Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 27–Dennis dan Adit


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Eh? I–itu bukannya... si Adit?!"


"Dennis. Akhirnya aku bertemu denganmu juga di sini."


Setelah Adit itu menengok ke arah Dennis, Dennis pun langsung berbalik badan. Ia tidak ingin melihat sosok Adit itu lagi. Dennis akan pergi menjauh dari gudang itu. Sekalian juga ia ingin pergi menjauh dari Adit.


"Adit itu... dia... benar-benar manusia yang kejam!" batin Dennis sambil membayangkan keadaan anak yang sedang dipukuli Adit di dalam gudang itu. Keadaannya tidak terlalu parah. Tapi... jika Adit tidak menghentikannya, maka anak yang malang itu akan habis ditangan Adit.


"Aku... harus pergi dari sini! Kak Dian bilang kalau si Adit itu anaknya berbahaya! Pokoknya aku harus pergi." Dennis mundur ke belakang, lalu berbalik badan dan mulai melangkahkan kakinya dengan cepat. Ia akan berlari menjauh dari gudang tempat Adit berada itu.


Tapi saat baru tiga langkah ke depan, tiba-tiba saja ada seseorang yang telah menarik tangannya dari belakang. Langkah Dennis pun terhenti saat ia mendengar ada orang lain dengan suara berat yang telah menegur namanya. Lalu secara perlahan, Dennis menengok ke belakang.


Dennis terkejut karena di belakangnya itu sudah berdiri sosok Adit yang sedang menatap tajam ke arahnya sambil tersenyum. Dennis berusaha untuk melepaskan pergelangan tangannya dari genggaman Adit. Tapi... semakin banyak Dennis memberontak, maka semakin kuat juga genggaman Adit.


"Eh, hei... tenanglah dulu. Kau jangan panik. Memangnya kau ini kenapa, sih?" tanya Adit lirih. Tapi tangannya itu masih menggenggam tangan Dennis dengan kuat.


"Ba–bagaimana mau tenang?! Aku tahu. Aku tahu kalau kau itu adalah anak yang berbahaya! Aku harus menjauhimu!" bentak Dennis sambil terus menarik tangannya yang tertahan itu.


"Eh? Siapa yang bilang kalau aku ini berbahaya?"


"Kau tidak perlu tahu siapa orangnya! Tapi aku tahu... kau itu orang yang berusaha membunuh Kak Rei, kan?!" bentak Dennis lagi. "Jika memang begitu, maka tidak akan aku biarkan! Aku... akan melindungi Kak Rei!"


"Ooh... jadi memang benar, ya? Kalau kau itu temannya si Rei. Hmm... ini menarik." Adit tersenyum sinis. Lalu ia melepaskan genggaman tangannya dari Dennis. Karena sangat mendadak, Dennis pun terjatuh duduk ke tanah saat Adit melepaskannya.


Dalam posisi duduk di tanah, Dennis mendongak menatap tajam ke arah Adit. Tapi seketika ekspresinya berubah kembali menjadi wajah anak yang penakut saat ia melihat wajah yang menyeramkan dari orang berbadan besar yang ada di hadapannya itu.


"Kau... Adit! A–apa yang kau inginkan?! Kenapa kau bisa tahu namaku?!" tanya Dennis.


Adit tidak menjawab. Ia malah berkata sendiri di dalam hatinya sambil terus menatapi wajah Dennis. "Dari tampangnya... sepertinya anak ini tidak mungkin pintar. Tapi kepintaran itu tidak mungkin dilihat dari penampilannya. Pasti kepintaran itu diuji langsung oleh otaknya. Tapi sepertinya dia ini memang anak yang pintar karena... dia teman dekatnya Rei. Otomatis Rei pasti menyebarkan virus kepintarannya pada Dennis. Dan satu lagi... adiknya itu berkata kalau dia pernah mendapat peringkat pertama dalam satu sekolah. Jika seperti itu, berarti Dennis ini adalah anak yang suda melebihi dari pintar. Tidak bisa aku biarkan!"


"Hei! Jawab aku!"


Adit tersentak saat ia mendengar suara Dennis membentaknya lagi. "I–iya ada apa?" tanya Adit lirih.


"Jangan pura-pura sok polos di depanku! Aku sudah mendengar semua tentang perilaku burukmu itu!"


"Hei, jangan salah paham dulu, dong! Aku tidak mungkin sejahat itu. Lihat, kan? Aku saja tidak menyakitimu sekarang ini."


"Tapi baru saja aku lihat tadi, kau telah melukai murid lain! Hal itu telah menunjukan kalau dirimu ini adalah sosok yang kasar terhadap orang lain!" Dennis membentak lagi.


"Tapi... kau lihat sendiri lah..., anak itu baik-baik saja. Aku tidak benar-benar memukulnya, kok! Dia sekarang sudah pergi."


"Tidak mungkin! Kau pasti menyembunyikan dia di tempat lain, kan?"


GREP!


Adit menjadi kesal karena si Dennis itu tidak mempercayai perkataanya. Lalu dengan cepat, Adit menarik kerah baju dan dasi yang dikenakan Dennis sampai wajahnya berhadapan dengan dirinya.


"Kenapa kau tidak mempercayaiku?!" Adit yang sudah tidak bisa bersabar itu pun membentak Dennis akhirnya. "Ternyata yang jahat itu kamu, ya?! Aku kan sudah berusaha untuk bersikap baik padamu. Tapi kau malah mengolok-olok diriku. Kau sama saja seperti anak lainnya!"


"Huh! Ternyata kau ini memang kasar, ya?"


"Aku tidak kasar!"


"Kalau kau tidak kasar, lalu kenapa kau memperlakukan aku seperti ini?"


"Ugh! Bisakah kau diam sebentar? Ada yang ingin aku tanyakan padamu!"


Dennis mengerutkan keningnya dan bertanya, "Ada apa? Apa yang ingin kau tanyakan?"


"Aku hanya ingin tahu saja. Memangnya seberapa pintarnya dirimu saat di sekolah lamamu? Kau anak baru di sini, kan?" tanya Adit.


Dennis menyentakan matanya lalu menggeleng cepat sambil menundukkan kepalanya. "Ah! Kau terlalu berlebihan, Dennis! Itu tidak mungkin terjadi. Aku harus kuat!"


Dennis kembali mendongak dan menatap Adit. Ia akan menjawab pertanyaan Adit itu. "Hah, selama di sekolah lamaku, aku tidak pernah mendapatkan nilai di atas 60 tahu! Aku malu mengatakannya. Tapi sebenarnya aku ini anak yang bodoh!" Ia sedikit ragu dengan jawabannya itu.


Adit mensipitkan matanya. Di dalam pikirannya, ia mengingat perkataan Adel padanya. "Kak Dennis anaknya pintar sekali. Saat di sekolahnya yang lama, Kak Dennis selalu masuk 3 besar dalam rangking! Tidak hanya satu kelas, tapi satu sekolah. Dia murid terpintar."


"Hmm... murid terpintar, ya?" gumam Adit dalam hati setelah ia kembali mengingat perkataan Adel itu.


"Jadi... yang benar yang mana, nih? Kata adiknya, Dennis itu pintar. Bahkan ia masuk rangking 3 besar selalu. Tapi kalau pengakuan dari orangnya langsung, dia bilang kalau dia tidak pintar. Bahkan Dennis ini berani mengatakan kalau dirinya itu memang bodoh. Kok aku jadi bingung ya? Apa jawabannya yang barusan itu adalah sebuah kebohongan?" lanjut Adit berpikir di dalam hatinya.


"Tapi... saat ujian mendadak yang Minggu kemarin itu... si Dennis malah dapat nilai terendah. Masa dia bisa jadi anak pintar di sekolah lamanya, jika di sekolah ini dia malah jadi bodoh. Hmm... mungkin anak ini memang tidak pintar. Kalau begitu, ya bagus! Aku jadi tidak memiliki banyak saingan, deh! Hehe...."


"Em, anu... Dennis? Apa kau siap untuk Ujian Akhir Semester nanti?" tanya Adit.


"Iya. Tapi entahlah. Aku belum sempat belajar. Tapi mungkin saja... nanti Kak Rei akan belajar bersama denganku." Jawab Dennis.


Adit tersentak. Lalu ia kembali menggerutu di dalam hati. "Oh iya! Dia kan dekat dengan saingan terberat ku. Kalau si Rei itu membagikan ilmunya pada Dennis, maka bisa gawat, nih!"


"Ah, sudah dulu, ya, Dit! Aku harus kembali ke kamar. Tapi sebelum itu aku ingin–"


GREP!


"Tunggu! Jangan dulu pergi!" Adit kembali menahan Dennis lagi. Dennis pun terkejut, lalu dengan cepat ia langsung memukul Adit karena dirinya telah merasa terancam dari genggaman tangan Adit yang menyentuh pundaknya.


"Kau mau apa lagi?!" bentak Dennis. "Aku harus kembali ke kamar. Kak Rei menungguku di sana! Karena aku harus membereskan kamarku sebelum bel masuk kelas berbunyi nanti!"


"Tapi hei, tenang saja. Masih ada waktu 15 menit lagi, kok! Kita bisa mengobrol sebentar, kan?"


"Tidak, ah! 15 menit itu bukan waktu yang banyak! Pokoknya aku tidak ingin berbicara denganmu lagi!" Dennis berbalik badan, lalu berjalan masuk ke dalam gudang untuk mengambil peralatan pembersih yang disuruh Rei.


"E–eh! Tunggu dulu. Aku ingin tanya satu hal lagi padamu!" Adit berteriak pada Dennis. Dennis terkejut dan menghentikan langkahnya sejenak tanpa menengok ke belakang. "Apa kau tahu bagaimana caranya agar aku bisa mengalahkan Rei dan mengembalikan kepopuleran ku?"


"Hah, aku tidak tahu. Maaf! Tolong jangan ganggu aku lagi." Dennis menjawab dengan nada dingin. Lalu ia pun pergi masuk ke dalam gudang untuk mencari peralatan pembersih yang akan ia bawa.


Adit mengepal tangannya sampai gemetar. Ia merasa geram dengan nada bicara Dennis itu. "Menyebalkan sekali! Dia sama saja seperti si Rei! Kalau bisa akan kuhajar anak itu sekarang juga!"


"Adit! Jangan gunakan semua kekuatan yang telah ayah ajarkan padamu untuk melukai orang lain! Ingat itu!"


"Cih! Kekuatan apanya?! Aku tidak peduli dengan perkataan Ayahku. Sekarang juga... matilah kau, Dennis!" Adit berlari mengejar Dennis sambil melayangkan tinjunya. Saat dirinya dekat dengan Dennis, Adit langsung mengayunkan tinjunya tepat di depan wajah Dennis.


BUAK!


****


"Eh, si Dennis ini ke mana, sih?" Rei bergumam. Ia berdiri di depan tembok samping dengan pintu kamarnya. Sekarang ini, Rei sedang menunggu temannya datang.


"Kok aku jadi khawatir, ya? Ah, apa boleh buat. Aku samperin saja, deh!" Rei beranjak dari tempatnya. Ia menghampiri tangga menuju ke bawah. Saat di depan tangga, Rei sempat mendengar suara Mizuki yang berteriak padanya.


"Reeei! Lihatlah ini. Aku menemukan kecoak di bawah tempat tidurmu, tahu!"


"Ke–kecoak?!" Mendengar kata kecoak, Rei pun langsung berlari menuruni tangga. Ia tidak ingin menemui Mizuki jika gadis itu memegang Kecoak.


Saat Rei pergi, Mizuki pun mengeluarkan kepalanya dari pintu. Ia menengok. Tadinya dia ingin mengejutkan Rei dengan kecoak temuannya. Tapi ternyata....


"Eh? Rei pergi ke mana? Apa dia... lari setelah aku bilang soal kecoak. Hah... ini padahal cuma mainan karet yang berbentuk seperti kecoak saja, loh!" Mizuki menggeleng pelan sambil memegang mainan karet berbentuk kecoak itu. "Ternyata Rei masih takut saja." Gumamnya.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @Pipit_otosaka8