
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.
*
*
*
****
CKIITT....
Pak Polisi menginjak rem mobilnya secara perlahan tepat di depan rumah si pelaku yang telah meninggal itu. Masih ramai warga desa yang datang di rumah itu.
"Di sini rumahnya?" tanya Pak Polisi tanpa melirik ke arah Rashino dan Nashira.
Si kembar mengangguk. "Iya benar di sini!"
"Baiklah kalau begitu, saya akan bertanya pada seseorang di rumah itu. Kalian bertiga tetap di sini saja." Ujar Pak Polisi sambil menarik kunci mobil, lalu membuka pintu.
"Tapi, Pak, kami juga ingin mendengar penjelasannya." Kata Nashira.
"Tidak usah!" Larang Pak Polisi. "Di sana ramai. Biar saya saja. Nanti kalau sudah selesai, saya akan kembali lagi ke sini lalu memberitahukan informasi yang saya dapat pada kalian. Setelah itu, kita baru akan mendiskusikannya lagi."
Rashino dan Nashira pun terdiam. Mereka berdua hanya bisa menunggu dan melihat Pak Polisi itu mulai menghampiri para warga desa yang mengerumuni rumah tersebut dari balik jendela kaca mobil.
Sekarang yang tersisah di dalam mobil hanya tinggal Rashino dan Nashira, juga ada Adit di bangku paling depan.
Sambil memainkan ponselnya, Adit bergumam di dalam hati. "Ayah sudah pergi. Ini kesempatanku untuk bicara pada kedua anak kembar itu."
Setelah mengetik beberapa kata di ketikan ponselnya, Adit pun langsung menutup kembali ponsel itu, lalu berbalik badan menghadap ke Rashino dan Nashira yang sedang duduk di bangku belakang.
Ia memulai pertanyaan yang sama seperti sebelumnya. "Hei, kalian berdua, aku mau tanya lagi. Kalian kan temannya Dennis, nah, aku mau tanya, kalian menganggap Dennis itu apa? Dan kenapa? Apakah ada yang istimewa dari anak itu?"
Nashira melirik sinis ke arah Adit. Tampang Nashira yang seperti itu benar-benar telah membuat Adit jengkel. Tapi ia berusaha untuk menahan kekesalannya pada si kembar.
"Memangnya kenapa, sih? Mau tau amat jadi orang!" bentak Nashira.
"Eh, eh, santai, dong! Aku kan nanyanya baik-baik. Aku tidak bermaksud apa-apa. Aku hanya ingin mengetahui tentang si Dennis itu saja." Adit sedikit bergeser. Ia semakin memajukan tubuhnya ke depan. Lalu ia berbisik, "Dan... apakah benar si Dennis itu anaknya pintar?"
"Kau menyebalkan!" gerutu Nashira.
Rashino pun tertawa kecil. Ia yang akan menjawab pertanyaan Adit, karena Nashira tidak mau menjawabnya. "Kami paling akrab dengan Akihiro. Kalau Dennis..., baru saja. Kami bermain bersama saat sekolah diliburkan."
Adit mengangguk. "Oh..., tapi apa kau tahu bagaimana sikapnya si Dennis itu?" tanyanya lagi.
"Ya... kalau menurutku dia orangnya asik, suka diajak bercanda, ramah, murah senyum, dan lainnya."
"Tapi dia itu anaknya pintar, tidak?"
"Hmm... kalau soal kepintaran...."
"Kenapa kau tidak bertanya pada temannya langsung saja?!" Nashira tiba-tiba membentak. Ia mengerutkan keningnya, memasang wajah kesal sambil menatap tajam pada Adit. Entah anak itu masih kesal pada Pak Polisi tadi apa memang mood dia lagi tidak enak? Habisnya, Nashira yang sekarang suka marah-marah mulu dari tadi!
Adit tersentak. "Eh? Bukannya kalian juga temannya Dennis, kan?"
"Kami memang temannya. Tapi kami tidak terlalu mengenalnya, tahu!" bentak Nashira lagi.
"Kalau begitu, di mana aku bisa bertemu dengan temannya itu?" tanya Adit yang semakin penasaran."
"Tapi kalau kau ingin bertanya langsung pada Dennis, kenapa kau tidak menemuinya saja. Dia ada di rumahnya, kok." Ujar Rahsino lirih.
"Ha? Rumahnya ada di mana? Di mana rumahnya?"
"Tidak jauh dari sini, kok! Ikuti saja jalan lurus itu, lalu kau akan menemukan rumah panggung berwarna kucing kecoklatan. Nah itulah rumah yang ia tempati saat ini." Jelas Rashino.
Adit tidak menjawab Rashino. Lalu dengan cepat, ia pun langsung membuka pintu mobil depan dan kembali menutupnya lagi. "Lurus di jalan itu, lalu ketemu rumah panggung warna kuning kecoklatan. Hmm... aku akan coba mencari rumahnya!" pikir Adit dalam hati.
Tanpa berkata apa-apa lagi pada Rashino dan Nashira, Adit langsung saja pergi menyusuri jalan yang diberitahukan oleh Rashino. Ia meninggalkan si kembar berada di dalam mobil polisi milik ayahnya itu.
"Hei! Kau pergi begitu saja setelah kamu membantumu menemukan rumah Dennis, hah?!" Nashira membentak sambil memukul-mukul kaca mobil.
"Tidak usah marah begitu, Nashira. Kita ikuti dia saja. Ayolah kita keluar dari eh?" Rashino terkejut. Rashino ingin membuka pintu mobil polisi itu, tapi ternyata... pintu mobilnya tidak bisa terbuka sama sekali.
"Na–nashira! Bagaimana ini? Kita terjebak!" Rashino mulai panik. Ia berusaha untuk membuka pintu mobil itu. Tapi tetap saja usahanya sia-sia. Pintu mobilnya tidak bisa dibuka.
Nashira juga tidak bisa membuka pintu mobil lainnya. Lalu, ia pun merangkak ke depan. Ke kursi pengemudi untuk mencoba membuka pintu lainnya. Saat Nashira menarik dan mendorong pintu yang di depan itu, tetap saja pintu tidak bisa terbuka.
Lalu bagaimana dengan pintu yang satunya? Nashira akan mencobanya karena di pintu samping kursi penumpang depan itulah tempatnya Adit keluar tadi.
BRUK! BUK!
Nashira mencoba untuk menarik, mendorong sampai mendobrak pintu mobil itu. Tetap saja, pintu tempat keluarnya si Adit tadi juga sudah terkunci. Ini aneh!
"Rashino, semua pintu tidak bisa dibuka, bagaimana kita bisa keluar dari sini?" tanya Nashira setelah ia pasrah membuka pintu mobil yang ada di hadapannya itu.
"Ikh! Bagaimana si Adit bisa keluar sedangkan ayahnya tadi membawa kunci mobilnya?" pikir Rashino. "Ayahnya kan tadi membawa kunci mobilnya. Tapi... tidak mungkin juga ia mengunci mobilnya dari depan untuk mengurung kita."
"Ini pasti ulah si anak polisi yang sialan itu. Tapi bagaimana caranya dia bisa mengunci semua pintu dari depan?" tanya Nashira pada saudara kembarnya.
"Dia... pasti memiliki kunci cadangan!"
****
"Hehe... terpaksa aku harus meninggalkan kedua anak kecil itu di dalam mobil." Gumam Adit sambil berjalan pelan di jalan tanah yang sedikit berbatu. Di tangannya juga, ia menggenggam sebuah kunci mobil dengan remote mobilnya juga.
"Terpaksa juga aku harus mengunci mobilnya dengan kunci cadangan yang disimpan di dalam tas ayahku. Jika mereka berdua keluar dan ikut denganku akan sangat merepotkan." Adit kembali bergumam. Lalu tiba-tiba saja langkahnya terhenti. Karena dari tempatnya berdiri itu, ia sudah melihat rumah dengan ciri-ciri yang diberitahu oleh Rashino.
"Rumah panggung warna kuning kecoklatan. Itu pasti rumahnya Dennis!" dengan cepat, Adit pun berlari menghampiri rumah itu. "Dennis hanya tinggal berdua dengan adiknya saja, kan? Karena yang kudengar, orang tuanya berada di kota. Haha... anak culun seperti dia akan mudah untuk aku kalahkan! Apalagi dia sedang sendirian saat ini."
Adit akhirnya sampai di depan rumah Dennis. Lalu ia menginjakkan kakinya tepat di atas tangga kecil yang terhubung dengan teras rumah Dennis itu.
Saat di depan pintu, Adit pun mengetuk pintunya dengan keras. "Halo! Apa ada orang di sini?"
Tak lama setelah ia mengetuk pintu, tiba-tiba saja pintu rumahnya itu terbuka dengan sendirinya. Adit pikir yang membuka pintunya itu adalah pemilik rumah ini, yaitu si Dennis. Tapi ternyata bukan.
"Iya, ada apa?"
tatapan mata tajam berwarna kuning itulah yang sudah membuat Adit jadi merinding. "Re–Rei?! Kenapa kau ada di sini?"
"Eh, kau... Adit, kan?" Rei membuka pintu rumahnya Dennis lebar-lebar, lalu memajukan langkahnya ke depan dengan cepat sambil menatap Adit dengan mata tajamnya itu.
Adit yang terkejut pun mundur ke belakang secara perlahan. "E–eh, anu... iya ini aku. Kenapa kau yang ada di sini?"
"Seharusnya aku yang bertanya seperti itu! Mau apa kau ada di sini?" tanya Rei dengan ekspresi dinginnya.
Entah ada hubungan apa antara Adit dengan Rei sampai membuat Adit jadi ketakutan saat melihat tampang Rei di hadapannya....
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8