
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Pukul 2 siang–
Sekarang ini, semuanya sedang berkumpul di kantin untuk makan siang mereka. Sehabis menyelesaikan Ujian yang sulit, pastinya mereka tidak akan lupa dengan keadaan perut mereka, dong!
Apalagi Akihiro.
"Cepatlah, Rei! Semuanya! Nanti menu makanan hari ini keburu habis dimakan sama anak-anak lain yang gak kalah rakusnya denganku!" gerutu Akihiro. Ia ingin sekali cepat sampai di kantin. Tapi karena semua teman-temannya masih merasa lemas karena Ujian kematian itu, jadi mereka memutuskan untuk berjalan santai saja.
"Semuanya lama sekali, sih! Ah! Aku duluan saja, lah!" batin Akihiro geram. Lalu ia melewati langkah teman-temannya dan dengan cepat langsung berlari cepat ke arah kantin. Akihiro sudah sampai di tengah lapangan, sementara yang lainnya baru saja keluar dari gedung 2.
"Haduh, si Dian itu! Dia tidak bisa menahannya apa? Padahal di Ujian tadi, dia hampir saja sekarat." Gerutu Rei kesal. Akihiro telah dianggap tidak sopan kerena telah mendahului dirinya. Ia lebih memilih duluan ketimbang pergi ke kantin bersama dengan temannya.
"Mungkin si Kak Dian sedang mengincar Sup Kari Ayam yang sedang terkenal di menu kantin. Dia tahu makanan itu paling banyak diburu, makanya dia tidak ingin ketinggalan." Dennis membalas perkataan Rei tadi dengan tertawaan kecilnya.
"Dennis, sebaiknya kau jangan bicarakan soal makanan itu di dekat Rei." Ujar Yuni yang ada di belakang Dennis.
"Eh? Memangnya kena..." Dennis menengok ke samping kirinya. Ia terkejut. Karena sebelumnya, di sampingnya itu ada si Rei di sana. Tapi... tiba-tiba saja lelaki itu menghilang entah ke mana. Saat Dennis menemukannya, ternyata Rei sudah berada di tengah lapangan. Ia berlari cepat menuju ke kantin sendirian.
"Sepertinya dia tidak ingin ketinggalan juga." Kata Yuni lagi. Kali ini, si gadis kecil dingin itulah yang menggantikan tempat Rei. Ia berdiri di samping Dennis dan membuat Dennis terkejut dengan kehadirannya.
Dennis tertawa kecil. Lalu di dalam hatinya, ia bergumam, "Hah, aku lupa kalau Kak Rei juga menyukai makanan berkuah itu."
****
Saat Dennis dan teman-temannya sampai di kantin, mereka langsung mengikuti barisan para murid lainnya. Karena untuk mendapatkan makanan, mereka pastinya harus mengantri dulu.
Dari tempatnya berdiri, Dennis melihat ada Akihiro dan Rei yang sedang duduk di meja yang sama. Di atas meja itu ada semangkuk Sup Kari Ayam kesukaan mereka. Dan saat ini, Akihiro dengan Rei itu sedang... menatapi mangkuk yang ada di depan mereka. Fokus menatapi mangkuk itu!
Dennis memasang wajah melasnya dan bergumam, "Lah? Ada apa dengan mereka berdua?"
Barisan di depan Dennis sudah mulai bergerak kembali. Dennis pun melangkah maju. Sampai akhirnya, ia sampai di tempat pengambilan makanan. Di sana, ia bisa melihat si Ibu Kantin yang sedang menyiapkan makanan.
"Nak, menu hari ini hanya sedikit. Jadi... kau mau pesan apa?" tanya si Ibu Kantin. Nada bicaranya agak ragu dan kaku.
"Aku tidak makan banyak, kok! Hmm... aku mau yang Sup Kari Ayam itu saja!"
"Adel! Adel juga! Adel juga mau makanan itu!" Adel yang ada di belakang Dennis terus melompat-lompat sambil mengacungkan tangannya agar permintaannya itu dapat dituruti.
Ibu Kantin tertawa kecil dan menjawab, "Oh, untuk hari ini, Sup itu sudah habis. Terakhir diambil oleh dua anak di sana itu." Ia menunjuk ke arah Rei dan Akihiro yang masih terus menatapi mangkuk mereka di depan meja.
Semua yang menginginkan makanan itu pun kecewa karena makanan yang mereka inginkan itu sudah tidak bisa mereka dapatkan hari ini.
"Oke. Kalau begitu, aku mau... makanan yang lain saja." Dennis meminta. "Yang biasa aja."
"Oh, kamu pasti Dennis, kan?"
Dennis mengangguk saat Ibu Kantin bertanya tentang dirinya. "Kok Ibu bisa tahu aku?" Dennis bertanya balik.
"I–iya tentu saja. Kan Ibu sudah sering bertemu dengan kalian."
"Oh iya. Aku kan sering mengambil makanan di sini. Jadi, tidak mungkin Ibu Kantin itu tidak mengenal diriku." Dennis bergumam di dalam hatinya.
"Ini." Ibu kantin sudah menyiapkan makanan dan langsung memberikannya pada Dennis. Ia memberikan sepotong ikan goreng dengan nasi. Dennis menerimanya dengan ragu dan sekali lagi, ia bergumam di dalam hati, "Bahkan Ibu Kantin ini juga ingat dengan makanan yang sering aku pesan."
****
Setelah semuanya selesai memesan makanan, mereka semua pergi ke tempat duduknya. Dennis dan teman-temannya pergi menghampiri Rei dan Akihiro. Kedua lelaki itu masih saja menatapi mangkuk yang ada di depan mereka dengan fokus.
"Hai, Kak Rei!" Dennis menyapa setelah ia duduk di bangkunya. Lalu dilanjut dengan menyapa Akihiro juga. Tapi ternyata, kedua orang yang Dennis sapa itu tidak menyahut dan malah diam saja.
"Kak Rei? Kak Dian? Kalian kenapa?" tanya Adel.
"Dian... awas saja kalau kau mengambil Sup Kari milikku." Gumam Rei.
"Aku tidak akan membiarkan kau mengambil mangkuk itu." Akihiro juga bergumam.
Mereka selalu diam saja dengan pandangan mata yang selalu menatap mangkuk kecil di depan mereka itu. Tidak bergerak sama sekali. Sekalinya Akihiro menggerakkan tangannya, maka Rei juga ikut-ikutan menggerakkan tangan. Entah apa yang mereka lakukan itu.
Semua temannya jadi bingung melihat tingkah Rei dan Akihiro. Tanpa suara mereka berdua, suasana jadi terasa sepi. Yang terdengar hanya suara berisik dari anak lain yang ada di kantin itu.
Dennis pikir, kedua temannya itu masih merasa takut dan masih terbayang dengan kejadian di dunia aneh itu. Kalau begitu, Dennis memutuskan untuk menghibur teman-temannya. Tapi sebelum itu, Dennis sempat teringat sesuatu. Dia kan ingin memberitahu Rei tentang keadaan dan tampang si Ibu kantin yang terlihat mencurigakan.
"Emm... anu Kak Rei?" Dennis mengeluarkan suaranya. Ia memanggil Rei. Tapi Rei sendiri tidak menyahut. Nengok saja tidak. "Kak Rei tahu sesuatu? Aku... melihat Ibu kantin bersikap agak aneh hari ini."
Seketika Rei menyentakan matanya dan langsung menengok ke arah Dennis. Akhirnya ia bergerak dan mengakibatkan suaranya. "Eh? Ibu kantin kenapa?" tanya Rei penasaran. "Aneh kenapa?" lanjutnya.
Rei mengerutkan keningnya. "Ha? Kenapa dia seperti itu? Apa kau bertanya sesuatu tentang keadaannya.?" tanya Rei lagi.
"Tidak," Dennis menggeleng sambil tersenyum dan memejamkan matanya. Lalu ia kembali membuka mata dan melanjutkan, "Aku tidak sempat ingin bertanya karena masih banyak anak lainnya yang berada di belakangku. Nanti jika aku lama berdiri di sana, malah jadi kena ribut sama anak di belakang yang ingin mengambil makanan juga."
Rei mengangguk paham. Ia berpikir sejenak. "Kenapa Ibu kantin seperti itu?"
"Kak Rei tidak tahu? Kan tadi bukannya Kak Rei juga bertemu dengan Ibu kantin itu untuk mengambil makanan?" tanya Rei.
"Ah, tidak. Aku tidak memperhatikan raut wajahnya."
"Ooh...."
"Tapi ngomong-ngomong, apa kau sudah melihat guru lain hari ini?" tanya Mizuki tiba-tiba. Sontak semua langsung menengok ke arah Mizuki.
Dennis tersentak dan menjawab, "Oh iya! Benar juga. Guru-guru yang lain pada ke mana, ya? Kan seharusnya, di saat kita sedang dalam bahaya di dunia aneh itu, para guru pasti akan pergi meminta bantuan."
"Iya." Adel mengangguk. "Dari tadi, Adel juga tidak melihat Ibu guru yang suka ngajar di kelas Adel!"
"Kok aneh, ya?" Rei kembali berpikir. "Kenapa semua guru di sekolah ini tidak ada. Apa jangan-jangan mereka semua juga terbawa masuk ke dalam dunia itu?"
"Ah, jangan sampai, Kak Rei! Mengerikan!" Dennis menggeleng.
"Lalu... di mana lagi semua para guru itu? Masa mereka menghilang begitu saja. Jika mereka pergi untuk meminta bala bantuan, seharusnya tidak semua guru akan pergi dari sekolah ini, kan?" pikir Rei lagi dan lagi.
"Eh, iya juga. Haduh... tanpa bantuan dari guru-guru... bagaimana kita mau aman di sekolah ini?" Dennis mengeluh. Sesekali ia mencomot ikan goreng yang ada di piringnya.
Rei terdiam. Lalu ia kembali melirik ke arah Akihiro. Ia ingin melanjutkan menatap mangkuk makanannya itu agar si Akihiro tidak mengambil makanannya. Tapi, setelah Rei menoleh ke arah Akihiro ia pun terkejut. Karena... mangkuk yang tadinya penuh dengan makanan berkuah kesukaan Rei itu, tiba-tiba saja menghilang. Yang tersisah hanya mengkliknya saja.
"E–eh?! Ke mana makananku?!" tanya Rei sambil mengangkat dan menggoyangkan mangkuk kecil itu.
Akihiro tertawa kecil. Ia membuang muka dari Rei dan menjawab, "Mungkin mangkuknya bocor. Makanya makanannya hilang." Setelah ia mengatakan itu, tiba-tiba saja Akihiro bersendawa. Suaranya agak keras sedikit.
Rei mengerutkan keningnya dan menatap tajam ke arah Akihiro. Ia tahu kalau makanannya itu telah dihabiskan oleh si Akihiro itu. Rei merasa kelaparan. Tapi makanan yang telah ia dapat telah dihabiskan oleh Akihiro tanpa seizin dari dirinya. Rei jadi semakin geram. Lalu ia berteriak dan membentak Akihiro.
"DIAAAAN! KEMBALIKAN MAKANAN AKU!"
"Tidak bisa! Sudah masuk ke dalam perutku, dong~"
"Kubelah perutmu sini!"
"UWAAA! Rei jadi psikopat! Tolooong!"
****
Malam harinya–
"Kak Rei, besok Ujian kita selanjutnya apa, sih?" tanya Dennis setelah ia menaiki tempat tidurnya.
Rei yang sedang memainkan ponselnya itu menjawab, "IPA."
"IPA, ya? Pelajaran yang menyenangkan. Tapi... apakah ujian besok, kita akan terbawa masuk ke dalam dunia aneh itu lagi dan mendapat tantangan yang mengerikan?" gumam Dennis.
"Orang jahat itu tidak mungkin bisa mengatur kita. Memangnya dia siapa? Besok... aku tidak ingin pergi ke dalam kelas! Pokoknya tidak!"
"Rei? Lalu kalau kita tidak ikut ujian, kita mau ngapain?" tanya Dennis.
"Aku... akan mencari orang jahat itu dan menghajarnya. Sebelumnya aku kalah, tapi kali ini aku akan bisa menghabisinya dan membawanya ke pengadilan. Karena... dia adalah penjahat yang melaksanakan aksinya lewat internet. Sepertinya dia itu orang pintar. Tapi... aku tidak tahu maksud dan tujuannya itu apa? Sampai-sampai dia ingin berbuat hal keji di setiap sekolah?" Rei menggerutu.
"Hmm... mungkin dia ingin membalas dendam."
"Tapi karena apa?" tanya Rei. Dennis tidak bisa menjawabnya. Rei pun melanjutkan perkataannya, "Mungkin aku bisa mencaritahu jawabannya besok! Akan aku temukan orang itu. Dia pasti masih ada di dalam lingkungan sekolah."
"Dan kau Dennis! Kumpulkan anak lainnya dan kita bersama-sama akan mencari guru-guru yang menghilang." Lanjut Rei lagi.
Dennis mengangguk. Setelah itu, mereka kembali melaksanakan aktivitas malam mereka. Yaitu, Dennis dengan buku bacaannya, sementara Rei tetap memainkan ponselnya.
****
Di saat yang sama juga, ternyata Bob bisa mendengar pembicaraan Rei dengan Dennis tadi. Walau kamera CCTV tidak ada di dalam kamar, tapi tepat di lorong dekat kamar Dennis itu ada kamera pengintainya. Suara kecil sekalipun, masih bisa terdengar.
"Hmm... tidak mau masuk ke kelas, ya? Boleh saja. Tapi... apa kau bisa menemukan diriku? Khu~ khu~ Jangan remehkan aku Reizal Alfathir! Aku akan segera membunuhmu!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8