Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 17–Janji Ibu


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Kenapa Ibu malah melanggar janji Ibu?"


"Eh? Dennis?" Ibunya Dennis tersentak. Lalu beliau beranjak dari kursinya dan menghampiri Dennis. "Maaf, Dennis. Emm... tapi kan Ibu menceritakan semua ini pada orang yang pastinya kau percayai. Apakah tidak boleh?"


"Tapi kan... yang namanya janji itu tetap–"


"Aku yang mau." Yuni tiba-tiba menyela. Dennis langsung melirikkan matanya ke arah Yuni. "Apa?"


"Aku yang meminta Ibumu menceritakan tentang hubunganmu dengan Diana." Jawab Yuni.


Dennis meneleng sambil mensipitkan matanya. "Ah, benarkah? Tapi... kenapa?"


"Kami hanya ingin tahu saja. Ternyata selama ini, kau menyimpan makhluk berbahaya di dalam tubuhmu. Maka dari itu, kami ingin bertanya pada Ibumu tentang makhluk itu dan asalnya." Jelas Yuni. Lalu Rei pun ikut berbicara. Ia menimpali perkataan Yuni tadi.


"Tapi tenang saja, karena makhluk itu sudah aku keluarkan dari tubuhmu." Kata Rei sambil beranjak dari kursinya. Ia menghampiri Dennis dan berdiri di hadapannya.


"Ah, benarkah itu? Kak Rei?" tanya Dennis setelah ia menoleh dan menatap Rei. "Tapi... makhluk seperti apa itu?"


"Dennis, apa kau masih ingat? Kapan dan bagaimana caranya si Diana itu melakukan hal yang aneh padamu?" tanya Yuni.


"Hal aneh?"


"Ya... bagaimana, ya? Apa kau tahu bagaimana caranya Diana memasukan makhluk jahat miliknya itu ke dalam tubuhmu?"


Dennis terdiam sambil berusaha untuk mengingat. Lalu tak lama kemudian, ia menggeleng pelan, lalu kembali melirik ke arah Yuni. Ia menjawab, "Tidak. Aku tidak tahu. Kan aku sudah bilang, aku sudah melupakan semua kejadian mengerikan itu."


"Ah, baiklah. Ibu tidak akan memaksamu. Yang penting kamu aman sekarang." Ucap Ibunya Dennis, lalu memeluk anaknya itu. Kemudian, ia pun berbisik sambil mengelus kepala Dennis. "Dan maaf soal yang tadi. Ibu tidak akan memberitahu siapapun lagi."


Dennis tidak menjawab. Ia hanya mengangguk dengan ekspresi wajah kecewa karena Ibunya telah melanggar janjinya itu. Karena bagi Dennis, kejadian yang ia alami itu adalah rahasia terbesarnya.


Bahkan saat ia ditanyai polisi tentang luka-luka yang didapat Dennis, Dennis terpaksa berbohong. Ia bilang kalau dirinya itu terluka karena kecelakaan. Jika ia berkata jujur, Dennis akan merasa takut dan gelisah karena sebenarnya... dirinya juga telah membunuh Diana.


Itulah yang selalu dipikirkan Dennis. Ia menyalahkan dirinya kalau ia lah yang telah membunuh Diana. Lalu untuk semua mayat yang ada di dalam rumah Diana itu adalah orang-orang yang telah mengejek Diana. Sebagian besar juga, orang-orang itu adalah temannya Dennis. Dan dua orang lainnya adalah... orang tuanya Diana sendiri.


Diana memang gadis yang kejam karena ia tega sekali telah membunuh orang tuanya hanya untuk membalas dendam. Tidak untuk ditiru perbuatannya itu!


Setelah diketahui kalau rumah Diana itu telah menjadi tempat penyimpanan mayat dari orang-orang yang hilang, para Polisi dikerahkan untuk mencari si pembunuh itu. Dan sampai sekarang... mereka masih belum mengetahui si pembunuh yang menetap di rumah itu.


"Tapi Dennis... bukannya tadi kau itu sudah tidur, ya? Kok bisa tiba-tiba ada di sini?" tanya Yuni heran.


"Yaa... sebenarnya aku belum tidur dari tadi. Kalau boleh jujur, semenjak kau dengan Kak Rei pergi itu, aku mengikuti kalian secara diam-diam. Lalu mengintip lewat tembok ini. Ternyata kalian malah membicarakan tentang diriku. Aku pun jadi penasaran. Jadi... aku pun mendengarkan pembicaraan kalian dari balik tembok."


"Tapi saat aku mendengar suara langkah kaki yang mendekat ke arahku, dengan cepat aku pun langsung melempar diriku ke atas tubuh Kak Dian dan berpura-pura tidur saja."


"Oh, pantas saja tadi aku lihat posisi tidur kalian agak aneh. Bisa-bisanya Dennis tidur dengan posisi sambil menindih tubuh Kak Dian." Gumam Yuni.


"Hehe... habisnya aku tidak ada waktu untuk naik ke sofa. Jadi terpaksa deh! Untung kak Dian tidak marah." Dennis terkekeh. Lalu tak lama ia pun menguap sambil mengucek para kanannya.


"Nah, ayolah! Kamu sudah benar-benar mengantuk sekarang. Ayo pergi ke kamarmu!" suruh Ibunya Dennis.


****


Semuanya kembali ke ruang Televisi. Ibunya Dennis mematikan televisi, lalu ia berkata, "Sebaiknya kalian tidur di kamar kalian saja. Ayo bangunkan teman kalian yang lainnya untuk suruh pindah."


Dennis dan Rei mengangguk. Lalu mereka berdua menghampiri temannya dan menggoyangkan tubuh temannya untuk membangunkan mereka semua yang sudah terlelap dalam mimpi.


Semuanya terbangun. Mereka bangun terduduk. Kecuali Akihiro. Dennis membangunkan temannya yang satu itu sepertinya sulit sekali.


Karena merasa geram, Dennis pun mendorong tubuh Akihiro dan membalikkan tubuhnya itu. Tetap saja Akihiro tidak bangun. Lalu sekali lagi, Dennis terus mengguling-gulingkan tubuh temannya itu sambil berteriak memanggil namanya. Tetap saja Akihiro masih terlelap.


Sampai akhirnya, Rei pun mulai bertindak. Ia mengangkat kakinya, lalu dengan cepat langsung menginjak kaki Akihiro. Ternyata berhasil!


Karena merasa sakit, Akihiro pun membuka matanya dan langsung bangun terduduk sambil memegang kakinya yang sakit itu. Ia mengeluh. "Aduh... aduh... aduh... sakit sekali! Siapa sih yang telah menginjak kakiku ini?!" bentak Akihiro kesal.


"Aku! Memangnya kenapa?!" Rei mengaku.


"Oh, lagi-lagi kau, Rei?! Ada apa sih? Aku kan tidak punya masalah denganmu, tahu!"


"Aku hanya ingin membangunkanmu saja. Kau itu sulit sekali dibangunkan kalau sudah tertidur pulas." Gerutu Rei.


"Eh? Memangnya kenapa aku dibangunin, sih? Kan aku udah enak tadi tuh... mimpi dikelilingi wanita cantik di Isekai. Mereka melayani aku dan yang lebih enaknya itu... tubuh para wanita itu benar-benar... wow banget, deh!"


*( Isekai, dalam bahasa Jepang artinya "Dunia yang berbeda." Isekai juga merupakan subgenre dari Anime, manga, dan Light Novel yang bercerita tentang si MC yang terbawa masuk ke dalam dunia Fantasy.)


"Jangan kebanyakan mengkhayal mulu, Dian!" bentak Mizuki sambil menjewer telinga Akihiro. "Kau tahu?! Isekai itu tidak ada! Sekarang juga... masuk ke kamarmu bersama dengan Dennis, sana!"


"A–aduh, aduh! Iya, iya! Aku masuk, kok... aaaa-... lepaskan! Nanti telingaku bisa kecabut!" teriak Akihiro sambil berusaha untuk melepaskan telinganya itu dari Mizuki.


Untung Mizuki masih punya rasa kasihan pada Akihiro. Jadi ia pun melepaskan telinga Akihiro yang sudah hampir berubah warna menjadi merah itu. "Ya sudah kalau begitu, cepat masuk ke kamarmu sana!" suruh Mizuki sambil membentak.


Dengan cepat, Akihiro pun berdiri. Lalu ia berjalan bersama Dennis untuk masuk ke dalam kamarnya Dennis. Tapi sebelum mereka memasuki kamar, tiba-tiba saja terdengar suara mobil yang datang.


Tak lama setelah mobil itu, pintu depan rumah Dennis pun terbuka. "Ibu! Anak-anak! Ayah pulang!"


Ternyata Ayahnya Dennis sudah pulang. Lagi-lagi terlambat pulang ke rumah. Dennis langsung berlari menghampiri ayahnya itu. "Wah! Ayah sudah pulang. Untung aku belum tidur, hehe...."


"Waduh... kenapa kamu belum tidur? Kan besok katanya mau pergi?"


"Iya tidak apa-apa, deh! Hehe...."


"Haha... baiklah kalau begitu. Oh iya! Ini." Ayahnya Dennis memberikan sesuatu pada Dennis. Dennis terkejut saat melihat benda yang dikasih dari ayahnya itu.


"Eh? Buku Absen? Kenapa bisa ada di... ayah?" pikir Dennis dalam hati.


Ya! Benda yang diberikan ayahnya Dennis itu adalah 5 buah buku Absen dari kelas 1, 2, dan 3 dari masing-masing kelas. Untuk apa Ayahnya memberikan buku absen itu dan... kenapa buku itu bisa ada di ayahnya?


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8