Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 44–Melawan si Rubah Kecil, part 2


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Untuk tugas pertama dalam mengalahkan rubah itu, aku memerlukan bantuanmu, Dian! Kau harus mengalihkan perhatian si rubah itu. Membuat dia kesal dan marah sampai akhirnya dia mau mengejar dirimu. Kau berdiri di belakang tembok...."


"Rencanamu hebat juga, Nashira!" Akihiro bergumam sambil tersenyum. Sekarang ia sedang menunggu di tempat yang dikatakan Nashira. Sesuai dengan rencana!


Si rubah itu berlari cepat ke arah Akihiro. Dan lagi-lagi, dengan mulutnya itulah si rubah akan menyerang. Akihiro masih terdiam. Terus semakin dekat... dan semakin mendekat....


Saat jarak antara Akihiro dengan rubah itu semakin dekat, Akihiro pun mulai menggerakkan kakinya. Ia menghindar dan langsung menjauhi si rubah. Si rubah itu menabrak tembok sampai retak, lalu tak lama kemudian ada beberapa bebatuan yang jatuh menimpa kepala si rubah.


Tapi hanya karena batu-batu itu, tidak mungkin bisa menjatuhkan rubah dengan mudah. Si rubah itu hanya menggelengkan kepalanya karena merasa pusing. Makanya, kesempatan itulah yang akan Rei dan Rashino gunakan untuk menyerang. Begitu juga dengan Adel, Yuni, dan Mizuki.


Untuk Adel, Yuni dan Mizuki, mereka yang terlebih dahulu menyerang dengan cara melemparkan beberapa batu-batu kecil dengan keras ke kepala si rubah itu.


Dan sekarang giliran Rei dan Rashino. Mereka berdua membawa satu batu berukuran sedang. Berlari, dan berusaha untuk tidak membuat suara langkah kaki. Mereka berdua mengendap-endap mendekati si rubah. Saat sampai di belakang si rubah itu, Rei dan Rashino langsung mengangkat batu besar yang mereka bawa, dan langsung menjatuhkannya dengan kuat ke atas kaki si rubah.


BRUK!


"... setelah Akihiro pergi, ini tugas Rei dan Rashino. Kalian berdua membawa batu besar itu dan menghempaskan langsung ke kaki si rubah. Karena... untuk pertama kali, kita harus memperlambat gerakan si rubah itu dengan cara melukai kakinya. Dan sementara untuk yang lainnya, tetap membuat si rubah itu kesakitan dengan cara melemparinya dengan batu dan debu. Kalau bisa, sasarkan lemparan kalian ke arah matanya! Karena dengan cara seperti itu, kita bisa menghalangi pandangannya dan dengan membuat kakinya terluka, dia tidak akan bisa bergerak lincah lagi!"


"GGGRRAAAA!!"


Rubah itu mengerang kesakitan setelah kedua kaki belakangnya terluka karena tertindih oleh batu besar yang dibawa Rei dan Rashino. Setelah selesai dengan tugas mereka, Rei dan Rashino pun langsung pergi menjauh dari rubah itu.


"Setelah Rei dan Rashino berhasil melukai kaki si rubah, secepat mungkin kalian harus menjauh dari rubah itu karena... ketiga ekornya yang besar itu memiliki kekuatan yang dapat memotong tubuh kalian dengan cepat karena hempasannya."


WUUSH....


"Huh! Tadi hampir saja kena." Rashino menghembuskan nafas lega sambil berlari karena tugasnya sudah selesai.


Rei mengangguk. "Iya. Sekarang kita juga harus membantu Dennis dan Nashira untuk memberikan kepala-kepala itu pada Akihiro."


"Oke!"


Rei dan Rashino berlari kembali ke tempat mereka semula. "Kalian berdua berhasil! Sekarang bantu kami juga." Pinta Mizuki pada Rei dan Rashino.


Rei dan Rashino mengangguk. Mereka juga akan membantu Mizuki dengan yang lainnya untuk terus melempari batu ke arah si rubah. Tapi... hanya Rei saja yang ikut. Sementara Rashino akan membantu Dennis dan Nashira untuk memberikan kepala manusia pada Akihiro.


Dari kejauhan, Akihiro melambai tangannya tinggi-tinggi sebagai isyarat kalau ia sudah siap untuk melaksanakan tugas selanjutnya. Nashira memberikan satu kepala manusia yang sudah mulai membusuk pada Rashino. Rashino menerimanya, dan langsung melempar kepala itu sekuat yang ia bisa. Akihiro menangkapnya. Dan sekarang yang harus ia lakukan adalah kembali menunggu lagi.


Tapi saat memegang kepala itu, Akihiro agak menjauhkan tangannya karena dia tidak kuat melihat keadaan kepala manusia itu. Apalagi dengan bau busuk dari mayat itu.


"Tanganku akan kotor. Ikh! Tapi... ini semua demi kulakukan untuk menyelamatkan semuanya." Gumam Akihiro. Lalu ia melirik ke sekitarnya. "Eh, semua apanya? Sepertinya... semua orang yang ada di dalam ruangan ini telah meninggal. Tidak ada yang bisa ku selamatkan."


"Kalian masih belum bisa mengenai matanya?" tanya Rei pada Mizuki yang ada di sampingnya.


"Tidak, Rei! Matanya sulit untuk dibibik."


"Hmm..." Rei kembali melirik ke arah si rubah. Ia sudah menyiapkan satu batu kecil di genggaman tangannya. Ia akan mencoba untuk membibik mata si rubah itu. Mensipitkan mata, dan mulai mengangkat tangan. Rei berharap, ia bisa mengenai mata si rubah itu, walaupun si rubah selalu banyak bergerak dan memberontak.


"Tunggu waktu yang tepat, dan..." Rei mulai mengangkat tangan yang menggenggam batu itu. Lalu saat sasarannya sudah pas, Rei langsung melempar batu kecil tepat mengenai....


"GRAAAAW!"


Tepat sasaran! Rubah itu menggeram lagi. Ia memegang mata kanannya yang mengeluarkan darah karena matanya itu kemasukan batu dari lemparan Rei.


"Rei! Kau berhasil!" Mizuki terlihat senang. Rei hanya membalas dengan menganggukkan kepalanya. Lalu setelah itu, ia meminta semuanya untuk berhenti melempari batu pada si rubah.


"HEI, RUBAH JELEK! AYO SINI LAWAN AKU SAJA!!"


"Kau lagi! Aku... akan membunuhmu!" Si rubah berbalik badan, lalu dengan cepat ia menggerakkan kakinya untuk berlari mengejar Akihiro. Tapi karena kedua kaki belakangnya terluka, si rubah itu jadi bergerak agak lambat dan langkahnya terlihat pincang.


"Aku akan mengoyak dagingmu!" Si rubah kembali membuka mulutnya lebar-lebar saat dirinya sudah berada dekat dengan Akihiro. Akihiro sudah bersiap di tempatnya. Ia menyembunyikan sesuatu dibalik tubuhnya. Lalu saat rahang si rubah itu semakin dekat, Akihiro langsung mengeluarkan sesuatu yang ia sembunyikan itu.


Ternyata kepala manusia yang sudah membusuk! Akihiro melemparkan kepala itu masuk ke dalam mulut si rubah. Rubah itu menutup mulutnya karena ia merasa ada sesuatu yang telah masuk melewati tenggorokannya. Lalu setelah itu, Akihiro bergerak kembali untuk menghindar dari si rubah.


Ia kembali mengingat bisikan dari rencananya Nashira. "Apa kau tahu? Kenapa di sini banyak sekali daging yang tersisah dan kenapa tidak dimakan oleh rubah itu? Karena... si rubah hanya menginginkan daging yang segar dari tubuh manusia yang masih bernyawa. Maka dari itu, rencana kita yang terakhir... kita harus memberikan kepala busuk ini kepada si rubah. Jika dia memakan kepala manusia ini, maka si rubah akan merasakan sakit perut dan kekuatannya akan melemah."


"Ya! Aku berhasil." Akihiro bergumam di dalam hatinya. Ia senang bisa menjalankan tugasnya dengan baik dan ia juga sukses tah memasukan kepala itu ke dalam mulut si rubah. "Dia pasti memakan kepala itu. Dan saat dia merasakan sakit perut, baru aku bisa langsung mengalahkannya. Aku akan membunuhnya dengan–"


BUAK!


"Kau pikir, aku sudah kalah begitu?"


"DIAAAN!"


Semuanya berteriak memanggil nama Akihiro. Mereka terkejut saat tiba-tiba saja satu ekor si rubah itu telah menghantam memukul tubuh Akihiro sampai terlempar jauh. Tubuh Akihiro menghantam ke tembok dengan keras. Ia merasakan sakit yang luar biasa si punggung sampai pinggangnya.


Tubuh Akihiro langsung terjatuh lemas kembali ke tanah. Tapi Akihiro sendiri masih bisa menahannya. Ia berusaha untuk bangkit. Tapi karena rasa sakitnya itu, Akihiro tidak bisa menahannya. Ia tidak bisa bangun lagi.


Saat si rubah ingin menghampiri Akihiro, di saat itulah Rei dan Rashino berlari menghampiri Akihiro untuk membantu temannya yang sedang dalam bahaya itu. Dan tak lupa juga, di tangan mereka berdua, masing-masing membawa satu kepala manusia.


Rubah itu kembali membuka mulutnya untuk menggigit tubuh Akihiro. Tapi sebelum itu, ia mencengkram tubuh Akihiro terlebih dahulu dan langsung mematahkan tangan kanan Akihiro. Seketika Akihiro berteriak kesakitan saat rubah itu benar-benar telah mematahkan tulang dalam lengan Akihiro.


"Makanan baru. Hi hi hi..." Si rubah semakin menganga lebar, lalu mendekatkan mulutnya itu langsung ke kepala Akihiro. Untuk awalan, si rubah ingin memisahkan kepala Akihiro dari tubuhnya terlebih dahulu.


Tapi sebelum gigi-gigi tajam rubah itu menyentuh kepala Akihiro, Rei pun datang dan langsung menahan mulut rubah itu dengan tangannya. Dengan kedua tangannya, Rei menahan rahang atas dan bawah mulut rubah itu. Ia mencoba ingin menutupnya, tapi sayang si rubah lebih kuat dibanding dengan Rei.


Untuk melemaskan pergerakan si rubah, Rei pun memukul hidung rubah itu dengan keras, lalu kembali memegang rahang rubah dan mendorongnya. Lalu setelah itu, Rei berteriak pada Rashino untuk langsung menjalankan tugasnya.


Rashino mengangguk paham. Di kedua tangannya, Rashino telah membawa dua kepala manusia yang sudah busuk. Lalu ia berlari menghampiri Rei. Rashino akan memasukan kedua kepala manusia itu ke dalam mulut si rubah.


"Cepatlah!" Rei kembali berteriak lagi. Ia sudah tidak bisa menahan kedua rahang si rubah itu. Bukan karena kekuatan si rubah yang semakin bertambah, tapi karena rasa sakit dari luka di lengan Rei yang juga belum sembuh.


"Makan ini!" Dengan cepat, langsung saja Rashino melempar masuk kedua kepala manusia itu ke dalam mulut si rubah. Kedua kepala itu langsung masuk melewati tenggorokan si rubah, tanpa dihancurkan terlebih dahulu.


Rubah itu terkejut karena ada sesuatu yang menyangkut di tenggorokannya. Ternyata, di dalam tenggorokan si rubah itu terdapat 3 buah kepala manusia yang sudah membusuk dan karena kepala-kepala itu telah tersangkut di tenggorokan si rubah, maka rubah itu tidak akan bisa bernafas dengan lancar.


Ia juga tidak bisa menelan ketiga kepala itu sekaligus karena belum sempat dihancurkan oleh giginya. Si rubah menutup mulutnya dengan cepat, lalu mundur ke belakang sambil mencekik lehernya sendiri dengan tujuan untuk mengeluarkan semua makanan yang tersangkut di tenggorokannya itu.


Sambil berteriak, menggeram dan menggeliatkan seluruh ekornya, rubah itu terlihat sudah tidak berdaya lagi hanya dengan makanan yang telah menahan saluran pernafasannya. Ditambah dengan cara si rubah yang mencoba untuk mengeluarkan kepala-kepala itu dari dalam tubuhnya.


Si rubah terus mencekik lehernya sendiri dengan kuat sambil terus mengeluarkan suara teriakan. Dia benar-benar tidak bisa bernafas. Menghirup udara saja sulit sekali. Sampai akhirnya, pergerakan dari rubah itu mulai melemah. Mata si rubah seketika menjadi putih dan kehilangan pupil matanya, ditambah dengan urat-urat di matanya itu dapat terlihat. Dan tak lama kemudian, akhirnya... si rubah itu berhenti bergerak dengan posisi yang masih memegang lehernya.


Setelah rubah itu sudah tidak bergerak lagi, tiba-tiba saja darah mengalir dari dalam mulutnya. Dan saat di situlah, si rubah pun akhirnya mati karena kehabisan nafas. Semuanya menghembuskan nafas lega karena sudah berhasil mengalahkan rubah itu.


Tapi... bagaimana dengan Akihiro?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8