Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 36– GAME START!


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


[ GAME START! ]


–Waktu tersisah 29 menit 58 detik....


29 menit 56 detik....


29 menit 49 detik....


"Sial! Waktunya cepat sekali terkuras!" Rei menggerutu sambil melirik ke arah jam tangannya. Ia sudah memasang waktu hitung mundur 30 menit di sana.


"Sekarang apa yang harus kita lakukan?" tanya Dennis. Karena merasa panik, Dennis jadi tidak bisa berpikir secara jernih.


"Tentu saja kita harus mencari bunga itu! Dan juga teman-teman kita yang lainnya!" jawab Akihiro dengan nada tegas.


"Eh, teman? Tunggu dulu! Adikku! Apakah dia juga terbawa masuk ke dalam dunia ini?" tanya Dennis pada semuanya. Ia benar-benar ketakutan dengan keadaan adiknya saat ini.


"Sepertinya... semua murid dari kelas 1 sampa 3 ada di sini semua! Mereka kan juga mengikuti Ujian ini, jadi otomatis mereka semua juga ikut terbawa masuk ke dalam dunia aneh ini!" tegas Akihiro lagi.


Rei mengangguk. "Iya. Sebaiknya sekarang kita harus bergegas untuk mencari yang lainnya."


"Oh iya! Jangan lupa dengan Mizuki juga, Rei!"


"Iya. Aku akan mencarinya. Kalian berempat pergilah, carilah teman yang lain sana! Kita berpencar saja supaya lebih cepat." Suruh Rei.


Akihiro menggeleng. Ia tidak menyetujui rencana Rei itu. "Tidak boleh seperti itu, Rei. Kita harus tetap bersama. Jika kita berpencar maka akan lebih berbahaya."


"Oke, baiklah kalau begitu. Sekarang tujuan utama kita adalah–”


"Mencari adikku saja Kak Rei!" Dennis menyela. Tampangnya terlihat cemas. "Kumohon. Cari adikku dulu, yuk!"


Karena merasa kasihan pada Dennis, Rei pun mengangguk. "Iya baiklah! Ayo cepat!"


Mereka semua terus berlari melewati beberapa rintangan berupa akar-akar besar yang keluar dari tanah. Lengah sedikit saja, mereka bisa tersandung oleh akar itu dan terjatuh.


Tempat mereka saat ini itu seperti tanah lembek yang tertutupi oleh dedaunan yang tebal. Tidak ada banyak pohon di sana, tapi... jika ada satu pohon, maka ukuran pohon itu terlihat besar sekali. Sampai-sampai semua akar pohon itu menjulur keluar dari tanah. Terlihat batang pohonnya juga agak rapuh, tapi masih tetap kuat. Berdiri kokoh seperti pohon sehat pada umumnya. Daunnya juga tidak terlalu banyak, mungkin sudah terjatuh dan menutupi jalan tanah yang merupakan tempat berdirinya pohon-pohon itu.


"Kak Rei... kita berhenti sebentar bisa, ga?" tanya Dennis setelah ia menghentikan langkahnya.


Rei juga berhenti, lalu menengok ke belakang. "Ada apa, Dennis?"


"Ini... sepertinya dia sudah tidak kuat berlari lagi." Yang Dennis maksud 'Dia' adalah seorang perempuan yang ada di samping Dennis. Itu temannya Akihiro dan Akihiro sendiri mengenal perempuan itu. Dia sudah terjatuh duluan karena kelelahan.


"Desty? Kau baik-baik saja?" tanya Akihiro sambil berlari ke arahnya.


Perempuan itu bernama Desty ternyata. Anak dari kelas 3-A. Temannya Akihiro waktu kelas 2. "Iya. Tapi... kakiku tidak kuat lagi, hah... hah..., kalian tinggalkan aku saja di sini."


Akihiro tersenyum, lalu ia mengulurkan tangannya tepat dihadapan Desty. Desty mendongak. Ia melebarkan mata. "Ayo, Des! Aku... akan menggendongmu. Kita harus pergi dari sini bersama-sama."


"Ta–tapi... aku tidak ingin merepotkanmu. Aku tidak–"


"Jangan malu-malu gitu. Dari awal aku memang ingin menolong orang lain, kok! Ayolah. Kau akan kubawa di punggungku."


Desty menatap Akihiro dengan tatapan mata imutnya. Lalu ia tersenyum senang dan sedikit mengeluarkan tawa kecilnya. "Ah, iya, Dian. Terima kasih banyak!"


Akihiro berbalik badan, lalu berjongkok. Setelah itu, Desty mendekat ke arahnya dan melemaskan tubuhnya saat ia menyentuh punggung Akihiro. Setelah itu, Akihiro mengangkat perempuan malang itu dan menggendongnya di belakang.


"Sekali lagi, terima kasih! Aku memang sangat merepotkan." Ucap Desty dengan perasaan yang tidak enak. Pipinya sedikit memerah.


"Ah, tidak masalah. Sekarang, apa ada yang merasa kelelahan lagi?" tanya Akihiro pada semuanya. Lalu matanya melirik ke arah seorang perempuan yang satunya. Dia bernama Dini. Seorang anak dengan rambut hitam kepang yang terlihat selalu gugup dan malu-malu. Bukan berarti dia anak yang penakut, ya?


"Ke–kenapa kau melirik ke arahku?" tanya Dini gugup dengan tubuhnya yang sedikit gemetar.


"Ah, maaf kalau aku telah menakutimu. Tapi... apakah kau perlu bantuan juga?" tany Akihiro.


Dini hanya menggeleng cepat dengan posisi tubuhnya yang masih tetap sama seperti sebelumnya. Akihiro tersenyum sambil memejamkan matanya. "Oh, oke. Baguslah kalau begitu. Sekarang... ayo kita jalan lagi!"


Dini mengangguk. Ia menurut. Lalu setelah itu, semuanya kembali melanjutkan perjalanan mereka. Tapi... setelah beberapa langkah besar mereka dalam berlari, tiba-tiba saja Rei mendengar suara seseorang yang meminta pertolongan. Sontak Rei langsung mengangkat tangan kanannya–isyarat untuk menghentikan langkah teman-temannya yang di belakang.


"Kak Rei ada apa?" tanya Dennis dengan berbisik.


"Sstt! Coba dengar itu sebentar. Apa kalian mendengar sesuatu?" tanya Rei pada semuanya.


Semuanya terdiam. Mereka mulai memasang telinga mereka untuk mendengar suara yang sedang Rei dengar itu.


"Tolong...."


"Kan! Suara minta tolong." Tegas Rei. Pada awalnya mereka tidak ada yang mendengar karena suaranya kecil sekali. Tapi setelah suara minta tolong itu muncul lagi, akhirnya semuanya pun dapat mendengar suara itu.


"Eh?! I–itu suara Adel!" ujar Dennis. Ia benar-benar mengenal suara seorang anak perempuan yang ia kenal itu.


"Benarkah? Kalau begitu, sekarang juga kita harus pergi ke asal suara itu!"


"Iya. Adel berteriak minta tolong. Apa jangan-jangan... dia sedang dalam bahaya?!"


Perkataan Akihiro telah membuat Dennis semakin panik. Lalu dengan cepat ia menggeleng dan langsung membentak Akihiro. "Tidak mungkin, Kak Dian! Tidak! Adel pasti akan baik-baik saja."


"Iya, Dennis. Tenang dulu. Aku tahu Adel pasti tidak jauh dari sini dan dia pastinya sedang dalam keadaan baik." Ujar Rei berusaha untuk menenangkan Dennis. Dennis sendiri akhirnya bisa diam. Lalu ia mengangguk pelan. Setelah itu, Dennis dan yang lainnya kembali melangkahkan kaki mereka. Rei yang akan memimpin kelompok itu. Karena ia tahu dari mana asal suaranya. Semua akan menuju ke arah suara Adel meminta tolong itu!


****


"Ka–Kak Mizuki bertahanlah!" Adel saat ini sedang menggenggam sebuah tali panjang dan menariknya dengan kuat. Begitu juga dengan Yuni yang juga ikut membantunya. Karena... pada ujung tali itu ada Mizuki yang sedang dalam bahaya.


Dirinya terhisap masuk ke dalam tanah yang lembek. Makanya, dengan tali itu, Adel dan Yuni bisa terus menahan Mizuki agar Mizuki tidak bisa terbawa masuk semakin dalam oleh tanah yang aneh itu.


"A–Adel! Aku... tidak bisa menahannya! Tanah ini semakin menghisap ku. Aku terbawa masuk ke dalam. Dan mungkin aku akan ma–"


"Ja–jangan berkata seperti itu, Kak Zuki! Aku tahu... kakak pasti bisa bertahan dan selamat dari sana! Kumohon! Bantuan cepat datanglah!" Adel dan Yuni terus menarik tali itu sekuat tenaga mereka. Tapi ternyata... kalau hanya kekuatan Adel dan Yuni, tidak akan cukup untuk mengeluarkan Mizuki dari dalam tanah hisap itu.


Tapi tetap saja Adel dan Yuni tidak mempedulikan omongan Mizuki. Mereka menggeleng untuk menolaknya. "Tidak mau, kak! Kita sesama teman harus saling membantu."


"Ininya kami tidak akan meninggalkanmu." Itu Yuni yang berujar. Dalam keadaan seperti ini, Yuni masih saja memasang tampang biasa tanpa ekspresi saat ia sedang membantu Adel untuk menarik tali itu.


GREP!


"Iya... kami semu juga tidak akan meninggalkanmu!"


Semuanya terkejut. Adel langsung menengok ke belakang. Karena ia merasa tarikan talinya itu semakin ringan. Ternyata di belakang mereka sudah ada Dennis, Rei dan Akihiro yang juga ikut menarik tali yang akan menolong Mizuki itu.


"Teman-teman! Kalian datang juga!" teriak Mizuki senang setelah ia melihat beberapa teman-teman terbaiknya datang.


"Iya. Kami datang untuk membantumu! Jadi... bertahanlah, Mizuki!" jawab Rei sambil berusaha untuk menarik tali yang ia genggam itu. Mizuki mengangguk. Ia semakin menggenggam tali yang akan menarik tubuhnya keluar dari jebakan maut itu.


Setelah lama semuanya berusaha, akhirnya... secara perlahan... tubuh Mizuki bisa tertarik dan... akhirnya bebas! Mizuki kembali ke daratan dan tidak berada dalam tanah penghisap itu lagi. Ia menghembuskan nafas lega dan sangat bersyukur sekali karena dirinya masih bisa selamat dan dirinya juga masih bisa dipertemukan oleh temannya yang lain.


"Hah... terima kasih banyak kalian semua!" ucap Mizuki senang setelah ia kembali berdiri. Adel dan Yuni datang menghampiri Mizuki, lalu memeluknya. Mereka berdua senang Mizuki bisa baik-baik saja.


"Iya. Untung saja kami mendengar teriakan Adel tadi." Ujar Rei.


"Iya, kakak! Tadi Adel takut sekali."


Mizuki tersenyum, lalu ia mengelus-elus kepala Adel dan Yuni dengan lembut. "Iya. Terima kasih banyak untuk Kelian berdua. Adel dan Yuni adalah anak yang pemberani ternyata! Aku suka sekali."


Adel jadi tersipu mendengarnya. Tapi kalau dilihat dari tampang Yuni, sepertinya biasa saja.


"UWAAA! Kak Rei! Sekarang kita harus pergi! Masih ada waktu 10 menit tersisah!" panik Dennis. Rei juga terkejut mendengarnya. Lalu ia memeriksa jam tangannya. "Iya baiklah kalau begitu! Sekarang kita harus cepat mencari bunga Raflesia Arnoldi itu!"


Semuanya mengangguk. Lalu Mizuki menunjuk. Semua mata langsung tertuju pada Mizuki. "Semuanya! Aku tahu bunga itu ada di mana. Ayo ikuti aku!"


Semuanya menurut. Untung saja Mizuki mengetahui letak bunga itu. Lalu dengan cepat, semuanya langsung mengikuti Mizuki berlari.


Tempatnya agak jauh. Mereka sudah berlari cukup lama. Saat Rei memeriksa jam tangannya lagi, ia jadi semakin takut. Karena 5 menit lagi waktu mereka yang tersisah untuk sampai di dekat bunga raksasa itu.


"Tidaaak! Kita pasti tidak akan bisa tepat waktu!" Dennis berteriak. Rei menggeleng cepat. "Tidak mungkin! Kita masih bisa sempat sampai di sana. Semuanya berusahalah!"


"Ah, itu dia Rei!" Mizuki benar-benar menemukan bung itu. Terlihat di sana Bunga Raflesia itu terlihat berwarna pink menyala dan ukurannya memang besar. Terlihat juga ada banyak murid lain yang ternyata bisa berhasil menemukan bunga itu juga.


"3 menit lagi, kak Rei!" Dennis berteriak lagi memperingati waktu yang tersisah.


"Tenang Dennis. Kita masih akan sempat, kok! Kita pasti bisa–"


BRUK!


"To–tolong aku!" Seseorang di belakang mereka baru saja terjatuh. Dennis dan Rei menengok ke belakang dan menghentikan pergerakan mereka. Ternyata anak perempuan bernama Dini itu malah terjatuh karena secara tidak sengaja ia malah tersandung oleh akar pohon. Dengkulnya terluka dan ia tidak bisa berdiri kembali dengan cepat.


Rei tidak akan membiarkan anak itu berdiam diri di sana. Ia akan membantu Dini. Rei pun menghampiri Dini yang letaknya tak jauh di belakangnya. Dennis berusaha untuk memperingati Rei tentang waktu yang tersisah. Tapi Rei tidak mempedulikannya.


"Kau duluan saja, Dennis!" teriak Rei sambil membantu Dini untuk berdiri kembali.


"Ta–tapi...."


"Pergi saja sana!"


"Ugh! Maaf, Kak Rei! Aku... duluan!" Dennis tidak tega membiarkan Rei sendirian. Tapi karena setelah mendengar bentakan Rei yang baru saja, Dennis akhirnya bisa menurut.


"Kau bisa berdiri?" tanya Rei lirih.


"Entahlah. Aku masih bisa. Tapi... aku tidak bisa berlari. Lebih baik, kau tinggalkan aku di sini saja."


Rei menggeleng. "Tidak! Jika kau tetap di sini, kau akan mati. Ah, sudahlah kalau begitu, aku akan menggendongmu!"


Tanpa isyarat, Rei langsung mengangkat tubuh Dini di kedua lengannya. Ia benar-benar menggendong anak berambut kepang itu!


Semua yang sudah berada di lingkungan aman terlihat ketakutan karena keadaan Rei. Mereka berpikir Rei tidak akan bisa berhasil sampai di lingkungan aman itu. Karena... waktunya tinggal satu menit lagi!


"Cepat, Kak Rei!" Dennis berteriak sambil mengulurkan tangannya. Ia berharap bisa meraih tangan Rei sebelum waktunya habis.


"A–aku akan berusaha!" Rei terus berlari sekuat yang ia bisa. Sampai akhirnya... ada seseorang yang memperingati waktunya lagi. Ternyata waktunya semakin sempit. Ada waktu 20 detik lagi!


18 detik....


15 detik....


10 detik!


"Eh? Apa ini?" Rei melirik ke bawahnya. Ia melihat tanahnya tiba-tiba saja retak dan penuh dengan lubang. Rei tidak tahu apa yang akan terjadi dengan tanah itu.


5 detik lagi!


Rei hampir sampai. Ia menyadari kalau waktunya tidak akan lama lagi, jadi langsung saja Rei melempar tubuh Dini ke arah Dennis. Dennis berhasil menangkap tubuh Dini.


1 detik!


[ WAKTU HABIS! ]


ZZHIING!


Semuanya terkejut. Tiba-tiba saja tanah di lingkungan yang tidak aman itu mengeluarkan banyak duri-duri lancip dari bawah tanah!


Tapi... sekarang ini mereka tidak melihat Rei ada di mana. Rei menghilang dalam kumpulan duri-duri itu. Lalu tak lama kemudian, tetesan darah muncrat ke pipi Dennis. Semuanya langsung terkejut.


"Re–REEEEII?!"


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8