekali ia menoleh ke belakang. Ternyata Bapak Tertua itu masih mengikuti pancingan darinya.


Tak lama kemudian, Dennis melihat sesuatu yang bersinar dibalik pepohonan. Cahaya bulan telah memberikan jalan untuknya. Sepertinya Dennis berhasil menemukan gubuk yang ia cari.


"Yes! Sekarang hanya tinggal beberapa langkah lagi, maka aku akan— Eh?"


Dennis menginjak tanah yang salah. Tiba-tiba saja ia terpeleset dan jatuh berguling ke dalam daratan rendah. Tanah seperti perosotan yang sebelumnya pernah ia bilang. Ternyata Dennis hanya terjatuh sampai ke depan gubuk. Tepat sekali. Ia bisa melihat kembali dengan cahaya dari lampu minyak yang menggantung di dinding gubuk.


"Oke. Sekarang saatnya." Dennis kembali berdiri lalu berlari masuk ke dalam gubuk. Tak lama setelah itu, Bapak Tertua pun muncul di depan pintu gubuk. Sementara di dalamnya, Dennis telah menyiapkan senjata yang akan ia gunakan untuk menusuk leher Bapak Tertua agar ia bisa membunuhnya.


Bapak Tertua masih berdiri di depan pintu. Ia agak menjaga jarak dari Dennis. Dennis pun menodongkan senjatanya dan berkata, "Sekarang aku bisa membunuhmu. Ayo maju, sini!"


Tapi wajah Bapak Tertua tidak terlihat gelisah atau ketakutan. Ia malah tersenyum dengan keji. "Sepertinya kau yang akan terbunuh."


"Eh?"


BRAK!


Bapak Tertua menendang meja yang ada di hadapannya. Meja itu terdorong kuat dan menabrak tubuh Dennis yang sama-sama berada di hadapan meja itu juga.


Dennis menjatuhkan senjatanya ke atas meja, lalu menyentuh perutnya dan mengeluh sakit. Tak lama setah itu, Bapak Tertua kembali mendorong meja dengan tubuhnya berkali-kali. Memuat Dennis jadi ikutan terdorong dengan meja tersebut. Tapi dengan kedua tangannya, ia menahan meja itu agar tidak menghantam tubuhnya lagi.


Karena jika didiamkan saja, bukan hanya tubuhnya yang merasa sakit, tapi lama-kelamaan gubuk yang ia tempati itu akan semakin terdorong dan bisa jatuh ke dalam jurang yang ada di belakangnya. Apalagi saat ini, tanah di sekitar gubuk tersebut masih basah akibat hujan. Ada kemungkinan tanah yang menahan gubuk tetap berdiri di tempatnya akan terkikis dan tidak kuat untuk menahan beban gubuk.


"Maaaatiiii... kau!"


DOR!!


"Akh!" Bapak Tertua berteriak kesakitan. Ia menjatuhkan kepalanya ke atas meja setelah menerima peluru yang ditembakkan ke kepalanya.


"Eh?" Dennis juga ikut terkejut dengan suara tembakan dan serangan terhadap Bapak Tertua tersebut.


Ia mendorong meja agar dirinya bisa keluar, lalu mengintip keluar pintu dari samping meja. Ia memberanikan diri untuk dekat dengan Bapak Tertua karena saat ini orang itu sudah tidak bergerak setelah peluru yang menembus kepalanya.


"Mati kau di sana!!"


Seseorang berteriak dari luar gubuk. Karena penasaran, Dennis berjalan ke luar gubuk lalu membuka pintunya lebar-lebar. Dari tempatnya berdiri, ia bisa lihat ada Rei dan teman-temannya yang berlari menghampirinya dengan senang sambil membawa senapan api di tangan mereka.


Apakah ini yang disebut dengan keberuntungan yang Dennis percaya itu?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8