
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Adit diajak sampai ke suatu tempat yang sebelumnya tidak pernah ia ketahui oleh orang gemuk yang bernama Bob. Bob itu hanya nama inisialnya saja. Nama aslinya masih rahasia karena si Bob sendiri tidak ingin memberitahu.
Saat sampai di sebuah ruangan yang belum diketahui lokasinya, Adit melirik ke sekitarnya. Di dalam ruangan itu gelap sekali. Bahkan ia sampai tidak bisa melihat tubuhnya sendiri karena sangking gelapnya.
"Bo–Bob! Kita ada di mana ini?" tanya Adit sambil menutupi setengah wajahnya dengan buku paket yang ia pegang.
"..." Tidak ada jawaban dari Bob yang ada di belakangnya.
Adit jadi merasa takut. Ia tidak tahu dirinya sedang berada di mana saat ini. Ia tidak bisa melihat apapun setelah pintu ruangan itu ditutup. Adit ingin keluar dari tempat itu, tapi ternyata ia tidak bisa menemukan di mana letak pintunya karena gelap.
BATS! BATSH!
"Di sini. Kemari lah, Adit!"
Adit menutupi mata dengan tangannya. Ia melihat cahaya yang tiba-tiba muncul di depannya. Cahaya itu sangat silau. Tapi pada akhirnya... beberapa cahaya itu kembali redup dan akhirnya penerangan di ruangan itu pun dapat dinyalakan. Akhirnya Adit bisa melihat ke sekitarnya kembali.
"Wow! Ini... ada di mana?" tanya Adit kagum karena ia melihat tempatnya berada saat ini penuh dengan komputer canggih. Lalu ia berlari menghampiri Bob yang sudah ada di depan beberapa layar di tembok yang besar dan di dekatnya itu ada meja dengan beberapa tombol dan di pertengahan meja itu juga terdapat mikrofon kecil.
"Selamat datang di ruangan rahasiaku. Di sini lah aku bisa mengawasi semua murid yang ada di sekolah ini." Jelas Bob. Lalu ia duduk di bangku yang ada di depan mikrofon. "Sekarang, apa kau mau lihat bagaimana keadaan Rei?" lanjutnya.
Adit terkejut mendengarnya. "Eh? Apa kau bisa melihat Rei juga? Kau tahu dia ada di mana saat ini?" tanya Adit tidak percaya.
"Haha... tentu saja aku tahu. Ayo... coba kau cari. Kau bisa melihat Rei di beberapa layar di atas sana."
Dengan cepat, Adit pun mendongak. Pada awalnya ia tidak percaya dengan perkataan Bob itu. Tapi saat ia melihat ke arah satu layar yang ia lirik, Adit bisa melihat ada satu tempat yang sedang ditempati oleh beberapa murid lainnya.
Di setiap lorong, lantai, gedung satu dan dua, Adit bisa melihat semuanya sekaligus. Bahkan... sampai di luar bangunan sekolah. Ada yang di taman, dekat kantin, dalam kantin, ruang kelas, UKS, ruang lainnya, lapangan ada banyak yang terlihat dan... pada akhirnya Adit menemukan tempat Rei berada. Rei tidak sendiri. Ia bersama dengan dua anak kembar yang Adit kenal.
"Itu dia. Tapi... di mana dia berada?" tanya Adit pada Bob. Ia kembali menoleh ke arah Bob yang duduk di sampingnya.
"Tentu saja tempat itu berada di taman samping gedung satu. Kau tahu? Yang tempatnya terdapat menara tua itu?"
"Eh? Ta–tapi... semua layar ini berasal dari mana?"
"Karena... setelah sekolah ini dibangun menjadi lebih baik, semuanya telah banyak berubah. Dan semua layar itu terhubung dengan CCTV yang ada di setiap tempat dan di setiap lingkungan, setiap sudut dan bahkan pepohonan sekali pun terdapat kamera pengawas yang tersembunyi di mana-mana." Jelas Bob. Lalu matanya melirik sinis ke arah Adit yang ada di sampingnya.
"Bahkan aku juga tahu kalau beberapa jam yang lalu, kelasmu sedang diadakan homeroom. Dan setelah homeroom ditutup, kau merebut buku milik anak perempuan bernama Cindy di kelasmu, lalu kau malah pergi keluar kelas. Buku yang kau pegang saat ini itu punya Cindy, kan?" lanjut Bob.
Adit benar-benar terkejut mendengarnya. Ia melebarkan matanya, lalu melirik ke arah buku paket matematika yang sedang ia pegang di tangan kirinya. Lalu tak lama ia kembali menatap Bob. "Ternyata... kaulah yang telah mengawasi kami semua!"
"Iya begitulah. Aku pengawas baru sekaligus Kepala Sekolah yang baru di sekolah ini! Khu~ khu~"
"A–apa?! Tidak mungkin!"
"Itu mungkin saja. Karena... semua fasilitas seperti ini, dan semua pembangunan kemarin aku yang bayar, tahu! Jadi aku berhak 100% pemilik sekolah ini!" Bob tertawa dengan kerasnya. Adit jadi kebingungan dengan sikapnya.
Bob berhenti tertawa lalu melirik sinis ke arah Adit sambil tersenyum. "Jadi sekarang... kau sebagai muris di sekolahku, kau harus sopan padaku!"
Adit tersentak, lalu dengan cepat ia menjawab, "Ah! Ba–baiklah! Maaf untuk sikap saya yang tadi! Anda memang berhak memiliki sekolah ini!"
"Nah, gitu dong! Sekarang... apa kau ingin melihat aktivitas tentang Rei dan mencari kelemahannya?" tanya Bob pada Adit.
"Emm... daripada saya memperhatikan dia, lebih baik Tuan... eh? Emm...."
"Panggil saya Pak Bob saja tidak apa-apa, kok! Santai saja, tidak usah tegang begitu."
"Ya, anu... Pak Bob, jika selama ini bapak selalu memperhatikan Rei... berarti Pak Bob tahu bagaimana aktivitas, sikap sampai kelemahannya si Rei itu. Iya, kan?"
"Untuk semuanya... aku hampir mengetahuinya. Tapi... jika soal kelemahannya, masih belum terlihat." Bob melirik ke arah layar yang sedang merekam sosok Rei dengan si kembar yang sedang berbincang di taman itu. "Karena... kalau aku lihat dari tampangnya, sepertinya dia bukan anak yang mudah untuk dikalahkan." Gumamnya.
Adit tersentak. "I–iya begitulah! Dari dulu... Rei itu memang anak yang sangat kuat dalam segala hal. Kepintaran, kepopuleran sampai kekuatannya!"
Bob menyeringai setelah ia mendengar perkataan Adit. Lalu tanpa melirik ke arah Adit, ia pun berkata, "Sepertinya kau sangat aku butuhkan untuk memberikan informasi tentang si Rei itu."
"Iya. Aku tahu banyak tentangnya."
"Kalau begitu... beritahu aku tentangnya!"
"Yah... aku bisa memberitahu anda. Tapi... Anda juga harus membantu saya untuk mengalahkan Rei dalam hal kepintaran. Aku ingin masuk rangking pertama di Mading! Agar namaku bisa populer lagi!"
"Yah... kau bisa mendapatkan itu dengan mudah. Bahkan, kau tidak usah belajar untuk mendapatkan rangking satu itu." Adit terkejut. Ia menatap dengan tampang tak percaya. Bob melanjutkan, "Jadi... mohon kerja samanya!"
****
Rei pun mendekati meja tempat berkumpulnya teman-temannya tadi. "Semuanya sudah pergi, ya? Mereka ke mana?" gumam Rei. "Apa mereka sudah kembali ke kamar untuk belajar? Kalau begitu, aku akan kembali ke kamarku saja."
Rei akan beranjak dari tempatnya. Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja ada yang menegurnya. Dengan cepat, Rei pun langsung menengok. Ternyata yang telah memanggilnya itu adalah sekumpulan anak-anak perempuan dari kelas sebelah.
"Reeeiii! Ayo kemarilah...!"
"Rei ayo sini!"
"Sini, Rei! Waaah!"
Rei memasang wajah datar, lalu berjalan secara perlahan menghampiri beberapa perempuan yang telah memanggilnya itu. Saat Rei sampai di depan meja mereka, semuanya langsung memberikan satu tempat duduk untuk Rei. Tapi ternyata Rei tidak menduduki tempatnya itu.
"Ada apa?" tanya Rei dingin tanpa melirik ke arah semua anak perempuan yang ada di depannya itu.
"Reeii... ayo bersama dengan kami!"
"Iya, iya! Aku yang akan memesankan makanan kesukaanmu, deh!"
"Ayo sini, duduk!"
"Ah, maaf. Aku sedang sibuk saat ini. Lain kali saja, ya?" Rei ternyata menolak ajakan ke-5 anak perempuan itu. Tapi ternyata semuanya tidak merasa kecewa, melainkan tambah girang.
"Ah, baiklah, Rei! Tidak apa-apa."
"Ya. Kami tahu kau itu pasti sangat sibuk sekali."
"Ya. Kami bisa mengerti, kok! Tenang saja."
"Tapi lain kali kau bermain bersama kami, ya, Rei?"
"Jangan lupa untuk mampir ke kelas kami juga Rei!"
Semua anak perempuan itu melontarkan kata-kata mereka pada Rei dengan senangnya. Rei hanya bisa mengangguk saja, lalu setelah itu dia berbalik badan dan meninggalkan ke-5 anak perempuan itu tanpa berkata apa-apa lagi.
Tak jauh, Rei masih sempat mendengar bisikan anak-anak perempuan tadi. Rei bisa mendengar mereka semua memuji Rei dengan senangnya. "Huh, masih saja seperti ini. Lama-kelamaan aku jadi tidak suka dengan sikap anak perempuan di sekolah ini!"
****
Saat sampai di depan kamarnya, Rei pun mengetuk pintu lalu memutar kenop pintunya. Saat ia dorong, pintu kamarnya itu tidak dapat dibuka. "Loh? Masih dikunci, kah? Itu berarti... Dennis tidak ada di dalam kamar."
Rei merogoh kantung celananya untuk mencari kunci kamarnya itu. Ternyata kuncinya tidak ada di dalam sakunya. "Loh? Oh iya! Kuncinya kan ada di Dennis! Ah, payah... sekarang di mana anak itu?" gumam Rei lagi.
"Apa mereka semua ada di Rooftop? Karena biasanya si Dian suka membawa semuanya ke sana untuk mencari angin segar." Rei kembali melangkah secara perlahan mendekati tangga menuju ke bawah. "Kalau benar begitu, berarti aku harus menaiki dua tangga lagi, dong! Ah, ini melelahkan."
Rei menghentikan langkahnya, lalu berbalik badan. "Aku lupa. Tangga ke tiga ada di lorong berikutnya."
DRRRT... DRRTT....
"Eh? Apa ini?" Tiba-tiba saja Rei merasakan ada getaran di saku celananya. Lalu Rei memasukan tangan kanannya ke dalam saku dan mengambil sesuatu. Ponsel miliknya itu berdering. Ada telepon masuk.
Saat dibuka dan dilihat layarnya, ternyata yang menelpon dirinya itu adalah Akihiro. Rei bisa tahu karena terdapat tulisan "Dian Bodong" di layarnya itu.
Rei menekan tombol tengah ponselnya untuk menjawab panggilan dari Akihiro itu. Lalu ia menempelkan ponselnya ke telinga. "Halo?"
[ Rei! Akhirnya... kau menjawab ku juga! ]
"Ada apa, Dian?"
[ Ada masalah darurat! Cepatlah kau ke kamarnya Mizuki! ]
"Eh? Ada apa?"
[ Mizuki... tadi saat di kantin, tiba-tiba saja jatuh pingsan! Cepatlah kau ke sini. Keadaannya benar-benar gawat! Kami tidak bisa apa-apa. ]
"Baik! Baik! Aku ke sana sekarang!"
Mi–Mizuki sakit gara-gara kenapa, ya? Terlihat tampang Rei benar-benar terkejut saat mendengar kabar dari Akihiro itu.
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8