Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 87– Pergi Jalan-jalan, part 2


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Judul berita yang akan dilaporkan adalah....


[ Pelajar Takut Bersekolah Lagi Karena Terror Internet ]


"Lo–loh? Apa ini berita tentang Ujian mematikan yang dibuat Bob itu?" gumam Dennis. "Hampir seluruh sekolah di kota ini mengalami Ujian itu. Mereka tidak mau sekolah lagi karena trauma."


"Kau benar, Dennis. Dan 'mereka' yang kau maksud itu adalah anak murid yang selamat, kan?"


"Iya, kak! Jadi sekarang... apa yang akan dikatakan oleh pemerintah?"


TING!


Siaran langsung pun dimulai. Pembawa berita yang ada di dalam TV itu mulai berbicara setelah ia merapihkan beberapa kertas di atas mejanya. [ Pemirsa. Selamat Pagi! Hari ini saya akan membawakan berita yang amat penting untuk kalian. Khususnya bagi para pelajar berprestasi di luar sana. ]


Semua orang memperhatikan berita tersebut. Aktivitas terhenti sejenak untuk melihat berita itu. Tapi kalau kendaraan yang melintas, tetap terus berjalan, hanya saja radio di dalam mobil harus diaktifkan untuk mendengarkan berita itu juga.


[ Belum lama ini, beberapa sekolah di Kota XXX telah mengalami kejadian yang buruk. Seperti yang sudah saya bahas sebelumnya, saya pernah bilang kalau ada sebuah kasus yang besar dan berbahaya. Telah muncul seorang Hacker yang pintar berkeliyaran dan bersembunyi di kota kita. Hacker tersebut membuat sebuah perangkat berbahaya yang dapat membunuh kita jika kita menerima pesan Message dari orang itu. Hacker itu diberi julukan "Terror Internet" oleh orang-orang yang menakuti dirinya. ]


[ Sudah banyak korban yang meninggal secara misterius karena pesan yang muncul. Lalu tak lama setelah pesan tersebut, si Terror Internet memindahkan aksinya ke beberapa sekolah yang sedang mengikuti Ujian Akhir Semester. Ia membuat sebuah Ujian Virtual yang dapat memasukan jiwa manusia ke dalam perangkat komputer yang ia buat. Saya juga masih belum tahu bagaimana caranya dia membuat hal seperti itu. Tapi yang penting sekarang, Ujian tersebut telah berakhir sekarang. ]


[ Saya turut berdukacita atas kematian banyaknya pelajar yang ikut dalam Ujian yang dibuat oleh Hacker itu. Tapi untuk sekarang, si Terror Internet itu sudah tidak ada lagi. Orangnya dengan inisial BOB ditemukan tidak bernyawa di halaman sebuah sekolah yang tersembunyi di desa kecil di ujung kota. ]


[ Saat itu, BOB sedang melancarkan aksinya di sekolah tersebut. Entah bagaimana dia bisa meninggal di sekolah itu. Dan lagi-lagi ia berhasil membuat banyak korban di sekolah tersebut. Tapi... masih banyak anak yang selamat dari sekolah itu. Mereka bertotal 28 siswa dan siswi yang masih bisa bertahan hidup dan keluar dari Ujian kematian itu dengan selamat. ]


"Dia pasti membicarakan sekolah kita, Kak Rei!" ujar Dennis sambil menyenggol tubuh Rei. Rei mengangguk, lalu matanya kembali melirik ke arah layar.


[ Sekarang ini, karena Ujian kematian dan Terror Internet itu sudah tidak ada lagi, maka kota kita kembali aman dan sekolah pun bisa dilaksanakan kembali. Semua sekolah membuka pendaftaran besar-besaran untuk murid baru. Karena beberapa sekolah hampir telah kehilangan seluruh muridnya karena peristiwa Ujian itu. ]


[ Tapi, walaupun pendaftaran dibuka kembali, para pelajar yang selamat dari Ujian itu merasa tidak ingin kembali bersekolah lagi karena trauma berat akan ketakutan yang mereka dapatkan setelah mengalami Ujian kematian di sekolahnya. Para orang tua sudah berusaha untuk membujuk anak mereka agar mau sekolah kembali. Tapi... hampir 100% semua pelajar tetap ingin berada di tempat persembunyian mereka, yaitu rumahnya masing-masing. ]


[ Jika mereka tidak ingin bersekolah kembali, maka masa depan mereka akan hancur dan hilangnya prestasi yang mereka miliki. Hal ini sangat buruk. Maka dari itu, saya di sini ingin memberi semangat dan dorongan untuk para pelajar di luar sana agar bisa kembali bersekolah! ]


[ Ingat! Masih ada kesempatan untuk meraih cita-cita. Jangan takut dan terus maju. Percayalah! Terror Internet itu sudah tidak ada lagi. Semua kembali aman seperti semula. Dan setiap sekolah juga telah menguatkan tingkat keamanan lingkungannya. Jadi tidak akan ada lagi yang berani macam-macam. Para polisi juga terus berwaspada untuk menghadapi Hacker seperti BOB itu. Tapi semoga saja, orang seperti BOB itu tidak akan ada lagi. ]


[ Jadi hanya itu saja yang ingin saya beritahu. Semoga bermanfaat. Selamat beraktifitas kembali dan tetap semangat! Salam dari saya~ ]


CUT!


Seketika layarnya kembali seperti semula. Semuanya juga begitu. Beberapa orang yang habis melihat siaran tadi langsung berbisik dan kembali berisik untuk membicarakan soal berita yang baru muncul. Ada yang membicarakan soal anak mereka dan ada juga yang membicarakan tentang Ujian yang mengerikan itu.


"Kak Rei, apakah kita akan mendapat teman baru yang lebih banyak lagi?" tanya Dennis.


"Apa maksudmu?" Rei berbalik badan, lalu melangkahkan kakinya untuk berjalan ke Toko Elektronik yang ingin ia tuju. Dennis mengikuti Rei di sampingnya. "Itu loh~ Kan nanti bakal ada banyak anak baru yang mendaftar di sekolah kita. Karena... murid di sekolah kita hanya 29 orang saja." Dennis menunduk. "Itu sama saja dengan jumlah murid satu kelas."


"Hmm... entahlah. Anak mana yang mau sekolah di tempat kita itu. Mereka tidak akan mau karena sekolah kita terkenal sangat mengerikan dan terpencil juga tempatnya. Lagi pula, sekolah kita juga tidak masuk dalam peta online gitu." Jelas Rei sedikit mengeluh.


"Emm... tapi aku berharap ada murid baru."


"Ah, sudahlah... Eh, ngomong-ngomong di mana tokonya tadi?" tanya Rei. Dennis menunjuk lalu berjalan kembali. "Ada di sana, ayo!"


****


Di lantai dua, Akihiro dan Mizuki masih berjalan bersama. Mereka sedikit menjaga jarak dengan tubuh mereka. Tidak terlalu sempat agar mereka tidak dianggap pacaran oleh banyak orang di tempat umum itu.


Mizuki melipat tangannya ke depan sambil celingak-celinguk melirik ke sekitarnya. Mencari sesuatu yang bagus. Sampai akhirnya....


"Eh? Eh! eh! Akihiro!" Mizuki berbalik badan menatap Akihiro, lalu menunjuk. "Ayo kita ke sana!"


Akihiro meneleng. "Eh? Ke mana– UWAAA!"


Mizuki menarik tangan Akihiro dengan paksa, lalu setelah itu ia berlari mengajak Akihiro ke dalam sebuah toko yang telah menarik perhatiannya. Ternyata toko itu tempat membeli dan memamerkan baju-baju cantik dan alat-alat kosmetik. Tentu saja toko itu sangat disukai oleh para gadis.


"Ke–kenapa kita ke sini, sih, Mizuki?!" tanya Akihiro yang sedikit terkejut dengan tempat yang dia masuki.


"Barang-barang ini bagus sekali! Sama seperti saat aku ke Tokyo! Waaah! Kireii desu! Uuuh... Kawaiiiii!"


"Mizuki berisik!"


"Apanya yang berisik, sih, Dian? Lihat, dong! Tempat ini memang surga banget."


"Itu kan bagimu. Sudahlah aku ingin keluar saja."


"Hei! Tunggu dulu. Kan kita harus tetap bersama dan jangan berpencar! Apa kau tidak ingat dengan pesan Rei?"


"Ayolah jangan seperti itu. Temani aku sebentar!"


Akihiro sedikit mengerutkan kening. Mizuki memasang wajah sedih bercampur dengan kekesalan. Karena melihat ekspresi Mizuki yang seperti itu, Akihiro jadi tidak tegaan. Ia menghela nafas, lalu mengangguk. "Hah... iya, iya. Tapi cepatlah."


"Yeah! Dian memang baik. Sekarang aku mau masuk lebih dalam, ya? Siapa tahu ada benda yang imut lainnya."


"Oke, cepat, ya? Aku tunggu di depan."


"Tapi jangan kabur, kau!"


"Iya, ih! Bawel!"


Mizuki tersenyum manis. Lalu setelah itu ia berbalik badan dan berjalan santai ke depan. Sambil sesekali menyentuh benda cantik yang ia lihat sambil bergumam-gumam dengan girangnya.


Akihiro menghembuskan nafas berat lalu bergumam, "Anak perempuan memang merepotkan." Lalu setelah itu, ia kembali membuka mata dan melirik ke toko yang ada di depannya. Maksudnya, toko yang agak jauh di depannya. Toko itu bersebrangan dengan eskalator dan dinding kaca pembatas.


Akihiro melebarkan matanya karena ia melihat... toko yang menjual banyak sekali kudapan yang Akihiro suka. Lalu kebetulan sekali di sampingnya, ia juga melihat ada toko buku yang besar. Dari depan kaca jendela toko buku itu, ia melihat ada satu tempat yang menjadi tempatnya untuk menemukan berbagai macam judul buku komik. Tentu saja dengan kedua toko tersebut pasti telah menarik perhatian Akihiro untuk segera memasuki salah satu toko itu.


"Ahh! Aku ingin ke sana! Tapi apa Mizuki akan mengizinkanku?" pikir Akihiro. Ia menoleh ke belakang. Masih ada Mizuki yang berdiri tak jauh dari tempatnya. Dengan berani, Akihiro masuk ke dalam toko kosmetik itu semakin dalam hanya untuk menemui Mizuki sebentar. Padahal penghuni yang ada di toko itu hanya para kaum hawa saja.


"A–anu, Mizuki..." Akihiro menyentuh pundak Mizuki. Perempuan itu terangsang dan langsung menengok ke belakang. "Iya ada apa?"


"Aku ingin ke toko itu! Kumohon! Aku ingin ke sana."


Mizuki meneleng. "Toko apa?"


"Toko cemilan itu dan toko buku komik!"


"Ah, jangan lah! Nanti kamu malah lama di tempat itu."


"Kamu juga lama di tempat ini!"


"Ah, suka-suka aku, lah!"


"Cih! Kalau aku mau ke toko itu juga ya suka-suka aku!"


"Tidak. Pokoknya tidak boleh! Kau tidak boleh pergi ke sana, ah!"


"Eh, please, dong! Kan tempatnya tidak jauh! Ah, Mizuki! Aku mohon!"


"Tidak mau! Jangan ke sana. Nanti aku tidak ada teman di sini."


"Aku juga tidak betah di tempat ini tahu!"


"Eh, pacarnya marah?" Akihiro mendengar seseorang yang ada di dekatnya itu berbisik. "Apa pasangan itu bertengkar? Kasihan sekali."


"Sebaiknya kita jangan ganggu mereka."


"I–iya, ayo!"


"Payah! Di toko ini aku malah dibicarakan oleh banyak orang." Gerutu Akihiro dalam hati. "Sekarang apa yang harus aku lakukan agar Mizuki mau mengizinkan aku?"


****


Di toko boneka yang ada di lantai 1, di sana ada Adel dengan Yuni yang sedang berkeliling mengitari toko itu untuk melihat-lihat boneka-boneka imut yang bisa mereka temukan.


"Yuni, lihatlah ini!" Adel mengambil satu boneka berbentuk kelinci putih yang lembut, lalu memeluknya. "Apakah aku imut dengan boneka ini?" tanya Adel.


Yuni hanya diam saja. Ia menaikan kedua alisnya lalu menjawab, "Iya, imut, kok."


"Wahh! Yuni baik sekali. Sekarang jawab lagi, lebih imut aku apa boneka ini?"


"Hmm..." Yuni berpikir sejenak. Ia akan menjawab. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ada orang lain yang menjawab. Suara seorang pria dengan nada bicara yang berat dan terdengar kasar.


"Yang imut itu kamu, adik kecil."


Yuni dan Adel berbalik badan. Mereka berdua terkejut saat melihat ada dua orang pria dewasa yang mengenakan pakaian seperti preman yang sangat kasar dan menyeramkan. Tubuh mereka juga besar-besar dan berotot.


"Ada anak kecil yang tersesat, ya? Ikut sama Abang, yuk! Hehehe...."


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8