
Saat jam istirahat di Beautiful. D. High school, Diana memutuskan untuk pergi ke kamarnya daripada ke Kantin bersama dengan temannya. Eh, sebenarnya Diana (sudah) tidak punya teman semenjak dirinya diketahui oleh semua anak sekelasnya kalau dia adalah seorang anak pembunuh yang akan mengancam semua nyawa warga sekolah itu.
"Anak-anak itu! Mereka... membuatku muak! Awas saja, mereka belum tahu aku ini siapa. Akan aku buat mereka menderita sekarang juga!" gerutu Diana sambil berjalan cepat menuju ke kamarnya.
****
Saat sampai di sana, Diana pun langsung masuk ke dalam, lalu mengunci pintu kamarnya. Tanpa menyalakan lampu kamar, ia pun duduk di lantai. Lalu ia menyalakan satu lilin yang diletakan di atas mangkuk kecil. Mangkuk itu ia taruh di samping dirinya.
Lalu, Diana juga memasang lilin lainnya sampai semuanya berjumlah 5 buah. Setelah semua lilin menyala, seluruh ruangan kamar itu dapat terlihat walau agak gelap sedikit. Terlihat juga ada beberapa barang aneh yang ada di hadapan Diana itu.
Ada beberapa sesajen, dan juga... bunga melati. Dan ada juga beberapa boneka kecil di sana. Salah satu boneka itu telah ditusuk paku di bagian perutnya.
Diana mengambil boneka yang telah ditusuk paku itu. "Satu sudah mati. Dan sekarang tinggal ke-5 anak-anak menjengkelkan itu!"
Diana melempar boneka yang ia pegang tadi. Lalu tangan yang satunya mengambil paku yang sudah ditempatkan, lalu mulai menusuk-nusuk boneka lainnya dengan paku itu sambil bergumam-gumam mengucapkan suatu mantra yang biasa ia gunakan.
Entah apa yang ia lakukan, tapi tiba-tiba saja dari lubang di boneka yang ia tusuk dengan paku itu mengeluarkan beberapa bayangan hitam seperti asap yang berbentuk seperti manusia, melayang di udara.
Lalu bayangan itu pergi keluar menembus jendela kamar Diana. Setelah semua bayangan itu pergi, Diana pun tersenyum lalu tertawa dengan senangnya.
"Haha... bunuh mereka semua! Dan sisahnya hancurkan ke-5 anak-anak yang menyebalkan itu!"
****
Di tengah perjalanan di pinggir sawah, terlihat di sana ada Dennis dan teman-temannya yang sedang berjalan santai untuk menuju ke rumah neneknya. Pinggir mereka memang sawah, tapi sampingnya lagi jalanan beraspal.
"Haduh... sampai kapan lagi kita berjalan terus?" Akihiro mengeluh. Ia pun menghentikan langkahnya. "Kalau tau rumah nenekmu itu jauh, lebih baik kita naik Bus saja tadi."
Semuanya menengok. Lalu mereka mulai memasang wajah melasnya. "Memangnya kau punya uang untuk naik Bus?" tanya Mizuki.
"Tidak juga. Tapi siapa tahu saja dari kalian semua pasti memiliki uang simpanan, kan?" Akihiro bertanya dengan nafas yang masih terengah-engah.
"Hmm... uangku receh semua. Mana cukup!" jawab Dennis. Lalu semuanya juga mengatakan hal yang sama.
"Ah... sabarlah! Sebentar lagi kita sampai, kok!" Dennis kembali berujar. Lalu ia mengulurkan tangannya untuk membantu Akihiro berdiri lagi. "Tadi bukankah kakak sendiri yang paling bersemangat?"
"Ya memang semangat, tapi itu di awal!" Akihiro menjawab sambil terkekeh.
Sachiko menarik-narik baju kakaknya. Mizuki pun menengok, lalu meneleng untuk menyahut Sachiko yang mungkin ingin mengatakan sesuatu.
"Nee-san? Karera wa nani shiteru no?" tanya Sachiko dengan berbisik.
*(Kakak, apa yang mereka lakukan?)
Mizuki tertawa kecil. Lalu ia menjawab dengan bahasa Jepangnya. "Oh, mereka itu sedang... hanya beristirahat sebentar saja."
"Tapi kakak yang rambut coklat itu kok duduk di tanah, sih? Kan kotor!"
"Ah... Sachiko sebenarnya... kami sangat kelelahan. Ingin naik kendaraan saja tidak punya uang. Oh iya, apa kamu punya uang?" tanya Mizuki.
"Uang? Umm... hanya ¥10 saja." Jawab Sachiko ragu sambil menunjukkan uangnya itu.
"Wah! Sepertinya cukup hanya untuk naik bus!" Mizuki senang. "Kakak pinjam dulu, ya?"
"Boleh." Sachiko memberikan uangnya itu pada kakaknya. Mizuki pun menerimanya dengan senang hati. "Haha... Arigato Chiko-chan!"
"Hei, lihat ini! Kita bisa naik Bus dengan uang ini, loh!" seru Mizuki. Serontak semuanya pun menengok ke arah Mizuki. Mereka terlihat sangat senang.
"Wah! Dengan ini kita bisa naik Bus sekarang juga, dong! Yeay!" kata Akihiro sambil melompat-lompat kegirangan. Semuanya juga berseru senang hanya karena mendapat uang yang lebih dari cukup untuk menaiki satu Bus saja.
Tapi tiba-tiba semuanya kembali terdiam saat Yuni mulai berkata, "Tidak ada Bus yang lewat sekarang." Lalu ia kembali melanjutkan, "Apa kalian mau kembali ke halte yang jaraknya 1km itu lagi?"
Semuanya membatu. Yuni ada benarnya juga. Bus mana mungkin menerima penumpang jika penumpang itu tidak berada di tempat penunggu Bus (halte). Jadi... uang itu akan percuma, dong?
"Sudah diputuskan! Kita jalan kaki saja. Bodo amat dah!" Akihiro kembali bangkit. Ia yang berkata seperti itu. Dirinya juga sudah berjalan lebih dulu dari yang lainnya.
"Ya... setidaknya kita bisa berjalan sambil ngemil, kan? Kebetulan aku membawa cemilan kesukaanku." Kata Mizuki sambil merogoh tasnya.
Setelah Mizuki berkata seperti itu, serontak semuanya langsung mendekati Mizuki dengan cepat. Mizuki sendiri sampai terkejut dengan kehadiran teman-temannya yang tiba di depan wajahnya itu.
"Hah, seorang satu, ya?" kata Mizuki lagi. Ia pun memberikan bungkusan kotak cemilannya itu pada teman-temannya.
"Eh? Apa ini Pocky?" tanya Dennis ragu.
"Iya? Kenapa? Tidak suka, ya?"
"Ah, tidak bukan begitu! Aku hanya... em... sebenarnya aku tidak tahu kalau Pocky juga ada di Jepang. Eh, ini kau bawa dari Jepang, kan?" Dennis bertanya.
"Iya. Kan aslinya, Pocky itu memang berasal dari Jepang. Ini cemilan sehari-hari kami kalau di Jepang. Aku sangat menyukainya." Jelas Mizuki.
"Entah. Tapi yang penting rasanya enak, kan? Sudahlah ayo kita lanjut jalan lagi!"
Dennis masih bingung. Hanya karena Pocky itu berasal dari mana? Di dalam benaknya, ia bergumam, "Aku pikir Pocky hanya ada di Indonesia. Soalnya makanan ini juga lumayan populer."
****
1 jam kemudian....
"Pada akhirnyaaa! Huh, sampai juga!" Akihiro berteriak tepat di depan pintu rumah panggung yang ia anggap sebagai rumah Neneknya Dennis itu.
"Hei, Kak Dian? Apa yang kau lakukan di sana? Rumah nenekku ada di sini tahu!" Dennis berteriak dari samping tempatnya Akihiro berdiri. Letak Dennis agak jauh sedikit. "Itu rumah tetanggaku! Dan... ada peraturan jika kau mau di sana. Tapi sayang kau sudah melanggarnya!" lanjut Dennis.
"Eh? Apa peraturannya?!" tanya Akihiro dengan berteriak.
BRAK!
Akihiro terkejut. Tiba-tiba pintu rumah yang ada di hadapannya itu terbuka dan mendorong tubuhnya sampai terjatuh. Lalu ia melihat ada seorang wanita keluar dari dalam rumah itu.
"JANGAN MAIN DI SINI ANAK KECIL! BERISIK TAHU! ANAKKU SEDANG TIDUR. JANGAN GANGGU! PERGI SANA! PERGI!" bentak Wanita itu sambil berusaha untuk memukul Akihiro dengan sapu yang ia bawa.
Akihiro juga berusaha untuk menghindar. Lalu ia kembali berdiri setelah bokongnya terkena pukulan dari sapu itu.
"Ma, maafkan aku! Maaf!" Setelah berhasil menghindar dari wanita galak itu, Akihiro pun langsung berlari menjauh dari rumah itu. Ia langsung berlari menghampiri teman-temannya yang sedang menertawakannya itu.
Setelah Akihiro pergi, wanita itu membanting sapunya ke lantai, lalu kembali masuk ke dalam rumahnya dan membanting pintu.
Akihiro terduduk di tangga depan rumah neneknya Dennis. "Haduh... emak-emak jaman sekarang pada galak-galak amat, ya?" gerutu Akihiro.
"Aku juga terkejut. Ternyata di desa seperti ini saja ada orang yang galak." Timpal Mizuki.
"Haha... itu sudah biasa. Tapi yang ku kenal di sini hanya rumah itu saja yang memiliki manusia yang galak. Kan sudah kuperingati, kau jangan dekati rumah itu. Apalagi teriak-teriak di dekatnya." Dennis menjelaskan.
Setelah Dennis memutar kunci di lubang pintu itu, Dennis pun langsung mendorong pintunya. "Hah, Nenek... aku pulang!"
Dennis yang masuk pertama ke dalam rumah neneknya itu. Lalu diikuti dengan temannya yang lain.
Keadaan dalam rumah sangat kacau. Debu di mana-mana dan barang-barang yang berpindah tempat. Pertama, Dennis merapihkan kembali sofa yang miring dan bingkai foto yang berjatuhan.
Setelah itu, ia pun duduk di atas sofa. "Ayo kalian semua istirahat dulu." Ajak Dennis.
"Kita akan bermalam di sini?" tanya Mizuki.
"Iya. Besok baru kita mencari Rei." Jawab Dennis.
Semuanya pun duduk di atas sofa. Berbincang sebentar, lalu tak lama kemudian Dennis pun beranjak dari Sofanya.
"Tunggu sebentar, ya? Aku... akan mengambilkan kalian minum, lalu setelah itu aku juga harus beres-beres rumah dulu. Setelah itu kita baru membicarakan rencana untuk mencari Rei, ya?" kata Dennis. "Tapi jika kalian ingin membicarakannya sekarang juga tidak apa. Aku akan rapihkan rumah ini sedikit." Lanjut Dennis.
"Bicara apa kau? Kami tidak akan bisa memulai rencana tanpamu, Dennis." Akihiro berujar. Lalu ia juga beranjak dari Sofanya. Berjalan mendekati Dennis, lalu merangkul temannya itu. "Kami akan membantumu merapihkan rumah besar ini!"
"Sebenarnya rumah kecil." Dennis bergumam.
"Kalau aku bilang kecil, nanti kamu tersinggung, hehe..." Akihiro berbisik. Lalu matanya kembali menatap ke semua teman-temannya yang masih duduk di sofa. "Ayo teman-teman! Kita bantu Dennis agar dia bisa cepat menyelesaikan tugasnya!"
"Iya, oke!" semuanya menjawab.
"Adel juga mau bantu, ya?"
"Aku ikut saja."
"Wah... terima kasih semuanya!" Dennis terharu. "Sekarang aku bagi tugas untuk kalian masing-masing, ya?"
"Oke!"
*
*
*
To be Continued-
____________________
Author note: *Secepatnya ku usahain buat up...
Jangan lupa like-komentarnya, ya? Terus... vote poin untuk novel ini karena rankingnya udh mau masuk 50 besar :) Mohon dukungannya, makasih ^^