Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 22– Murid yang Menghilang


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


Selesai cerita tentang hantu hitam, Cahya pun pergi meninggalkan Dennis dan teman-temannya. Ia ada urusan dengan keluarganya di tempat lain, karena kakak tertuanya sudah memanggil dirinya.


Semuanya membiarkan Cahya untuk pergi. Dennis merasa kesepian saat Cahya pergi. Kalau begitu, ia akan mengobrol dengan Rei saja. Tadinya ia ingin bercanda dengan Akihiro, tapi temannya yang satu itu sedang berkumpul dengan para gadis di tempat lain sambil memakan makanannya.


Akihiro ternyata cepat sekali akrab dengan teman baru dari sekolah lain itu. Padahal baru saja kenal. Memang sih... Akihiro itu tipe teman yang asik kalau diajak bicara dan bercanda. Tidak ada orang yang merasa bosan kalau sudah dekat dengannya.


"Anu... Kak Rei?"


"Ada apa, Dennis?" Rei menyahut. Tapi matanya tidak melirik ke arah Rei, melainkan ke arah jendela besar tanpa gorden yang ada di dekat panggung kecil di sudut aula.


"Kak Rei mau gak? Kalau kita periksa rumah kecil itu?" tanya Dennis.


"Eh? Kau mau pergi ke sana? Kau pasti penasaran, ya?"


"Iya begitulah... hmm... sebelumnya juga aku sudah pernah melihat rumah itu. Tapi aku tidak berani untuk mendekatinya karena malam hari."


"Iya juga. Malam memang menyeramkan."


"Iya makanya. Aku ingin pergi ke sana saat siang hari."


"Tapi katanya tempat itu berbahaya."


"Ya... entah. Aku hanya penasaran saja."


"Aku juga penasaran, sih...."


"Eh? Jadi Kak Rei ingin ikut denganku besok?" Dennis terlihat senang. Ia benar-benar sudah tidak sabar ingin mengunjungi gubuk tua di tengah hutan itu. Apalagi kalau bersama dengan Rei.


Rei mengangguk, lalu menjawab, "Iya. Kita pergi besok saat...."


"Saat jam 2 siang saja, kak! Karena jam segitu, kita selesai makan siang bersama, lalu waktu jam bebas! Kita bisa ke sana diam-diam, kan?" jelas Dennis dengan penuh semangat. Sekali lagi, Rei mengangguk untuk mengiyakan.


Sedari tadi ia selalu melirik ke arah jendela besar dekat panggung. Sebenarnya apa yang dia lihat di sana? Dennis juga jadi penasaran. Kenapa Rei selalu menatap ke arah jendela besar?


"Apa ada sesuatu di sana, Kak Rei?" Dengan berani, Dennis pun bertanya. Tapi ternyata Rei mau menjawabnya. "Ada seseorang di sana."


Lalu tak lama, Rei menyentakan matanya. "Eh! Dia pergi!"


"Hah? Memangnya siapa?"


"Hantu hitam itu berhasil memasuki wilayah kita, Dennis." Jawab Rei.


Dennis terkejut mendengarnya. Lalu matanya ikut melirik ke arah jendela besar. Tapi ternyata Dennis tidak melihat apa-apa di sana. Karena penasaran, ia pun kembali bertanya, "Kak Rei? Mana? Katanya ada orang lain di sana."


"Kau terlambat, Dennis. Dia sudah pergi."


"Yah~ Sayang sekali." Dennis kecewa ia tidak bisa melihat sosok itu lagi. Tapi Dennis agak bingung, kenapa hantu hitam itu mengintip lewat jendela besar dan tidak pergi ke hutan? Apa jangan-jangan....


"Hantu itu sedang mencari mangsanya?!" Dennis tiba-tiba saja berujar keras. Rei jadi kaget sampai melompat. "Apa maksudmu, Dennis?"


"Kak Rei, kau tahu kan? Kata Cahya, hantu itu pemakan manusia. Jangan-jangan... dia datang ke sini untuk mencari manusia dan membawanya ke rumah kecil di dalam hutan itu!" Jelas Dennis. Ia jadi sedikit panik juga.


Tapi ternyata, pemikiran Dennis Rei anggap tidak masuk akal. Ia masih tidak percaya dengan kanibal atau semacamnya. Hantu tetaplah hantu. Dan hantu tidak mungkin memakan manusia. Mereka hanya makhluk gaib yang suka mengganggu manusia. Itu saja.


"Tidak mungkin, Dennis. Masa hantu mau makan manusia. Kau ini!" Rei menggerutu. Ia menganggap kalau Dennis itu sedang bercanda. Dennis juga meragukan pemikirannya. Ia bergumam, "Iya juga, ya? Hehe...."


"Ah, dasar...."


"PAK WIJA! PAK WIJA!! TOLONG!"


Semua orang terkejut saat mendengar seseorang datang ke aula Villa sambil berteriak minta tolong. Ternyata orang itu adalah salah satu murid Pak Wija yang datang. Ada apa dengannya?


Pak Wija dan Bu Mia turun dari panggung, lalu berlari menghampiri anak muridnya yang baru datang itu. Gurunya meminta anak itu untuk bertenang sedikit. Mengatur nafasnya yang terengah-engah karena habis berlari, lalu Bu Mia meminta anak itu untuk duduk terlebih dahulu dan menceritakan masalahnya.


"I–itu! A–Adriell menghilang, Pak!" jawab anak muridnya yang bernama Sabrina. Seorang gadis dengan rambut panjang yang dikuncir ke samping. Ia panik karena teman sekamarnya menghilang.


"Apa katamu?! Adriell menghilang?" Pak Wija juga terlihat kaget saat mendengarnya. "Bagaimana bisa? Apa yang telah terjadi?!"


"Saya juga tidak tahu, pak! Sebelumnya kami berdua sedang berbincang bersama di pondok. Lalu mendadak si Adriell ingin buang air kecil. Karena tidak sempat untuk ke kamar mandi yang ada di dalam Villa, maka terpaksa dia harus menggunakan kamar mandi yang ada di dekat kamar anak laki-laki itu. Yang di dekat turunan di sana!" Sabrina menjelaskan lalu menunjuk ke arah turunan yang ia maksud.


"Iya, lalu setelah itu?"


"Saya biarkan saja Adriell pergi karena tempatnya tidak jauh. Tapi saat saya tunggu, ternyata lama juga. Padahal dia bilang hanya ingin buang air kecil. Jadi saya pergi susuli dia saja ke kamar mandi itu. Tapi saat saya ketuk pintunya, tidak ada yang membuka. Lalu saat saya dorong, ternyata pintu kamar mandinya tidak terkunci dan... Adriell sudah tidak ada di dalam sana." Terang Sabrina lagi. Lalu setelah selesai dengan ceritanya, ia pun menutup kedua matanya dengan telapak tangan lalu menangis.


Pak Wija berusaha untuk menenangkannya. "Tidak apa. Tidak apa. Jangan menangis."


"Huwaaa... Ini salah saya karena tidak menemaninya. Makanya ada orang lain yang menculik dirinya. Hiks... hiks..." Sabrina mengelap air matanya dengan punggung tangannya, lalu kembali menangis lagi. Semakin keras.


"Ini bukan salahmu." Pak Wija kembali berdiri tegak, lalu meminta Bu Mia untuk menenangkan Sabrina, sementara dirinya ingin pergi menemui keluarga pemilik Villa untuk meminta bantuan agar mereka mau membantu Pak Wija mencari Adriell yang hilang.


Setelah Pak Wija pergi, Bu Mia mengajak Sabrina untuk duduk dengan tenang. Lalu setelah itu, ia meminta semua anak untuk kembali ke kamarnya masing-masing. "Semuanya kembali ke kamar! Jangan ada yang keluar jika tidak penting. Tetaplah di dalam kamar dan bersembunyi. Lindungi teman sekamar kalian."


"Lalu bagaimana dengan Adriell, Bu?" tanya seorang anak perempuan lainnya yang merupakan teman sekamar Adriell juga.


"Guru kalian sedang mencarinya. Setelah ini, Ibu juga ingin mencarinya. Jadi sekarang... ajak Sabrina ikut dengan kalian ke kamar, ya?"


"Ah, baiklah, Bu!"


Semua murid menurut. Mereka benar-benar kembali ke kamarnya. Yang ada di luar Villa juga ikut masuk karena bagi perempuan, kamar mereka berada di dalam gedung Villa. Kalau yang laki-laki berada di luar. Terdapat gedung kecil lainnya sebagai kamar mereka.


Akihiro sudah selesai dengan perkumpulan para gadisnya. Dia akan kembali ke kamarnya juga. Tapi saat di depan meja makanan, Akihiro tidak lupa untuk membawa stok makanan yang ingin ia bawa ke kamarnya sebagai cemilan. Bahkan satu nampan gorengan saja ia bawa semua ke kamarnya.


Setelah Akihiro keluar dari Villa sambil membawa banyak makanannya itu, ia bertemu dengan Rei dan Dennis di dekat kolam renang. Akihiro memanggil mereka berdua dengan mulut yang masih penuh dengan makanannya.


"Ka–Kak Dian? Banyak sekali kau membawa makanan dari dalam Villa? Memangnya kau sanggup untuk menghabiskannya?" tanya Dennis sedikit terkejut dengan bawaan Akihiro itu.


Akihiro tersenyum. Ia menelan makanannya dulu, lalu menjawab, "Iya pastinya habis, lah! Aku lapar tahu."


"Tapi sedari tadi Kak Dian selalu makan mulu, loh! Masa gak pernah merasa kenyang?"


"Iya pastinya dia gak kenyang. Dah tau perutnya itu terbuat dari karet." Rei menyindir. Tapi Akihiro malah tertawa, lalu menyenggol tubuh Rei dengan badannya. "Rei kau memang benar. Tapi aku agak heran saja gitu. Kenapa tubuhku tidak pernah gemuk? Padahal aku makan banyak, loh!"


"Itu mah urusanmu sendiri." Rei menjawab dingin. "Mau aku tiup biar gemuk seperti balon?"


"Eh? Tidak lah! Jangan! Bukan seperti itu juga, Rei! Kau ini."


"Aku tidak peduli."


Dennis tertawa. Ia baru bisa berhenti setelah sampai di depan kamarnya. Sedikit melambai pada Akihiro sebelum ia masuk ke kamarnya, lalu setelah itu, Dennis dan Rei pun memasuki kamar mereka sendiri. Di dalam baru datang Azra saja. Tapi tak lama kemudian, Davin dan Zainal pun datang.


Mereka yang baru datang itu langsung membaringkan tubuhnya di atas tempat tidur. Begitu juga dengan Dennis dan Rei. Tapi mereka berdua tidak memutuskan untuk tidur, hanya memainkan ponselnya saja.


Saat dilihat ke jam ponsel, ternyata waktu telah menunjukan pukul 5 pagi. Mau tidur lagi juga tanggung. Karena nanti pukul 7, akan ada kegiatan baru di pagi hari.


"Kak Rei... murid yang menghilang tadi... apakah dia diculik oleh hantu hitam?" tanya Dennis dengan bergumam.


Rei yang masih memainkan ponselnya pun menjawab, "Aku juga berpikiran seperti itu. Tapi semoga saja tidak."


"Lalu ke mana perginya anak yang menghilang itu? Kok perasaanku jadi tidak enak, ya?"


*


*


*


To be Continued-


Dimohon untuk like nya jangan di setiap ending eps doang, ya? ^^ Yang belum like, di like juga :v


Follow IG: @pipit_otosaka8