Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 22–Rei dengan Adit adalah MUSUH!


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Tidak mungkin..." Dennis bergumam tidak percaya. "Eh? Dia ada di kelas kita? Tapi siapa anak itu?" tanya Dennis penasaran.


"Namanya adalah... Maulan Aditia. Atau biasa kami panggil dengan nama, Adit!" jawab Rei.


"A–Adit? Bukannya dia yang datang ke rumah nenekku kemarin, ya?" tanya Dennis heran. "Jadi dia memang teman sekelas kita?"


Rei menggeleng pelan. "Terserah kau mau memanggilnya teman atau tidak. Intinya aku benci sekali dengan anak itu."


"Eh, loh?!" Dennis terkejut. "Kenapa memangnya? Apa sebelumnya kakak pernah berkelahi dengan kakak Adit itu?"


Rei tidak menjawab. Ia tidak ingin membicarakan tentang Adit saat ini. Tapi tiba-tiba ada seseorang yang menjawab pertanyaan Dennis itu. "Rei dengan Adit punya masa lalu yang kelam. Dan itu semua gara-gara Adit sendiri."


Secara perlahan, Dennis menengok ke samping kirinya dan terkejut. Karena di bawah kursi yang ia duduki, tiba-tiba saja muncul Akihiro yang sedang duduk di lantai sambil menatapnya.


"Se–sejak kapan kakak di sana?!" tanya Dennis.


"Baru saja. Kan aku tadi ada di depan sana, lalu aku masuk ke dalam rumah untuk mengambil cemilan, lalu setelah itu aku kembali lagi ke luar. Mendengar kalian berdua sedang bergosip tentang anak ternakal di kelas, aku juga ingin ikutan, dong!" pinta Akihiro sambil mengunyah cemilan di dalam toples yang ia pegang. Hanya cemilan berupa keripik kentang saja yang dibuat oleh Ibunya Rei.


"Sudahlah. Tidak ada yang bisa dibicarakan lagi." Ujar Rei. Lalu ia langsung beranjak dari kursinya dan masuk ke dalam rumahnya.


"Eh?" Dennis masih melirik ke arah Rei saat Rei sedang berjalan melewatinya. Setelah Rei kembali masuk ke dalam rumahnya, Dennis kembali melirik ke Akihiro. "Eh, sebenarnya Rei dengan Adit itu punya hubungan apa, sih?" tanya Dennis penasaran.


Akihiro masih duduk dengan posisi yang sama. Setelah ia menelan keripik kentang yang telah hancur di dalam mulutnya itu, ia menjawab, "Musuh."


"Mu–musuh? Maksudnya? Tunggu, memangnya kenapa? Ada apa dengan Rei dan Adit itu?" tanya Dennis. Lalu setelah itu, ia pun turun dari kursinya. Duduk menghadap ke Akihiro. Ia sengaja berpindah tempat karena Dennis merasa tidak sopan pada Akihiro. Dennis duduk di atas sedangkan Akihiro di bawah. Makanya Dennis juga ikut duduk di dekat Akihiro saja.


"Yah... dulu saat masih kelas satu, Rei berhasil mengalahkan kepintaran si Adit itu. Lalu karena dendam, Adit pun melakukan hal yang tidak baik pada Rei." Jelas Akihiro.


"Loh? Kok begitu? Memangnya Kak Adit itu melakukan apa pada Kak Rei?" tanya Dennis.


"Masa kau tidak tahu, sih? Kan kejadian itu sudah tersebar sampai ke seluruh sekolah."


"Lah... kan saat kalian masih kelas satu, aku kan belum ada di sekolah itu, tau! Jadi aku tidak tahu, lah!" geram Dennis.


"Oh iya juga, ya? Haha..." Akihiro terkekeh sambil memakan cemilannya itu.


"Ah sudahlah... sekarang ayo ceritakan lagi, kak! Ada apa dengan si Adit itu? Kata Rei... dia itu anak yang paling pintar di kelas, ya? Memangnya begitu?" tanya Dennis.


"Iya begitulah. Saat kelas satu tahun kemarin, kemarinnya lagi, Adit mengalami kegagalan di ujian akhir semesternya. Sehingga, dirinya itu tidak bisa naik ke kelas dua. Nah, saat itulah si Adit itu mulai bangkit kembali. Ia belajar sekuat yang ia bisa sampai akhirnya... ia pun bisa mendapatkan nilai yang terbaik di kelas. Tapi... saat semester 2-nya... Rei datang ke kelas Adit." Akihiro masih belum selesai cerita, tapi Dennis sudah menyelanya.


"Oh, jadi sebelumnya Kak Rei belum sekelas dengan Kak Adit itu, ya? Memangnya sebelumnya itu Kak Rei ada di kelas yang mana?" tanya Dennis.


Akihiro menjawab, "Ada deh, di kelas lain. Dia dipindahkan karena murid di kelas lamanya itu telah penuh. Sedangkan di kelas Adit masih bisa kekurangan murid. Jadi... pindah lah Rei ke kelas 3-C."


Akihiro masih melanjutkan ceritanya itu. Entah kenapa, dia merasa bangga sekali kalau sedang menceritakan tentang Rei pada orang lain.


"Tepat saat pulang sekolah, Rei akan kembali ke kamarnya. Tapi tiba-tiba si Adit menghadangnya dan langsung memukul Rei habis-habisan. Ia mengeluarkan semua amarahnya pada Rei untuk balas dendam. Tapi yang membuat aku kecewa itu, kenapa Rei tidak bisa melawannya saat ia sedang dipukuli. Dan juga... Adit menyerang Rei di saat yang tepat. Yaitu di dalam lorong yang sudah sepi dan tidak ada seorang pun di sana."


"Oh tidak! Lalu apa yang terjadi? Tidak mungkin Rei kalah, kan? Dia pasti akan melawan atau mungkin saja... ada anak lain atau guru yang menolongnya?" tanya Dennis. Padahal Akihiro hanya bercerita, tapi sudah berhasil memancing emosi Dennis. Saat ini, ekspresi Dennis terlihat cemas karena ia juga membayangkan bagaimana jika dirinya ada di depan Adit saat Rei sedang dipukuli itu.


"Rei kalah." Jawab Akihiro pelan. Lalu ia melahap satu keripik lagi dan lagi, lalu kembali melanjutkan ceritanya. "Rei terjatuh di hadapannya. Adit tidak selesai sampai di situ. Ia benar-benar berniat akan membunuh Rei agar Rei itu tidak bisa mengalahkannya lagi di Ujian Akhir Semester yang akan datang."


"Ih, kejam! Setelah itu, apa yang Kak Adit lakukan pada kak Rei?"


"Adit membawa Rei sampai ke Rooftop. Saat di sana, ia menjatuhkan tubuh Rei dari atas sana. Kan tahu lah... gedung sekolah kita tingkat empat."


Dennis terkejut. "E–eh?! Itu berarti... Kak Rei telah terjatuh dari lantai 4, dong?"


"Iya. Tapi untunglah nyawa Rei masih bisa diselamatkan. Tapi setelah kejadian itu, ia mengalami koma selama seminggu dan katanya juga tulang di lengannya itu bergeser dan nyaris patah."


"Kak Adit itu kejam! Sialan! Lalu apa yang terjadi pada kak Adit?" tanya Dennis yang sudah terlanjur emosi dengan Adit itu.


"Adit hanya mendapat hukuman skors selama sebulan. Saat sebulan kemudian, Adit kembali bersekolah. Tapi... setelah semua murid mengetahui kalau Adit telah melakukan hal jahat pada murid terpopuler, maka ia pun dijauhi dan dirinya dibenci oleh semua orang. Tapi sebagian juga ada yang takut pada Adit. Karena... setelah ia bersekolah kembali, Adit jadi semena-mena pada semua murid yang lebih muda darinya. Keinginannya harus dituruti, kalau tidak ia akan mengancam kalau dirinya itu akan mematahkan kaki temannya yang tidak mau menurutinya itu. Sama seperti apa yang ia lakukan pada Rei."


"Ah, si Adit itu benar-benar tidak jera apa?! Lalu sekarang itu tampangnya seperti apa? Dan... bagaimana keadaanya saat si Adit kembali bertemu dengan Rei?" tanya Dennis.


"Tahu tidak? Dia jadi seorang pengecut, loh, semenjak bertemu kembali dengan Rei." Akihiro menahan tawa. Ia tidak kuat saat menceritakan bagian itu.


"Eh?" Dennis kembali tersenyum. "Memangnya kenapa? Ada apa?"


"Masa si Adit jadi takut saat melihat tampang Rei. Karena ia pikir, dirinya itu telah membunuh Rei. Tapi ternyata ia tidak berhasil, haha...."


"Oh? Benarkah dia takut dengan Rei sekarang?"


"Iya, iya! Sampai sekarang, Adit itu masih takut dengan Rei dan ia pun tidak berani lagi mendekati Rei. Dan juga membully anak lain, loh!"


"Kekuatan tampang Rei itu memang luar biasa!" Dennis bersorak. Ia senang pada akhirnya si Adit itu bisa kalah hanya dengan melihat tampang Rei yang mungkin saja menyeramkan.


"Haha... Rei itu memang menyeramkan, kan? Apalagi kalau sudah marah." Bisik Akihiro. "Tapi... Adit masih belum menyerah untuk selalu menjadi murid terpintar di kelasnya. Mungkin untuk Ujian Akhir Semester ini, kau harus berhati-hati padanya."


"Eh, memangnya kenapa, kak?" tanya Dennis bingung.


"Karena... jika kau berhasil mengalahkannya, maka si Adit itu juga akan mencelakakan mu!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @Pipit_otosaka8