Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 19 (Spesial)– Masa Lalu


"Hah? Keluarga?!"


Wanita itu mengangguk pelan. "Iya, Nak. Kami ingat sekali dengan bayi kecil kami. Ternyata kamu sudah sebesar ini. Ibu senang sekali bisa bertemu denganmu, lagi."


"Tunggu. Maaf, mungkin kalian salah orang. Sa–saya sebenarnya tidak memiliki keluarga. Saya juga tidak dibesarkan di tempat ini. Asal saya dari sekolah Beautiful. D. High School. Di sanalah saya dibesarkan." Rei menjelaskan.


( *Cek eps 9 Chika jika ada yang lupa tentang cerita Rei yang sudah hidup lama di sekolah dan ia juga menganggap kalau dirinya telah dibuang oleh orang tuanya. )


"Orang tua saya sudah tidak ada sejak saya lahir. Itulah yang saya ketahui selama ini." Rei melanjutkan.


"Ibu... kakak ini bukan kakak aku? Katanya dia kakak aku, Bu?" Anak kecil yang bernama Lino itu mulai merengek. Ia menarik-narik baju Ibunya.


Ibu itu menggeleng cepat. "Tidak, Nak! Dia ini memang benar anak kita, kok! Ibu tidak lupa dengan wajahnya." Lalu beliau menengok ke sampingnya. Menengok ke arah suaminya berdiri itu. Sedari tadi, bapak itu diam saja tanpa mengucapkan sepatah kata apapun.


"Pak, tolong jelaskan pada dia kalau kita ini orang tuanya!" tegas Ibu itu.


Pak Tua itu menggeleng pelan sambil memejamkan matanya. Lalu, ia pun berjalan pelan sambil terbungkuk-bungkuk menghampiri Rei. Secara perlahan, bapak itu berusaha untuk duduk di pinggir tempat tidur yang sedang ditempati Rei itu.


Rei membantu Bapak itu untuk duduk di sampingnya. Rei duduk sila di atas tempat tidurnya. Ia sudah bisa duduk tegak, walau luka di perutnya itu masih terasa sakit.


Bapak tua itu menengok ke arah Rei. Rei sedikit menelengkan kepalanya. Bapak itu akhirnya memulai pembicaraannya.


"Nak, kamu tahu siapa namamu?" tanya Bapak itu.


"A–aku... namaku Reizal Alfathir. Biasanya aku suka dipanggil Rei saja." Jawab Rei.


"Oh, begitu." Bapak itu bergumam. "Jadi kamu sudah berganti nama ternyata?"


Rei terkejut. "Eh? Berganti nama? Maksudnya apa?"


"Hmm... sebelumnya, bukankah namamu itu Rhino Renaldi?"


"Eh? Rhino? Maaf... saya tidak tahu. Dari saya kecil, saya selalu menggunakan nama Rei."


Bapak itu kembali mengangguk. Lalu ia kembali berbicara. "Nak, sebenarnya kamu berasal dari keluarga kami. Maaf untuk yang sudah lama terjadi dulu. Maaf kalau bapak sudah meninggalkanmu sejak kecil. Tapi jangan anggap kalau bapak membuangmu. Ini semua karena kejadian 17 tahun yang lalu. Bapak masih ingat sekali dengan kejadian itu."


"Eh? Kejadian 17 tahun yang lalu? Memangnya apa yang terjadi?" tanya Rei heran sekaligus penasaran.


"Itu kejadian di saat kami kehilanganmu." Ibu menjawab.


Tapi yang akan menjelaskan ceritanya adalah sang Bapak Tua itu. "Jadi, Rhino anakku, cerita ini tentang masa lalumu. Mungkin jika bapak menceritakannya, kamu bisa percaya pada kami."


Bapak itu terdiam sejenak. Lalu akhirnya beliau memulai ceritanya. "17 tahun yang lalu itu, tepat di tanggal 14 Febuari adalah tanggal kelahiranmu dan juga awal mula terjadinya bencana di desa ini. Dulu... saat pukul 8 malam, Desa ini sempat terjadi penyerangan dari wilayah asing. Orang-orang jahat itu memburu warga desa untuk dijadikan budak dan mereka juga ingin memiliki desa ini."


"La–lalu... saat itu bagaimana dengan keadaan kalian?" tanya Rei.


"Setelah kami mendapat berita dari warga lain kalau desa ini sudah diserang, Bapak dengan Ibumu bergegas keluar. Kami membawamu keluar dari rumah ini. Lalu kita bertiga pergi memasuki hutan untuk bersembunyi dari kejaran para penjahat itu." Bapak melanjutkan ceritanya.


Lalu, Ibu pun ikut menceritakan juga. "Ibu berusaha untuk menggendongmu dengan lembut karena saat itu, kamu baru saja dilahirkan. Kulitmu masih merah dan lembut. Ibu berusaha untuk melindungimu. Tapi... saat kami berhasil menemukan tempat perlindungan di balik semak, tiba-tiba saja ada salah satu penjahat yang membawa senapan muncul tak jauh di dekat Ibu."


****


"Sayang, dengar bapak, ya? Jika bapak bilang lari, kamu harus lari, ya? Bawa anak kita ke tempat yang aman! Dan jaga dirimu juga." Pesan Bapak saat kejadian itu sedang berlangsung.


Si Ibu mulai meneteskan air matanya. Ia tidak mau kehilangan suami tercintanya itu. "Tapi Pak...."


"Tenang saja. Bapak akan mengalihkan perhatian orang itu. Lalu kamu segeralah lari secepatnya. Ayo cepat." Sang Bapak mulai meninggalkan si Ibu. Setelah genggaman tangan mereka untuk yang terakhir kalinya, sang bapak pergi berlari menghampiri orang yang membawa senapan itu.


Setelah bapak pergi, si Ibu pun langsung berlari menjauh dari tempatnya. Ia sangat berhati-hati. Berlari-lari kecil sambil menggendong buah hatinya yang masih memiliki kulit kemerahan itu.


Si Ibu berlari sampai ke depan sungai di desa itu. Mumpung air sungainya belum menaik, si Ibu menyebrangi sungai itu dengan menginjak beberapa batu yang ada di dasar sungai. Walau hampir semua pakaiannya basah, si Ibu tidak pantang menyerah untuk melewati sungai itu. Ia juga tetap melindungi bayinya yang masih tertutupi selimut agar tidak terkena air.


"Bertahan, ya, sayang? Ibu akan membuatmu selamat dari kejadian ini. Semoga mereka yang menyerang itu segera mendapatkan balasannya. Kita juga berdoa, ya? Agar ayahmu yang pemberani itu bisa selamat. Dia juga sudah menyelamatkan kita. Kita harus mencari tempat berlindung lagi, Nak!" ucap Ibu lirih pada bayi yang digendongnya itu.


Setelah ia berhasil menyebrangi sungai, si Ibu berdiam diri sejenak untuk mengistirahatkan tubuhnya yang kelelahan karena sudah berlari cukup jauh.


Lagi pula, Ibu itu juga baru saja melahirkan seorang anak laki-laki. Tentu saja ia sudah kelelahan sejak awal. Ditambah lagi dengan berlari untuk menghindar dari serangan orang-orang yang telah menyerbu desanya.


Si Ibu duduk di atas rumput di pinggir sungai untuk merehatkan tubuhnya. Tapi setelah si Ibu duduk, tiba-tiba saja bayinya menangis.


"Hah... hah... jangan nangis, ya, Nak? Kamu aman bersama Ibu. Ibu akan melindungimu." Ucap Ibu lirih untuk menenangkan bayinya. Ia menepuk-nepuk tubuh bayi itu dengan lembut untuk membuatnya berhenti menangis dan kembali tidur dengan tenang.


Tapi ternyata si bayi malam menangis semakin keras. Ibu jadi kebingungan dengan anaknya. Mungkin karena ia sedang lapar? Kalau begitu, si Ibu akan memberikan ASI untuk bayinya.


Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja cahaya senter menyoroti si Ibu dengan bayinya. Ibu sangat terkejut. Dengan cepat ia langsung berdiri dan menengok ke belakang.


Ibu itu tidak akan tinggal diam. Sebisa mungkin, ia akan berlari kembali untuk mencari tempat perlindungan yang aman. Semua demi ia lakukan untuk menjaga bayinya agar tetap aman dari para penjahat itu.


Lalu setelah ia berlari cukup jauh dari kejaran para penjahat itu, si Ibu menemukan jalanan kecil menuju ke suatu tempat. Secara perlahan, si Ibu masuk dan menyusuri jalan itu.


Ternyata jalanan setapak kecil itu telah membawanya sampai ke depan gerbang besar yang gelap. Sekeliling tempat itu adalah kebon yang penuh dengan semak dan pepohonan.


Tadinya ia ingin mengetik gerbang itu. Siapa tahu saja di dalamnya ada seseorang. Karena si Ibu juga belum tahu apa yang ada di balik gerbang itu.


Tapi sebelum ia sempat mengetuk gerbangnya, tiba-tiba saja ada yang menarik tangan si Ibu. Ibu itu sangat terkejut karena ada salah satu dari penjahat itu yang berhasil menangkapnya.


Si Ibu terjatuh duduk sambil berusaha untuk melepaskan tangannya dari genggaman penjahat itu. Sambil melepaskan diri, si Ibu juga melepaskan gendongan bayinya secara perlahan.


Si Ibu dengan hati-hati meletakan bayinya di depan gerbang itu. Lalu setelah itu, ia pun langsung berdiri dan menginjak kaki si penjahat yang telah menangkapnya itu. Setelah itu, tanpa berpikir panjang, si Ibu langsung berlari pergi begitu saja. Mencoba untuk melarikan diri dari kejaran para penjahat itu dan... ia juga telah meninggalkan bayinya di depan gerbang.


Ternyata tujuan si Ibu meninggalkan bayinya adalah untuk melindungi bayinya juga dari serangan para penjahat itu. Karena jika si bayi tetap bersama Ibunya yang sedang dalam bahaya, maka si bayi malang itu juga akan ikut terancam nyawanya seperti ibunya.


Karena sang Ibu lebih mementingkan kedekatan bayinya daripada dirinya sendiri. Maka ditinggalkan lah si bayi di depan gerbang yang entah ada penghuninya atau tidak.


Malam itu, si bayi terus menangis keras karena kedinginan dan juga kelaparan. Tak lama kemudian, si bayi pun berhenti menangis. Mungkin dia kelelahan karena terus menangis, sampai akhirnya si bayi bisa tenang dengan sendirinya dan tertidur begitu saja. Kasihan juga....


Keesokan harinya, pagi-pagi sekali, pintu gerbang itu terbuka. Lalu dari dalamnya keluar seseorang yang mengintip keluar gerbang karena ia mendengar suara tangisan. Ya, itu tangisan dari si bayi yang sudah terbangun dari tidurnya.


Orang yang menemukan bayi itu pun terkejut dan langsung menggendong si bayi. Lalu orang itu membawa masuk bayi malang itu ke dalam gerbang.


Ternyata... di balik gerbang itu adalah tempat di mana anak-anak tinggal dan belajar hal baru di dalamnya. Dua buah gedung bertingkat empat yang terlihat sudah tua. Gedung utama dengan papan nama yang terletak di bagian paling atas, bertulisan "Beautiful Death High School".


Itu adalah bangunan asrama yang terletak tepat di tengah hutan. Sekolah yang tersembunyi, tetapi terdapat banyak murid yang ikut belajar di dalamnya.


****


"Jadi... semenjak Ibu meninggalkan dirimu di sana, Ibu tidak tahu kamu bisa aman atau tidak. Tapi ternyata, kamu bisa selamat dan bisa bertemu dengan orang tuamu lagi."


Akhirnya, cerita yang penuh dengan tragedi itu pun selesai. Si Ibu merasa puas telah menceritakan kejadian itu untuk membuat Rei percaya dengan orang tua kandungnya.


"Jadi... Ibu dan Bapak ini benar-benar orang tuaku?" tanya Rei yang masih sedikit bingung.


Kedua Ibu dan bapak itu mengangguk. Rei kembali berpikir dan bertanya, "Tapi, kenapa setelah kejadian itu... kalian masih hidup? Apa kalian bisa selamat saat itu?"


"Iya. Untunglah ada salah satu warga desa yang sempat menelpon bantuan dari luar. Entah itu polisi atau tim penyelamat. Intinya, kami masih bisa selamat." Jelas Ibu.


"Wah... aku tidak menduga kalau kalian benar-benar orang tua kandungku. Karena yang kutahu selama ini, aku sudah tidak memiliki orang tua lagi. Aku senang sekali!" Rei tersenyum. Akhirnya ia bisa mempercayai dan meyakini kalau kedua Ibu dan Bapak itu adalah orang tua kandungnya. Orang tua yang selama ini Rei cari.


"Yeay! Akhirnya aku punya kakak juga, horeee!" Lino melompat kegirangan.


"Iya. Aku juga senang bisa mendapatkan seorang adik seperti sahabat-sahabatku." Rei kembali tersenyum pada adik kecilnya itu.


"Wah! Kakak punya sahabat? Hebat sekali. Ada berapa sahabat kakak?" tanya Lino penasaran.


Rei tersentak. Ia berpikir sejenak. "Tunggu! Sahabatku... kalau tidak salah... Dennis, Mizuki... lalu Diana...."


Rei mengingat sesuatu. Kejadian yang belum lama ini telah menimpanya. Yaitu, kejadian di mana ada hantu menyeramkan yang telah menyerangnya. Dan juga... gadis berambut putih itu....


"Gadis itu!" Tiba-tiba Rei berteriak. "Diana! Dia seorang pembunuh!"


*


*


*


To be Continued-


________________________________


Agak panjang, ya? Hehe...


Memang sengaja, karena eps kali ini spesial malam tahun baru!


Jadi sekali lagi, Thor ucapkan... Happy new year 2020! Yeay! Semoga tahun 2020 bisa membawa berkah yang banyak...


Amin~