
Sore harinya setelah kelas selesai, Dennis dan Rei kembali ke kamar mereka. Di belakang mereka juga ada Adel dan Yuni. Benar-benar hari yang melelahkan untuk mereka berempat. Karena saat di kelas tadi....
-Flashback-
Setelah perkenalan murid baru selesai, Bu Mia meminta Diana untuk duduk di tempatnya. Tempat duduknya ada di bangku paling belakang, di dekat pintu belakang dan di samping tempatnya Rei.
Lalu setelah Diana duduk, Bu Mia juga duduk di tempatnya. Ia merogoh sesuatu di dalam tas yang ia bawa. Lalu beberapa tumpuk lembaran kertas keluar dari tasnya. Bu Mia meletakan tumpukan kertas itu di atas mejanya. Lalu, beliau kembali berdiri di depan kelas.
Ia akan memberitahukan sesuatu. "Anak-anak, Ujian akhir semester sebentar lagi. Jadi, Ibu harap kalian semua sudah siap untuk mengikutinya. Sekarang, Ibu mau kalian mengisi beberapa soal di dalam kertas ini sebagai latihan."
Bu Mia kembali ke tempatnya. Ia mengambil tumpukan kertas itu, lalu berjalan ke bangku barisan pertama yang tempatnya paling pojok dekat dengan jendela. Bu Mia memberikan selembar kertas pada anak yang duduk paling pertama, lalu kertas ke dua, dan seterusnya sampai ke tempatnya Dennis yang paling belakang.
Setelah baris pertama selesai, Bu Mia pun beranjak ke barisan berikutnya dan memberikan beberapa kertas yang sama.
"Haduh, soal apaan lagi ini?" gumam Dennis setelah menerima kertas yang diberikan Bu Mia padanya. "Soalnya... hmm... sepertinya ada di buku. Hah, mungkin saja aku boleh menyontek di buku."
Dennis sedikit merunduk untuk mengambil buku yang ada di dalam tasnya. Tas itu ada di bawah samping mejanya. Tapi sebelum Dennis mendapatkan bukunya, ia dikejutkan dengan suara seseorang yang bicara. Dennis kembali menegakkan badannya seperti semula, lalu matanya melirik ke teman yang duduk di sebelahnya.
Anak itu mengacungkan tangan. "Ibu! Kita harus mengerjakan soal ini?" anak itu bertanya.
Bu Mia berbalik badan. Ia menjawab, "Iya."
"Boleh lihat ke buku, gak, Bu?" tanyanya lagi.
Bu Mia menggeleng. "Tidak boleh. Kalian harus mengerjakannya tanpa lihat ke buku. Anggap saja ini soal ujian kalian. Jangan ada yang nyontek."
Seketika semua murid terkejut. Kelas mereka tiba-tiba saja diadakan ujian mendadak. Latihan soalnya ada di buku semua. Karena soal itu telah membuat semua murid jadi greget. Mereka tahu jawabannya ada di buku tapi yang lebih menyebalkannya lagi, mereka tidak boleh melihat ke buku ataupun nyontek, dan kerja sama dengan teman. Mereka harus mengerjakannya sendiri.
Dennis menggaruk kepalanya karena pusing dengan tulisan di secarik kertas yang ada di atas mejanya itu. Soal itu... berisi 3 mata pelajaran. Satu kertas dicampur dengan beberapa soal dari ke 3 mata pelajaran. Yaitu, Matematika, Bahasa Indonesia dan IPA.
"Jika Bahasa Indonesia, aku masih bisa mengerjakannya." Dennis kembali bergumam dengan kertas itu. Lalu, matanya melirik ke salah satu soal. "Dan IPA juga aku masih sedikit mengerti. Tapi... IPA di sini kenapa berisi Fisika semua? Dan Matematika ini... haduh... ini sulit. Aku paling bodoh kalau matematika." Lanjut Dennis.
Bu Mia kembali ke tempatnya setelah ia selesai membagikan kertas soal pada semua murid. Dennis melirik ke sekitarnya. Hanya melirik dan tidak menengok. Dennis melihat semuanya telah mengerjakan soal itu. Dan hanya dirinya saja yang masih belum menulis di atas kertas itu untuk menjawab satu soal. Bahkan, ia sendiri masih belum memegang pensil dan pulpennya.
Keadaan kelas sangat hening. Semuanya benar-benar serius mengerjakannya. Padahal ini hanya latihan biasa, tapi kenapa mereka terlihat tegang sekali saat mengerjakannya?
"Mungkin mereka takut kalau nilainya akan jelek atau mungkin saja soalnya itu memang sulit." Dennis kembali bergumam.
"Dennis? Kamu lihatin apa? Kerjakan soalmu!" tegur Bu Mia mengejutkan Dennis.
Dennis benar-benar kaget. "I iya, Bu!"
Dennis kembali fokus ke kertasnya sendiri. Lalu, tak lama kemudian ia akhirnya menggenggam pensil dan mulai menulis di kertasnya itu.
"Semoga saja, jawabanku benar!" kata Dennis dalam hati.
****
- Back -
"Hah, akan jadi apa aku ini jika nilaiku terus seperti ini." Gumam Dennis sambil memegang kertas soal di kedua tangannya. Di kertas itu, terlihat nilai Dennis dari hasil latihannya tadi. Ternyata nilainya... 40. Sungguh nilai yang kecil. Pantas saja Dennis terlihat kecewa.
"Tenang saja. Tadi hanya latihan biasa. Itu tidak ada apa-apanya." Ujar Rei yang ada di samping Dennis. Ternyata lelaki dingin itu mendengar gumamannya Dennis.
Dennis menengok ke Rei. Ia memasang wajah melasnya. "Ah, kakak mah enak. Kau pintar, kan? Nilamu saja bagus."
"Tidak. Nilaiku hanya 70 saja dan itu juga masih masuk ke dalam remedial besok." Jawabnya Rei.
Dennis hanya diam saja. Ia kembali menundukkan kepala dan bergumam, "Tetap saja nilaimu itu bagus."
Dennis dan Rei kembali terdiam. Begitu juga dengan Adel dan Yuni. Bahkan mereka pun tidak tahu kedua kakaknya itu sedang membicarakan apaan dari tadi.
Setelah mereka melewati lorong di lantai satu, mereka akhirnya sampai di dekat tangga menuju lantai dua. Mereka menaiki tangga itu. Tak lama kemudian mereka sampai di kamarnya masing-masing.
Adel dan Yuni akan masuk ke kamar mereka duluan. Tapi sebelum mereka masuk ke kamarnya, Rei mengeluarkan suaranya. "Hei kalian berdua," dia memanggil Yuni dan Adel. "Nanti datang ke kantin untuk makan malam bersama. Kebetulan Ibu kantin sedang membuat rendang untuk malam nanti."
"Oohh... benarkah?" tanya Dennis tidak percaya.
"Iya. Makanya malam ini kita datang bersama." Jawab Rei.
"Kan biasanya juga kita bersama ke kantin buat makan malam. Kami juga tahu. Kenapa harus diberitahu lagi?" tanya Yuni dengan ekspresi biasanya.
"...?" Yuni tidak menjawab. Lalu, ia pun mengajak Adel masuk ke kamar mereka.
"Adel akan menyampar ke kamar kakak, ya?" kata Adel sebelum ia masuk ke kamarnya. Dennis dan Rei mengangguk. Lalu setelah itu, pintu kamar Adel ditutup.
Dennis membuka pintu kamarnya. Tapi... eh?! Ada yang telah membuat Dennis terkejut saat melihat ke dalam kamarnya. Begitu juga dengan Rei. Karena di dalam kamar mereka ada sosok perempuan tinggi dengan rambut putih panjangnya yang terurai.
Lalu perempuan itu menengok ke belakang. Matanya melirik ke arah Dennis dan Rei. Saat dilihat lebih jelas lagi, ternyata perempuan itu adalah si Diana.
"Apa yang kau lakukan di sini?" tanya Rei sambil berjalan pelan menghampiri Diana.
"Ups, maafkan aku. Aku... aku tersesat," Jawabnya. "Aku tidak bisa menemukan kamarku."
"Hah, jadi karena kamar, ya? Coba beritahu aku, berapa nomor kamarmu?" tanya Rei lagi.
Diana terdiam. Lalu, ia mengambil lipatan kertas yang ada di saku bajunya. Diana membuka lipatan kertas itu. Nomor 57 lah yang tertulis di kertas itu. "Emm... kata gurunya, kamarku itu nomor 57."
Rei berpikir sejenak. "Oh... nomor 57? Eh, kamar itu kan tak jauh dari sini. Kemarilah..." Rei mengajak Diana keluar kamarnya. Saal di depan pintu, Rei menunjuk ke lorong panjang yang ada di sana. "Kamarmu ada di sana. Cari saja sendiri. Kau tinggal berjalan lurus saja ke sana."
"Oh! Aku mengerti. Terima kasih, kak!" Diana mengangguk. Lalu ia pun tersenyum senang. Setelah itu, ia berjalan ke arah yang ditunjukkan Rei padanya.
Setelah Diana pergi, Rei pun kembali ke dalam kamarnya dan menutup pintu. "Kenapa anak baru itu datang ke kamar kita?" tanya Rei pada Dennis.
Dennis yang sedang duduk di pinggiran kasurnya itu langsung kaget saat tiba-tiba Rei bicara padanya. "Eh? Aku tidak tahu."
"Kenapa kau diam saja dari tadi?" tanya Rei lagi.
"Ah, aku tidak apa-apa. Ah sudahlah...." Dennis membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Lalu, ia membalikan badannya menghadap ke tembok.
"Ada apa dengan anak itu?" pikir Rei dalam hati.
****
-Pukul 20.00-
"Den, Dennis... bangun! Sudah waktunya makan malam bukannya tidur." Teriak Rei sambil menggoyangkan tubuh Dennis.
"Eh?!" seketika Dennis membuka matanya lebar-lebar dan langsung bangun terduduk.
"Wah... kau mengagetkanku. Ada apa?"
"Ah, tidak apa-apa. Aku hanya sedikit kaget saja. Ternyata sudah malam, ya? Ah, kalau begitu kita harus cepat! Ayo!" dengan cepat, Dennis pun turun dari tempat tidurnya dan langsung berjalan cepat ke depan pintunya.
"Tunggu! Jangan buru-buru. Kau baru saja bangun. Memangnya kau tidak merasa pusing, apa?"
"Tidak, kak! Ah, ayolah. Aku takut. Takut daging rendangnya akan habis dimakan anak lain nanti." Jawab Dennis cepat sambil memakai sepatunya.
"Haduh kau ini...." Rei bergumam. Lalu, ia juga mengambil sepatunya di rak.
Setelah memakai sepatu, Dennis membuka pintu kamarnya. Lalu keluar dari kamarnya diikuti dengan Rei juga dari belakang. Setelah itu, mereka pun kembali menutup pintu kamarnya lagi.
Beberapa detik setelah mereka keluar, Dennis melihat kenop pintu kamar Adel bergerak, lalu pintu kamar itu pun terbuka. Dari balik pintu itu, muncul Adel dan Yuni yang sudah siap untuk pergi ke Kantin bersama kakak mereka.
"Eh? Kakak, kebetulan sekali. Ternyata kakak lebih cepat siap, ya? Padahal baru saja kami ingin menyampar kakak." Ujar Adel sambil berjalan menghampiri Dennis.
"Ah, iya." Dennis tertawa kecil. Lalu ia pun berbalik badan. "Sekarang ayolah. Kita harus cepat pergi ke kantin!"
Dennis berlari di lorong itu sampai ke depan tangga menuju ke bawah. Tapi bukannya kembali melanjutkan langkahnya untuk menuruni tangga itu, Dennis malah terdiam di tempatnya. Rei, Adel dan Yuni berhasil menyusul dirinya. Mereka bertiga juga malah terdiam di depan tangga.
Karena, mereka melihat ada sosok gadis berambut putih itu lagi. Ia sedang berdiri menghadap ke Dennis dan lainnya sambil menggendong sebuah boneka kelinci ungu yang ukuranya sedang. Tidak terlalu besar juga.
Mau apa anak baru itu berdiri terdiam di bawah sana?
*
*
*
To be Continued-