Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 14– Konflik Antar Sahabat


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)


*


*


*


"Sosok itu adalah... hantu penunggu Villa yang katanya pernah mati di tengah lapangan itu. Mati karena dibunuh oleh warga di dekat daerah ini."


"Loh? Kenapa?" Dennis bertanya. "Kenapa dia harus dibunuh?"


"Karena... orang itu adalah manusia pemakan manusia. Alias kanibal!"


Dennis terkejut, tapi tidak dengan Rei. Rei menganggap cerita Cahya itu tidak mungkin benar. Dalam satu hari, ada yang membicarakan tentang kanibalisme di dekatnya. Saat tadi pagi dengan si kembar dan sekarang diceritakan lagi sama Cahya. Ia benar-benar tidak percaya dengan yang namanya makhluk pemakan sejenisnya itu.


Jadi selama Cahya bercerita, Rei tidak berekspresi sama sekali. Ia mungkin tidak ingin mendengarkan cerita omong kosong itu. Tapi karena melihat Dennis sangat penasaran dengan ceritanya Cahya, maka Rei ikut-ikutan saja. Pura-pura ketakutan dan ingin tahu dengan lanjutan cerita Cahya.


"Kanibal itu tidak ada." Rei berujar dingin, menyela cerita Cahya.


"Ta–tapi cerita ini sungguhan terjadi. Sosok hitam yang kalian lihat tadi itu adalah si hantu kanibal itu. Dia terlihat membawa karung, kan? Nah! Karung itulah yang ia gunakan untuk membawa potongan daging manusia. Dan katanya... tempat penyimpanan daging-daging itu berada di dalam rumah kecil yang terletak di dalam hutan. Makanya setiap malam, hantu itu suka terlihat keluar masuk hutan." Jelas Cahya. Rei tidak mempedulikannya. Matanya melirik ke arah Dennis yang sedang ketakutan. Saat Rei menepuk pahanya saja, Dennis tersentak kaget.


"Ka–kak Rei mengejutkanku!" Dennis membentak. Rei memasang wajah datar lalu menjawab dingin, "Ekspresi mu itu biasa saja, dong! Takutan amat. Udah tau cerita ini kan hanya omong kosong saja."


"Ah... sepertinya Rei tidak percaya padaku, ya?" Cahya menundukkan kepalanya. Wajahnya terlihat sedih karena Rei tidak mempercayai cerita yang ia anggap nyata.


"Tentu saja aku tidak percaya. Kan sudah aku bilang, kanibal itu tidak ada. Dan satu lagi! Kau bilang ini hanya cerita saja, kan? Cerita dari mulut ke mulut? Jadi tidak mungkin benar!" Rei menggerutu. Ia tidak terlihat seperti sedang memarahi Cahya. Tapi perlakuan Rei telah membuat Cahya sedih. Dennis tidak suka melihat teman barunya itu akan mengeluarkan air mata manisnya. Ia mengerutkan kening, menatap tajam ke arah Rei.


"Kak Rei kalau tidak suka lebih baik pergi saja sana!" Dennis membentak Rei, lalu mengelus punggung Cahya dengan lembut. "Kau selalu saja seperti itu! Hargai cerita orang lain, dong! Kak Rei selalu saja tidak percaya dengan hal yang begituan!"


Rei benar-benar terkejut. Baru pertama kali teman terbaiknya itu membentak dirinya. Baru pertama kali!


Rei mengerutkan keningnya, lalu tanpa kata-kata ia pun keluar dari dalam pondok. Setelah Rei pergi, Dennis tiba-tiba merasakan sesuatu yang tidak enak. Lalu dengan cepat, Dennis melirik ke arah Rei yang sudah pergi menjauh darinya dengan perasaan kesal.


"Oh tidak. Apa yang aku katakan padanya tadi?" batin Dennis. Sekali lagi ia melirik ke Rei dan tidak menemukannya. Rei sudah benar-benar menghilang dari pandangannya. Lalu tiba-tiba saja di kepala Dennis, ia melihat bayangan Rei beberapa menit yang lalu. Di saat Dennis membentak Rei dan dapat terlihat ekspresi kecewa Rei pada Dennis.


"Apa yang sudah kulakukan?" Dennis bergumam lagi di dalam hatinya. Rasanya sakit saat Dennis memikirkan Rei dan melihat ekspresi Rei yang baru pertama kali ia lihat. Perasaan kesal Rei pada Dennis langsung menusuk ke dalam hati. Dalam sekali!


"Kak Rei kalau tidak suka lebih baik pergi saja sana!"


"Tidak... aku tidak bermaksud untuk mengatakannya." Mata Dennis mulai menggenang air mata dan mulai mengalir melewati pipinya. Ia menundukkan kepala sambil mencengkram erat rambutnya dengan kedua tangannya. "Aku... apa aku mengatakannya? Aku menyesal. Menyesal."


TRINING!


Dennis terkejut. Ia mendengar ada pesan masuk di dalam ponselnya. Secara perlahan, Dennis mengeluarkan ponselnya lalu membukanya. Dengan mata yang masih berkaca-kaca, Dennis melihat ada satu pesan Message yang dikirim dari Rei.


Dennis senang sekali Rei masih mau mengirimkan pesan untuknya. Dengan cepat, Dennis pun membuka pesan itu dan membacanya. Tapi... saat dibaca, seketika raut wajah Dennis berubah drastis.


[ Aku menuruti permintaan terakhirmu. Kau memintaku untuk pergi, jadi aku akan pergi saja. Jangan mencariku. Jangan mengirim pesan padaku. Jangan bicara padaku lagi. Dan... jangan panggil aku dengan sebutan 'kakak' lagi. Dah... untuk Dennis yang suka dengan teman barunya dibanding sahabat terbaiknya. Aku salah menilaimu. Jadi sudah, ya? JANGAN BALAS PESAN INI! ]


"Tu–tunggu Kak Rei." Dennis bergumam. Ia jadi panik setelah membaca pesan itu. Dennis mengetik dengan cepat di ponselnya. Ia menulis permintaan maaf pada Rei dan terus mengirimnya beberapa kali. Sampai Dennis menyepam Rei dengan pesan maaf yang ia berikan.


"Dennis... kau baik-baik saja?" tanya Cahya yang mulai cemas dengan sikap Dennis sedari tadi. Apalagi saat Dennis mulai meneteskan air mata, Cahya jadi ikut menangis juga. Ia tidak tega melihat Dennis seperti itu. "Dennis...?" Cahya terus memanggil dirinya. Tapi Dennis tidak mendengarkannya. Ia terus mengirim banyak pesan pada Rei sampai Rei ingin membalas pesan maafnya itu.


DING!


Dennis terkejut. Tiba-tiba saja Dennis tidak bisa mengirim pesan lagi pada Rei. Saat dilihat tandanya, terdapat tulisan "Nomor anda telah diblok oleh pemilik nomor ini". Dennis benar-benar terkejut melihatnya. Lalu dengan cepat, ia langsung keluar dari dalam pondok tanpa menyimpan ponselnya kembali ke dalam saku. Cahya juga ikut bersama Dennis.


Setelah keluar dari pondok, Dennis langsung berlari mendekati cahaya dan banyaknya anak-anak lainnya yang sedang tertawa bahagia bersama dengan teman mereka. Dennis ingin bertemu dengan Rei sekarang juga. Ia bisa mengucapkan dan meminta maaf langsung di hadapan Rei.


Pokoknya Dennis tidak akan berhenti sebelum ia menemukan Rei. Ia juga tidak akan berhenti meminta maaf pada Rei sebelum Rei membalas maafnya. Tapi walau sudah meminta maaf, Dennis takut kalau Rei tidak menerima maaf Dennis. Dan yang sangat ia takutkan adalah....


Bagaimana kalau Rei tidak ingin berteman dengan Dennis lagi?


"Tidak Dennis! Jangan berpikir seperti itu! Jangan!" Dennis menggeleng cepat setelah ia berpikir tentang Rei yang memutuskan ikatan persahabatannya. "Rei tidak mungkin seperti itu. Ya ampun... Kak Rei! Aku sungguh menyesal!"


Dennis terus berlari sambil celingak-celinguk ke segala tempat untuk mencari Rei. Sampai orang di sekitar yang melihat tingkah paniknya itu jadi kebingungan. Dennis tidak berani teriak karena ia tidak ingin Rei tahu kalau dirinya sedang mencari temannya itu. Kalau Rei tahu, mungkin saja Rei bisa bersembunyi di suatu tempat agar Dennis tidak bisa menemukannya.


"Dennis! Aku tidak percaya kau berani berkata seperti itu padaku!"


"Dennis! Aku kecewa padamu!"


"Lebih baik kita tidak usah berteman lagi!"


"Tidak! kak Rei tidak akan berani berkata seperti itu padaku!" Dennis menggeleng cepat. Berusaha untuk menghapus kata-kata yang tidak enak didengar di kepalanya. "Kak Rei! Kumohon... di mana kau?"


Dennis sudah mencari ke setiap pondok, kamar-kamar bahkan ke kamar perempuan sekaligus, dan sampai Dennis mencari di setiap sudut di dalam aula Villa hanya untuk mencari Rei. Tapi tetap tidak ketemu.


Saat di dalam Villa, Cahya berhenti mengikuti Dennis karena tiba-tiba saja ada orang lain yang menarik tangannya. Ternyata orang itu adalah kakaknya sendiri. Namanya adalah Meilan Ririna. Nama panggilannya Rina.


"Ka–kak Rina ada apa?" tanya Cahya setelah ia menghentikan langkah dan menoleh ke arah kakaknya.


"Hei? Kok kamu bisa dekat sama anak yang itu, sih?" Rina bertanya balik.


"Oh? Dennis?"


"Jadi kau mengenalnya?!"


"I–iya. Kenapa kakak terlihat kaget sekali?"


"Kenapa kau bisa mengenalnya, sih? Jadi nama dia itu Dennis?"


"I–iya... kenapa sih, kak?"


"Kau jangan dekat-dekat sama dia! Dia itu milikku tahu!"


"Eh? Jadi kau menyukainya?"


Wajah Rina seketika memerah. Ia melirik ke arah lain dan menjawab sambil tertawa, "Dia hanya cowok yang mirip seperti tipeku. Jadi... aku menyukainya lah kalau dia seperti tipe cowokku."


"Oh, jadi kau menyukainya? Begitu, ya?" Cahya menunduk dan memelankan suaranya. Rina jadi curiga dengan adik beda satu tahun dengannya itu. Lalu dengan cepat, ia mendongakkan kepala adiknya secara paksa dan bertanya, "Jangan bilang kalau kau juga menyukainya! Kau tidak suka dia, kan?"


"Ah, apaan sih? Siapa juga yang suka sama dia, ah lepas!"


"Oh bagus. Tapi awas saja kalau kau sampai menyukainya! Karena dia harus menjadi suami masa depanku!"


"Kau gila, kak." Cahya bergumam melihat tingkah kakaknya yang aneh hanya karena cinta. Lalu setelah itu, Cahya pun pergi meninggalkan kakaknya. Tapi... tiba-tiba saja Rina kembali menarik tangan adiknya lagi.


"Apaan lagi, sih, Kak?!" Cahya menggeram.


"Ngomong-ngomong... tadi Dennis mau ke mana? Aku melihat wajah manisnya kok penuh dengan air mata? Apa telah terjadi sesuatu yang buruk padanya?" tanya Rina cemas.


"Aku tidak tahu. Tapi... dia baru saja bertengkar dengan teman dekatnya itu." Jawab Cahya.


"Oh, temannya yang ganteng itu, ya?"


"Semuanya saja kau anggap ganteng, kak! Haduh...."


"Tentu saja! Murid-murid dari sekolah di luar kota itu cakep-cakep semua, tahu! Tapi tetap saja. Dennis-ku yang paling cakep." Rina menggila lagi sambil memikirkan Dennis di kepalanya. Lalu ia bertanya kembali, "Apa kau lihat dia pergi ke mana tadi?"


"Ah, tadi pas dia keluar dari Villa, aku lihat dia berlari ke arah kanan dan–"


"Oke makasih! Aku ingin mendapatkannya. Dan kau! Jangan ikuti aku. Tadi ibu meminta bantuanmu."


"Eh, kak! Ah, dia pergi. Padahal aku ingin tahu Dennis pergi ke mana dan... aku ingin membuat Dennis berbaikan dengan Rei." Cahya menunduk lagi. Lalu bergumam, "Jadi kakak... suka sama Dennis juga?"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8