
Keesokan harinya-
Semua murid pergi ke pemakaman yang letaknya tidak jauh dari sekolah mereka. Mereka semua sedang mengadakan upacara pemakaman teman-teman yang sudah mendahului semuanya.
Para guru mendo'a kan semua korban diikuti dengan seluruh murid. Semua bersekspresi wajah sedih. Ada semua anak berduka cita dan beberapa dari mereka semua ada anak yang menangis. Tapi, tidak dengan Akihiro. Ekspresinya menunjukkan wajah kesal. Ternyata, ia masih belum terima kalau teman-temannya itu harus berakhir tragis.
****
Setelah pemakaman selesai, semua murid diwajibkan untuk Kemabli ke sekolahnya.
Rei berjalan sambil melebarkan tangannya. Ia senang sekali. "Huaah! Jadi begini rasanya keluar dari sekolah!"
"Oh iya, baru pertama kalinya Rei keluar dari lingkungan sekolah. Ia pasti merasa senang sekali." Batin Dennis sambil tersenyum melirik ke Rei.
Menghirup udara di desa memang menyegarkan. Tapi, ternyata Rei hanya bisa merasakan semua itu dalam waktu yang tidak banyak. Tak lama kemudian, semuanya sampai di Beautiful. D. High school lagi.
Saat di depan gerbang, Dennis bertanya pada Yuni, "Eh, soal yang kemarin, bagaimana kamu bisa tahu tentang pembunuhan Chika itu?" Dennis sepertinya masih ingin tahu banyak.
"Entahlah. Seseorang memberitahuku." Yuni menggeleng. Lalu ia pun kembali berjalan bersama Adel meninggalkan Dennis. Dennis hanya terdiam saja. Lalu, dari belakang, ada yang memegang pundaknya. Dennis terkejut. Lalu dengan cepat, Dennis menengok ke belakang. Ternyata itu Rei.
"Eh, kak Re-"
"Percuma saja kau tanya pada anak itu. Dia sangat misterius." Ujar Rei menyela perkataan Dennis. Lalu setelah ia mengatakan itu, Rei pun kembali berjalan menuju ke kamarnya.
"E, eh?" Dennis menelengkan kepalanya bingung.
"Rei benar. Dari dulu sampai sekarang, aku masih menyelidiki tentang anak itu." Akihiro mengejutkan Dennis Dari belakang.
"Ka, kak Dian!"
"Hei, panggil aku Hiro. Nama 'Dian' itu sudah menjadi sampah!" Akihiro mengibaskan tangannya sambil menggeleng. Lalu, tiba-tiba saja dari belakang ada yang memukul kepala Akihiro.
"Aduh!"
"Nama pemberian orang tua itu tidak boleh dianggap sepele! Kau harus menghargainya!" oceh Mizuki.
"Tapi, tapi nama 'Dian' itu adalah nama anak perempuan!" bentak Akihiro.
"Tetap saja tidak boleh. Kan, orang tua kita itu memberikan nama untuk kita itu sangat sulit. Kau ini bagaimana, sih?!" Mizuki melipat tangannya dan menggeleng kesal.
Dennis hanya bisa tertawa saat melihat mereka berdua bertengkar. Sepertinya, Akihiro dengan Mizuki itu cocok juga.
****
"Apaaaa?!"
Semuanya berteriak tak percaya saat mendengar cerita dari Mizuki. Dennis dan teman-temannya sedang berada di dalam kamar Rei dan Dennis.
Mizuki menundukkan kepalanya. "Iya. Maaf. Aku ingin bertemu keluargaku di Jepang. Mulai besok, aku akan pergi!"
Semuanya memasang wajah sedih saat mendengar berita kalau Mizuki akan pergi pulang ke rumahnya, yaitu di Jepang. Kan jauh sekali!
Lalu, tak lama kemudian, Mizuki kembali tertawa. "Haha..., kalian tenang saja. Secepatnya, aku akan Kembali ke sini lagi dan bertemu dengan kalian semua, kok!"
Semuanya merasa lega sekaligus senang. Lalu, Rei mendekati Mizuki. Ia mengulurkan tangannya. "Selamat ya atas keberhasilanmu!" ucap Rei.
"Eh, maksudnya apa?" tanya Dennis bingung.
Setelah Rei dan Mizuki berjabat tangan, Rei pun menjawab pertanyaan Dennis itu. "Sebenarnya, Mizuki sudah menang lomba membuat puisi di sekolah ini. Ia mendapatkan uang tunai untuk ia pergi ke bandara dan pulang ke rumahnya." Jelas Rei.
Semuanya bersorak dan bertepuk tangan. Mereka senang sekali Mizuki bisa mewujudkan impiannya itu untuk bisa bertemu dengan keluarganya hanya dengan cara ia memenangkan lomba membuat puisi.
"Sudah dimuat di majalah, loh!" Rei menunjukkan sebuah buku majalah pada semuanya. Dennis mengambilnya.
"Aku akan membacanya!" kata Dennis.
****
Saat di UKS-
"Terima kasih sudah mau menjemput adikku, Kak Dennis!" Rashino membungkukkan badannya.
"Baiklah! Sekali lagi terima kasih!" Rashino kembali membungkuk.
****
TAP! TAP....
"Baiklah. Sekarang aku harus cepat kembali ke kamar. Rei pasti..., eh?" Dennis tersentak. Ia melihat ada Akihiro yang sedang mengintipi lorong menuju ke kamarnya Dennis itu.
"Eh? Kak Dian? Apa yang dia lakukan di situ?" batin Dennis. Dennis pun kembali melangkahkan kakinya setelah ia berhenti sejenak. Ia mengendap-endap, berniat akan mengagetkan Akihiro.
Tapi, saat Dennis mengangkat kedua tangannya untuk menepuk pundak Akihiro, Tiba-tiba saja Akihiro berbalik badan. Ia menengok ke arah Dennis. Dennis sangat terkejut.
"Eh, ssstt... jangan berisik. Lihat itu!" Akihiro Kembali mengintipi lorong itu. Karena penasaran, Dennis pun juga ikut mengintip. Ia terkejut. Karena di sana ada Rei dan Mizuki yang sedang... Eh?!
Mereka saling mendekat dan akan melakukan perciuman?! Eh! Apa-apaan itu?!
Rei membuka matanya, seketika ia melirik ke Akihiro. Lalu dengan cepat, Akihiro langsung berbalik badan. Ia mendorong Dennis ke tembok dan membekap mulutnya agar tidak berisik.
"Haduh, ada apa sih?!" gerutu Dennis dalam hati.
"Untung saja. Rei pasti tidak tahu kita ada di sini." Bisik Akihiro pada Dennis.
"Yap! Kalau begitu, aku ingin ke UKS dulu." Itu suara Rei yang semakin mendekat. Akihiro dan Dennis terkejut. Mereka akan melarikan diri, tapi sebelum itu, tiba-tiba saja, Rei muncul. Rei berjalan melewati Akihiro dan Dennis yang sedang berdiri di pinggir tembok dengan ekspresi terkejut mereka.
Selama berjalan di hadapan Akihiro dan Dennis, Rei selalu melirikkan mata tajamnya pada Mereka berdua. Seketika setelah menatap pandangan Rei itu, Dennis dan Akihiro langsung merasa merinding.
Dan pada akhirnya, Rei pun semakin berjalan menjauh. Akihiro dan Dennis menghembuskan nafas lega sambil mengelus dada mereka. Lalu setelah itu, Akihiro dan Dennis kembali mengintip. Ternyata di depan kamarnya Mizuki masih ada si Mizuki yang berdiri di tempatnya tadi. Ia terlihat senang. Matanya terpaku pada sebuah amplop di tangannya. Lalu setelah itu, Mizuki pun melompat kegirangan dan langsung memasuki kamarnya.
Seketika, perasaan Dennis jadi tidak enak dengan Akihiro. Ia bisa merasakan apa yang dirasakan Akihiro saat ini. Dennis menduga kalau Rei telah menembak Mizuki dengan perasaan cinta. Padahal, belum lama, Akihiro baru saja putus dengan Mizuki. Dan saat ini, Akihiro sepertinya juga masih menyukai Mizuki.
Setelah Mizuki masuk ke kamarnya, Akihiro pun berbalik badan. Ia pergi ke koridor di sebelah kirinya. Entah dia mau ke mana, tapi Dennis tidak ingin mengikuti Akihiro pergi.
****
Malam harinya-
Di kamar, Dennis dan Rei akan bersiap untuk tidur. Dennis sedang menyiapkan waktu berdering pada jam alarm-nya. Lalu setelah itu, ia menaruh jam-nya itu di atas meja, lalu membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur.
Dennis mulai memejamkan matanya. Rei mematikan lampu. Setelah itu, Rei juga membaringkan tubuhnya.
"Jangan salah paham."
Dennis Kembali membuka matanya. Ia terkejut karena, tiba-tiba saja ia mendengar suara Rei yang berbicara. Lalu, Dennis pun menengok ke Rei. Ia kembali terkejut karena saat ia menengok, Dennis telah melihat Rei yang sedang menatap dirinya dengan mata kuningnya itu.
"A, apa?" tanya Dennis karena ia tidak mendengar jelas perkataan Rei tadi.
"Jangan salah paham." Rei kembali mengucapkan katanya lagi. "Aku dan Mizuki tidak berpacaran."
Dennis tersentak. "Eh? Apa Rei melihat diriku tadi?"
"Emmm, kalau tidak pacaran, kenapa kakak mencium Mizuki, tadi?" tanya Dennis. Padahal ia merasa tidak enak karena telah mengatakannya.
"Memangnya terlihat seperti ciuman, ya? Tidak kok. Aku tidak berciuman. Saat itu, kepala Kami memang saling mendekat karena, ada suatu hal yang ingin kubisikkan pada Mizuki. Makanya kami saling dekat." Jelas Rei.
"Oh, lalu ba-"
"Lalu, kalau soal surat itu..., tenanglah. Itu bukan surat cinta. Itu amplop berisi uang tabunganku yang aku berikan pada Mizuki sebagai tambahan untuknya saat ia pulang besok." Rei menyela.
Dennis hanya bisa mengangguk. Ia ternyata salah. Rei dan Mizuki memang tidak pacaran. Tapi..., Akihiro pasti menganggap kalau mereka berdua itu pasti punya hubungan dekat yang akan membuatnya semakin iri.
Pokoknya, besok Dennis akan menceritakan tentang kesalahpahaman ini.
Tak lama setelah mengatakan itu, Rei pun menutup matanya. Ia sudah tertidur lelap? Cepat sekali!
Kalau begitu, Dennis juga harus tidur, walaupun si penjaga malam yang ia takuti itu telah tiada lagi....
To be Continued- Eps 24 >>>>