
"Kau tidak akan bisa menang kali ini." Yuni mengambil serauk garam, lalu ia mulai bersiap untuk melemparkan garam itu jika si hantu Teke-teke berlari ke arahnya untuk menyerang.
Tapi... eh??
Sebelum Teke-teke itu semakin mendekat ke arah Yuni, tiba-tiba saja hantu merangkak itu lenyap menjadi abu begitu saja? Hantu itu benar-benar lenyap. Yuni juga terkejut melihatnya.
Tidak hanya Teke-teke, tapi hantu Sadako juga ikut menghilang. Setelah pandangannya ke arah Sadako yang telah menjadi abu, Yuni pun melirik ke arah Rei dan Dennis.
Yuni tersentak. Ia sedikit melebarkan matanya karena terkejut saat melihat Rei dan Dennis sudah terjatuh tak bergerak lagi. Yuni akan menghampiri mereka. Tapi sebelum Yuni sampai, di dekat mereka sudah ada Ibunya Dennis yang menghampiri anaknya.
Tiba-tiba langkahnya Yuni terhenti karena ia melihat ada bayangan hitam lainnya yang keluar lagi dalam tubuh Dennis. Yuni akan bersiap melawan bayangan itu jika makhluk itu punya niat jahat.
Bayangan itu keluar dan membentuk menjadi tubuh seorang wanita. Terlihat, sosok wanita itu memegang dan menggaruk-garuk kepalanya sambil menggeleng. Yuni pikir, sosok wanita itu mengeluh kesakitan.
Lalu tak lama kemudian, setelah lama memberontak, sosok itu pun lenyap. Hancur seperti debu dan tidak terlihat lagi.
Sepertinya hanya Yuni saja yang melihat sosok itu. Karena saat sosok itu muncul di dekat anaknya dan juga dirinya, Ibu Dennis tidak terlihat panik atau bersikap seperti dirinya melihat hantu.
Yuni menghembuskan nafas lega, lalu bergumam, "Mungkin itu arwah jahat yang terakhir." Setelah bergumam, Yuni pun langsung bergegas menghampiri Ibunya Dennis dan juga kedua temannya.
"E–Eh? Yuni? Yuni! Kamu harus membantu saya membawa Dennis ke rumah sakit! Aku khawatir dia kenapa-napa nanti! Ayo cepat!" gelisah Ibunya Dennis.
Yuni menyentuh kepala Dennis, lalu tak lama kemudian, ia membalas perkataan Ibunya Dennis. "Umm... Dennis baik-baik saja, kok! Dia hanya tertidur untuk sementara waktu. Nanti juga sadar kembali."
Ibu Dennis menghembuskan nafas lega. Ia bersyukur sekali anaknya tidak apa-apa setelah tragedi mengerikan menimpanya.
Yuni kembali menunduk. Matanya melirik ke arah Rei. "Tapi sekarang... yang harus dikhawatirkan adalah keadaan Rei." Ujarnya pelan.
Ibunya Dennis kembali terkejut. "Eh? Benarkah?! Kalau begitu kita harus membawanya ke rumah sakit secepatnya!"
Yuni mengangguk. "Iya. Seharusnya begitu."
"Baiklah kalau begitu, Ibu akan hubungi ambulans sekarang juga. Dan ngomong-ngomong, Ayah Dennis katanya sudah menghubungi polisi, tapi di mana dia sekarang?" ujar Ibu Dennis sambil mengetik beberapa tombol di ponselnya.
Yuni mengangguk lagi. "Baiklah kalau begitu. Ku serahkan mereka berdua ini kepada Ibu. Saya akan membantu yang lainnya! Mohon bantuannya, dan terimakasih!" ucap Yuni sambil berlari kembali menghampiri Adel.
"Tidak masalah!" Ibu Dennis mengangguk. Ia juga masih fokus dengan ponselnya.
****
"Adel? Eh? Di mana Sachiko?" tanya Yuni sambil celingak-celinguk mencari anak kecil perempuan itu.
"Itu... tadi baru saja Sachiko terlepas dari genggamanku. Ia berlari menaiki tangga."
"Kenapa tidak bilang dari tadi? Kalau begitu ayo kita kejar mereka!"
"Ah, iya! Maafkan aku!"
****
Kembali lagi pada Mizuki dan Diana–
Diana tersenyum karena ia pikir dirinya telah berhasil menusuk Mizuki. Tapi ternyata targetnya salah. Sesuatu yang ia tusuk tadi itu adalah buah semangka yang dibawa oleh seorang teman baik Akihiro yang masih hidup.
Orang itu adalah mereka. Si saudara kembar yang katanya tidak bisa dipisahkan. Siapa lagi kalau bukan, Rashino dengan adik kembarnya Nashira. Mereka ternyata masih hidup!
*( Jika lupa dengan mereka, cek kembali eps 20 Chika.)
Rashino meletakan semangka yang ia pegang tepat tak jauh di atas kepala Mizuki. Semangka itu mencegah kepala Mizuki terluka. Pisau itu juga menancap di semangkanya.
Setelah pisau itu menancap, Rashino langsung menarik kembali semangkanya dan melemparnya jauh-jauh. Lalu jari telunjuknya Rashino menunjuk ke arah Diana sambil tersenyum.
Rashino berkata, "Diana sudah terjebak!" dengan nada yang agak menyeramkan.
Diana mengerutkan keningnya. "A–apa maksudmu?!"
TAP! TAP! TAP!
Seketika terdengar suara langkah kaki. Suara yang sangat banyak. Suara itu muncul dari belakangnya Mizuki dan ada juga suara telapak kaki yang muncul dari belakang Diana.
Diana membesarkan matanya karena terkejut. Karena tepat di belakang di kembar, tiba-tiba saja muncul banyaknya anak murid sekolah yang merupakan korban Diana yang ternyata masih hidup.
Lalu Diana pun berbalik badan dengan cepat. Tadinya ia ingin berlari untuk kabur dari tempat itu. Tapi ternyata di belakangnya juga ada beberapa anak lainnya dengan dua guru yang mendampingi mereka. Tapi yang memimpin pasukan itu adalah Sachiko, loh!
Diana hanya bisa berdiri diam di tempanya. Dia sudah terkepung dan tidak bisa ke mana-mana lagi. "Sial! Apa yang kalian inginkan dariku?! Kenapa kalian semua bisa bebas, hah?!" Diana berteriak. Untuk pertama kalinya, dia tidak bersikap santai, melainkan dirinya saat ini terlihat ketakutan dengan keadaan sekitarnya.
Sachiko menunjuk ke arah Diana dan berkata, "Anata wa taiho sa reta, akuto! Ima sugu kyatchi soshite, watashi no kyōdai o futatabi jama shinaide kudasai!"
* ( Arti: Kau sudah tertangkap, penjahat! Ayo tangkap dia. Dan jangan pernah kau mengganggu kakakku lagi! )
"A–apa yang kau katakan?"
"Dia bilang padamu, jika dirimu sudah terkepung dan akan ditangkap. Sekarang juga serahkan dirimu. Dan jangan pernah mengganggu kami lagi." Mizuki menjawab sambil menundukkan kepalanya. Lalu setelah ia selesai menjawab, Mizuki kembali mendongak dan menatap Diana dengan mensipitkan matanya sambil tersenyum.
"Sekarang... akulah yang menang. Sedangkan kamu..., harus dibunuh!" lanjut Mizuki.
"Tidak! Ini tidak mungkin! Kalian semua curang. Kalian tidak boleh main keroyok seperti ini, dong!" Diana berteriak ketakutan. Lalu tak lama kemudian, ia tertawa. Tertawa seperti orang gila sambil mengacak-acak rambutnya.
"Hahah... haha... untuk apa juga aku harus takut pada kalian, ya? Haha... aku kan masih punya tumbal di kamarku! Aku juga sudah meletakkannya di sana dan aku bisa langsung–"
"Jangan senang dulu, Diana! Kami sudah tahu tempat persembunyianmu." Seseorang yang ada di belakang si kembar telah menunjukan sesuatu. Dia membawa satu kotak yang ternyata isinya penuh dengan potongan daging manusia. "Berani sekali kamu telah membunuh teman kami. Jadi selama ini kamu pelakunya?!"
"Dasar tidak mau mengaku! Kau malah memfitnah kami!"
"Padahal kau yang membunuh mereka!"
"Dasar setan!"
"Pembunuh!"
"Wanita tidak berguna!"
"Mati saja sana!"
"Mati!"
"Mati saja!"
Semuanya mulai ribut. Mereka semua melontarkan kata-kata kasar untuk Diana sampai akhirnya gadis berambut putih yang cantik itu, seketika berubah menjadi sosok yang aneh. Karena rambutnya yang sekarang acak-acakan dan matanya yang sedikit memerah karena mengeluarkan air mata, Diana telah menjadi gadis yang buruk rupanya.
"BERHENTI! BERHENTI KALIAN SEMUAAAA!"
Diana berteriak keras. Lalu ia mundur ke belakang, dan membalikkan badannya. Gadis itu membenturkan kepalanya ke jendela sampai pecah, lalu ia melompat dengan sendirinya lewat jendela itu. Seketika semuanya terkejut dan langsung menghampiri jendela tempat Diana melompat.
Saat terjun ke bawah, Diana membiarkan kepalanya yang akan menghantam tanah terlebih dahulu. Sampai di dekat tanah, Diana baru akan berteriak dan....
BRUK!
Darah bermuncratan ke mana-mana. Hanya karena jatuh dari lantai dua saja telah membuat kepala Diana bocor dan lehernya patah. Tapi di bawah sana ia masih terlihat bernafas walau hidupnya tidak akan lama lagi.
Semua murid yang tadinya mengerumuni Diana pun langsung menghampiri gadis pembunuh yang telah membunuh dirinya sendiri dengan cara melompat dari jendela di lantai dua.
Mereka semua mengerumuni Diana. Nafasnya terengah-engah. Lalu Diana kembali membuka matanya secara perlahan walau sebagian dari wajahnya nyaris hancur. Ia juga masih bisa mengeluarkan suaranya.
"Berikan aku... berikan... berikan aku kesempatan hidup lagi. Aku mohon... aku mohon... aku ingin hidup. Aku... tidak aku mati! Aaaaaaakh!" Di akhir katanya, Diana berteriak seperti orang kesakitan. Sampai akhirnya secara perlahan, suaranya menghilang dan tubuhnya tidak bisa digerakkan lagi. Saat di situlah, kehidupan Diana pun berakhir tragis!
Tidak ada orang yang membunuh Diana. Melainkan, dia sendiri yang telah membunuh dirinya sendiri.
Setelah Diana diketahui telah tidak bernyawa lagi, tiba-tiba saja awan hitam berkerumun. Keadaan langit jadi tidak baik dan warnanya menjadi gelap. Lalu tak lama kemudian, turunlah hujan yang sangat deras. Membasahi semua orang yang ada di tengah lapangan itu.
Semuanya bersyukur kejadian ini telah berakhir, walau telah memakan banyak korban yang telah disebabkan oleh Diana. Tapi... kejadian kali ini, tidak akan pernah terlupakan oleh semua orang yang telah melihat dan merasakannya....
*
*
*
To be Continued-