
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Keesokan harinya–
Hari ini hari Minggu. Sekarang saatnya Dennis dan Adel untuk pergi meninggalkan keluarga mereka lagi. Pagi ini adalah sarapan bersama untuk yang terakhir kalinya. Tapi bukan selamanya.
"Besok kalian sudah masuk sekolah, ya?" tanya Ibunya Dennis sambil memotong daging di piring dengan menggunakan sendok.
Dennis mengangguk dan menjawab, "Iya," Setelah Dennis mengunyah lalu menelannya, ia pun kembali melanjutkan perkataannya. "Tapi kami ingin berangkat agak siang hari ini."
"Loh? Kenapa tidak pagi-pagi saja?" tanya Ibunya lagi.
"Karena hari ini, Mizuki sedang menunggu seseorang untuk menjemput Sachiko." Jawab Dennis lagi.
"Oh? Sachiko akan pulang sekarang? Dengan siapa?"
Mizuki yang akan menjawabnya. Ia menelan makanannya, lalu kembali membuka mulut. "Dua hari yang lalu, aku sudah menelpon Onii-chan kami di Jepang. Aku meminta padanya untuk segera pergi ke Indonesia untuk menjemput Sachiko. Mungkin nanti setelah ini aku akan pergi ke bandara untuk menghantarkan Sachiko sampai ke Onii-chan." Jelas Mizuki.
"Eh? Mizuki juga punya kakak laki-laki, kah? Atau Onii-chan itu namanya?" tanya Akihiro dengan mulut yang masih penuh dengan makanan.
Mizuki mengangguk. "Iya. Aku kan anak kedua di keluarga Hanashita."
"Siapa nama Onii-chan mu itu?"
"Namanya... Kazuko Hanashita. Dia baik sekali. Untung saja dengan kebaikannya itu, dia mau menjemput Sachiko sampai sejauh ini." Jawab Mizuki.
"Oh begitu..." Semuanya mengangguk paham. "Tapi sekarang apa kau sudah tahu bagaimana caranya si Sachiko itu bisa mengikutimu?" tanya Akihiro.
"Yah... seperti yang Sachiko ceritakan padaku, saat ia sedang melihatku jalan dari rumah di Jepang, Sachiko ini melihat ada satu tas kecil yang lupa kubawa. Tas itu hanya berisi cemilan ku saja. Tapi dengan baiknya, Sachiko ini mau menghantarkan tas itu sampai di stasiun. Saat di stasiun, si Sachiko tidak menemukan diriku karena banyaknya orang di sana, sampai akhirnya... ia menemukan diriku sudah berada di peron stasiun. Sementara Sachiko masih ada di depan kasir pembelian tiket gitu."
"Karena tubuhnya kecil, jadi Sachiko dengan mudahnya malah menyelip di pintu masuknya peron. Kan biasanya, semua orang akan bisa masuk jika mereka menempelkan dan menunjukan tiket pembelian mereka ke tempat apa sih itu namanya? Ah! Intinya yang buat nempelin tiket biar kita bisa masuk, hehe...."
"Lalu bagaimana Sachiko bisa melewati pintu masuknya, sementara ia tidak memiliki tiket?" tanya Rei bingung.
"Hmm... dia ini anaknya pintar. Jadi... dia berpura-pura mengikuti seorang wanita tua dari belakang. Lalu setelah wanita itu bisa memasuki pintu masuk peron, Sachiko pun juga bisa masuk karena ia selalu menempel pada wanita itu." Jelas Mizuki.
"Ooh... lalu setelah itu apa yang terjadi?" tanya Dennis.
"Ya... Sachiko mengikutiku dari belakang. Karena banyaknya orang, aku sampai tidak bisa melihatnya. Aku masuk ke dalam kereta, Sachiko juga mengikutiku dari belakang. Lalu saat aku sudah keluar dari kereta, Sachiko juga tetap mengikutiku secara diam-diam. Tapi kalau yang di pesawat, beda cerita lagi."
"Nah! Itu yang di pesawat bagaimana? Kan tidak mungkin ramai, kan?" tanya Akihiro.
"Tidak lah! Nih, kebetulan Sachiko bertemu dengan seorang wanita lainnya yang akan menaiki pesawat yang sama sepertiku. Katanya Sachiko, wanita itu baik sekali ingin menemani Sachiko untuk menyusul kakaknya. Karena dari awal, Sachiko sudah bilang pada wanita itu, makanya wanita itu pun mau membantu Sachiko. Bahkan membayar tiket penerbangannya juga!"
Dennis terkejut mendengarnya. "Tidak bisa dipercaya! Mungkin wanita itu orang kaya, kali, ya?"
Mizuki mengangguk pelan, lalu kembali bercerita. "Iya mungkin. Nah yang membuatku sedikit kesal dan gemas pada Sachiko ini..., selama di pesawat, ternyata si Sachiko sudah ada di belakangku dengan wanita itu tanpa aku sadari! Mereka berdua duduk di belakang bangku ku. Nah saat turun dari pesawat, Sachiko kembali mengejarku secara diam-diam setelah ia mengucapkan banyak terima kasih pada wanita yang telah menolongnya itu. Sampailah di bandara Indonesia."
"Lalu... bagaimana Sachiko bisa bertemu denganmu?" tanya Rei.
"Untuk yang terakhirnya itu aku tidak mengerti. Dia berbicara agak terbelit-belit dan sebagian ceritanya, ia malah lupa. Tapi saat aku bertemu dengannya itu, aku sedang ada di tengah lapangan. Kebetulan, aku melihat ada si Pak Satpam penjaga sekolah yang sedang ribut dengan seseorang di depan gerbang. Karena penasaran, aku pun menghampiri Pak Satpam itu. Dan betapa terkejutnya, ternyata Pak Satpam itu sedang berusaha untuk melarang adikku ini masuk ke lingkungan sekolah. Aku juga kaget, kenapa dia bisa tiba-tiba ada di sana? Haduh... itu benar-benar membingungkan!"
Setelah Mizuki bercerita panjang lebar tentang Sachiko itu, semuanya hanya membalas dengan menganggukkan kepala mereka.
"Jadi... hanya karena cemilan yang ketinggalan itu, telah membuat Sachiko mengikuti kakaknya sampai ke sini? Memangnya cemilan apa, sih?" tanya Akihiro dengan nada jengkel.
"Tentu saja Biskuit Poky. Kan aku suka sekali. Di rumahku ada banyak, makanya aku bawa ke sini." Jawab Mizuki.
"Hei! Sudah habis, lah! Kata siapa aku tidak membaginya? Kau pasti sudah lupa, ya? Kau itu menghabiskan satu bungkus kecil Poky milikku saat di perjalanan dari sekolah menuju ke rumah ini, tahu!" bentak Mizuki tiba-tiba.
"Eh? Benarkah? Aku tidak ingat tuh. Bahkan aku tidak tahu rasa Poky apa yang kumakan...."
"Kau ini! Ah, sudahlah. Bicara denganmu tidak bakal selesai. Intinya aku sudah membagi denganmu saja!" Mizuki membuang muka dari Akihiro.
"Ah... baiklah... sekarang kan kita sedang makan bersama. Tolong jangan berkelahi di depan makanan, ya?" ujar Ayahnya Dennis lirih.
"Tuh dengerin, Mizuki! Kau terlaku emosian, sih!" Akihiro menimpali dan langsung berkata seperti itu dengan nada mengejek. Hal itu telah membuat Mizuki semakin geram dengan Akihiro. Tapi ia berusaha untuk menahannya emosinya untuk saat ini.
****
Setelah selesai sarapan, semuanya langsung menuju pintu depan. Dennis sudah siap dengan mobilnya. Ia akan menghantar Mizuki dan Adiknya sampai ke bandara dengan cepat.
Tapi... ayahnya Dennis melarang anaknya untuk tidak memakai mobil itu. Karena mobil itu akan dibawa kerja oleh ayahnya saat ini juga.
"Eh? Masa tidak boleh? Kan untuk sebentar saja, ayah! Kumohon..." Dennis meminta agar ayahnya bisa mengizinkan dirinya untuk menggunakan mobil itu agar Dennis bisa menghantar Mizuki dan Sachiko ke bandara untuk menemui kakak mereka di sana.
"Tidak bisa! Ayah harus kerja. Ini sudah terlambat." Ayahnya mengangkat tas, lalu membuka pintu mobil. Tapi sebelum beliau memasuki mobilnya, ia berbalik badan. Melirik ke arah Mizuki.
"Tapi... bagaimana kalau Mizuki yang ayah hantar saja sampai bandara. Kan kebetulan juga, Ayah akan pergi ke kota." Usul Ayahnya Dennis.
Semuanya mengangguk senang. Ternyata benar juga. Mizuki bisa dihantarkan oleh Ayahnya Dennis saja sampai ke bandara. Setelah dari bandara, Ayahnya Dennis langsung pergi ke tempat kerjanya, deh! Jadi tidak perlu bulak-balik.
Sebelum memasuki mobil, Sachiko melambai tinggi pada semuanya. Ia akan pamit pulang ke tempat asalnya. Sachiko berharap, ia bisa bertemu dengan teman-teman barunya. Apalagi sekarang ini, Sachiko dengan Adel sudah mulai akrab.
"Sayonara, tomodachi! Minna!" ucap Sachiko. Lalu setelah itu, ia pun memasuki mobil ayahnya Dennis. Diikuti oleh kakaknya juga.
BLAM!
Pintu mobil pun tertutup. Mizuki membuka kaca mobilnya dan kembali melambai. Begitu juga dengan Sachiko yang ada di dalam. Tak lama setelah ayahnya Dennis masuk, mesin mobil menyala, lalu ban mobilnya mulai bergerak dan berjalan. Menjauh dari rumah neneknya Dennis dan juga seluruh penghuni rumah itu.
Setelah Mizuki dan Sachiko pergi, seketika keadaan pun kembali hening. Sekarang apa?
"Emm... jika Mizuki pergi, lalu bagaimana di bisa ke sekolah?" tanya Dennis heran.
"Tenang saja. Nanti Mizuki akan kembali lagi ke rumah ini dengan naik Bus. Mungkin dia akan sampai pada sore hari nanti. Makanya untuk satu hari lagi, dia akan menginap di sini." Jelas Ibunya Dennis.
"Berdua dengan Ibu?"
"Iya. Makanya sekarang... kalian duluan saja. Kan kalian juga ingin pergi ke rumahnya Rei. Rei sendiri juga ingin pamit pada orang tua Rei, kan?"
Rei mengangguk. Lalu ia menghampiri Ibunya Dennis sambil mengulurkan tangannya. "Iya, kalau begitu, Rei pamit, ya? Terima kasih untuk semuanya!" ucap Rei sambil menggenggam tangan kanan Ibunya Dennis, lalu mencium tangan kanan itu.
Setelah Rei, semuanya pun melakukan hal yang sama. Lalu setelah itu, mereka kembali ke dalam rumah untuk membawa barang-barang yang sebelumnya telah mereka siapkan untuk dibawa ke sekolah.
Setelah mereka semua mengangkut barang-barangnya, Dennis dan teman-temannya sekali lagi berpamitan dengan Ibunya Dennis, dan langsung pergi meninggalkan rumah Neneknya Dennis. Mereka meninggalkan Ibunya Dennis yang masih berdiri di teras rumah sambil melambai pada mereka.
Lalu tak lama kemudian, Ibunya Dennis pun kembali masuk ke dalam rumah. Beliau jadi sendirian di sana. Tidak akan ramai lagi rumah itu.
Seketika hati Dennis terasa sakit karena ia tidak tega meninggalkan Ibunya sendirian di rumah. Tapi apa boleh buat, Dennis harus kembali ke sekolah besok. Dan untuk malam ini, mereka akan menginap di rumah Rei untuk satu hari sebelum mereka kembali ke sekolah.
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8