Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 72– Ujian IPS (Resolusi 3)


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Eh?! Apakah itu hantunya? Di–dia bisa mengejar kita?!" Tanpa sengaja, Dennis pun berdiri dan berteriak. Gerakan tubuhnya yang mendadak itu telah menggoyangkan perahunya jadi tidak seimbang. Rei pun meneriaki Dennis untuk tetap tenang. Dennis menanggapinya dan ia berhenti bergerak.


"A–apakah benar itu hantunya?" gumam Rei.


"Baiklah! Sekarang sesuai dengan rencana, Kak Rei!" tegas Dennis. Ia sudah menggenggam erat satu Tongkat Bambu yang akan ia gunakan untuk membunuh hantu itu.


Rei mengangguk paham. Lalu ia memberikan dayung miliknya pada Rashino. Sekarang ini, Rei yang akan membiarkan Rashino untuk mengendalikan perahunya bersama dengan Adit juga.


"Hoy, Rei! Bagaimana denganku? Apa aku tidak ditugaskan?" tanya Adit.


"Kutanya, itu kau sedang apa?" Rei bertanya balik dengan nada dan tatapan dingin pada Adit.


"Me–mendayung."


"Itulah tugasmu! Dan sekarang, tetaplah menyeimbangi perahu ini dan kalau bisa, Rashino dan Adit harus mendayung lebih kuat agar kita bisa cepat sampai di Pintu Biru itu."


"Ba–baik, Rei!" Rashino mengangguk paham. Ia bisa melakukan tugasnya itu bersama dengan Adit. Rashino mendayung dengan sekuat tenaga yang ia miliki. Tapi ternyata lebih sulit dari yang ia pikirkan. "Cih! Semakin lama, ombaknya semakin kuat saja."


"Bertahan, Rashino! Kita bersama bisa melakukannya! Ayo semangat lah!" Mata Rashino terbelalak setelah ia mendengar Adit menyemangati dirinya. Rashino tersenyum dan menjawab, "Iya! Baiklah!" Setelah itu, dengan kuat dan cepat, Rashino mengayunkan dayungnya sedikit lebih cepat. Ia tidak peduli dengan ombak yang selalu mendorong balik kapalnya. Intinya, kapal yang dikendalikan Rashino itu bisa bergerak maju dengan lebih cepat!


"Kerja bagus, Rashino!" Dennis juga menyemangatinya. Lalu setelah itu, ia kembali menghadap ke depan untuk mencari si hantu yang berenang di bawah kapalnya.


"Hati-hati Dennis! Dia bisa muncul di mana saja." Rei memperingati. Sekarang ini ia sudah berdiri di bagian belakang kapal. "Dan Mizuki! Beritahu aku jika kau melihat sesuatu."


"Ba–baik, Rei!" Mizuki menurut. Lalu ia mengeluarkan mendongakkan kepalanya dan matanya terus melirik ke arah bagian bawah kapal. Jika ia melihat sesuatu yang muncul dari bawah kapal, maka Mizuki akan berteriak.


Semua anak yang ada di dalam kapal satu terlihat gelisah dan ketakutan. Tapi Dennis akan berusaha untuk menenangkan mereka dengan cara memberitahu dan mengingatkan kembali tentang rencananya.


"Semuanya! Pegang Tongkat Bambu yang tersisah! Lalu ingat! Sesuai rencana. Jika kalian melihat sosok hantu itu yang ada di bawah kapal kita, segeralah berteriak, maka aku akan melindungi kalian. Dan jika tiba-tiba saja muncul rambut dari pinggiran kapal, maka gunakanlah Tongkat yang kalian pegang untuk melindungi diri! Sentuh rambut itu dengan tongkat, maka kalian akan selamat!" jelas Dennis. Tapi walau Dennis sudah menjelaskan betapa mudahnya rencana yang ia rancang itu, tetap saja beberapa anak perempuan yang lainnya masih terlihat ketakutan.


Tapi tak lama kemudian, mereka menyahut untuk mengiyakan penjelasan Dennis tadi. Mereka akan menuruti apa yang dikatakan Dennis pada mereka. Dennis tersenyum. Ia yakin kalau semuanya pasti akan baik-baik saja.


Dennis akan menunggu. Menunggu hantu itu datang dan menunjukan sosok yang katanya menyeramkan itu. Tapi tak lama, ia kembali teringat sesuatu. "Oh iya! Cara untuk membunuh hantu itu ada tiga. Pertama, tusuk kepala, hati dan matanya. Kedua, ceburkan dan ketiga biarkan hantu itu tenggelam dan terbawa ombak air laut."


"Yosh! Aku harus memberitahukannya pada Kak Rei!"


"Anu... Kak Rei?" Dennis memanggil. "Ada apa, Dennis?" Rei menyahut tanpa menengok ke arah Dennis.


"Jika hantu itu muncul, kakak langsung saja mengincar kepalanya! Kalau bisa tusuk mata dan hati yang ada di dadanya langsung!" tegas Dennis. Rei mengangguk paham. "Oke. Akan aku lakukan. Tapi kau juga tetap harus waspada, ya?"


"Oke! Aku akan memberitahu teman kita yang ada di kapal yang satunya lagi!"


"Iya. Seharusnya begitu. Karena... agar mereka semua tahu cara untuk membunuh hantunya. Kan bisa gawat kalau si hantu itu mendekati kapal mereka, tapi mereka tidak tahu bagaimana cara untuk menghadapi hantunya."


"Ya, makanya!"


Dennis berdiri. Ia menopang tubuhnya dengan tongkat bambu untuk menjaga keseimbangannya. Tubuh Dennis menghadap ke arah kapal kedua berada. Yaitu kapal yang dikendalikan oleh kelompoknya Ethan.


"Kak Ethaaaan!" Dennis berteriak memanggil si pengemudi kapal kedua. Salah satu anggotanya menyahut. Dennis senang mereka yang ada tak jauh di hadapannya itu bisa mendengar suaranya.


"Berhati-hatilah kepada hantu itu! Dia masih mengejar kita!" Dennis berteriak lagi.


"Apa? Apa kau serius, Dennis?!" tanya Ethan tidak percaya. Lalu ia mengubah arah laju kapalnya. Ia mendekati kapal Dennis untuk lebih dekat dengannya agar ngomongnya juga lebih mudah.


"Iya benar! Tadi Kak Zuki melihat ada sosok itu yang muncul dari bawah laut!"


"Oke, oke! Sekarang jangan berteriak lagi. Bisa habis suaramu nanti." Ujar Ethan setelah ia berhasil mendekati kapal Dennis. "Mizuki melihat sosok itu? Bagaimana bisa?"


"Iya! Tadi yang kulihat seperti sosok panjang. Tapi bentuknya seperti ikan raksasa dengan tangan dan cakar yang besar!" jelas Mizuki. Ia benar-benar melihat sosok itu. Semua mempercayainya. Tapi... yang mereka masih belum menemukan tanda dari kemunculan hantu itu.


Semua mata terus melirik untuk mencari kehadiran si hantu yang ternyata bisa berenang itu. Lalu tak lama kemudian....


"Tempelkan tongkat kalian pada rambut itu, cepat!!" Rei berteriak. Nashira yang memegang tongkat bambu mengangguk, lalu dengan cepat, ia mendekatkan tongkat yang ia pegang ke arah rambut yang muncul.


Seketika rambut itu menempel dan melilit tongkat sampai membungkus tongkat itu. Saat tongkatnya telah terbungkus oleh kumpulan rambut yang lebat, hantu itu akhirnya menunjukan sosoknya. Kepalanya dan setengah tubuhnya keluar dari air. Satu tangan bercakarnya menggenggam erat bagian pinggir kapal.


"Ini dia kesempatanku!" Dennis berteriak dan mengangkat tongkatnya tinggi-tinggi. Lalu dengan cepat, ia langsung mengayunkan tongkat itu dan menusuk kepala si hantu.


JLEB!!


"KYAAAK!"


Dennis berhasil menusuk kepala si hantu dengan satu tongkat miliknya. Hantu itu menggeliat kesakitan, lalu dirinya menyelam kembali ke dalam air. Apakah dia melarikan diri? Atau hantu itu tenggelam karena sudah mati setelah Dennis menusuk kepalanya?


Sepertinya belum.


"Rei! Dia kembali lagi!" Mizuki melihat bayangan hantu itu kembali mendekati kapal Dennis dengan cepat. Rei sudah bersiap untuk menghadapi makhluk itu. Begitu juga dengan Dennis dan yang lainnya.


"Eh?" Mizuki berhenti berteriak. "Loh? Hantunya menghilang?" gumamnya. Mizuki tidak tahu ke mana perginya hantu itu. Tapi Rei ternyata bisa melihat pergerakannya. Ia bergumam, "Hantunya menyelam."


"Eh? Apa benar hantu itu bisa berenang?" tanya Dennis setelah ia terkejut mendengar gumaman Rei tadi.


"Iya. Karena saat dilihat dari bayangannya, hantu itu memiliki dua tangan besar dengan cakar dan... di bagian belakang tubuhnya memiliki ekor dan sirip seperti ikan." Jelas Rei mendeskripsikan bentuk hantu yang ia lihat.


"Rambut panjang, tubuh seperti manusia, memiliki dua tangan, dan ekor seperti ikan." Dennis bergumam. "Apakah itu... bentuk dari putri duyung?"


"Haha... bodoh sekali." Revi terkekeh mendengar Dennis berkata seperti itu. "Mana ada putri duyung!"


"Semua yang tidak ada bisa terjadi di dunia aneh ini. Dennis bisa saja benar. Tapi... putri duyung yang kali ini berbeda dengan wujud putri duyung yang ada di dongeng." Jelas Rei. "Putri duyung yang ada di dekat kita ini adalah... Hantu Duyung yang menyeramkan!"


SPLASSHH!


"Wwaaaaa!!"


Rashino dan Adit terkejut. Karena tiba-tiba saja di hadapan mereka hantu duyung itu muncul dan melompat tepat di depan wajah mereka. Rashino dan Adit sudah tidak bisa berbuat apa-apa lagi sementara si hantu itu ingin mencakar wajah Rashino dengan cakarnya dan menangkap Adit dengan rambutnya.


Tapi sebelum hal mengerikan itu terjadi, tiba-tiba....


ZLEB!!


"Mati kau." Ujaran pelan dari suara yang Dennis kenal itu terdengar. Suara dingin dari Yuni. Rashino dan Adit kembali membuka mata mereka dan terkejut. Karena mereka melihat ada sebatang Tongkat Bambu yang menancap ke... mata si Hantu Duyung?!


Ternyata Yuni lah yang telah mengayunkan tongkatnya dan langsung menusuk tepat di mata kiri di hantu yang terlihat bolong itu. Bahkan sampai ujung Tongkatnya menembus keluar kepalanya si hantu. Semuanya tidak percaya kalau Yuni yang telah melakukan hal itu. Dia diam-diam ternyata mengejutkan!


Yuni melepas pegangan tongkatnya. Lalu seketika hantu itu terjatuh ke dalam laut bersama dengan tongkat Yuni yang masih tertancap di matanya. Semuanya merasa senang. Mereka pikir, hantu itu sudah pergi dan tidak akan menyerang lagi karena ia sudah kapok terus kena serang pada bagian anggota tubuh pentingnya.


Tapi ternyata... hantu itu masih belum menyerah!


BRAK! BRAK!


Dari bawah kapal, hantu yang masih ingin menyerang itu terus menabrak bagian bawah kapal dengan tubuhnya. Menyebabkan guncangan hebat pada kapal yang Dennis dengan kelompoknya tumpangi.


Tanpa hentinya, hantu itu terus menabrak perahu, sampai akhirnya....


"Ah!" Dennis kehilangan keseimbangan dan tak sengaja kakinya terpeleset sesuatu yang membuat tubuhnya terjatuh ke... dalam laut!


"Dennis!!" Semua meneriakinya saat tubuh Dennis terjatuh dan tenggelam ke bawah laut. Apakah Dennis masih bisa selamat?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8