
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Mizuki-chan! Daijoubu desuka?!"
"Onii-chan!!"
Natsuki yang datang! Entah bagaimana dia bisa tahu kalau adiknya sedang dalam bahaya. Saat ditanya Mizuki, Natsuki tidak bisa menceritakannya sekarang. Saat ini ia harus mengurus kaki adiknya yang terluka.
Tapi saat melihat Orang berbaju hitam kembali bangun, dengan cepat Natsuki langsung menendang tubuh orang itu beberapa kali dan wajahnya dipukul habis-habisan oleh tinju Natsuki. Kakaknya Mizuki itu memang hebat dalam berkelahi. Ia benar-benar bisa melumpuhkan musuhnya dengan tangan kosong.
Setelah tidak melihat pergerakan dari orang yang dipukulnya itu, Natsuki pun akhirnya berhenti. Ia menyipratkan darah yang tertempel di tangannya, lalu menendang orang berbaju hitam itu sekali lagi untuk memastikan kalau orang itu sudah tidak bergerak lagi.
Ternyata sudah aman. Natsuki telah membuat wajahnya babak belur. Makanya tangannya jadi ada bercak merah setelah memukuli wajah orang berbaju hitam.
Setelah Natsuki menyelesaikan orang jahat itu, ia berjalan mendekati Mizuki. Berjongkok di depan adiknya, lalu memeriksa kaki Mizuki. "Sudah terluka, tercampur kotoran pula. Jika tidak segera ditutup dan diobati bisa jadi Infeksi." Ujar Natsuki.
"Sakit... Onii-chan...." Mizuki merintih lagi saat lukanya tersentuh oleh tangan Natsuki. Ia tidak akan menyentuh bagian kaki adiknya lagi. Tapi ia akan membawa Mizuki pergi dari tempat itu dan kembali ke Villa.
Tapi... mereka masih ada satu masalah.
Sementara Natsuki membantu adiknya berjalan, siapa yang akan membantu Akihiro? Sampai saat ini, dia masih belum sadarkan diri.
"Akihiro kenapa dia?" tanya Natsuki. "Dia baik-baik saja, kan?"
Mizuki mengangguk. Lalu ia meletakan kepala Akihiro di atas pahanya. "Akihiro pingsan setelah dia terkena tembakan dari orang itu."
"Cih! Sebenarnya siapa dia?!" Natsuki menggerutu. Ia berdiri kembali, lalu berjalan menghampiri orang berbaju hitam untuk memeriksa identitasnya. Natsuki membuka kain penutup wajah yang orang itu pakai. Dapat terlihat kalau orang itu adalah....
"Eh? Dia kan yang aku lihat di Villa!" ujar Natsuki pada Mizuki. Mizuki terkejut mendengarnya. Tapi ia masih belum bisa melihat wajah orang itu karena jauh dari hadapannya.
"Siapa, Onii-chan?" tanya Mizuki yang penasaran dengan rupa wajah orang yang dimaksud Natsuki.
"Dia... dia bukannya anak dari salah satu keluarga pemilik Villa itu, ya?" Natsuki menjambak rambut orang berbaju hitam itu, lalu memperlihatkan wajahnya yang penuh luka pada Mizuki.
Mizuki hampir tidak mengenal wajahnya karena babak belur dan penuh dengan luka lebam. Karena wajahnya yang penuh luka seperti itu, Mizuki tidak ingat dan tidak mengenal orang itu. "Benarkah dia anak si pemilik Villa?" tanya Mizuki heran.
"Iya! Ingat hari pertama itu? Saat kita kumpul di aula Villa bersama-sama."
"Iya." Mizuki mengangguk.
"Nah! Kan seluruh keluarganya berkumpul di Villa juga untuk menyambut kita. Salah satu dari mereka ada orang ini juga!" tegas Natsuki. Setelah itu, ia kembali membaringkan tubuh orang itu, lalu kembali berjalan mendekati Mizuki.
"Sekarang apa yang harus kita lakukan pada orang itu, ya?" pikir Natsuki. "Kenapa dia berbuat seperti ini pada adik kecilku?!"
"Emm... sebelum dia membuat Dian terjatuh, orang itu sempat teleponan dengan orang lain. Dan katanya lagi, dia menyimpan tubuh seorang lelaki dari Villa yang ia bawa ke tempat persembunyiannya." Jelas Mizuki.
"Eh? Lalu dia bilang apa lagi?" tanya Natsuki.
"Dia...."
"HEI! ADA ORANG DI SINI?! HALOOO!!"
"Eh, Onii-chan! Itu seperti suaranya...."
"Tu–tunggu dulu! Akan aku periksa." Natsuki kembali berdiri, lalu ia berjalan keluar dari dalam kawah untuk melihat keadaan luar. Dia tidak melihat siapapun di dekatnya. Hanya terdengar suara orang lain yang berteriak saja. "Tidak ada siapa-siapa, Mizuki-chan."
"Coba Onii-chan teriak juga!" pinta Mizuki.
"Teriak apa dulu, nih?"
"Minta pertolongan saja. Karena aku yakin, suara tadi mirip seperti suaranya Dennis."
"Eh, benarkah? Okelah." Natsuki mengangguk. Ia akan melakukan apa yang diminta Mizuki tadi. "TOLOOONG! TOLOOONG!!"
****
"Eh? Ada orang lain ternyata di sini." Ternyata benar teriakan tadi itu adalah Dennis. Saat ini, dia sedang berada di dalam hutan. Dennis pun berlari ke arah suara minta tolong tadi muncul.
"TOLOOONG!"
"Suaranya lagi! Semakin dekat. Aku harus cepat!"
****
"Hah... suaraku habis." Natsuki tidak suka teriak-teriak. Ia suka merasa serak dan sakit di tenggorokannya jika terus memaksa pita suaranya untuk mengeluarkan suara yang keras. Natsuki menoleh ke arah Mizuki lalu menggeleng, "Mizuki-chan, sepertinya kita salah dengar, deh. Teriakanku tidak membuahkan hasil. Yang ada malah sakit tenggorokanku."
"Ah, gomennasai. Tapi tadi aku yakin, aku mendengar suara Dennis." Mizuki bergumam. Ia melirik ke arah Akihiro, lalu mengelus rambutnya.
"Eh?" Mizuki kembali mendongak. Ia mendengar suara Dennis lagi. "Onii-chan! Di depan sana ada Dennis, tidak?! Tadi aku dengar dia memanggil namamu!"
"Iya. Aku juga mendengarnya. Sebentar!" Natsuki melirik ke sekitarnya. Tetap tidak ada siapapun yang datang. Tapi saat Natsuki melirik ke arah depannya, tiba-tiba saja sosok Dennis muncul dari balik pohon besar di depan sana. "Dennis-saaan!" Natsuki berteriak memanggil orang yang ia lihat di hadapannya untuk memastikan apakah itu benar Dennis atau bukan.
Dennis menghentikan langkah di depan pohon itu, lalu melambai. "Kak Natsu!" Setelah ia berteriak sekali lagi, Dennis kembali berlari menghampiri Natsuki. Dennis senang sekaligus tidak percaya dengan kemunculan Natsuki di depannya.
"Dennis-san! Ini kamu, kan?" tanya Natsuki. Dennis berhenti di hadapan Natsuki, lalu menjawab, "Iya, kak!"
"Ah, bagus. Kebetulan kami butuh bantuanmu!"
"Ada apa, kak?"
Natsuki berbalik badan, lalu meminta Dennis masuk ke dalam kawah bertanah. Ia menunjuk ke arah Mizuki dan Akihiro. Dennis terkejut melihat kedua temannya yang sedang dalam masalah di bawah sana. Dengan cepat, tapi hati-hati Dennis turun ke dalam kawah untuk membantu Mizuki. Setelah Dennis, Natsuki juga ikut masuk turun ke sana.
"Dennis! Akhirnya kami bisa menemukanmu!" ujar Mizuki senang. Dennis pun demikian. Ia tersenyum senang bisa bertemu dengan temannya lagi. Tapi senyumnya perlahan memudar setelah ia melirik ke arah kaki Mizuki yang terluka dan Akihiro yang masih belum sadarkan diri.
"Ka–Kak Zuki! Kakimu...."
"Ah, ini... tadi aku kena tembak oleh pemburu aneh itu." Mizuki menoleh ke arah sampingnya, tempat si orang berbaju hitam itu. Dennis mengerutkan kening, lalu berjalan menghampiri orang berbaju hitam. Ia sudah melihat wajahnya yang berdarah karena lukanya. "Di–dia ini kah kakaknya Rina?"
"Eh? Jadi kau mengenalnya, Dennis-san?" tanya Natsuki.
Dennis menggeleng. "Tidak. Aku hanya pernah mendengar tentangnya dari cerita seseorang. Kebetulan aku juga sedang mencari dirinya!"
"Eh? Untuk apa?"
"Untuk mencegahnya agar tidak berbuat hal yang tidak manusiawi lagi!"
****
Hari semakin larut. Matahari ingin terbenam, dan langit senja telah berubah menjadi gelap yang menyeramkan. Hutan juga sudah terlihat seperti tidak terbentuk lagi karena sangking gelapnya. Tidak ada pelita yang menerangi hutan. Bahkan saat ini, Dennis dan yang lainnya tidak bisa melihat arah jalan pulang mereka. Tapi untung saja Dennis masih mengingat jalan menuju ke gubuk walau jalan nyaris seluruhnya tidak terlihat.
Masih ada sedikit cahaya senja yang menerangi jalan. Mereka harus cepat sampai di gubuk, baru setelah itu memikirkan rencana untuk sampai di Villa.
Natsuki menggendong Akihiro di belakangnya, sementara Dennis membantu Mizuki untuk berjalan. bagian lutut Mizuki sudah Dennis ikatkan dengan kain yang ia bawa untuk menghentikan pendarahannya. Mizuki sangat berterima kasih pada Dennis karena sudah membantunya. Tapi untuk lukanya, Dennis tidak tahu harus menyembuhkan Mizuki dengan apa. Ia akan mencari caranya nanti.
Selama di perjalanan, Dennis menceritakan semua yang ia alami. Dari pertemuannya dengan Orang asing yang membawa senapan, hilangnya Rei dan Adel, sampai pengalamannya di dalam gubuk yang mengerikan. Tidak lupa juga Dennis menceritakan tentang keluarga kanibal yang menjadi pemilik Villa yang sedang mereka tempati itu.
Kalau orang berbaju hitam tadi, sudah Natsuki tangani. Orang itu saat ini sedang ditarik tangannya oleh Natsuki dan menyeret tubuhnya sampai mereka sampai di Villa. Dennis yang meminta Natsuki untuk membantunya membawa kakaknya Rina itu. Entah untuk apa.
****
"Jadi ini gubuknya." Ujar Natsuki setelah ia sampai di depan gubuk. Keadaanya sudah gelap sekali. Matahari benar-benar sudah menghilang. Bulan juga entah kapan munculnya. Bintang-bintang juga tidak ada yang bersinar. Intinya gelap sekali di sana. Yang terlihat terang hanya bagian dalam ruangan gubuk. Karena Dennis ingat jelas, ada lampu kuning yang selalu menyala di tengah-tengah ruangan.
Tapi setelah sampai di depan gubuk itu, Dennis sedikit terheran. Kenapa pintunya menutup? Terakhir kali ia meninggalkan gubuk ini, Dennis tidak menutup pintunya dan....
"Oh iya, Rina!" Dennis teringat dengan gadis itu. Dengan cepat, Dennis membuka pintu lalu melihat ke pojokan tempat Rina berada. Tapi saat dilihat, Rina sudah menghilang!
Ia meninggalkan tali yang mengikat tangan dan kakinya tadi. Tapi kemeja yang Dennis berikan, tidak ada di sana. Rina telah membawanya. "Kira-kira ke mana gadis itu? Kenapa dia bisa hilang?!" gumam Dennis.
"Dennis, ada apa?" tanya Mizuki.
Dennis menoleh ke belakang, lalu menggeleng. "Tidak apa-apa."
"Sekarang apa yang akan kita lakukan pada orang ini?" tanya Natsuki.
"Ayo tahan dia di dalam gubuk ini. Jangan sampai dia bebas lagi." Jawab Dennis dengan nada tegas. Ia menyesal telah meninggalkan Rina. Ia pikir, mungkin ikatan terakhirnya itu kurang kuat sehingga Rina bisa bebas dengan mudah.
Jadi sekarang di mana Rina?
****
Saat di dalam ruangan yang belum diketahui lokasinya–
"Lepaskan aku, b*ngs*t!"
"Aw! Kau kasar juga, ya?" Rina ada di sana. Ia mengelus kepala seseorang yang baru saja ia tangkap. Seorang lelaki imut yang katanya tersesat di dalam hutan saat sedang mengejar dan mencari temannya. Lelaki yang dimaksud itu adalah Rashino!
"Apa yang akan kau lakukan padaku?!" bentak Rashino.
Rina tersenyum sambil memejamkan matanya. Lalu ia mendekatkan kepalanya ke samping Rashino dan berbisik tepat di telinga kirinya, "Kau akan menjadi makan malam teman-temanmu, loh~"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8