Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 16– Pergi Meninggalkan Sekolah


Dennis akhirnya sampai di kamarnya. Ia pergi sendirian di sana. Karena Akihiro pergi ke kamarnya sendiri yang ada di lantai satu.


Karena semua anak sedang berada di kelasnya dan fokus sama pelajaran mereka masing-masing, jadi... di lorong tempat kamarnya Dennis berada itu benar-benar terasa sangat sunyi. Tidak ada seorang pun yang lewat di sana.


Dennis membuka pintu kamarnya. Lalu dengan cepat, ia menaruh tasnya di atas tempat tidur. Setelah itu, ia membuka lemarinya lalu mengambil beberapa baju ganti untuknya. Karena ia pikir, tidak mungkin dalam sehari dia bisa menemukan Rei. Jadi....


Dennis mengambil sesuatu yang terselip di antara baju-bajunya itu. Sebuah benda kecil yang terbuat dari besi tipis. Mengkilap dan berbunyi Criing... cring... jika digoyangkan. Benda itu adalah... Kunci rumah Neneknya.


"Hmmm... mungkin aku bisa bermalam di rumah Nenek saja nanti. Tidak mungkin setelah keluar sekolah kita akan kembali lagi ke sana." Dennis bergumam. Lalu kepalanya mendongak ke atas, menatap langit-langit kamar itu.


"Untuk sementara, kita tidak bertemu lagi, ya?" Dennis berbicara pada kamarnya. "Aku akan membawa pulang penghuni asli dari kamar ini."


BRAK!


Dennis terkejut. Lalu dengan cepat, ia langsung menengok ke belakang. Karena tiba-tiba saja pintu kamarnya itu terbanting dengan sendirinya. Kamar Dennis jadi gelap karena ia tidak menekan saklar lampunya.


Dennis berdiri, lalu berjalan mendekati pintu itu. Dia akan membuka pintunya lagi. Setelah dibuka, Dennis mengeluarkan kepalanya lewat pintu kamarnya untuk melihat keadaan sekitar di lorong itu.


Lorong pojok sana tidak ada siapapun. Tidak ada orang yang lewat sama sekali. Lalu, Dennis melirik ke arah sebaliknya. Ia sedikit mensipitkan matanya karena melihat sesuatu berwarna hitam yang bergerak menaiki tangga menuju ke bawah itu.


Sesuatu yang bergerak itu mulai menunjukan sosoknya. Ternyata sosok itu adalah Adel dengan Yuni. Sosok hitam itu adalah rambutnya Yuni yang masih setengah terlihat tadi.


Adel dan Yuni melihat Dennis sedang mengintip lewat pintu kamarnya. Pada awalnya mereka juga terkejut. Dikira mereka di sana ada kepala melayang, ternyata setelah Dennis keluar dari kamarnya, mereka berdua baru mengetahui kalau itu kepalanya Dennis yang sedang mengintip.


Dennis berdiri di depan kamarnya. Masih berada di tengah-tengah pintu, sih...


"Kakak bikin kami kaget saja!" bentak Adel tiba-tiba.


Dennis tersentak. "Eh, memangnya kenapa?"


"Sudahlah. Sekarang, kakak ada perlu apa dengan kami?" tanya Yuni dengan wajah datarnya.


"Anu... begini. Aku dan Kak Dian akan pergi dari sekolah ini. Kami memutuskan untuk mencari Kak Rei yang menghilang. Jadi, kalian kupanggil hanya ingin memberitahu soal ini saja. Tapi sekalian juga ingin mengajak kalian untuk ikut bersama kami. Itu jika kalian mau, sih..." Dennis menjelaskan.


"Tentu saja Adel pastinya mau ikut kakak! Tanpa kakak di dekat Adel, Adel merasa takut, tau!"


"Tapi... apakah guru mengizinkan kita untuk keluar dari sekolah ini?" tanya Yuni.


"Sebenarnya tidak." Dennis tertawa kecil sambil menggaruk kepalanya. "Kami tadi kabur dan langsung menuju ke kamar masing-masing untuk bersiap."


"Oh, baiklah kalau begitu aku ikut dengan kalian." Kata Yuni memutuskan.


"Adel juga ikut, ya?"


"Iya pastinya kamu boleh ikut, Adel." Dennis tersenyum. Lalu ia pun berbalik badan. Ia akan membereskan kembali barang-barang yang akan ia bawa itu.


Tapi tiba-tiba saja tangan Dennis tertarik ke bawah dengan kuat sampai dirinya pun terjatuh ke lantai. Dennis sangat terkejut. Lalu ia kembali dikejutkan dengan sesuatu yang melesat di atas kepalanya.


KERRK!


"Uwaaa! A, apa itu barusan?!" Adel berteriak.


Dennis kembali berdiri, lalu menengok ke belakangnya. Di hadapannya, ada sebuah pisau yang menancap di dinding yang ada di depan kamarnya itu.


"Beruntung saja aku sempat menarikmu tadi." Yuni berujar. Dennis langsung melirikkan matanya ke arah anak dengan wajah datar yang biasa ia panggil dengan nama Yuni itu


"I, itu kan pisau milikku. Ke, kenapa tiba-tiba bisa tertancap di sana?" tanya Dennis pada Yuni. Lalu secara perlahan, tangannya mencabut kembali pisau itu dari dinding.


"Ada sosok yang melempar pisau itu dengan sengaja ke arah kakak, tadi." Jawab Yuni. "Untung saja kakak masih sempat menghindar."


"So, sosok apa itu?!"


"Hanya bayangan hitam yang masih memiliki dendam. Entah dia itu siapa. Tadi ada di dalam kamar kakak. Tapi sekarang sosok itu sudah pergi." Jelas Yuni santai.


Dennis jadi merasa takut. Lalu, dengan cepat ia langsung kembali memasuki kamarnya. Lalu setelah itu, ia memasukan semua barangnya ke dalam tas. Lalu kunci rumah Neneknya itu ia masukan ke dalam saku celananya.


"Hei, kalian berdua... hah... hah... cepat bereskan barang kalian juga. Bawa yang penting saja dan jangan lupa untuk membawa benda yang bisa digunakan untuk membela diri. Karena kita tidak tahu, bahaya apa yang akan mengancam kita di luar sana." Jelas Dennis.


Yuni dan Adel mengangguk. Mereka langsung pergi memasuki kamar mereka. Sementara Dennis akan menunggu di depan kamar mereka dengan tas yang ia gendong. Tasnya lumayan berat juga.


****


Akhirnya semuanya sudah siap untuk pergi. Dennis, Adel, dan Yuni pun berjalan menuruni tangga. Saat di pertengahan anak tangga, mereka melihat Akihiro muncul di depan tangga di bawah sana.


"Ah, kebetulan sekali. Tadinya aku ingin menyampar kalian langsung ke atas sanam Tapi karena sudah bertemu di sini, jadi kita langsung saja pergi." Kata Akihiro dengan penuh semangat.


Semuanya mengangguk. Lalu mereka berlari kecil melewati lapangan sekolah yang lumayan luas, sampai akhirnya ke depan pintu gerbang. Itu pintu utama untuk keluar dari sekolah.


Pintu itu terkunci. Akihiro dan Dennis tidak bisa membukanya. Lalu tak lama kemudian, ada Pak Satpam yang sama datang menghampiri mereka.


"Eh, eh... kalian ini pada mau ke mana? Ini masih jam pelajaran! Dilarang ada yang keluar dari lingkungan sekolah. Ayo kembali ke kelas kalian." Pak Satpam itu mencegah gerbang sekolah. Ia tidak memperbolehkan Dennis dengan yang lainnya keluar dari sekolah itu.


Lalu alasan apa yang akan Akihiro pakai sekarang?


"Oh, jadi tidak boleh, ya? Tapi pak, ini sangat mendesak. Bapak tahu kan kalau Rei itu menghilang. Kini, kami semua ingin mencari dirinya." Ternyata Akihiro berkata jujur.


"Oh... tapi apakah kalian sudah minta izin kepada guru kalian?" tanya pak Satpam itu.


"Sudah dong pak! Mereka mengizinkan kami untuk pergi." Tapi yang kali ini Akihiro berbohong.


Pak Satpam itu percaya. Ia mengangguk, lalu membukakan gembok gerbangnya. Setelah itu, pintu gerbang pun digeser sedikit untuk memberikan celah pada Dennis dan temannya agar bisa keluar.


"Terima kasih, Pak! Do'akan kami agar berhasil, ya!" Akihiro melambai sambil berlari. Yang lainnya juga ikut berlari untuk pergi menjauh dari sekolah itu secepat yang mereka bisa.


"Iya. Semoga kalian berhasil!" Pak Satpam itu menjawab Akihiro.


Sekarang, Dennis dan teman-temannya akan pergi untuk memulai misi mereka, yaitu mencari Rei sampai ketemu!


Tapi sebelum mereka semakin menjauh, Adel sempat mendengar seseorang berteriak di belakangnya. Adel pun menghentikan langkahnya, lalu menengok ke belakang. Ia terkejut. Karena di depan pintu gerbang sekolahnya itu, Adel melihat ada si Mizuki yang sedang melambai sambil terus memanggil nama Dennis dan Akihiro.


"Kak Dennis! Tunggu sebentar! Lihat itu Kak Mizuki juga ingin ikut!" Adel berteriak.


Dennis dan Akihiro tersentak. Lalu mereka juga menengok ke belakang. Akihiro sebenarnya lupa dengan Mizuki. Dia tidak mengajak perempuan yang satu itu.


"Mizuki ayo kemarilah!" teriak Akihiro.


Badan Mizuki sedikit memberontak karena tangannya sempat ditahan oleh Pak Satpam penjaga gerbang itu. Lalu pada akhirnya ia berhasil melepaskan diri dari genggaman si Pak Satpam dan langsung berlari menghampiri teman-temannya.


Ia tidak sendiri. Mizuki juga membawa Sachiko–adiknya. Mereka berdua berlari dengan membawa tas kecil yang entah apa itu isinya.


"Yoo... Mizuki! Kau ikut bersama kami, kah?" tanya Akihiro senang. Dennis, Adel dan Yuni juga ikut senang karena Mizuki juga akan ikut dengan mereka.


"Iya, hah... hah... aku dengan adikku akan pergi bersama kalian." Jawab Mizuki dengan nafas yang masih terengah-engah.


"Hah? Adik?!" semuanya terkejut.


"Hei kamu! Gadis berambut hitam panjang! Kembali ke mari sekarang juga!" Pak Satpam itu berteriak di depan gerbang sekolah.


Dennis dan teman-temannya termasuk Mizuki jadi terkejut. Lalu, tanpa banyak bicara lagi, mereka langsung berlari untuk menghindari Pak Satpam itu. Tapi... mereka berlari dengan wajah yang senang dan penuh semangat!


*


*


*


To be Continued-