
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Anak-anak! Kita sudah sampai!"
"Hah? Katanya perjalanan kita masih jauh?" tanya Akihiro heran. Lalu ia melirik ke luar jendela dan ternyata di sekitar mobil Bus hanya terdapat toko-toko kecil yang menjual barang-barang kuno dan cemilan di pinggir jalan.
"Ini kan... Rest area." Gumam Dennis. "Sudah kuduga pasti kita akan berhenti di tempat seperti ini."
"Memangnya kenapa?" tanya Rei.
"Tidak apa-apa, sih... aku hanya malas menunggu." Dennis menyandarkan tubuhnya di sandaran kursi yang ia duduki. Menghela nafas sejenak, lalu melirik ke arah jendela. Di luar sana adalah tempat yang terlihat kosong dan tidak ada Bus lain selain Bus pariwisata milik sekolahnya itu.
"Kita memang belum sampai tujuan, tapi kita di sini hanya untuk istirahat sejenak. Sopir kita juga butuh istirahat. Dan... bagi kalian yang ingin membeli cemilan, bisa keluar dan membeli makanan kecil di toko sekitar sini. Dan jika ada yang ingin buang air, silahkan pergi ke toilet umum." Jelas Bu Mia menjawab pertanyaan Akihiro. Ia meminta Pak Sopir untuk membukakan pintu agar anak-anak lainnya yang ingin ke toilet dan membeli makanan bisa keluar.
Ternyata hampir semua murid keluar dari dalam Bus. Sebagian besar, mereka ingin membeli makanan dan minuman. Kalau anak perempuannya ingin ke toilet. Rei juga begitu, tanpa tanda ia tiba-tiba saja berdiri lalu beranjak dari tempatnya. Saat ditanya sama Dennis, Rei menjawab kalau dia ingin ke toilet sebentar.
Sekarang di dalam Bus, yang tersisah hanya tinggal Dennis saja sendiri. Karena merasa kesepian, Dennis memutuskan untuk keluar dari Bus juga. Ia berdiri, tapi setelah dipikir-pikir....
"Jika aku keluar, aku mau ngapain nanti? Beli makanan tapi aku tidak lapar. Beli minuman, tapi aku masih memiliki satu botol penuh air putih yang diberikan Bu Mia tadi." Dennis berpikir di dalam hati. "Kalau ke toilet... aku tidak merasa ingin buang air."
"Ah, tidak. Sebaiknya aku tetap di sini." Dennis mengurungkan niatnya untuk keluar dari Bus. Ia kembali duduk di tempat duduknya, lalu menyandarkan kepalanya ke jendela sambil melihat pemandangan di luar sana. Bukan pemandangan sih sebenarnya. Karena di depan, hanya terdapat tanah kosong dan jalan aspal yang terlihat tandus. Di luar banyak debu yang berterbangan. Sampai Dennis terpikirkan oleh orang-orang yang berjualan di tempat ini. Apakah mereka tidak terserang penyakit jika terus menghirup asap kendaraan dan debu yang berterbangan seperti itu?
"Bahkan... apakah makanan di toko itu juga terlihat sehat?" Kali ini Dennis bergumam. Dengan posisinya yang tidak ia ubah, Dennis memejamkan mata di sana. Ia tidak merasakan getaran apa-apa di badan mobil, karena mesin mobilnya telah dimatikan.
"Apa kau tidak ikut bersama dengan yang lainnya?"
Dennis tersentak. Ia kembali membuka mata setelah mendengar ada suara orang lain yang berbicara padanya. Saat Dennis melihat ke barisan bangku di depannya, ia tidak melihat seorang pun di sana. Bahkan, mobil Bus saat ini masih terlihat kosong. Tidak ada orang sama sekali.
DUK!
Dennis terkejut. Ia merasa ada dorongan kuat dari bangku kenalannya. Dengan cepat, Dennis berdiri lalu melihat ke bangku kosong yang ditempati adiknya itu. Tapi saat dilihat, ternyata tidak sepenuhnya bangku itu terlihat kosong. Karena... di samping bangku Adel, masih ada Yuni yang duduk di sana. Ia duduk di pojok dekat jendela, di belakang bangkunya Dennis.
"Eh? Aku pikir Yuni ikut dengan Adel. Ternyata masih ada teman aku di Bus ini. Syukurlah." Batin Dennis lega. Sebelumnya ia merasa takut dengan keadaan Bus yang sangat sepi, tapi sekarang sudah ada Yuni, Dennis jadi tidak kesepian lagi.
"Yuni tidak ikut keluar juga?" tanya Dennis lirih.
Yuni menjawab hanya dengan menggelengkan kepalanya saja. Tampangnya masih biasa dan matanya selalu menatap keluar jendela.
"Oh, em... kalau Adel keluar kenapa, ya?" tanya Dennis lagi.
"Ke toilet. Dia pergi sama Mizuki." Jawab Yuni pelan dengan nada dingin. Posisinya tetap tidak berubah. Tapi saat ia menjawab tadi, lirikan matanya sempat mengarah ke Dennis, lalu kembali melirik ke jendela.
"Oh, begitu, ya?" Dennis tertawa kecil. Ia ingin bertanya satu hal lagi. "Kenapa kau tidak–"
"Seharusnya kita tidak menjalankan Study Tour ini."
"Eh?" Dennis tersentak saat Yuni tiba-tiba menyela. "Apa?"
"Aku punya firasat buruk tentang jalan-jalan kita ini. Seharusnya aku tidak perlu ikut. Tapi karena aku khawatir, maka apa boleh buat."
"Nih anak ngomong apa, sih?" Dennis menggerutu dalam hati. Lagi-lagi Yuni bergumam sendiri. Apa jangan-jangan, perkataanya itu untuk Dennis? Tapi saat berbicara, Yuni sama sekali tidak melirik ke lawan bicaranya. Anak aneh!
"Anak-anak di sini akan menemukan ajalnya jika mereka tidak segera kembali ke sekolah. Daerah tempat tujuan kita itu dipenuhi oleh kelompok malaikat maut yang sudah menunggu."
"Eh?" Dennis terkejut dengan ucapan Yuni yang terakhir itu. Entah kenapa saat mendengarnya, seketika bulu kuduk Dennis berdiri. Ia merinding karena mendengar perkataan Yuni. Ternyata begitu, ya? Ketika dekat dengan anak indigo, dan anak itu malah nakut-nakutin kita sama firasat masa depannya.
Tapi... kalau Yuni yang sudah berbicara seperti itu, Dennis bisa 80% percaya dengan ucapan Yuni. Karena... selama Dennis bertema dengan anak seperti Yuni, ia selalu merasa aman. Karena ucapan Yuni tidak pernah bohong.
Tapi jika larangan Yuni untuk tidak pergi ke tempat Villa penginapan mereka, maka Dennis belum bisa sepenuhnya untuk percaya. Karena kata Bu Mia, orang-orang di sana baik-baik. Tentu saja Dennis lebih percaya dengan orang yang lebih tua dibanding dengan Yuni.
Dennis terkejut. Tiba-tiba saja Akihiro datang dan langsung menepuk pundaknya dengan keras. Sontak Dennis langsung berbalik badan dan membentak Akihiro. "Kau mengagetkanku saja!"
"Eeeh... jadi dari tadi kau itu bengong, bukannya mengobrol dengan anak pendiam layak Yuni itu?" Akihiro terkekeh. Di tangan kanannya, Akihiro menenteng kantung plastik besar yang ternyata berisi semua cemilan untuk dia makan.
"Tadi aku mengobrol dengannya. Tapi yah... entahlah." Dennis tidak bisa menjawabnya. Jadi ia hanya tertawa saja sambil memainkan rambutnya.
"Ah, tidak jelas, kau!" Akihiro menggerutu, lalu ia kembali ke tempat duduknya. Di sana, Akihiro langsung membuka satu bungkus cemilan yang ia beli, lalu memakannya.
Dennis juga kembali duduk di tempatnya. Ia tidak ingin bicara dengan Yuni lagi untuk saat ini. Tapi... Dennis masih memikirkan perkataan Yuni yang selalu teringat di benaknya. "Kita semua sedang ditunggu oleh malaikat maut yang ada di Villa itu? Ah, apa benar?"
"Tapi firasat sama instingnya Yuni itu selalu benar. Dan Yuni itu bukan tipe anak yang suka berbohong. Aduh... entahlah... kalau aku mempercayainya, hal itu malah membuatku semakin cemas."
"Tapi semoga saja saat di sana, kami semua tidak dapat masalah apa-apa. Tujuan kita ke sana kan untuk bersenang-senang bersama dan membuat kenangan. Tapi jangan sampai kenangan itu malah berujung pada petaka."
"Semoga saja."
****
Setelah semua murid kembali masuk ke dalam Bus, Sopir Busnya pun masuk setelah puas ngopi di warung. Lalu setelah semuanya berkumpul kembali, mesin mobil kembali dinyalakan lalu dijalankan kembali ke jalan raya.
Semuanya ternyata membeli makanan dan minuman. Sepertinya hanya Dennis saja yang tidak. Di belakangnya, Yuni telah dibagi makanan yang Adel beli untuknya. Kalau Rei... dia hanya membeli minuman dalam botol saja. Dan seperti yang Dennis lihat, anak yang membeli makanan terbanyak hanya Akihiro saja. Bahkan dari tadi sampai sekarang, dia tidak ada hentinya untuk mengunyah makanannya itu.
"Dian... sejak kapan kau punya banyak uang?" tanya Mizuki heran. Ia juga sedikit terkejut saat melihat Akihiro yang memiliki banyak persediaan makanannya.
"Hehe... kan tadi pagi, Ibu Dennis ngasih aku uang 150 ribu, loh! Jadi aku bisa beli makanan sepuas yang aku mau, haha... Am! Am!" Akihiro menjawab dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Mizuki berdecih lalu membuang muka dari Akihiro. Tapi setelah ia mengalihkan pandangan dari Akihiro, pandangan barunya malah menatap ke arah Rei yang sedang membaca buku sambil meminum minuman yang ia beli.
Matanya terus menatap ke Rei, lalu mengarah ke Dennis. Dan setelah itu, ia kembali melirik ke Akihiro dan kakaknya yang sedang tertidur di samping jendela. Lalu setelah Mizuki memandang semua teman-temannya, ia menundukkan kepala. Menatap sepatu yang ia pakai, lalu bergumam, "Ternyata selama ini, aku sudah dikelilingi oleh cowok-cowok keren yang menjadi teman baikku. Ah! Senang sekali. Bahkan Onii-chan juga aku anggap keren, hehe...."
****
Selama di perjalanan, semuanya hanya menghabiskan waktu dengan mengobrol dan bermain ponsel saja agar tidak merasa bosan. Dan ada juga yang streaming di ponsel mereka sambil memakan cemilannya. Ada juga yang tidur, dan... ada juga yang menonton film yang dipasang oleh Sopir Busnya lewat televisi kecil yang terpasang di dinding badan Bus yang ada di depan. Hanya film biasa, tentang genre komedi dan romantis. Dan yang menonton film itu hanya anak-anak perempuan yang duduk di bangku paling depan.
"Nah, belok ke kiri, ya, Pak?" ujar Bu Mia yang sedang memberitahu arah jalan. Ternyata sebentar lagi mereka akan sampai di tujuan.
"Iya, Bu!"
Setelah berbelok ke kiri, mobil memasuki jalanan yang sempit tapi masih bisa dilewati oleh Busnya. Hanya jalan kecil dengan rumah-rumah warga di setiap pinggiran jalannya. Suasana di luar terlihat sepi. Hanya ada beberapa orang saja yang keluar dari rumah mereka.
Lalu tak lama setelah melewati pemukiman warga, jalan itu membawa mobil Bus sampa menemui sebuah jembatan kayu yang di bawahnya adalah aliran air sungai. Setelah melewati jembatan itu dengan aman, mobil akan terus maju ke depan, ke jalan lurus yang terdapat batu-batu dan jalanan yang berlobang.
Saat melewati jalan itu, semuanya menahan goncangan yang diakibatkan dari jalanan yang rusak tersebut. Tidak mungkin kalau kendaraan yang melewatinya akan mudah untuk berjalan di jalanan yang rusak seperti itu.
"Bapak bisa berhenti di sana saja. Dekat dengan tanjakan itu, ya?" Bu Mia berujar lagi. Pak Sopir mengangguk paham. Lalu setelah mobil sampai di tempat yang ditunjuk Bu Mia, Pak Sopir pun menginjak rem dan menghentikan gerak mobilnya.
Setelah mobil berhenti, Bu Mia berdiri, lalu berbalik badan dan menepuk tangan dua kali. "Nah, anak-anak! Inilah tujuan kita. Sekarang semuanya boleh turun, tapi hati-hati, ya?"
"Baik, Bu!" Semuanya mengangguk. Sebelum keluar, mereka semua menyiapkan barang bawaannya seperti tas dan yang lainnya. Lalu setelah sudah siap, secara perlahan, satu persatu mereka semua turun dari Bus.
Setelah semuanya turun dan tidak ada lagi orang di dalam Bus, maka Pak Sopir akan pergi untum memarkirkan mobilnya ke tempat lain. Setelah Mobil pergi, mereka semua bisa menghirup udara segar dari pegunungan dan sawah-sawah hijau yang ada di sekitar. Ternyata kawasannya masih terlihat seperti pedesaan. Dan di depan mereka itu ada jalan menanjak yang kata Bu Mia, jalan itu akan membawa mereka ke Villanya.
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8