
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
"Iya. Mereka adalah keluarga pengasuh yang buruk untuk Cahya kecilku."
"Pengasuh?" Rashino meneleng.
Pak Raden mengangguk. "Iya, iya. Cahya itu cucu saya. Dia sudah kehilangan kedua orang tuanya sejak dia kecil."
"Ja–jadi keluarganya yang di Villa itu... adalah keluarga tirinya Cahya?!"
"Iya. Mereka yang mengasuh dan membesarkan Cahya. Tapi mereka mengajarkan Cahya hal yang tidak baik. Maka dari itu, Cahya sering main ke sini bersama dengan kakeknya. Dia anak yang baik. Dia akan kembali ke Villa jika dirinya sedang dibutuhkan saja oleh keluarganya itu." Jelas Pak Raden.
"Dibutuhkan untuk apa?" tanya Rashino lagi.
"Untuk membantu ibunya di dapur. Memotong daging manusia. Itulah tugasnya." Pak Raden menunduk, lalu menggeleng pelan. Ia kembali menjelaskan, "Cahya memang tidak takut dengan hal begituan. Karena ia sudah biasa. Tapi saya selalu menyarankan Cahya untuk tidak membantu keluarga itu lagi dengan cara kabur dari halaman Villa itu setiap siang. Makanya akhir-akhir ini Cahya sering kemari untuk membantu saya mencari kayu bakar."
"Oh begitu," Rashino mengangguk lagi. Lalu tak lama keluar suara gemuruh dari dalam perut Rashino. Rashino langsung menekan perutnya agar tidak berbunyi lagi. Ia jadi malu dan merasa tidak sopan pada Pak Raden. Nanti kakek itu menganggap kalau bunyi tadi disebabkan dari Rashino yang membuang angin sembarangan.
Tapi ternyata Pak Raden tidak menganggap seperti itu. Ia mengerti kalau Rashino sedang kelaparan. Beliau pun berteriak memanggil Rei untuk segera membawa makanannya kemari. Rei menjawabnya, "Ya! Sebentar lagi siap!"
Pak Raden senang mendengarnya. Ia tertawa kecil, lalu kembali melirik ke arah Rashino dengan mata sipitnya. "Ah, Rei itu anak yang rajin. Dia juga pintar memasak ternyata. Anak muda seperti kalian ini hebat-hebat sekali, ya?"
"Eh? Rei bisa memasak?" Rashino terkejut mendengarnya. Ia sedikit menunduk, lalu bergumam pelan, "Aku tidak tahu itu."
"Ya... tadi pagi dia membuat sarapan untuk saya. Sungguh anak yang baik. Padahal dia baru saja pulih dari lukanya."
"Apakah... luka Rei separah itu?"
Pak Raden menggeleng pelan. "Ah, tidak juga. Dia hanya terluka pada bagian kakinya saja. Dan tangannya penuh dengan goresan. Mungkin tergesek dengan tanah dan batu saat ia terjatuh. Tapi... dengan obat alami, lukanya dapat cepat disembuhkan." Jelasnya.
"Oh, anda tahu banyak hal tentang alam, ya?" tanya Rashino senang.
"Saya sudah lama tinggal di tempat seperti ini. Jadi untuk bertahan hidup, saya bisa memanfaatkan alam untuk memberi saya makan dan keperluan lainnya."
"Baguslah kalau begitu. Yang penting tidak merugikan orang lain, hehe..." Rashino tertawa.
"Iya. Dan kita juga tidak boleh membiarkan alam memberikan lebih untuk kita. Kita juga harus menjaga kelestarian mereka. Seperti contohnya, saya menanam banyak buah di kebun. Jika kau mau, nanti kita berkeliling, ya?"
"Ya. Terima kasih. Tapi... sepertinya saya tidak boleh berada lama di sini, Pak." Ucap Rashino ragu.
"Ah, panggil saja saya kakek."
"Oh, baiklah! Maafkan saya."
"Ah, tidak apa-apa. Ngomong-ngomong... kenapa kau tidak ingin tinggal lama di sini?" tanya Pak Raden dengan wajah sedih.
"Saya tidak bermaksud untuk meninggalkan anda sendirian di sini. Ah, saya harus menjemput saudara saya di Villa dan juga menyelamatkan teman-temanku"
"Banyak temanmu yang lainnya yang ada di Villa itu?" Pak Raden terlihat terkejut mendengarnya. "Kenapa kalian pergi ke sana?!"
"Kami datang ke sana karena acara Study Tour dari sekolah kami." Rei yang menjawab. Ia muncul di depan pintu membawa makanan untuk Rashino. Ia berjalan mendekati Rashino lalu meletakan nampan berisi makanan yang ia buat ke atas meja samping tempat tidur.
"Ikan lagi?" tanya Pak Raden heran. Ia melirik ke arah Rei lalu kembali bertanya, "Bukannya ada ayam di lemari?"
"Ah, maaf. Ayamnya sudah tidak ada." Jawab Rei pelan.
"Tapi kau bisa memotong ayam hidup dulu dari kandang."
"Ah, akan memakan banyak waktu. Saya tidak bisa melakukannya."
"Oh, ikan goreng juga tidak apa-apa, Kakek." Rashino tertawa. Ia mengambil piring yang berisi makanannya dari atas meja. "Ngomong-ngomong... terima kasih, Rei! Kakek juga!" Rashino langsung memakan makanannya dengan lahap. Ia sangat menyukainya. Ternyata masakan Rei enak juga menurutnya.
"Rashino benar, Kek. Kami memang harus kembali ke Villa itu." Ujar Rei.
Rashino menghentikan kunyahan makannya lalu mengangguk. "Iya. Karena teman-teman kami di Villa sedang dalam bahaya saat ini!"
"Tapi kalian tidak bisa menghadapi keluarga itu sendirian, loh!"
"Memangnya... sekuat apa mereka?" tanya Rei heran.
"Apa kalian tahu tujuan mereka memburu manusia?" Pak Raden bertanya balik. Rei dan Rashino menggeleng. Pak Raden akan memberitahu. "Mereka menginginkan darah manusia untuk ilmu kebal mereka. Manusia yang akan dijadikan tumbal mereka."
"Ilmu kebal?" Rashino baru mendengarnya. Jadi ia agak bingung.
"Ilmu aneh yang membuat manusia menjadi makhluk yang tidak dapat dilukai dan dibunuh." Rei menjawab.
"Ehh? Benarkah itu?"
Pak Raden mengangguk. "Rei benar, tapi orang yang memiliki ilmu kebal itu masih bisa terbunuh jika mereka tidak meminum darah selama 7 hari kedepan. Kekuatannya akan melemah dan mereka tidak memiliki kekebalan tubuh lagi." Jelas Pak Raden.
"Tidak semua. Hanya yang tertua saja yang bisa memilikinya."
"Itu berarti..." Rashino berpikir. "Ayah mereka, dong! Kan dia orang yang paling tua di sana pastinya."
"Iya. Makanya ayah mereka tidak dapat dikalahkan dengan mudah. Dia juga pandai berkelahi."
"Kalau begitu... cara untuk mencegahnya adalah dengan cara tidak membiarkan dia meminum darah manusia lagi." Ujar Rei. Lalu ia menoleh ke arah Pak Raden dan bertanya tentang usulnya itu, "Iya kan?"
"Iya. Tapi... pada hari ke 5, dia akan memulai aksinya untuk mendapatkan banyak korbannya dan banyak darah yang bisa ia minum untuk bertahan hidup. Darah itu adalah... nyawa untuknya." Jelas Pak Raden.
"Ugh," Rashino yang sedang makan, tiba-tiba saja merasa mual dan tidak enak saat ia mendengar tentang ayah dari keluarga itu yang suka meminum darah. "Mengerikan juga ternyata."
"Ini akan sulit..." Rei mulai berpikir. Ia memejamkan mata, lalu bergumam dalam hati, "Andai Dennis ada di sini."
****
"Maaf aku tidak sengaja membunuhnya." Ujar Akihiro dengan perasaan tidak enak pada Dennis. Ia merasa kesal pada kakaknya Rina yang selalu melawan saat sedang ingin ditanya oleh Dennis. Jadi tangan Akihiro mulai bergerak, mengambil satu golok di atas papan, lalu membelah kepala kakaknya Rina.
Dennis tersenyum. Lalu berbalik badan menatap Akihiro. "Tidak apa-apa. Setidaknya kita sudah dapat informasi dari dia."
"Iya... apa yang harus kita lakukan sekarang?" tanya Akihiro.
"Kita akan kembali ke Villa sekarang."
"Tapi bukankah kita perlu rencana? Kau tahu tentang ayahnya? Dia berbahaya, loh!" Ujar Mizuki.
"Kita tidak perlu rencana. Yang kita perlukan ada kerja sama yang kuat. Mereka hanya tinggal 3 orang saja. Salah satunya yang paling kuat. Kita bisa melumpuhkan keduanya, lalu menghancurkan yang pertama itu." Jelas Dennis.
"Oke... sekarang apa?" tanya Akihiro lagi. Ia masih saja banyak bertanya. Membuat Mizuki jadi kesal dengannya.
"Dian! Kan Dennis sudah bilang, kita sekarang kembali ke Villa dulu, lalu melawan si keluarga kanibal itu!" bentak Mizuki pada Akihiro. Saat dibentak seperti itu, Akihiro malah tertawa sambil mengeluarkan lidahnya.
"Kita jangan langsung menyerang. Sekarang kita kembali saja dulu, lalu secara diam-diam... kita memberitahu Bu Mia tentang sifat keluarga asli Villa itu." Dennis mendekat, lalu berbisik pada ketiga temannya, "Kita harus segera pergi dari Villa itu secepatnya, sebelum adanya korban lagi."
"Tapi bagaimana dengan Rei?" tanya Mizuki. "Apakah kita akan meninggalkannya?"
"Oh iya... emm...."
TRIIINGG... TRIIIING....
"Eh? Tunggu dulu. Nada dering itu bukannya..." Dennis mendengar suara nada dering ponsel yang ia kenal. Tentu saja ia mengenalnya karena itu suara nada dering ponselnya sendiri!
Dennis mencari asal suara itu. Ternyata berada di dalam gubuk. Saat Dennis sampai di depan pintu, ia tidak melihat tanda-tanda dari ponselnya, tapi ia masih mendengar nada deringnya.
"Oh~ Ternyata ada di sini!" Dennis menemukannya. Ternyata ada di dalam kantung celana kakaknya Rina yang sudah mati. "Akhirnya aku menemukannya. Sekarang... siapa yang menelpon?"
"Dennis? Kau sedang apa di dalam sana?" tanya Akihiro mengintip di depan pintu.
Dennis berbalik badan, lalu menunjukan layar ponselnya pada Akihiro. Di sana terdapat tulisan Rei dengan nomor ponselnya. Dennis menjawab, "Re–Rei meneleponku."
"Eh? Benarkah?!" Mizuki juga muncul. Ia terlihat senang. Begitu juga Dennis. Ia keluar dari gubuk, lalu mendekatkan ponselnya ke telinga. Tapi saat Dennis ingin mengangkat telepon itu, tiba-tiba saja ponsel Dennis mati.
Ternyata orang yang menelpon dirinya lah yang telah mematikan ponselnya duluan karena Dennis kelamaan mengangkatnya. Dennis menyesal tidak langsung mengangkat ponselnya. Ia ingin tahu apakah itu Rei atau bukan. Tapi kalau dilihat dari nomor dan namanya, yang menelpon dirinya itu benar-benar Rei!
"Haduh... kumohon, sekali lagi. Rei! Telepon aku, dong!" Dennis memohon dengan ponselnya. Ia ingin sekali mendapat panggilan dari Rei lagi.
TRIIING... TRIIING....
"Ah, akhirnya!" Permohonan Dennis terkabul. Rei kembali menelponnya lagi. Ia sangat senang, lalu dengan cepat Dennis langsung menekan tombol tengah untuk menjawab telepon dari Rei.
"Ha–Halo Kak Rei!" Dennis menjawabnya. Lalu ia berbisik pada Akihiro, "Ini memang benar Kak Rei!"
"Kak Rei? Halo?" Masih belum ada jawaban. Dennis jadi bingung. Ia berpikir, mungkin telepon itu salah sambung. Tapi saat Dennis periksa nama dan nomor teleponnya, ternyata memang benar itu si Rei yang menghubungi Dennis. Tapi kok tidak ada jawaban?
"Kak Rei?" Dennis memanggilnya sekali lagi.
[ Ah, iya? ]
"Eh? Suara anak perempuan?"
Jadi bukan Rei? Lalu siapa yang menelpon Dennis itu?!
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8