Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 4–Kasus Baru


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


****


Siang harinya–


“Dennis! Dennis!!” Ibunya berteriak memanggil nama anaknya itu. Tapi tidak ada sahutan sama sekali. Sampai akhirnya, beliau pun mencari Dennis sampai ke seluruh rumah.


Ternyata di dalam rumah, Dennis tidak ada. Ibu Dennis berjalan ke teras depan. Sekali lagi ia berteriak memanggil Dennis. Karena ia pikir, anak itu pasti sedang bermain di depan dengan teman-temannya.


Tapi masih saja tidak ada yang menyahut. Ibu Dennis pun melangkah sedikit ke depan, lalu mengintip lewat tembok rumah. Kan biasanya, Dennis dengan yang lainnya suka mengumpul di saung yang ada di belakang rumahnya.


Tapi saat dilihat, ternyata di saung itu tidak ada siapapun. “Haduh... Ke mana anak itu? Giliran sedang dibutuhkan, dia malah menghilang!”


“Eeh... Bu Mirna!” Ya. Nama Ibunya Dennis itu, Mirna Rahmawati. Dan orang yang baru saja memanggilnya tadi itu adalah tetangga samping rumah neneknya Dennis. Ternyata orang itu juga mengenal Ibunya Dennis.


“Eeeh... apa kabar? Sudah lama Ibu tidak ke sini. Kapan datangnya?” tanya orang itu. Kita panggil dia Bu Asih saja, ya?


“Oh, Bu Asih, kan? Saya baik, Bu!” jawab Bu Mirna dengan senyum tulusnya.


“Oh syukurlah kalau begitu. Eh, mau ikut saya, gak?”


“Ke mana, Bu?”


“Ke rumah Bu Nia. Suaminya meninggal dunia. Baru pagi ini, Bu! Ayo ikut saya melayat ke rumah beliau.” Ajak Bu Asih.


“Eh, yang benar, Bu? Memangnya suaminya kenapa?” tanya Bu Mirna cemas.


“Katanya bunuh diri, Bu! Istrinya melihat suaminya bunuh diri dengan gantung diri di kamar mandi.” Bisik Bu Nia.


Seketika, Bu Mirna terkejut. “Seram sekali. Kalau begitu, saya ikut, Bu! Sebentar, saya kunci pintu dahulu.”


“Baik, Bu!”


****


Setelah pukul 11 siang, Ibu Dennis kembali lagi ke rumahnya. Dia mengambil kunci rumah yang ia sembunyikan di dalam sepatu yang ada di atas rak sepatu di depan jendela.


“Eh? Kuncinya masih di sini? Si Dennis belum pulang juga? Haduh... anak itu pergi ke mana, sih? Mau main gak bilang-bilang.” Ibunya Dennis menggerutu sambil membuka pintu.


Tapi sebelum Ibu Dennis melangkah masuk ke dalam rumahnya, tiba-tiba ia mendengar suara anaknya dari belakangnya. Dengan cepat, Ibunya Dennis berbalik badan.


Ternyata benar saja. Anaknya itu baru pulang. Dennis bersama dengan semua temannya. Mereka sedang berbincang dengan asik sambil berjalan ke arah rumah neneknya Dennis.


Tapi tiba-tiba saja langkahnya terhenti saat mereka melihat ada Ibunya Dennis di depan pintu. Menatap mereka dengan tajam sambil berkacak pinggang. “Seharian ini dari mana saja kalian?” tanya Ibunya Dennis dengan nada suara yang tegas.


“Ah... kami hanya main warnet sebentar di sana.”Dennis menjawabnya dengan ragu. Sebenarnya ia sedikit takut karena tatapan dingin dari Ibunya itu.


“Sebentar apanya? Kalian menghilang selama 3 jam tahu!” Ibu Dennis membentak.


Seketika, semuanya jadi terkejut. Lalu dengan cepat, mereka membungkuk sambil mengucapkan, “Kami minta maaf! Tadi kami bermain 3 jam setengah di sana. Kami sangat keenakan karena seru sekali.” Mereka mengucapkan kata 'maaf' dengan kompak.


Ibu Dennis menghembuskan nafas berat. Lalu beliau menjawab permintaan maaf anaknya itu. “Baiklah, tidak apa. Tapi lain kali, sebelum kalian ingin pergi, kalian harus izin dulu pada Ibu. Kan kalau kalian tidak izin, Ibu jadi tidak tahu keberadaan kalian. Nanti Ibu jadi cemas.”


Semuanya mengangguk paham. “Baiklah, Bu! Kami tidak akan mengulanginya lagi!” ucap mereka serontak.


“Emm... Itu Bu... Setelah kami masuk untuk minum sebentar, kami boleh main ke saung itu lagi, tidak?” tanya Dennis sedikit agak ragu.


“Baiklah. Tapi mainnya jangan jauh-jauh, ya?”


“Baiklah, Bu!”


****


Sekarang semuanya sedang berkumpul di saung yang biasa dijadikan tempat berkumpulnya kelompok itu. Sekalian juga sebagai tempat bermain pastinya.


Lalu tak lama setelah mereka berbincang sebentar di saung itu, tiba-tiba saja Nashira datang mengejutkan mereka semua. Nashira memang tipe anak yang suka mengejutkan orang lain ternyata. Setelah Nashira, muncul juga kembarannya yaitu Rashino.


Si kembar kali ini benar-benar tidak bisa dibedakan. Karena... Nashira melepas wig yang biasa ia pakai untuk menjadi anak perempuan. Sekarang penampilannya benar-benar mirip dengan kakaknya.


Rashino naik ke atas saung. Lalu ia membantu adiknya juga untuk ikut naik bersamanya. Karena kalian tahu, kan? Kalau Nashira itu sudah tidak memiliki kaki kiri lagi.


“Ah, anu... Nashira... Kenapa kau mengubah penampilanmu?” tanya Dennis pada Nashira. Tapi matanya menatap ke Rashino. Sepertinya Dennis salah orang. Ia pikir, orang yang sedang duduk di sampingnya itu adalah Nashira. Tapi sebenarnya, itu Rashino.


“Eh? Kenapa kau menatapku? Jangan bilang kalau aku ini si Nashira? Iya, kan?” tanya Rashino sambil mengerutkan keningnya pada Dennis.


Dennis tersentak dengan ekspresi Rashino yang telah membuatnya tidak nyaman itu. Sepertinya ia (Rashino) kesal karena Dennis tidak bisa membedakan si kembar.


“Ah, tidak. Bukan begitu, kok! Hehe....” Dennis menggeleng sambil mengibaskan kedua tangannya.


“Umm... Sebenarnya wig yang suka kupakai itu basah. Karena kemarin aku lupa untuk membukanya disaat aku sedang mandi. Sampai sekarang belum kering juga, haha...” Jawab Nashira sambil terkekeh. Ia menjawab pertanyaan Dennis yang tadi.


“Oh jadi begitu.” Dennis mengangguk paham. Lalu ia melirik ke arah Rei. “Hei, Kak Rei? Apa sekarang kamu belum mau kembali ke rumah orang tuamu?” tanya Dennis.


Rei tersentak. Lalu ia membuang pandangannya dari Dennis sambil memegang bagian belakang lehernya. “Emm... aku hanya... Ah, entah kenapa aku malas kembali ke sana.” Jawab Rei santai.


Dennis terkejut. “Eh? Kenapa memangnya, kak?”


“Umm... aku ingin selalu ada di sini. Karena kalau aku kembali, mereka pasti tidak akan membiarkan aku keluar rumah lagi. Seperti saat itu.”


“Eh? Saat itu?”


“Iya. Saat aku masih ada di sana. Mereka tidak membiarkan aku keluar rumah sama sekali. Makanya saat itu aku kabur lewat jendela kamar saja.”


“Mungkin saat itu kamu kan masih sakit, Rei! Orang tuamu khawatir kamu bakal terluka lagi nanti.” Kata Mizuki.


Rei tidak menjawab. Ia jadi terdiam. Lalu Dennis kembali membuka mulutnya dan berkata, “Em... sebaiknya kakak kembali saja. Karena orang tua kakak pasti cemas. Lagi pula, kakak kan sudah sembuh. Nah, ini kesempatan kakak untuk membuktikan pada orang tua kakak kalau Kak Rei itu bisa menjaga dirinya sendiri. Berjanjilah pada mereka kalau kakak tidak akan membuat orang tua kakak cemas lagi.”


Rei tersentak. Ia menatap Dennis dengan matanya yang sedikit dilebarkan. Matanya berbinar-binar. Terlihat ekspresi Rei yang ingin menangis. “Kau benar, Dennis. Kalau dipikir-pikir, aku juga jadi rindu pada orang tuaku. Dan juga... adik kecilku.”


“Iya. Saat kami ke rumahmu, kami tidak melihat adikmu. Iya kan, Dennis?” Akihiro menimpali.


Dennis mengangguk. “I–iya!”


“Emm... entahlah. Ah kalau begitu, aku ingin bersiap. Teman-teman, aku akan pulang ke rumahku, ya?” Rei beranjak dari tempatnya. Ia akan turun dari atas saung.


Tapi sebelum itu, tiba-tiba saja Nashira menarik tangan Rei. “Rei tunggu dulu!”


“Eh? Rashino ada apa?” Rei menyahut. Lalu ia kembali duduk di tempatnya.


“Aku Nashira. Eh itu... sebenarnya tujuanku dengan kakak ke sini karena ingin memberikan kabar buruk. Makanya kau jangan pergi dulu, Rei!”


“Eh, kabar buruk apa?” tanya Dennis sedikit terkejut.


“Apa kalian tahu siapa yang meninggal tadi? Yang ada di rumah itu.” Nashira berbisik, lalu ia menunjuk ke arah rumah yang sedang ramai dipenuhi orang banyak. Rumah itu berada tak jauh dari rumah Neneknya Dennis.


“Eh? Oh iya aku tahu.” Dennis mengangguk. “Ibuku yang memberitahuku. Katanya orang yang meninggal itu... dia... katanya bunuh diri.”


Seketika semuanya terkejut. Nashira mengangguk pelan. “Iya aku tahu. Tapi kalau kataku, orang itu bukan bunuh diri karena keinginannya.”


“Eh, apa maksudmu?” tanya Rei bingung.


“Lihat ini!” Rashino memperlihatkan layar ponselnya pada semua. Sebuah foto bagian depan mobil. “Tadi kami baru saja dari rumah itu. Dan kalian tahu, kan? Mobil truk yang ada di samping rumah itu?” tanya Rashino.


Semuanya mengangguk.


“Nah, lihatlah! Kami menemukan bercak darah di bagian bumper mobilnya.” Kata Nashira sambil menunjuk ke arah darah yang ia maksud di dalam foto itu.


Semuanya mendekat. Memperhatikan foto mobil yang Rashino ambil di ponselnya. Ia yang memotret mobil itu untuk dijadikan petunjuk. Karena sepertinya si kembar mencurigai sesuatu.


“Eh iya! Kok?” Akihiro jadi bingung. “Tunggu dulu! Itu... benar-benar darah?” tanyanya.


“Iya. Kami sudah memeriksanya. Darahnya sudah mengering. Dan sepertinya darah itu sudah tertempel di sana sejak lama.” Jelas Nashira.


“Lalu sekarang masalahnya apa?” tanya Yuni datar.


“Nih! Seperti yang kubilang tadi, sepertinya orang yang meninggal itu bukan karena bunuh diri dengan disengaja. Tapi orang itu meninggal karena memang dibunuh oleh seseorang!” terang Nashira.


“Eh, kok bisa? Sebenarnya apa yang sedang kalian pikirkan sekarang?” tanya Dennis.


Rashino akan menjelaskan. “Nih, menurutku sepertinya orang yang meninggal itu telah mendapat pesan Kematian. Dia terbunuh karena pesan itu. Kalian ingat kan berita yang sedang viral itu?”


“Berita tentang Terror di Internet itu? Apa kau masih percaya dengan kasus itu?” tanya Rei tidak percaya.


“Iya tentu saja! Karena kasusnya sudah tersebar ke mana-mana dan juga memakan banyak korban. Mungkin saja orang itu mendapat pesan kematian, lalu diberikan tantangan lewat pesan itu. Tapi karena orang itu tidak ingin atau mungkin dia tidak bisa, maka seseorang datang dan langsung membunuhnya!” jelas Rashino.


“Ah, masa?” Dennis mengerutkan keningnya. Ia terlihat tidak percaya dengan penjelasan Rashino itu. “Bukankah orang yang meninggal itu mati karena ia gantung diri di kamarnya?”


“Eh? Kau tahu dari mana?” tanya Nashira.


“Ibuku yang memberitahu. Dia juga sudah mendatangi rumah orang itu. Jika dia dibunuh oleh orang lain, lalu bagaimana caranya si korban bisa gantung diri begitu tanpa ada luka sedikit pun?” jelas Dennis.


Nashira dan Rashino terkejut. “Eh? Memangnya tidak ada luka?!”


“Lalu... dari mana darah itu berasal?” tanya Rashino sambil menatap layar ponselnya lagi.


Dennis menggeleng. “Entahlah! Aku tidak tahu.”


“Okelah kalau begitu! Biar kami sendiri yang mencari tahu apa yang sebenarnya sedang terjadi!” Rashino berdiri dari tempatnya sambil berkacak pinggang dan tersenyum.


“Iya! Biarkan kami si Detektif Twins saja yang akan memecahkan kasus ini!” timpal Nashira dengan tegas.


“Eh, Detektif Twins?” Mizuki menelengkan kepala.


“Iya itu nama yang kami buat. Karena kami suka dengan kasus seperti ini. Ayo Nashira! Kita cari pelakunya!” ajak Rashino dengan penuh semangat.


Nashira mengangguk. Lalu secara perlahan, ia turun dari atas saung. Ia juga dibantu oleh kakaknya untuk turun dari sana. Setelah itu, Nashira kembali mengambil tongkatnya untuk berjalan, lalu si kembar akhirnya pergi meninggalkan teman-temannya yang masih di atas saung.


“Eh? Mereka berdua terlihat bersemangat sekali, ya?” Mizuki tersenyum sambil memandang kedua anak kembar temannya itu yang perlahan mulai menjauh dari tempatnya.


“Iya. Tapi untuk apa mereka ingin sekali mencari tahu tentang kematian orang itu?” pikir Dennis bingung.


“Mungkin mereka ingin bergaya seperti seorang detektif yang kayak ada di anime-anime gitu, loh!” jawab Akihiro dengan tertawa kecilnya.


“Oh benarkah? Haha... mereka lucu sekali!”


“Iya. Tapi yang dibilang Terror Internet itu bodoh sekali. Itu semua hanya omong kosong.” Gumam Rei.


“Eh, apa kau tidak percaya, Rei?” tanya Mizuki.


Rei menggeleng pelan. “Tidak. Karena itu semua tidak mungki ada. Dan berita-berita viral itu mungkin saja hanya hoax!”


“Tentu saja kamu tidak percaya kalau tidak melihatnya secara langsung!” tegas Mizuki. “Rei, mau percaya atau tidak, kita harus tetap berhati-hati. Karena siapa tahu saja berita itu benar adanya!”


Rei hanya mengangguk. “Ah, terserah kamu saja. Aku tetap tidak percaya.”


Rei beranjak dari tempatnya, lalu turun dari saung. Ia berjalan pelan mendekati rumah Neneknya Dennis.


Akihiro menegurnya. “Hei, kau mau ke mana?”


“Aku ingin mempersiapkan baju-bajuku. Karena aku ingin pergi ke rumah orang tuaku.” Jawab Rei tanpa menengok ke lawan bicaranya. Ia tetap saja berjalan.


Lalu semuanya pun ikut turun juga dari saung. Mereka mengejar Rei. Karena mereka juga ingin membantu Rei untuk mempersiapkan semua yang ingin ia bawa.


*


*


*


To be Continued-