
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
BRRMMM....
Saat Dennis dan teman-temannya sudah keluar dari Bus, Bus itu pun langsung pergi dari halte bus yang ada di depan jalan sepetak menuju ke Sekolah Dennis. Yang pastinya, pengemudi bus itu akan pergi mencari penumpang yang lainnya.
"Howaaah! Akhirnya kita sampai juga. Welcome back to School, friends!" Akihiro bersorak senang. Hanya ia sendiri yang bersikap seperti itu. Sedangkan anak lainnya hanya memperhatikan Akihiro dengan heran.
"Dennis, ayo kita pergi sekarang." Ajak Rei sambil menarik lengan baju Dennis. Dennis pun mengangguk, lalu dari belakang ia mengikuti langkah Rei. Begitu juga dengan yang lainnya. Mereka berlima melewati Zebra cross untuk menyeberang karena jalan menuju ke sekolah mereka itu ada di seberang jalan sana.
Terlihat ada banyak murid lain juga yang melewati jalan sepetak yang penuh dengan rerumputan kecil. Di sekeliling jalan itu dipenuhi oleh semak dan semakin ke dalam, semakin terasa angin pagi yang berhembus dan dedaunan yang gugur dari banyaknya pepohonan di sana.
"Hah, sudah lama aku tidak melewati jalan ini lagi. Hehe... terakhir kali saat aku dengan yang lainnya kabur dari sekolah hanya untuk mencari dirimu, Kak Rei." Ujar Dennis senang.
"Iya. Aku juga." Rei mengangguk. Lalu ia bergumam, "Apa sekarang Mizuki sudah ada di sekolah?"
"Oh iya, Kak Mizuki ada di mana, ya?" tanya Adel.
"Entahlah... tapi semoga saja dia sudah ada di–"
"Hoooy! Minnaaa!"
Semuanya terkejut. Baru saja mereka membicarakan tentang Mizuki, tiba-tiba saja suara gadis Jepang itu muncul. Dennis dan teman-temannya berbalik badan.
"Wah, itu memang benar si Mizuki!" Akihiro tersenyum. Lalu ia melambai pada Mizuki. "Hoooy, Mizuki-chan!"
Ternyata memang benar si Mizuki yang datang. Kali ini dia sendirian. Kan biasanya dia bersama dengan adiknya, Sachiko. Tapi sekarang, anak kecil perempuan itu sudah tidak ada di samping kakaknya lagi. Sachiko sudah kembali ke Jepang bersama dengan kakak tertuanya Mizuki.
Mizuki berhenti berlari saat ia sudah berada di dekat dengan teman-temannya. Nafasnya terengah-engah karena mungkin ia kelelahan. Entah Mizuki sudah berlari dari mana, dan sepertinya juga dia membawa barang terlalu banyak.
Tas sekolah yang ia gendong di belakangnya. Di tangan kanannya, ia menggenggam koper berisi semua baju-bajunya. Dan tas kecil yang ia gendong di depan. Sepertinya tas kecil itu berisi cemilan kesukaan Mizuki, yaitu stik Poky.
"Hai teman-teman! Haduh... capek sekali. Hehe... kalian tahu, tidak? Aku dari rumah neneknya Dennis itu tidak naik kendaraan apapun, loh! Hah... hah..." Ujar Mizuki. Lalu ia membuka tas kecilnya yang ia gendong di depan untuk mengambil botol air minum yang ia bawa.
Mizuki membuka tutup botolnya, lalu meminum isi botol air itu sampai airnya menetes ke luar. Setelah rasa hausnya hilang, Mizuki kembali menutup botolnya, lalu mengelap mulutnya yang basah dengan tangan kirinya.
"Loh? Kok tidak naik Bus? Kenapa?" tanya Rei.
"Hehe... aku malas menunggu di halte. Jadi... dari jam setengah tujuh tadi, aku langsung saja jalan ke sekolah. Tapi saat di tengah jalan, aku melihat ada Bus yang lewat. Tapi tidak mungkin juga Bus itu mau berhenti kalau bukan di depan haltenya." Jelas Mizuki.
Semuanya mengangguk paham. Lalu setelah itu, mereka mengajak Mizuki untuk melanjutkan perjalanan menuju ke gerbang sekolahnya.
Saat pintu gerbang sudah terlihat, Dennis dan Akihiro pun berlari mendekati pintu gerbang sekolah mereka yang sudah terbuka lebar untuk semua murid yang datang.
Dennis ingin segera masuk dan melihat keadaan sekolahnya yang sudah direnovasi itu. Pasti jadi semakin bagus!
Tapi sebelum Dennis memasuki lingkungan sekolah, tiba-tiba saja Akihiro menarik tangannya. Dennis meneleng bingung. Kenapa Akihiro tidak membiarkan dirinya untuk masuk ke dalam sekolahnya itu?
"Kak Dian? Ada apa?" tanya Dennis.
"Dennis, sebelum masuk, seharusnya kau itu menepuk tangan Chika dulu di patung yang mirip dengannya." Jawab Akihiro. "Kalau tidak, nanti kita bisa dapat musibah selama kita berada di dalam lingkungan sekolah."
Dennis terkejut. Ia baru mengetahui peraturan yang seperti itu. Lalu pandangan matanya melirik ke arah beberapa murid yang menghampiri ke empat patung yang berwujud seperti Chika di depan pintu gerbang. Patung itulah yang Dennis lihat saat ia pertama kali datang ke sekolah barunya itu.
"Menyentuh tangannya Chika? Oh iya. Semuanya melakukan hal itu. Tapi... eh, apa kalian percaya dengan mitos itu?" tanya Dennis heran.
"E–eh? Maksud Kak Rei apa?"
"Hei, apa kau tidak ingat? Dulu... saat hantu Chika masih bergentayangan di sekolah ini, ia selalu mengganggumu dan berusaha untuk membunuhmu, kan?" tanya Akihiro pada Dennis.
Dennis menyentakan matanya, lalu ia mengangguk pelan. "Nah! Itulah sebabnya."
"Eh, apa?"
"Saat pertama kali kau datang ke sekolah ini, kau pasti tidak menyentuh tangan Chika di patung, kan? Kau langsung saja masuk. Karena sebagai murid baru, kau wajib menyentuh patung itu. Kalau bisa, semua patung Chika yang ada di sini. Tujuannya untuk meminta izin pada penghuni yang ada di sekolah ini. Itu sebabnya si Chika marah dan suka meneror dirimu mulu!" jelas Akihiro.
"Eh? Tapi... kan... sebelumnya aku tidak tahu. Ini tidak adil! Kenapa Chika hanya mau menerorku hanya karena hal kecil seperti itu? Kan sebagai murid baru juga, aku belum tahu banyak tentang peraturan di sekolah ini." Gerutu Dennis.
"Nah, maka dari itu, jika sekarang kau sudah tahu, kau harus melakukan peraturan pertama sebelum masuk ke dalam lingkungan sekolah." Ujar Rei. Lalu ia mendekati satu patung Chika yang ada di depan gerbang. Di sana, ia mengelus-elus tangan Chika dengan lembut sambil berkata di dalam hatinya kalau ia meminta izin untuk pergi memasuki sekolahnya itu. Dan ia tidak lupa berharap agar dirinya dan juga teman-temannya tidak akan mendapat musibah selama berada di dalam lingkungan sekolah.
"Nah, sekarang kau cobalah. Mitos lainnya yang mungkin dipercayai oleh setiap murid adalah, patung Chika ini bisa melindungimu. Kau bisa berharap keselamatanmu pada Chika." Kata Rei.
Dennis meneleng. "Maksudmu, patung Chika ini bisa memberikan keberuntungan padaku jika aku menyentuh tangannya?" tanya Dennis.
Semuanya mengangguk. Kalau begitu, Dennis juga ingin mencobanya. Ia pun menyentuh patung Chika yang ada di dekat Rei. Dennis memejamkan matanya sambil membuat permohonannya.
"Aku berharap, di ujian akhir semester kali ini, aku bisa mendapatkan nilai yang terbaik. Dan aku akan segera lulus dari sekolah ini dengan nilai yang sempurna!" Itulah permohonan yang dibuat oleh Dennis.
Setelah ia selesai, Dennis pun menjauhi patung Chika itu. Lalu dilanjutkan dengan anak yang lainnya.
Setelah semuanya selesai, Dennis dan teman-temannya pergi melangkah memasuki lingkungan sekolah mereka. Dari balik gerbang, bisa terlihat Sekolah Beautiful Death High School yang terlihat semakin bagus semenjak direnovasi.
Dennis dan teman-temannya berhenti di tengah lapangan untuk memperhatikan gedung sekolah baru mereka. Semuanya memuji bangunan baru yang indah. Tidak ada lumut dan retakan lagi di setiap tembok bangunan. Lalu... taman sekolah yang sudah ditumbuhi oleh banyak bunga yang indah. Semua murid pasti menyukainya.
"Wah! Keren sekali. Pasti kamar kita juga semakin bagus." Akihiro terlihat senang. Ia bangga sekali dengan asramanya yang semakin bagus. Lalu setelah itu, Akihiro pun berlari untuk pergi ke kamarnya.
Begitu juga dengan Adel dan Yuni. Lalu dilanjutkan dengan Mizuki juga yang ikut berlari. Dan sekarang yang tersisah hanya Dennis dan Rei saja yang masih berdiri di tempatnya.
"Sekolah yang bertambah keren." Gumam Rei. "Pasti pengamanannya juga semakin ketat!"
"Whoaah! Aku tidak percaya ini. Sekolah yang padahal ada di dalam hutan ini saja bisa jadi sekeren sekolah yang ada di kota! Semoga saja aku bisa mendapat banyak teman nanti!" Girang Dennis.
"Ya... tapi, perasaanku tidak enak." Rei bergumam sambil menundukkan kepalanya.
****
"Yah... sekarang semuanya, selamat datang di sekolah baru kalian. Khu~ khu~ khu~" Seseorang yang sedang mengawasi para murid lewat ruang pengawas pun bergumam seperti itu. Entah dia siapa dan dirinya ada di mana saat ini. Tapi... di sekelilingnya, ada beberapa layar yang menunjukan semua tempat yang ada di sekolah itu. Layar itu terhubung oleh kamera CCTV yang sudah di pasang di setiap tempat yang penting di sekolah. Dan saat ini... orang misterius itulah yang sedang mengawas lewat kamera pengintai.
Lalu mata orang itu melirik ke arah satu layar yang menyorotkan sosok Rei dan Dennis yang sedang berdiam diri di tengah lapangan. CCTV-nya terpasang di pohon kelapa yang ada di pinggir lapangan. Otomatis, jika Dennis dan Rei berdiri di sana, maka kamera pengintai itu bisa menangkap gambar mereka.
"Yaah... itulah dia. Anak yang berniat untuk membunuhku." Orang yang mengawas itu tersenyum miring saat ia melihat Rei lewat layar. "Tapi apakah kau bisa membunuhku? Atau aku duluan yang akan membunuhmu?"
Rei melirik. Ia melihat ke arah CCTV yang terpasang di pohon kelapa itu. Ia mensipitkan matanya dan menatap tajam pada kamera pengintai yang sedang memperhatikan dirinya.
Rei jadi curiga pada kamera itu. "Sepertinya... ada yang sedang mengawasi ku."
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @Pipit_otosaka8