
"Re–Rei! Bagaimana ini?! Ini... ini Ibunya Dennis loh. Lihat, nih! Ada tulisannya, My Ibu."
"Ah, aku juga bisa baca kali!" Rei merebut ponsel Dennis dari Akihiro. "Kita biarkan saja ponsel ini mati sendiri, lah!" ujarnya santai.
"Eh?! Jangan dong! Tidak boleh mengabaikan panggilan dari orang tua, tau!" Mizuki membentak. Lalu ia merebut ponsel Dennis dari tangan Rei.
Setelah itu, ia memberikan ponsel itu pada adiknya Dennis. "Ini, kamu saja yang angkat. Kan ini orang tuamu juga, Del!"
"Ta–tapi aku harus bilang apa? Nanti aku jawab apa kalau Ibu nanya tentang kakak?"
"Bilang saja kakakmu sedang tidak ada. Sudah angkat saja cepat."
Adel mengangguk paham. Lalu ia langsung mengangkat telepon dari Ibunya itu.
[Ah, Dennis! Kamu kok lama sekali angkat telepon dari ibu? ]
"Em... Ibu... itu... Ini Adel."
[ Oh, kok Adel yang jawab? Di mana kakakmu? ]
"Eh? Kakak... kakak sedang ada di tempat lain. Dia masih ada di kelasnya." Jawab Adel dengan gugup.
[ Oh. Tapi kok ponselnya ada di kamu, sih? Dia gak bawa ponsel memangnya? ]
"Tidak, Bu! Kak Dennis meninggalkan ponselnya di kamar. Tadi aku mendengar ponselnya berbunyi, jadi aku yang angkat saja. Soalnya kebetulan aku sedang berada di dekat kamar kakak." Adel menjelaskan.
[ Oh... eh, Adel. Ibu punya kabar baik, nih! Nanti sampaikan juga pada kakakmu, ya? ]
"Ah? Kabar apa, Bu?" Adel tersenyum. Ia terlihat penasaran.
[ Tadinya ini kejutan, tapi tidak jadi, deh! Soalnya Ibu mau ngabarin kamu dulu. Nih dengar baik-baik, ya? Ibu dan ayahmu sekarang ini sedang di jalan. Kami mau... pergi menemui dirimu, sayang! Tada! Kamu senang, kan? ]
Seketika Adel langsung terkejut. Sebenarnya itu memang kabar baik, tapi karena Dennis menghilang, kabar baik itu menjadi kabar buruk.
"Ibu mau datang? Oh tidak! Kakak saja menghilang. Aku tidak mau Ibu mengetahui kejadian ini." Batin Adel panik.
[ Adel, kamu pasti terlalu senang karena Ibu dan Ayahmu akan datang, makanya kamu tidak bisa berkata apa-apa lagi. Hehe... sampaikan berita ini pada kakakmu juga, ya? ]
"Tu–tunggu, Ibu! Sebenarnya aku–"
[ Sudah ya, Adel! Ibu tidak bisa bicara banyak. Sebentar lagi Ibu sampai di rumah nenekmu. ]
"Ibu! Ibu! Tunggu...."
TUT!
Teleponnya diakhiri oleh Ibunya. Adel terkejut. Lalu ia menjauhkan ponsel kakaknya itu dari telinganya. Wajahnya terlihat ketakutan. Lalu ia memperlihatkan wajahnya itu pada semua teman-temannya.
Mizuki terkejut. "Eh, Adel? Ada masalah apa?" tanyanya cepat.
"Kak Zuki! Ibuku akan menemuiku. Dia mau datang ke rumah nenek sekarang juga. Bagaimana ini?"
"Eh? Kenapa mendadak sekali?!"
"Aku tidak tahu! Ibuku yang bilang seperti itu. Dan katanya, dia sudah dekat lagi dengan rumah nenek." Adel terlihat semakin panik.
"Kalau begitu kita bagi tugas sekarang!" tegas Rei. Lalu tangannya menunjuk ke arah Akihiro, lalu ke Yuni. "Kalian berdua, ikut denganku untuk mencari Dennis."
Lalu matanya melirik ke Mizuki. "Dan sisahnya, tetap di sini. Usahakan jika ada waktu kalian membersihkan rumah Neneknya Adel sebelum orang tuanya Dennis datang. Apa kalian mengerti?"
Mizuki dan Adel mengangguk paham. "Baiklah kalau begitu, ayo gerak sekarang!"
Mereka menjalankan tugasnya masing-masing. Rei, Akihiro dan Yuni pergi memasuki akan hutan untuk mencari keberadaan makhluk yang telah menculik Dennis itu. Sedangkan Mizuki, Adel dan Sachiko pergi kembali memasuki rumah Neneknya Dennis.
"Maaf telah merepotkan kalian!" teriak Rei pada Mizuki dan Adel sambil ia berlari.
"Tidak apa-apa, Rei! Kalian berhati-hatilah!" Mizuki melambai tinggi. Lalu setelah sosok Rei dengan yang lainnya menghilang di dalam semak, Mizuki pun melirik ke arah Adel yang ada di depannya.
"Nah, Adel! Sekarang ayo kita pindahkan barang rusaknya dulu." Kata Mizuki.
Adel mengangguk. Lalu mereka bertiga bergegas memasuki rumah Neneknya Dennis. Tapi baru saja Adel mengangkat satu kursi, tiba-tiba saja dirinya dikejutkan oleh suara klakson mobil yang datang.
"Oh tidak! Ibu dan Ayah sudah datang!" Adel berteriak pada Mizuki. "Bagaimana ini, kak?!"
Mereka harus bagaimana? Keadaan rumah masih berantakan dan ternyata mobil kedua orang tuanya Dennis dan Adel sudah datang.
****
"Sekarang Rei, kita harus mencari makhluk itu ke mana lagi?" tanya Akihiro. Ia menghentikan langkahnya lalu bersandar di pohon besar sambil mengatur nafasnya. Ia sangat kelelahan karena sudah berlari cukup jauh.
"Kak Dian jangan mengeluh dulu. Aku bisa merasakan aura hantu itu masih ada di sekitar sini." Ujar Yuni.
"Ah, Yuni jangan bercanda kamu! Mungkin itu aura hantu yang lain kali. Kan kalian tahu kalau hutan itu penuh sama makhluk halus juga." Kata Akihiro sambil mengeluh. Ia memeluk pohon besar yang menjadi tempat sandarannya tadi.
"Tidak, kok! Aku sudah tau hantu itu terbang ke mana."
"Ahh... masa hantu terbang membawa manusia, sih! Sudahlah... kita istirahat saja dulu."
"Bukan terbang sih sebenarnya. Tapi cara hantu itu membawa Dennis, lebih berbahaya dari terbang!"
"Ah yang benar? Haduh... kok aku jadi malas gini, sih? Aku sudah capek duluan tau. Kalian saja jalan dulu. Aku akan menyusul nanti."
"Tidak Akihiro... ayolah! Kamu jangan pantang menyerah gini, dong! Ayo. Ayo!" Rei menarik-narik baju Akihiro. Ia tidak mau pergi tanpa teman manjanya yang satu itu.
Akihiro terus memeluk erat pohon itu. Tak peduli Rei mau menariknya sekuat apapun. Intinya dia tidak mau pergi meninggalkan pohon itu.
"Rei... berhentilah menarikku. Aku ingin merebahkan kakiku sebentar saja. Kakiku sakit dan kepalaku pusing tau. Ah... rasanya mau pingsan. Kumohon, Rei..." Akihiro mengeluh lagi. Kali ini ia menambahkan keluhannya secara berlebihan.
"Diaaan! Cepatlah... kita tidak ada waktu. Ayo! Ayo...."
"Berhenti menarikku, Rei... ah...."
"Eh, kak Rei." Yuni menepuk-nepuk tubuh belakang Rei. "Kak Rei, lihat di sana ada–"
"Yuni diamlah dulu sebentar! Aku akan mengajak manusia ini dulu!"
"Tapi Rei! Ini penting. Lihatlah di sana ada–"
"Akihiro cepatlah ayo! Ah! Kau ini tidak seperti biasanya!" Rei membentak, lalu ia menjambak rambut Akihiro dan menariknya.
"Reei... jangan kasar sama aku, dong!"
"Aku tidak akan kasar jika kau tidak mau menurut denganku! Ayo cepatlah."
"Kak Rei!" Yuni membentak kesal karena ucapannya sedari tadi selalu diabaikan oleh Rei. Tidak hanya itu, Yuni juga menendang betis kakinya Rei lalu membentaknya lagi. "Kak Rei! Lihat itu!"
Tendangannya lumayan menyakitkan. Lalu dengan cepat, Rei berbalik badan sambil mengangkat satu kakinya. "Ah, ada apa sih Yuni?"
"Itu ada Dia di sana." Yuni menunjuk.
Rei melirik. Akihiro menengok ke belakang. Mereka berdua melihat ada sosok anak kecil yang terlihat samar-samar berdiri tak jauh dari mereka. Anak kecil tanpa kaki kanan. Tak salah lagi, dia teman hantunya Adel.
"Hei, kamu siapa?" tanya Rei pada anak kecil itu.
"Kak, dia temannya Adel. Namanya Chika. Bukan Chika di sekolah kita." Yuni berbisik.
Rei mengangguk. Lalu matanya kembali melirik ke arah hantu yang dari tadi selalu diam tanpa ekspresi itu. "Ada sesuatu yang ingin kamu beritahu kami?" tanya Rei lagi pada anak kecil itu.
Hantu Chika tidak menjawab. Lalu tak lama kemudian, akhirnya ia merespon dengan menganggukkan kepalanya. Lalu mulutnya pun terbuka untuk mengatakan sesuatu.
"Kakaknya Adel. Aku tahu dia ada di mana." Ujar Hantu itu pelan.
Seketika Rei tersentak. Akihiro terkejut karena ia mendengar suara seseorang yang tidak bisa ia lihat. Karena merasa takut, Akihiro pun mendekati Rei dan menjauh dari pohon yang ia peluk tadi.
"Eh? Benarkah? Di mana dia sekarang?"
"Dia kembali ke sekolah kalian."
*
*
*
To be Continued-