Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 64– Dian Syahputra


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


BUAK! BUK! BRUK!!!


"Nah! Begitu, Dian! Buat dirimu berguna. Jangan hanya menyusahkan saja, haha!"


Akihiro berusaha untuk merebut pistol dari si orang besar yang ada di depannya. Tapi karena tenaga orang itu terlalu kuat, maka Akihiro tidak ada kesempatan untuk berhasil merebut senjatanya. Bahkan ia sendiri rela tubuhnya terus kena pukul oleh orang bertubuh besar itu.


Sementara Akihiro dipukuli, Kakak dan Ibunya hanya bisa menonton. Kakaknya terus tertawa senang saat melihat keadaan Akihiro. Sementara ibunya selalu diam saja dengan tampang tanpa ekspresi. Mereka tidak ingin membantu Akihiro dan terus membiarkannya begitu saja.


BRUK!


Tubuh Akihiro sudah terjatuh dan tidak bergerak lagi. Ia benar-benar sudah kehabisan tenaga. Dan jangan lupa juga dengan luka-luka memar di sekujur tubuhnya. Kepalanya juga mengeluarkan darah karena terkena benturan dari tembok dan beberapa pukulan dari ujung pistol yang kuat.


Setelah Akihiro terjatuh, si orang besar itu menendang tubuh Akihiro untuk menjauh darinya. Lalu setelah itu, matanya melirik ke arah kedua keluarganya Akihiro. Setelah itu, ia berjalan secara perlahan ke arah kakaknya Akihiro dan Ibunya.


"Si–sial! Apa yang kau lakukan?! Jangan mendekat!" bentak kakaknya Akihiro sambil mengarahkan tangan kirinya yang masih berfungsi ke depan. Ia terlihat gemetar dan ketakutan saat melihat si orang besar yang membawa pistol dan ditodongkan langsung ke arahnya.


"Woy, Dian! Lakukan sesuatu, bodoh!" teriak kakaknya. Tapi percuma saja. Akihiro sudah tidak bisa bergerak lagi, walaupun dirinya masih tersadar. Akihiro hanya bisa tergeletak lemas di lantai, memejamkan mata sambil mengatur nafasnya dan menahan luka-luka yang dideritanya.


"DIAAAANN!" teriakan kakaknya yang ketakutan itu tiba-tiba saja membuat Akihiro terkejut. Sontak ia langsung membuka kembali matanya dan kepalanya sedikit terangkat.


Di pojokan, ia bisa melihat kakaknya dan ibunya yang terlihat tidak berdaya. Mereka berdua ketakutan dengan seseorang yang menghampiri mereka secara perlahan.


"DIAAAN! TOLONG KAMI!" Kali ini suara itu adalah teriakan dari ibunya. Akihiro langsung bangun terduduk. Ia ingin menolong kakaknya dan Ibunya karena... di matanya, ia melihat kedua keluarganya itu sudah terlihat seperti orang yang sudah pasrah dengan hidupnya.


Akihiro tidak ingin ibunya meninggal di depan matanya sendiri. Sekarang juga, ia akan menolong keluarganya yang masih tersisah. Ia berusaha untuk berdiri walau tubuhnya terasa ingin hancur.


Setelah kembali berdiri, Akihiro menyandarkan tubuhnya di depan papan tulis sambil menggenggam lengan kanannya yang sakit. Ia sedikit meringis, lalu berteriak. Ia memanggil si orang besar yang membawa pistol itu.


"Hei, kau! Botak!"


Memang sih... orang itu tidak memiliki rambut, alias kepalanya gundul. Tapi dengan tampangnya dan kekuatan ototnya telah membuat Akihiro merasa merinding saat menatap orang itu. Ia sudah tahu kekuatan yang dimiliki orang itu. Tapi untuk kali ini, Akihiro akan memberanikan diri untuk menyelamatkan keluarganya.


"Kau! Siapa yang kau panggil botak?" balas orang besar itu setelah ia menengok ke belakang dan menatap tajam ke arah Akihiro.


"Kalian semua! CEPAT LARI!" teriak Akihiro pada keluarganya. Lalu setelah itu, ia menunjuk ke arah orang besar yang berdiri tak jauh dari hadapannya. "Dan kau! Kawanmu adalah aku!"


Akihiro mensipitkan matanya. Ia sudah siap dengan posisinya untuk melawan orang besar itu. Tapi sebelum ia mulaimenyerang, sempat-sempatnya Akihiro bergumam di dalam hati. "Sekarang ini... aku akan berhati-hati. Aku tidak boleh lengah karena kawanku kali ini lebih kuat. Rei sendiri pasti pernah melawan orang seperti dia. Dan satu lagi, dalam keadaanku yang seperti ini, aku tidak boleh terlihat seperti orang lemah! Untuk sementara saja, kumohon! Beri aku kekuatan untuk–"


DOR!!!


Bunyi tembakan terdengar keras. Akihiro terkejut. Tiba-tiba saja ia melihat darah yang muncul dan muncrat mengenai pipinya. Dan setelah suara tembakan itu, seketika tubuh Akihiro terdorong ke belakang.


Tubuhnya menghantam tembok dan seketika kakinya langsung mati rasa. Tapi Akihiro berusaha untuk menahannya. Dengan tangan kirinya, ia menopang tubuhnya untuk tetap berdiri tegak. Sementara tangan kanannya menggenggam bagian bawah perutnya yang tiba-tiba saja muncul rasa sakit yang luar biasa.


Dan saat Akihiro melihat telapak tangan kanannya, ia terkejut karena telapak tangannya itu telah dipenuhi oleh warna merah yang terasa hangat dan lengket.


"Da–darah? Ugh! Khak!" Akihiro merasa perutnya semakin sakit. Ia memuntahkan darah dari dalam mulutnya, lalu tanpa sadar tubuhnya pun terjatuh ke lantai.


Ternyata perutnya terluka karena telah tertembak oleh pistol. Pelurunya menancap di dalam tubuh Akihiro dan tidak menembus keluar tubuhnya. Tapi tetap saja Akihiro merasa kesakitan. Walau ia berusaha untuk menahannya, tetap tidak bisa.


"Tolong... aku..." Tanpa sadar Akihiro bergumam. Mengucapkan dua kata itu untuk meminta pertolongan agar dirinya bisa terselamatkan.


Pandangan Akihiro semakin lama semakin menghilang. Dan saat itu juga, ia melihat kedua keluarganya malah berlari keluar kelas dan meninggalkannya begitu saja. Tapi dengan begitu, Akihiro menjadi senang. Sebelum ia menutup mata, Akihiro sempat tersenyum dan bergumam, "Setidaknya mereka masih bisa selamat. Ah...."


Pandangannya semakin gelap. Entah kenapa tiba-tiba saja gelap, padahal Akihiro belum menutup matanya. "Apakah aku akan mati di sini? Aku bahkan belum berhasil untuk menyelamatkan teman-temanku. Ba–bagaimana ini?" Batin Akihiro.


"Heh... itu hanya pistol. Benda sekecil itu tidak mungkin bisa membunuhku. Aku harus kuat. Kumohon berikan aku nyawa penuh untuk menolong teman-temanku."


"Aku akan menggunakan kesempatan kedua ini dengan baik. Dan yang terpenting sekarang... tolong bantu keluargaku untuk keluar dari sekolah ini dengan aman. Kumohon... siapa... saja...."


"...."


****


Di mana... aku?


Dalam pengelihatan Akihiro yang gelap, ia bisa merasakan tubuhnya lagi. Hanya saja, ia masih belum bisa menggerakannya. Lalu tak lama, Akihiro merasa ada seseorang yang menyentuh tangan kanannya. Secara perlahan, Akihiro menggerakan kepalanya untuk menengok ke samping kanannya.


Akihiro sedikit melebarkan mata karena ia melihat sosok bayangan hitam yang membentuk seperti gadis kecil yang juga ikut tertidur di sampingnya.


Akihiro ingin bertanya. Tapi ia tidak bisa mengeluarkan suaranya. Menggerakkan tubuhnya saja sulit, apalagi untuk berbicara.


"Kematian adalah sesuatu yang terdengar mengerikan. Apalagi jika kita merasakan kematian itu secara langsung."


Akihiro dapat mendengar sosok hitam di sampingnya itu berbicara. Kali ini, Akihiro hanya akan mendengarkan dan tidak berbicara. Sosok hitam, berbentuk seperti seorang gadis kecil yang ada di samping Akihiro. Gadis itu tidak menunjukan wajahnya. Tapi Akihiro masih bisa melihat senyuman di setengah wajahnya yang masih terlihat. Walau sekujur tubuhnya terlihat seperti bayangan yang samar-samar, tapi Akihiro masih bisa melihat setengah wajah gadis itu.


Wajah yang terlihat tidak asing di mata Akihiro.


Gadis yang dulunya selalu dekat dengannya.


Gadis kecil yang paling ia sayangi.


Tapi siapa?


"Perasaanmu pasti sangat sakit dan terluka jika melihat dewa kematian yang datang untuk menjemput salah satu teman yang kau sayangi. Tapi... bagaimana kalau Dewa Kematian itu yang akan mendatangimu? Apakah teman-temanmu akan memiliki perasaan yang sama sepertimu jika melihat dirimu meninggalkan dunia?"


"Bagaimana... Dian... Syahputra...?" Sosok gadis itu menengok dan menunjukan wajahnya pada Akihiro.


Seketika Akihiro langsung menyentakan mata karena terkejut dengan gadis yang ia lihat itu. Tampang dari si gadis kecil itu terlihat menyeramkan. Setengah wajahnya menghilang dan hancur, lalu sebelah wajahnya yang masih mulus, terdapat mata hitam yang besar dan mengeluarkan darah.


Gadis setengah wajah itu benar-benar telah membuat Akihiro ketakutan. Sampai akhirnya... ia bisa mengeluarkan suaranya, tapi secara paksa. Ia berteriak ketakutan dan–


****


"EH!!"


Akihiro kembali membuka mata dan terkejut. Ia merasakan sesuatu yang lembut di kepalanya. Secara perlahan, Akihiro pun mengangkat tangan dan meraba keningnya. Ia merasa ada gumpalan kapas dan kain yang telah menggulung kepalanya.


"Perban?" Akihiro bergumam. "Dan tempat ini...."


Ia memperhatikan lingkungan sekitarnya. Akihiro berada di dalam sebuah ruangan dengan cat tembok berwarna putih dan beberapa lemari kaca yang terdapat banyak obat di dalam lemari itu.


Setelah melirik ke sekitar, Akihiro melihat keadaan tubuhnya sendiri. Ia melihat tangan kirinya yang tertempel oleh selang infus. Dan juga... ada tirai gorden yang terletak di samping tempat tidurnya. Dan di samping sebaliknya, Akihiro melihat ada 2 buah jendela besar yang memancarkan cahaya sinar matahari. Sebelah jendela setengahnya tertutup gorden dan yang lainnya tetap dibiarkan terbuka untuk mendapatkan cahaya di dalam ruangan tersebut.


"Ini... rumah sakit?" gumam Akihiro lagi.


"Ah! Ternyata kamu sudah sadar rupanya." Seseorang datang dan menganjurkan Akihiro dengan suaranya. Dua Orang dewasa datang mendekati Akihiro. Satu orang memakai jas berwarna putih. Dan satunya lagi memakai kemeja kotak-kotak.


Akihiro tahu, yang memakai jas putih itu pasti adalah dokter di rumah sakit ini. Lalu... siapa orang dewasa yang satunya lagi? Akihiro tidak mengenal dia.


"Diaaan!" Suara seorang anak kecil. Lagi-lagi ada yang datang dan menghampirinya. "Dian! Dian! Kamu selamat!" ucap anak kecil itu dengan senangnya. Lalu setelah puas berlompat-lompat, anak kecil itu pun memeluk erat tubuh Akihiro yang sedang bersandar di bantal.


"Dinda?" gumam Akihiro. Gadis kecil itu mengangguk. Akihiro memanggilnya dengan nama Dinda. Sebenarnya gadis itu siapa? Dan... kenapa saat ini, wajah Akihiro terlihat berbeda.


Di dalam kegelapan, sebelum aku mati, aku... lagi-lagi mengingat beberapa kejadian yang seharusnya aku lupakan. Tapi entah kenapa, di saat seperti ini, aku malah mengingatnya kembali.


Dan sekarang... kembali dimulailah cerita masa laluku yang kelam....


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8