Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 15–Hubungan Dennis dan Diana, part 2


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*Jaga-jaga dulu untuk episode yang ini, karena mengandung adegan berdarah/Gore dan penyiksaan yang mungkin mengganggu para pembaca. Jika tidak kuat, jangan membacanya!


*


*


*


"Oh benarkah? Kapan Dennis mengetahuinya?" tanya Rei.


"Saat kencan pertama mereka pada malam hari dan saat malam itulah... Dennis membunuh Diana!"


Rei dan Yuni sedikit terkejut mendengarnya. "Eh? Apa itu benar? Kenapa Dennis membunuh Diana?"


"Dia melakukannya dengan sengaja karena dia pernah cerita ke ibu kalau dia mengetahui sesuatu yang telah membuat nyawanya terancam...."


****


Kembali lagi pada Dennis di masa lalu~


Malam ini, hari Sabtu, tanggal 5 February, tepat di hari Dennis dan Diana akan berkencan bersama. Karena kebetulan malam Minggu, jadi mereka berdua memutuskan untuk pergi bersama.


Dennis menghampiri rumah Diana dengan menggunakan mobil milik keluarganya. Ia sudah meminta izin untuk meminjam mobil itu, kok! Dan ternyata... Dennis sudah bisa mengendarai mobil sendirian semenjak ia masuk SMP. Karena ayahnya yang telah rajin untuk mengajarkan anaknya itu.


TOK! TOK!!


"Diana! Aku sudah datang!" teriak Dennis setelah ia mengetuk pintu rumah Diana. Ia menggenggam sesuatu yang ia sembunyikan dibalik badannya. Segenggam bunga mawar merah yang akan ia berikan untuk Diana.


Tak lama kemudian, Diana pun membuka pintunya. Ia mengintip lewat pintu untuk melihat seseorang yang datang. Setelah ia tahu kalau yang datang itu adalah Dennis, Diana pun langsung membuka pintu rumahnya lebar-lebar.


Diana terlihat sudah memakai baju rapihnya untuk pergi bersama Dennis. Ia memakai gaun pink dengan rok sedengkul. Dan rambutnya itu ia berikan pita kecil. Diana jadi semakin tambah cantik.


"Ha–hai, Diana... ehm!" Dennis menyapa gadis yang ada di hadapannya, lalu berdeham kecil. Ia menunduk sambil menutupi setengah wajahnya yang sedikit memerah.


"Eh, kamu kenapa, Dennis?" tanya Diana.


"Emm... tidak apa-apa. Anu... ini, untukmu." Dennis mengulurkan tangannya. Ia memberikan bunga mawar merah itu pada Diana yang ada di hadapannya.


Diana terlihat senang saat Dennis memberikannya bunga mawar merah itu. Sungguh sangat senang. "Wah! Dennis. Kau romantis sekali. Terima kasih banyak!" ucap Diana dengan senyum yang lebar.


Ia tidak mengambil bunga pemberian Dennis karena sebenarnya, sedari tadi Diana menggenggam sebuah plastik sampah berukuran sedang dengan kedua tangannya. Ia terlihat kesulitan saat membawa plastik itu.


"Emm... Diana? Plastik itu isinya apa? Sepertinya berat sekali. Mau aku bantu?"


"Eh, ini hanya sampah dari dalam rumahku saja, kok! Aku bisa sendiri. Sekarang juga aku ingin membuangnya langsung ke tempat sampah itu." Jawab Diana.


"Yakin tidak mau dibantu?"


Diana menggeleng. Lalu ia berjalan secara perlahan sambil membawa plastik sampah yang berat itu ke arah tempat sampah yang ada di pinggir halaman rumahnya.


Dennis akan menunggu di samping rumah Diana. Lalu iseng-iseng ia melirik dan mengintip lewat pintu rumah Diana. "Rumah Diana lumayan rapih juga." Gumam Dennis sambil mengintip. "Tidak seperti rumahku, hehe... tapi... itu di sana ada apa?"


Dennis melihat sesuatu saat ia melirik ke arah pintu yang sedikit terbuka di dalam rumah Diana. Pintu itu terletak di samping sofa tak jauh dari ruang tamu sepertinya. Sepertinya ruangan dibalik pintu itu gelap sekali. Dennis jadi penasaran.


Ia mensipitkan matanya untuk melihat lebih jelas dalaman ruangan itu. Tapi tiba-tiba saja pintunya bergerak terbuka dengan sendirinya. Seperti ada yang mendorong pintu itu dari dalam. Dennis tersentak.


Setelah pintu itu terbuka semakin lebar, seketika jatuh tangan manusia ke lantai. Hanya tangan yang tidak tersambung oleh bagian tubuhnya! Tak lama setelah tangan itu, mengalir lah darah kental merah melewati sela-sela pintu. Lalu ada juga darah lainnya yang menetes dari atas pintu.


Dennis benar-benar terkejut melihatnya. "I–itu ada potongan tangan. Apa jangan-jangan... yang dibawa Diana di dalam plastik itu adalah...."


BUAK!!! BRUK!


****


"Eh? Apa yang telah terjadi pada Dennis itu?" tanya Rei penasaran.


"Saat Dennis ingin berbalik badan dan kembali menutup pintu rumah Diana, tiba-tiba saja ia merasakan hantaman keras dari benda tumpul yang membentur kepalanya. Seketika, Dennis pun langsung jatuh pingsan tepat di... hadapan Diana yang sedari tadi sudah berada di belakangnya!"


"Apa?! Jadi Diana yang sudah memukul Dennis?" tanpa sengaja Rei pun berbicara keras karena terkejut.


Lalu dengan cepat, Yuni langsung menutup mulut Rei. "Kak Rei jangan berisik, dong." Bisik Yuni.


Rei mengangguk. "I–iya. Maafkan aku."


"Hmm... sepertinya di depan sana sepi sekali. Apa yang sedang mereka lakukan?" gumam Yuni. Lalu ia turun dari atas kursi. Berjalan pelan kembali ke ruang Televisi.


Saat sampai di sana, Yuni mengintip lewat tembok. Ia sedikit melebarkan matanya. Karena semua orang yang ada di ruang Televisi itu sudah tertidur pulas. "Pantas saja sepi." Gumam Yuni lagi. Lalu setelah itu, ia kembali ke tempatnya. Berkumpul bersama Ibunya Dennis dan Rei di dapur.


"Mereka sedang apa, Yuni?" tanya Ibunya Dennis.


"Mereka tertidur saat menonton film horror itu." Jawab Yuni pelan.


"Lagi?"


"Iya."


Rei dan Yuni menggeleng. "Kami belum mengantuk. Sekarang lanjutkan ceritanya, Bu! Kumohon!" pinta Rei. Ia ternyata sangat menikmati cerita dari Ibunya Dennis tentang pengalaman sahabatnya itu.


"Nih, setelah Diana berhasil menjatuhkan Dennis, ia akan menggunakan kesempatan itu untuk melakukan hal yang ia inginkan pada tubuh Dennis. Yaitu, memasukan temannya untuk menetap di tubuh Dennis!"


Rei tersentak. "Eh? Apa jangan-jangan... temannya itu adalah...."


"Roh hitam jahat yang berbentuk seperti wanita dewasa itu." Yuni menimpali.


Ibunya Dennis mengangguk pelan. "Iya begitulah. Lalu Diana menarik tubuh Dennis dan membawanya sampai ke dalam kamarnya yang gelap itu. Ia menggeletakan tubuh Dennis di tengah-tengah ruangan."


"Lalu apa yang akan Diana lakukan pada Dennis?" tanya Rei.


"Katanya, Dennis merasakan sakit yang luar biasa di kedua tangannya. Ia terbangun karena merasakan sakitnya itu...."


****


Saat Dennis kembali tersadar dan membuka mata, Dennis terkejut. Ia berteriak kesakitan karena saat itu, Diana menusuk telapak tangan Dennis dengan paku sedang lalu menumbuknya dengan palu sampai paku itu menembus telapak tangan Dennis dan tertancap kuat di lantai. Dennis sudah tidak bisa bergerak. Karena tangan yang satunya lagi juga telah tertahan oleh paku yang menancap itu. Jika Dennis banyak bergerak, maka rasa sakitnya akan bertambah dan luka di tangannya jadi semakin membesar.


Darah membasahi kedua telapak tangan Dennis. Matanya sedikit mengeluarkan air mata karena berusaha untuk menahan rasa sakitnya itu. Nafasnya terengah-engah dan ia juga merasa takut dengan tempatnya berada saat ini.


Di dalam ruangan itu penuh dengan darah dan potongan daging manusia. Dennis menengok ke arah samping kirinya karena ia tidak ingin melihat sosok Diana yang ada di samping kanannya itu.


Dennis kembali membuka mata setelah lama terpejam untuk menahan rasa sakit di tangannya itu. Dan sekali lagi, Dennis dikejutkan oleh kepala seorang pria yang tergeletak tepat di depan wajahnya itu. Ia kembali berteriak lagi.


"Dianaaa! Kau gila! Apa yang kau lakukan? AAAAKH!"


"Jangan membentakku, Dennis. Aku hanya ingin membalas kebaikanmu saja, kok! Sekarang kamu akan aku berikan hadiah, ya?"


"Apa yang kau maksud, Diana?! Lepaskan aku! Biarkan aku pulang!! Aku tidak akan memberitahu siapapun tentang ini! Kumohon lepaskan aku!" teriak Dennis sambil memberontak.


"Tahan, Dennis... ini tidak akan sakit." Tanpa mempedulikan pertanyaan Dennis tadi itu, Diana menusukan jarum kecil ke dada Dennis secara perlahan.


Sekali lagi Dennis merasakan rasa perih akibat dari jarum yang menusuk dadanya itu. Setelah jarum pertama, Diana mengambil jarum lainnya. "Ini yang ke dua! Tahan, ya?" ujar Diana sambil tersenyum.


Dennis terkejut. Lalu ia kembali membentak Diana. "Kau! Diana Bodoh! Jangan lakukan itu lagi! Tidak! Jangan!"


Tapi Diana tidak mempedulikannya. Ia pun menusuk jarum ke dua itu lagi ke dada Dennis. Ia benar-benar menikmatinya dan suara teriakan Dennis itu telah menjadi suara terindah yang didengar Diana. Tapi yang tidak Diana suka itu, teriakan Dennis terlalu kencang. Ia takut ada orang lain yang mendengarnya.


"Ukh! Lama-lama kok kamu jadi berisik, sih?" gumam Diana karena mulai geram dengan teriakan Dennis dan kata-kata kasar yang Dennis keluarkan.


Diana berdiri lalu berjalan menghampiri meja besar yang ada di pojok ruangan. Ia mengambil lakban hitam yang akan ia gunakan untuk membekap mulut Dennis agar ia tidak berisik.


Setelah ia memotong sedikit lakban itu, ia pun berjalan kembali menghampiri Dennis dan langsung menutup mulut Dennis dengan potongan lakban yang ia bawa itu.


"HHHMMPH!"


"Nah, sekarang kan tidak terdengar berisik lagi." Diana menepuk tangannya sekali sambil tersenyum. Lalu ia mengambil jarum lainnya untuk kembali menusuk dada Dennis. "Ini yang ke tiga, deh! Tahan, ya?"


JLEB!


Tusukan jarum ke tiga itu sedikit agak miring. Lalu jarum ke empat, Diana langsung menancapkannya. Beberapa jarum lagi, sampai akhirnya membentuk sebuah lingkaran di dada Dennis.


Lalu sekali lagi, Diana mengambil jarumnya lagi. "Hah, ini yang terakhir, ya? Haha... Siap-siap...."


JLEB!


Diana menusuk jarum terakhirnya itu tepat di tengah lingkaran. Lalu seketika muncul bayangan dan asap hitam yang mengerumuni tubuh Dennis. Dennis memberontak kesakitan. Lalu ia menarik tangan kanannya dengan kuat sampai akhirnya tanpa disengaja, Dennis berhasil menarik tangannya dari paku yang telah menahannya di lantai itu.


Telapak tangannya berlubang dan mengeluarkan darah. Lalu dengan cepat, ia langsung menarik tangan yang satunya lagi dengan paksa dan akhirnya berhasil!


Diana terkejut karena tiba-tiba saja Dennis bisa melepaskan dirinya. Dennis mengerutkan keningnya dan menatap tajam pada Diana. Lalu ia membuka lakban yang menutup mulutnya itu. "Diana... aku tidak percaya kau bisa berbuat seperti ini padaku! Kenapa?!" bentak Dennis.


"Ada yang telah memberitahuku kalau dengan cara balas dendam, aku bisa bahagia! Lihatlah semua ini! Mereka semua adalah orang yang telah mengejek dan menghinaku dulu. Tapi sekarang, orang-orang itu telah menjadi mangsaku!" jelas Diana membalas bentakan Dennis.


"Tapi tidak seperti ini caranya, Diana!"


"Jangan menyentuhku, Dennis!" Diana menampar pipi Dennis dengan kasar, lalu mendorong tubuhnya.


Dennis menyentuh pipinya yang memar karena tamparan dari Diana itu. Lalu secara perlahan ia menatap Diana dengan tajam dan menyeramkan. Lalu dengan cepat, Dennis pun memukul Diana dengan kuat sampai ia terjatuh dan kepalanya membentur tembok ruangan.


Setelah itu, Diana pun tidak bergerak lagi. Dennis merasa belum puas hanya dengan memukulnya saja. Ia akan melakukan lebih dari sekedar menyiksa anak gadis itu, yaitu dengan membunuhnya secara langsung!


"Dia sudah mulai keterlaluan. Selama ini aku salah memilih orang yang telah kusayangi. Dan sekarang, orang yang kusayang itu akan aku bunuh karena aku tidak ingin melihatnya lagi!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8