
Author note: Cerita ini hanya fiksi. Karya orisinal penulis. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja. Mohon maaf kalau ada kesamaan nama tempat dan nama karakter. Selamat membaca :)
*
*
*
Dennis berlari sendirian. Melewati jalan kecil yang masih dapat sinar dari lampu tiang. Tapi hanya sebagian. Setelah Dennis masuk terlalu dalam sampai membawa dirinya ke dekat lapangan berumput itu, seketika hawanya jadi berbeda. Suasana yang sunyi, ditambah dengan jalanan tanpa penerangan telah membuat bulu kuduk Dennis berdiri.
Saat Dennis sampai di dekat lapangan berumput, ia tidak melihat siapapun di sana. Mungkin karena gelap. Kalau begitu Dennis akan menyalakan penerangan dari ponselnya. Tapi saat hendak mengeluarkan ponsel, tiba-tiba saja ada seseorang yang membekap mulut Dennis dari belakang dan langsung menarik tubuhnya.
Dennis yang terkejut pun langsung memberontak. Berusaha untuk melepaskan dirinya. Setelah ia berhasil, Dennis langsung berbalik badan dan melihat orang yang ada di belakangnya tadi.
"Ka–kak Rei?" Dennis bergumam senang. Ia akhirnya bisa menemukan Rei di tempat gelap seperti ini. Dennis mendekati Rei dan berniat ingin meraih tangannya untuk minta maaf. Tapi sebelum itu, Rei sempat menghentikan pergerakan Dennis dengan cara memaksanya untuk membungkuk dengan cepat.
Dennis yang kebingungan pun bertanya, "Kak Rei ada apa?"
"Ssstt... diam dulu. Nanti ketahuan."
"Eh? Kau lagi main petak umpet, kah?"
"Bukan. Lihatlah!" Rei mengajak Dennis untuk berjongkok dan bersembunyi dibalik semak dan pepohonan kecil di belakang bangunan Villa. Rei menyingkirkan beberapa daun yang menghalangi lalu menunjuk. "Kau lihat? Bayangan yang kita anggap hantu itu muncul lagi di sana."
"I–iya." Dennis mengangguk kaku. Ia juga melihat bayangan menyerupai manusia itu lagi. "Sekarang apa yang kau pikirkan, Kak Rei?"
"Aku pikir, sosok itu bukanlah hantu. Tapi memang benar manusia." Jawab Rei.
"Eh?" Dennis terkejut. Ia sedikit menunduk lalu bertanya dengan kaku, "Ka–kak Rei kenapa pergi ke tempat ini?"
"Aku hanya ingin memastikan apakah yang kita lihat itu hantu atau manusia kanibal yang dikatakan Cahya itu. Aku sudah lama menunggu di sini. Sudah dua sampai tiga kali ada bayangan manusia itu keluar masuk hutan. Saat itu, aku pikir tidak mungkin bayangan itu adalah hantu." Jelas Rei. "Masa hantu keluar masuk dan sering muncul begitu. Lagipula, kau melihatnya juga, kan?" Rei melirik ke arah Dennis dan menatap serius.
"Oh... begitu... Ja–jadi sekarang Kak Rei mau ngapain?" tanya Dennis.
"Hei, apa kau tidak merasa curiga apa? Orang itu benar-benar manusia kalau menurutku. Dia membawa karung dan keluar masuk ke dalam hutan. Pasti di dalam hutan itu ada sesuatu." Rei berdiri dari tempatnya. Dennis juga ikut berdiri.
"Jadi... sekarang Kak Rei pasti mau masuk ke dalam hutan itu? Atau Kak Rei ingin mengikuti orang pembawa karung itu?" tanya Dennis lagi.
"Iya. Aku penasaran apa yang orang itu bawa di dalam karungnya dan kenapa dia keluar masuk hutan. Ini kan aneh." Rei mulai melangkah untuk keluar dari tempat persembunyiannya. Tapi saat di ujung semak, Rei menghentikan langkahnya karena ia melihat bayangan manusia itu baru saja keluar dari hutan.
"Nah, Dennis! Ini kesempatan kita. Ayo!" Rei mengajak Dennis keluar dari tempatnya. Ia ingin membuntuti bayangan manusia pembawa karung itu.
Rei hanya mengangguk. Ia agak takut. Tapi kalau ada Rei, ia akan mencoba untuk memberanikan diri. "Apa Kak Rei tahu ke mana perginya orang itu?" tanya Dennis.
"Iya tentu saja. Di mataku, orang itu masih terlihat. Dia... pergi ke suatu tempat yang tersembunyi sepertinya."
"Apa tidak apa kita pergi berdua saja? Bukankah ini berbahaya?"
"Tidak apa. Jika kita ketahuan, kita pergi melarikan diri saja, oke?"
"Ah, baiklah Kak Rei." Dennis menurut. Ia akan tetap mengikuti Rei. Yang penting dirinya bisa aman kalau ada di dekat Rei.
"Apa Kak Rei masih marah padaku?" batin Dennis. "Apa ini kesempatanku untuk meminta maaf padanya?"
"Anu... Kak Rei!" Dennis menyeru pelan. Rei hanya melirik dan menyahut, "Apa?"
"Aku...."
TRING! TRING!
"Eh? Tidak jadi. Tu–tunggu sebentar." Dennis menghentikan langkahnya. Begitu juga dengan Rei. Dennis mengeluarkan ponselnya yang baru saja berdering beberapa detik tadi. Ia membuka ponselnya dan melihat ada 2 pesan masuk di notifikasinya.
Saat Dennis membuka pesannya itu, ia terkejut karena pesan itu dikirim dari Mizuki. [ Dennis! Kau sama Rei pergi ke mana? Bu Mia nyariin kalian berdua tahu! ]
[ Cepat kembali! Seharusnya kalian sudah ada di tempat tidur. Tapi malah keluyuran entah ke mana! ]
TRING!
Mizuki mengirim pesan lagi. [ Kalian di mana, sih? Dennis! Malah di read doang. Jahat banget kau! ]
Dennis menjawab. Ia mengetik pesan dan langsung mengirimnya pada Mizuki. "Kami akan kembali!"
Setelah mengirim, Dennis memasukan ponselnya lagi, lalu memberitahu Rei. Mereka berdua harus segera kembali ke Villa dan ke kamarnya. Rei sebenarnya tidak ingin kembali karena ia ingin mengejar si bayangan hitam itu. Tapi karena Bu Mia sudah mencari dirinya, maka Rei akan kembali.
"Baiklah! Ayo cepat!" Rei berbalik arah. Dennis dan Rei berlari memasuki jalan kecil yang penuh dengan penerangan itu lagi. Sampai jalan kecil itu pun membawa mereka kembali ke depan Villa.
Setelah kembali di depan Villa dengan selamat, Bu Mia langsung memarahi Dennis dan Rei karena sudah berkeliaran jauh dari tempat aman di Villa tanpa seizin dari teman dan guru-guru. Tentu saja Bu Mia khawatir kalau anak muridnya dalam bahaya.
"Lain kali kalau mau pergi ke tempat jauh izin dulu, ya?" Pesan dari Bu Mia sebelum Dennis dan Rei pergi meninggalkannya. Dennis dan Rei hanya mengangguk, lalu setelah itu mereka pergi berjalan ke kamarnya.
Saat sampai di depan kamar, Rei mengetuk pintu untuk meminta temannya yang di dalam sana membukakan pintunya yang terkunci. Butuh waktu sedikit lama untuk berdiri terus sambil menunggu pintu terbuka, karena semuanya telah tertidur lelap dan sulit untuk dibangunkan.
Akhirnya yang membukakan pintu adalah Zainal yang terbangun karena ketukan keras dari Rei. Setelah pintu terbuka, Dennis dan Rei pun masuk ke dalam kamar, lalu Zainal kembali menutup dan mengunci pintunya.
"Kalian habis dari mana?" tanya Zainal sambil berjalan mendekati kasur. "Yang lainnya tadi mencari kalian, loh!"
"Ada apa dengan mereka berdua? Tidak seperti biasanya." Batin Zainal heran saat ia melihat Dennis dan Rei yang terlihat murung.
"Sudah kuduga, Kak Rei masih marah padaku." Batin Dennis sebelum ia memejamkan matanya. "Tidur di sampingnya membuat perasaanku jadi tidak enak. Haruskah aku tidur menjauh dari Kak Rei?"
****
TOK! TOK!
"Hoy! Yang di dalam bangun ayo! Disuruh Bu Mia kita harus kumpul sekarang!" Seseorang berteriak, membuat berisik dengan menggedor pintu kamar dengan keras. Sampai akhirnya penghuni kamar itu pun terbangun karena suara bisingnya.
Davin berteriak geram. "Iya! Iya! Bawel ah! Pergi sana!"
"Tapi bangun, ya?"
"Iya! Berisik!"
Orang-orang di depan kamar pun pergi. Mereka menghampiri kamar lain untuk membangunkan teman mereka. Davin bangun terduduk di pinggir tempat tidur, lalu mengecek waktu di ponselnya. "Cepat sekali sudah jam 12 malam. Sepertinya ini lewat 2 menit, deh." Ia bergumam.
Rei membuka mata, lalu membalikan tubuhnya. Saat posisi terlentang, Rei merasa kalau tempat tidur besar yang ia pakai itu serasa luas sekali. Seperti tidak ada orang lain selain dirinya yang menggunakan tempat tidur itu.
"Dennis ke mana?" batin Rei setelah ia menoleh ke sampingnya. Tempat tidurnya benar-benar kosong. Yang tadinya di sampingnya itu ada Dennis, jadi tidak ada. Sekarang di mana Dennis?
"Rei, kau jahat sekali membiarkan temanmu itu tidur di lantai!" Zainal berujar dengan nada yang terdengar seperti membentak. Rei terkejut mendengarnya. Lalu dengan cepat, ia pun turun dari atas tempat tidur, lalu berjalan ke samping tempat tidur sebaliknya. Di sana ia melihat Dennis yang masih tertidur di bawah tempat tidur. Hanya dengan menggelar tikar dan bantal yang ia gunakan untuk menaruh kepalanya agar lebih nyaman.
"Ti–tidak. Bukan aku yang menyuruhnya." Rei menyangkal. "Bahkan aku sendiri juga tidak tahu kalau Dennis tidur di sini. Sebelumya kan dia ada di sampingku."
"Ya... dia pindah saat kau sudah tidur." Ujar Zainal lagi.
"Dari mana kau tahu?"
"Karena... semenjak kalian datang ke kamar ini, aku sudah tidak bisa tidur lagi. Jadi... aku memutuskan untuk tidak tidur walau mataku sudah terpejam. Keadaannya kan sepi. Nah, saat aku melihat kalian semua sudah tidur, di situlah aku dikejutkan dengan suara benda jatuh. Saat aku membuka mataku, aku melihat Dennis berdiri di samping tempat tidurnya, lalu membaringkan tubuhnya di lantai secara perlahan." Jelas Zainal.
"Lalu... benda jatuh yang kau bilang itu apa?" tanya Davin.
"Itu... tikar gulung yang Dennis banting ke lantai. Saat di lantai, ia menggelar tikar itu lalu meletakan bantalnya."
Mendengar penjelasan Zainal, Rei jadi merasa tidak enak dengan Dennis. Ia tidak tahu kenapa Dennis ingin tidur di lantai. Kan di atas tempat tidur saja masih dingin walau sudah diselimuti. Apalagi kalau di lantai?
"Dennis... kenapa kau mau tidur di lantai begini, sih?" batin Rei mencemaskan Dennis. Rei akan membuat Dennis hangat tanpa harus membangunkan dirinya. Dengan menyelimuti seluruh tubuhnya agar tidak kedinginan.
Rei mengambil selimut tebal dari atas tempat tidurnya yang ia gunakan tadi, lalu melebarkan selimut itu untuk menutupi tubuh Dennis. Saat menyelimuti Dennis, Rei sedikit terkejut ketika ia menyentuh kulit Dennis. Terasa sangat dingin. Tapi semoga dengan selimut itu, Dennis bisa merasa hangat.
"Dia tidak bangun walau aku sudah menyelimutinya." Batin Rei yang semakin cemas dengan keadaan Dennis. "Apa aku harus menunggunya sampai dia bangun?"
Rei mengangguk pelan. Lalu ia menoleh ke arah Zainal dan yang lainnya. "Kalian semua pergilah duluan. Aku ingin menemani Dennis sampai dia bangun."
"Oh, baiklah Rei." Zainal mengangguk. "Tapi... apa kau perlu aku sampaikan laporan tentang Dennis ke Bu Mia?"
"Tidak usah. Dia baik-baik saja, kok."
"Tapi... bagaimana kalau Bu Mia menanyakan tentang kalian?"
"Emm... entahlah. Bilang saja, kami akan segera ke sana. Jangan khawatir. Aku di sini hanya ingin menemani Dennis dan menunggu dia bangun sendiri. Karena aku tidak tega untuk membangunkannya."
"Oke baiklah. Kami pergi, ya?"
Rei mengangguk. Lalu setelah itu, Zainal, Davin dan Azra pun pergi meninggalkan Rei dan Dennis yang masih ada di dalam kamar mereka. Zainal menutup pintu, lalu Rei yang masih ada di dalam duduk bersandar di kaki tempat tidur. Di sana, ia akan sabar untuk menunggu Dennis bangun sambil sesekali melirik ke arah temannya itu.
"Aku masih belum mengerti denganmu, Dennis. Haduh..." Rei bergumam dengan dirinya sendiri. "Sebenarnya dia kenapa, sih?"
"Kak Rei kalau tidak suka lebih baik pergi saja sana!"
"Apa dia masih menyesal dengan perkataannya? Apa aku terlalu berlebihan untuk mengeprank dia?" batin Rei. Lalu ia mengeluarkan ponselnya. Membuka message dan melihat pesan terakhir yang Dennis kirimkan. Sambil membaca pesan dari Dennis, Rei senyum-senyum sendiri.
"Permintaan maaf kamu terlalu berlebihan, Dennis." Ia bergumam. Lalu membuka blokiran di message milik Dennis. "Tapi... bagaimana kalau dia menganggapnya serius?"
Rei jadi merasa cemas. Ia merasa bercandaannya itu sudah berlebihan. Pasti telah membuat hati Dennis jadi sakit juga.
"Kak... Rei..." Rei terkejut saat merasa pergerakan dari kaki Dennis. Ditambah dengan gumaman yang Dennis keluarkan saat ia sedang tidur. Rei melirik ke arah Dennis, lalu menyentakan matanya saat ia melihat mata Dennis yang terpejam jadi basah karena air matanya yang terus mengalir.
"De–Dennis? Kau menangis?!"
*
*
*
To be Continued-
Follow IG: @pipit_otosaka8