
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
Saat di tengah jalan, Dennis dengan tenang mengemudikan mobilnya di jalan yang terlihat aman. Karena di jalan raya yang ada di kota, hanya dilewati oleh beberapa mobil saja. Intinya tidak banyak.
Beberapa mobil yang lewat itu selalu mengebut dan melewati mobil Dennis. Melihatnya, Mizuki jadi terheran dengan cara mengemudi Dennis. "Eh, jalanan kan lagi sepi. Kenapa kau tidak menginjak gas lebih ke dalam lagi? Biar cepat sampai."
"Maaf, Kak Zuki. Aku kelelahan. Bahkan sekarang ini aku sedang mengantuk. Jadi akan bahaya jika mengebut walau jalanan sedang sepi."
"Eh? Kenapa kau tidak memberikan setirnya padaku saja?"
"Kakak bisa menyetir, kah?"
"Emm... aku tidak bisa. Tapi Onii-chan bisa melakukannya." Ujar Mizuki. Matanya melirik ke jendela mobil yang ada di sampingnya. Ia bergumam, "Nanti biarkan Onii-chan saja yang mengemudikan mobilmu."
"Oh, jadi kakakmu bisa menyetir juga? Baiklah! Nanti saat kembali ke rumah, aku akan membiarkan kakakmu itu menyetir mobil ini, ya? Nanti akan aku arahkan jalannya." Ujar Dennis. Mizuki mengangguk. Tak lama lagi mereka akan sampai di bandara. Banyak pesawat yang lewat untuk pergi membawa penumpang, dan ada juga pesawat yang besar lewat di langit malam yang ingin mendarat di bandara. Tentu saja. Biasanya dekat bandara itu, banyak sekali pesawat yang ukurannya besar-besar suka lewat. Dan setiap kali lewat, selalu mengeluarkan bunyi keras yang kadang sangat mengganggu.
****
Saat sampai di bandara, Dennis akan menghentikan mobilnya di depan. Ia tidak menuju ke tempat parkir karena akan merepotkan. Jadi... sementara Mizuki menyusul kakaknya, Dennis akan menunggu di mobil.
Saat di dalam, Mizuki melihat kakaknya sedang duduk sendirian di kursi tunggu yang ada di dekat kasir. Di sana, kakaknya itu sedang memainkan ponselnya. Barang bawaannya terlihat banyak. Dia menggendong tas besar di punggungnya, lalu dua koper di samping kakinya.
"Onii-chan!" Mizuki memanggil lelaki muda yang ia panggil kakaknya dalam bahasa Jepang itu. Kakaknya menengok, lalu berdiri. Ia sudah menunggu lama sampai Mizuki datang. Dan akhirnya, adik pertamanya itu bisa datang juga untuk menjemput dan bertemu dengannya.
"Genki desuka, Mizuki-chan?" Kakaknya menyapa. Dia masih menggunakan bahasa Jepang, ya? Begitu juga dengan Mizuki. Untuk jawabannya, Mizuki hanya menjawab, "Genki desu" yang artinya dirinya baik-baik saja.
Setelah berbincang sebentar, tanpa menunggu lama, Mizuki dengan kakaknya itu pergi keluar dari gedung Bandar Udara. Mizuki membantu membawa satu koper, sedangkan Kakaknya tetap membawa barang-barang yang tersisah.
Saat mereka berdua sampai di mobil Dennis, Mizuki melihat Dennis sudah tertidur di sandaran kursi mobilnya. Mizuki menegur Dennis, dan langsung saja karena terkejut, Dennis membuka mata dan terbangun. Untung dia belum terlalu terlelap dalam mimpi.
"Dennis, kenalin, ini kakakku. Namanya Natsuki Hanashita." Mizuki memperkenalkan kakaknya itu pada Dennis. Setelah perkenalan itu, kakak Mizuki yang dipanggil Suki-chan oleh Mizuki itu pun membungkukkan tubuh dan berkata, "Yoroshiku ne?". Bahasa yang biasa digunakan setelah menyebutkan nama dalam perkenalan bahasa Jepang.
Karena Natsuki belum tahu nama lelaki yang menjadi teman Mizuki, maka ia belum menyebut nama Dennis dalam perkenalannya. Dennis hanya mengangguk saat Natsuki membungkuk. Lalu setelah itu ia kembali mengangkat badan. Natsuki bertanya, "Anata... dare ga?"
Natsuki tentu ingin tahu nama temannya Mizuki, dong. Setelah mendengar kata "Anata", Dennis mengangguk. Ia sedikit mengerti dengan bahasa jepang. Jadi... langsung saja ia menjawab, "Dennis desu!"
"Den... nis...-san?" Ucapannya masih kaku. Dan karena Natsuki baru mengenal Dennis, maka ia akan memanggil Dennis dengan akhiran kata "-san" yang biasanya diucapkan untuk orang yang belum terlalu dikenalnya. Atau buat orang yang baru bertemu.
"Suki-chan, Dennis kore wa watashi no tomodachi desu." Mizuki memberitahu pada kakaknya kalau Dennis itu adalah teman dekatnya. Natsuki mengangguk paham, lalu setelah itu, Mizuki membuka pintu mobil depan dan membiarkan kakaknya untuk masuk dan duduk di depan.
Tapi sebelum itu, Dennis memberitahu kalau seharusnya, barang-barang yang dibawa Natsuki itu diletakan dalam bagasi mobil saja. Mizuki mengangguk paham. Lalu ia berjalan mendekati bagian belakang mobil Dennis. Untuk membantu temannya itu, Dennis juga ikut turun dari dalam mobilnya dan membuka bagasinya, lalu membantu Natsuki memasukan satu kopernya dalam bagasi. Lalu koper yang satunya lagi, akan dimasukan dalam kursi belakang mobil saja.
Setelah semuanya selesai, Dennis akan kembali ke dalam mobilnya. Tapi sebelum itu, Mizuki sempat bilang pada Dennis kalau ia ingin kakaknya saja yang menyetir mobil itu. Karena Mizuki tahu Dennis sudah mengantuk, dan akan berbahaya jika Dennis menyetir mobil dalam keadaan yang seperti itu.
Dennis mengizinkannya. Ia akan duduk di bangku belakang bersama dengan koper Natsuki. Mizuki duduk di depan bersama dengan kakaknya yang akan mengemudikan mobil Dennis. Di belakang, Dennis akan menunjukan arah jalannya.
****
Setelah sampai di gerbang komplek rumah, Dennis yang sudah tidak tahan dengan rasa kantuknya itu berujar pelan tanpa menunjuk. "Dari sini... tinggal lurus saja ke depan." Setelah itu, Dennis menyandarkan kepalanya ke koper yang ada di sampingnya, lalu menutup mata.
Setelah mobil sampai di depan rumah Dennis, Mizuki memberitahu kakaknya untuk segera berhenti. Maka saat itu juga, Natsuki akan menginjak rem mobilnya, lalu mematikan mesin mobilnya. Setelah itu, membuka kunci pintu mobil agar dapat dibuka.
Mizuki menoleh ke belakang untuk memberitahu Dennis kalau mereka sudah kembali ke rumah. Tapi saat dilihat, ternyata Dennis sudah tertidur di kursi belakang. Mizuki memanggil nama Dennis untuk membangunkannya. Dan akhirnya, Dennis kembali membuka mata. Mengedipkannya beberapa kali, lalu menguap sambil meregangkan tubuhnya. "Sudah sampai?" tanyanya dengan nada lemas.
"Iya! Sekarang ayo keluar dari mobil." Ajak Mizuki. Dennis mengangguk. Ia membuka pintu mobil yang ada di sampingnya, lalu menurunkan kakinya sampai menyentuh aspal. Setelah keluar dari mobil, Dennis membanting pintu mobil untuk menutupnya kembali agar rapat. Lalu setelah itu, tanpa berkata apa-apa lagi, Dennis berjalan pelan mendekati pintu depan rumahnya.
Untuk kali ini dia tidak berlari, karena ia tahu kalau malam hari itu, Guguk tetangganya akan dikurung di dalam kandang. Jadi tidak akan keluar maupun menggonggong. Jadi Dennis tidak akan merasa terancam dengan kehadiran si Guguk itu.
Saat Dennis sampai di teras rumahnya, ia akan membuka pintu. Tapi sebelum tangannya menyentuh kenop pintu, tiba-tiba saja dari dalam ada seseorang yang membukakan pintu itu terlebih dahulu. Ternyata ibunya Dennis.
"Kau dari mana? Ibu mencarimu tahu." Ibunya mengomel lagi. Tapi dengan nada yang lembut. Dennis menggaruk kepalanya, lalu menjawab, "Maaf. Aku habis menjemput kakaknya Kak Zuki tadi di bandara." Dennis menguap, lagi lalu masuk ke dalam rumahnya. Ia melewati ibunya begitu saja setelah ia menjawab.
Tubuhnya Dennis sudah terlihat lesu dan tidak berenergi. Ibu Dennis tahu anaknya itu kelelahan. Makanya untuk malam ini, beliau akan membiarkan anaknya tidur lebih awal. Setelah membuka sepatu, Dennis langsung berjalan menaiki tangga untuk pergi ke kamarnya.
Di depan pintu rumah, Ibu Dennis melihat ada tamu baru yang datang. Seorang lelaki tinggi berparas tampan yang selalu berjalan dekat dengan Mizuki. Ibu Dennis menyambut hangat tamu itu dengan menyapanya. "Selamat malam."
Natsuki menggeleng. Sepenuhnya ia belum terlalu mengerti dengan bahasa Indonesia. Jadi ia tidak menjawab dan hanya melongo melihat ibunya Dennis.
"Tante, perkenalkan, ini kakakku. Dia datang dari Jepang. Jadi mohon maaf, dia belum terlalu mengerti dengan bahasa kita." Ujar Mizuki menjelaskan. Saat melihat Mizuki lancar dalam bahasa Indonesianya, Natsuki bergumam dalam hati, "Dia ngomong apa, sih?" (Dengan bahasa Jepang)
"Oh, begitu. Maaf, saya tidak tahu. Jadi sekarang, bagaimana saya mau berkomunikasi dengannya, ya?" tanya Ibunya Dennis dengan tertawa kecil.
"Tante bisa bilang padaku. Nanti aku yang akan menerjemahkannya untuk Kakakku." Jawab Mizuki.
"Ooh... siapa nama kakakmu?"
"Ah, namanya Natsuki. Natsuki Hanashita. Dia kakak tertuaku. Sebenarnya, dia Kakaku satu-satunya."
"Oh... kalau begitu, ayo masuk dulu! Saya akan membuat jamuan untuk kalian dan kita akan berbincang bersama malam ini."
"Em... kenapa sepi, ya? Yang lainnya pada ke mana?" tanya Mizuki setelah ia melepas sepatunya.
"Oh. Semuanya sudah tidur. Tadi Adel dan Yuni baru saja masuk ke kamar mereka."
"Kalau begitu, aku akan menyusul nanti."
"Iya. Sekarang ayo kita mengobrol sebentar malam ini sebelum tidur, ya?"
Mizuki mengangguk. Lalu setelah itu, ia mengajak kakaknya pergi ke ruang tamu dan duduk di sofa. Sambil menunggu Ibunya Dennis menyiapkan minuman, Mizuki memberitahu kakaknya untuk tetap diam dan jangan terlihat seperti orang polos. Santai saja. Mizuki akan menerjemahkan perkataan Ibunya Dennis pada kakaknya itu.
Natsuki hanya mengangguk. Padahal ia masih harus terbiasa dengan lingkungan dan bahasa asing yang baru saja ia dengar dan lihat. Semoga Natsuki bisa terbiasa.
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8