Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 16–Hubungan Dennis dan Diana, part 3


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


Dennis menaikan poni rambut Diana yang menutupi matanya itu. Saat dilihat, ternyata Diana sudah memejamkan matanya semenjak Dennis memukulnya dengan keras tadi.


Dennis mengerutkan keningnya, lalu membalikan tubuh Diana. "Eh? Dia mati apa pingsan?" gumam Dennis. Dennis menggeleng cepat, lalu ia mengangkat tubuh Diana dan menggendongnya.


"Dasar monster! Bagaimana kamu bisa sekejam ini? Padahal selama kita menjalani hubungan persahabatan kita, kau tidak pernah melihatmu seperti ini. Tapi sekarang, semuanya sudah terlambat. Aku tidak bisa terus bersama dengan seorang sahabat yang kejam sepertimu. Bisa-bisa nanti kau juga akan mengancam nyawa orang tuaku dan keluargaku yang lainnya. Aku tidak akan membiarkan itu terjadi." Dennis berkata pada Diana yang sedang ia gendong itu.


Lalu secara perlahan, Dennis berjalan mendekati pintu ruangan itu, lalu ke pintu luar rumah Diana sambil menggendong si pemilik rumah itu.


Saat di teras rumah, Dennis menginjak sesuatu. Ia pun menundukan kepalanya ke bawah untuk melihat benda apa yang ia injak itu. Ternyata, Dennis telah menginjak bunga mawar yang ia beli untuk ia berikan pada Diana itu.


Karena merasa geram, Dennis pun menginjak-injak bunga itu berkali-kali sampai hancur dan semua kelopaknya pun layu. "Bunga sampah! Kekasih sampah! Cinta sampah! Semua itu sudah tidak berguna lagi!" bentak Dennis pada bunga yang ia injak itu.


Lalu setelah ia puas menginjak bunga yang ia beli itu, Dennis pun keluar dari rumah Diana. Ia berjalan cepat menuju mobilnya sambil menggendong Diana.


Setelah ia membuka pintu mobil, Dennis langsung meletakan tubuh Diana di atas kursi mobil penumpang yang di depan. Lalu setelah itu, ia pun berjalan ke pintu yang satunya lagi.


Setelah ia memasuki mobil miliknya sendiri, Dennis menyalakan mesin mobilnya dan langsung menjalankan mobil itu. Bergerak menjauh dari rumah Diana yang dibiarkan pintunya terbuka begitu saja.


Dennis membawa mobilnya masuk ke dalam hutan. Tidak semakin dalam juga. Karena Dennis tidak bisa membawa mobilnya masuk karena jalan di sana kecil dan tidak akan muat untuk dimasuki mobil.


Jadi, Dennis memutuskan untuk berhenti, lalu keluar dari mobil. Tapi sebelum itu, ia akan mengambil senter yang sebelumnya ia simpan di dalam tasnya yang ada di kursi belakang mobil.


Setelah Dennis membuka resleting tasnya, ia langsung memasukan tangannya ke dalam tas itu untuk mencari senter yang akan ia gunakan untuk melihat jalan di dalam hutan itu. Karena... hari semakin larut dan jalanan di hutan itu juga terlihat gelap dan menyeramkan.


"Nah, ini dia!" Dennis akhirnya menemukan senter itu. Ia pun mengambilnya dan kembali mengeluarkan tangannya dari dalam tas. Tapi sebelum Dennis kembali menutup resleting tasnya, ia sempat melihat sesuatu yang berkilau. Ada benda yang memantulkan cahaya bulan di dalam tasnya itu.


Saat dilihat, ternyata di dalam tas itu ada sebuah cermin kecil milik Diana yang sebelumnya Dennis pinjam. Lalu di samping cermin itu ada sebuah bingkai foto. Di dalam bingkai itu terdapat foto Dennis dengan Diana.


Karena merasa muak melihat wajah sahabatnya itu, Dennis pun langsung membanting bingkai foto itu di dinding pintu mobil. Untungnya tidak mengenai kaca mobil.


Bingkai itu terjatuh di atas kursi penumpang. Kaca bingkainya pecah akibat benturan keras itu.


Lalu setelah itu, Dennis kembali keluar dari mobil dengan senter di genggamannya. Lalu Dennis akan kembali ke tempatnya Diana. Tapi saat ia berbalik badan, tiba-tiba saja ada Diana di belakangnya itu.


Sosok Diana itu telah mengejutkan Dennis bukan main. Karena sosok Diana kali ini agak menyeramkan. Darah mengalir di kepalanya akibat luka dari benturan di tembok tadi. Dan... di genggaman tangan kanannya itu, Diana menggenggam sebuah pisau.


"Tunggu dulu! Pisau itu kan..." Dennis terkejut. Karena pisau yang ia bawa dari rumah Diana tadi, tiba-tiba saja ada di genggaman Diana.


Diana menelengkan kepalanya sambil tersenyum. "Nah... Dennis sayang, ayo kita pergi bersama. Kau ingin membunuhku, kan? Bagaimana kalau aku duluan yang membunuhmu? Baru setelah itu, aku. Karena kita akan pergi ke surga bersama, Dennis!" ujar Diana sambil menodongkan pisau yang ia genggam itu ke arah Dennis.


"Ikh!" Dennis mengerutkan keningnya, lalu membentak Diana. "Seharusnya kau saja yang pergi duluan! Tapi pergi ke neraka! Karena di sanalah tempat yang cocok untukmu, pembunuh!"


"Siapa yang kau panggil pembunuh Dennis? Kan aku hanya ingin membalas dendam saja pada mereka. Ayo Dennis... kita pergi bersama." Diana mendekatkan pisau itu ke arah Dennis.


Dengan cepat, Dennis pun mendorong Diana, lalu setelah itu ia langsung berlari masuk ke dalam hutan. Di belakangnya, Diana ternyata mengejar Dennis.


"Dennis! Jangan kau pergi meninggalkan aku!" teriak Diana sambil terus berlari mengejar Dennis. "Berhenti kau, Dennis!"


"Kau gila, Diana! Jika aku berhenti, kau pasti akan membunuhku, kan?!" Dennis membalas Diana.


"Iya, dong! Kan nanti setelah kamu, aku akan menyusul juga, kok! Haha~"


"Lebih baik kau yang membunuh dirimu terlebih dahulu saja, Diana!"


"Tidak mau~ Aku maunya bersamamu, Dennis!"


"Ah, dasar! Perempuan itu benar-benar sudah tidak waras!"


Dennis terus berlari sambil memberikan jalan berumput yang ia injak itu penerangan dengan menggunakan senter. Sehingga, Dennis masih bisa berlari melihat jalan yang ada di sekitarnya.


Dennis sudah berlari semakin dalam. Ia merasa lelah dan entah kenapa tiba-tiba saja ia merasa pusing. "Aduh... mungkin ini karena aku kehilangan banyak darah. Hah... hah... Eh! Aduh!"


Dennis merunduk dengan cepat karena tiba-tiba saja ia melihat ada batang pohon tumbang di depannya. Untung Dennis masih bisa menghindari batang pohon itu hanya dengan merunduk, lalu ia kembali berlari lagi.


Tapi tak lama kemudian....


JLEB!


"KYAAAAA! DENNIIIIS!!"


Dennis menghentikan langkahnya karena ia terkejut telah mendengar teriakan dari seseorang yang ia kenal. Dennis berbalik badan. Ia menyorotkan senternya ke depan. Cahaya itu mengarah ke batang pohon yang tumbang tadi.


Dennis terkejut karena ia melihat ada kaki manusia yang terlihat di celah bawah dari pohon tumbang itu. Saat diperhatikan, ternyata itu kaki Diana.


Dennis pun menghampiri Diana yang ada dibalik batang pohon itu. Ia ingin memeriksa keadaan Diana. Entah kenapa ia berteriak dan setengah tubuhnya itu memberontak di tempatnya saja.


Setelah Dennis kembali mendekati batang pohon itu, ia melihat ada darah yang menetes. Mengalir melewati tubuh Diana. Dennis melebarkan mata karena terkejut. Lalu ia melewati celah dibawah pohon tumbang itu lagi, lalu kembali berbalik badan.


"Ah, Di–Diana... kenapa..." Dennis gemetar ketakutan. Ia melihat keadaan Diana yang mengenaskan. Dahi dan matanya tertancap di dahan pohon runcing yang tumbuh di batang pohonnya.


"De... Dennis... tolong... lepaskan aku dari sini... Dennis..." Diana merintih. Ia tidak bisa mencabut kepalanya dari dahan pohon yang telah tertancap di kepalanya itu.


Dennis menggeleng cepat. Ia hanya memperhatikan Diana yang sedang mengerang kesakitan itu. Dennis tidak berani mendekatinya, apalagi menyentuh tubuh Diana lagi.


Tubuh Diana mulai melemas setelah banyak ia memberontak. Lalu pisau yang ia genggam itu, terlepas dari genggaman tangannya. Lalu tak lama kemudian, Diana pun sudah tidak bergerak lagi. Dennis pikir, Diana telah mati karena kehilangan banyak darah. Dan Diana menghembuskan nafas terakhirnya dengan matanya yang masih melotot terbuka. Sedangkan mata kirinya itu masih tertancap oleh dahan pohon.


****


"Jadi sebenarnya... selama ini bukanlah Dennis yang telah membunuh Diana? Tapi Diana sendiri yang meninggal secara tidak sengaja kepalanya tertancap dahan pohon?" tanya Rei.


"Iya begitulah. Tapi... setelah Diana diketahui tidak bernyawa lagi, Dennis pun menarik tubuhnya Diana. Lalu setelah itu, ia menarik tubuh Diana yang sudah meninggal itu. Kebetulan sekali, Diana melihat ada lubang besar yang ia temukan di dalam hutan itu."


"Lalu apa yang akan Dennis lakukan pada Diana?"


"Lubang besar itu biasanya kita sebut dengan jurang, ya? Ya begitu. Dennis menjatuhkan tubuh Diana masuk ke dalam jurang, lalu setelah itu ia pun kembali ke mobil." Jelas Ibunya Dennis. "Ia akhirnya menemukan mobilnya kembali. Secara perlahan, Dennis menjalankan mobilnya itu sampai kembali ke rumahnya yang di kota."


"Pasti ibu sangat terkejut saat melihat keadaan Dennis saat itu, ya?" tanya Yuni.


Ibunya Dennis mengangguk. "Iya pastinya kaget sekali. Dennis pulang dengan tubuh yang penuh luka. Saat Ibu mendengar suara mobil dan suara pintu depan rumah yang terbuka, Ibu pun langsung menghampiri pintu depan karena ibu pikir itu memang Dennis yang datang. Dan ternyata benar. Tapi... saat Ibu sampai di depan pintu, Ibu melihat Dennis sudah terjatuh begitu saja di depan pintu yang masih terbuka."


"Ibu jadi panik. Lalu Ibu pun menelpon ambulan untuk meminta bantuan. Beruntung, nyawa Dennis masih bisa diselamatkan walau ia telah mengalami koma selama seminggu karena kehilangan banyak darah. Untungnya darah Ibu cocok dengannya, jadi... Ibu memberikan sedikit darah ibu padanya."


"Haduh... syukurlah, ya?" Rei akhirnya bisa menghembuskan nafas lega setelah ketegangan dari cerita Ibunya Dennis itu.


"Iya. Seminggu kemudian, setelah Dennis siuman kembali, ia pun akhirnya bisa menceritakan semua kejadian itu pada Ibu. Dan sampai sekarang, Ibu masih belum bisa melupakan ceritanya dan pengalamannya yang mengerikan itu."


"Seharusnya Ibu melupakannya saja. Karena... semua kejadian itu, tidak ingin aku ingat kembali."


Seketika semuanya terkejut dan langsung menengok ke arah pintu yang sedikit terbuka itu. Pintu itu memasuki ruangan televisi. Dan saat ini, di depan pintu itu sudah berdiri sosok lelaki muda dengan rambut coklat yang terlihat acak-acakan itu.


"De–Dennis? Sejak kapan kau ada di sana?" tanya Ibunya Dennis.


Dennis mengerutkan keningnya. Sela matanya sedikit mengeluarkan air. Ia menjawab, "Baru saja. Tapi aku sudah mendengar cerita Ibu dari tadi. Kan sudah aku bilang, jangan beritahu siapapun, kan? Tapi... kenapa Ibu malah melanggar janji Ibu?"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8