
Akihiro dan Mizuki hanya berjalan biasa saja setelah mereka berlarian di tangga. Saat ini, mereka berada di lantai dua gedung satu. Tempat mereka berada di depan kamar Adel dan Yuni.
"Wah, jadi seperti ini tempatnya di lantai dua itu?" tanya Mizuki. Ia sedikit kagum dengan tempatnya berada saat ini. "Ini bagus sekali!"
"Tidak perlu dipuji. Semuanya biasa saja, tuh! Memangnya kau tidak pernah ke lantai dua?" tanya Akihiro.
"Baru sekali. Aku jarang ke sini. Soalnya kan kamarku di lantai bawah, hehe..." Mizuki tertawa kecil, lalu ia kembali bicara. Kali ini agak serius. "Nah, sekarang di mana si Diana itu?"
"Baru mau tanya sekarang? Ah, ayolah cepat! Kita lari lagi dan kejar dia sebelum kabur. Nanti kalau dia tau kita mau datang, dia pasti akan membunuh kita!"
"Oh, jadi kalian mau datang ke tempatku, ya?"
Akihiro dan Mizuki terkejut. Lalu dengan cepat, mereka langsung berbalik badan. Ternyata dugaan mereka benar. Suara orang yang berbicara pada mereka itu adalah si Diana yang sudah berdiri di belakang mereka dengan pisau sedang di tangannya.
"Di–Diana?! Sejak kapan kau...."
"Eh? Tidak usah kaget gitu, dong! Aku sudah lama dari tadi. Eh, ngomong-ngomong kalian mau menemuiku untuk apa?" tanya Diana dengan tertawaannya. Lalu tiba-tiba ia menodongkan pisaunya ke arah Akihiro dan Mizuki.
"Apa kalian ingin menemui ajal kalian?"
"Ikh! Seharusnya kau yang pergi menemui ajalmu. Dasar Manusia laknat!" Akihiro membentak.
"Eh, Dian... jangan kasar gitu dong sama perempuan!" Mizuki memukul pundak Akihiro.
"Eh? Apa?! Lihat situasi dong! Justru dia itu yang lebih kasar tau!"
"Oh iya, kah?" Mizuki membesarkan matanya sambil meneleng.
"Ah, lupakan!" Akihiro mengalihkan pandangannya kembali ke arah Diana yang ada di hadapannya.
"Jadi begini, Diana... kami mau kamu menghentikan perbuatanmu ini. Atau terpaksa kami akan melakukan kekerasan padamu." Ujar Akihiro lirih pada Diana.
Diana memutar matanya malas lalu menghembuskan nafas pelan. Ia memasang wajah juteknya. "Untuk apa aku harus berhenti? Kan targetku masih ada. Aku memerlukan daging-daging mereka untuk bertahan hidup."
"Ehhh?!" Akihiro dan Mizuki terkejut. "Jadi kau ini manusia kanibal?" tanya mereka berdua bersamaan.
"Tidak! Bukan aku yang memakan mereka. Ish! Akan sulit dijelaskan pada kalian berdua. Sekarang, aku ingin mengurus korbanku yang lain. Kalian jangan ganggu aku!"
"Kami tidak akan membiarkan kau melakukan itu!" Akihiro mulai bersiap. Ia akan memukul Diana lalu merebut pisau itu dari genggamannya. "Ayo Mizuki!"
"Ya!"
"Haduh... kalian ini, merepotkan sekali. Karena kalian ingin menyerangku duluan, bagaimana kalau aku mengundang temanku juga untuk ikutan?"
"Teman siapa yang kau maksud?"
Diana tersenyum sinis. Mata merahnya itu menyala seolah ada cahaya yang memantul di pupil matanya. Lalu tiba-tiba saja ada sesosok bayangan yang muncul secara perlahan dari belakangnya.
Sosok hantu lainnya yang telah menjadi teman Diana itu?
Hantu itu menyempurnakan tubuhnya. Lalu tak lama kemudian, hantu itu akhirnya dapat terlihat jelas. Penampilannya, ia seperti hantu perempuan, berambut panjang dikuncir dua. Memakai pakaian serba putih dan kulitnya pucat semua.
Akihiro terkejut saat ia melihat wajah hantu itu. Karena... wajahnya mirip sekali seperti seorang teman perempuannya yang telah meninggal saat kejadian Chika marah dulu.
"Li–Lisa?" Akihiro memanggil hantu itu. Ya! Hantu yang di dekat Diana itu mirip sekali dengan Lisa Anggraini–teman perempuan Akihiro yang selalu marah-marah padanya dulu.
"Hehe... tidak hanya itu saja!" Diana tertawa kecil. Lalu mata merahnya semakin menyala, dan seketika beberapa hantu lainnya juga bermunculan. Tidak hanya di dekat Diana, tapi ada juga yang muncul di belakang Akihiro dan Mizuki.
Akihiro melebarkan matanya saat melihat semua hantu-hantu itu. Bukannya takut, tapi Akihiro hanya merasa gelisah dengan kedatangan hantu-hantu itu.
Karena... Diana telah memunculkan hantu-hantu yang berbentuk seperti teman-temannya Akihiro yang sudah meninggal. Melihat hantu itu, Akihiro malah merasa dirinya telah kembali ke masa lalu yang bahagia. Bisa bersama dan bermain bersama teman-temannya, termasuk Lisa.
Kali ini Akihiro hanya terdiam saja. Entah apa yang ia pikirkan saat ini. Mizuki juga tahu kalau semua hantu tu adalah temannya Akihiro. Tapi untungnya, Mizuki tidak terkecoh oleh bayangan hantu-hantu itu.
"Oh tidak! Mereka ini kan..." Mizuki bergumam. lalu dengan cepat, ia menengok ke arah kirinya. Ia menatap Akihiro yang ada di sampingnya. "Mereka teman-temannya Dian. Diana... dia... tahu temannya Dian? Apa jangan-jangan, Diana sengaja memunculkan semua hantu ini untuk membuat Akihiro jadi terbayang masa lalu dan akan jadi seperti ini? Jika ada kesempatan, maka Diana akan mulai menyerang! Ini gawat!"
****
TANG! TANG!
Saat pukulan mereka berdua saling beradu, tiba-tiba saja Rei menghentikan gerakannya, lalu mundur secar perlahan ke belakang untuk menghindar dari Dennis.
"Haduh... dia ternyata lebih kuat dari yang kukira. Aku harus bagaimana? Ingin menyentuh tubuh Dennis saja sulit, bagaimana mau menghilangkan makhluk itu dari dalam tubuh Dennis?" pikir Rei dalam hati. Lalu secara perlahan, Rei kembali mengangkat tongkatnya. Ia pun berlari dan mengayunkan tongkatnya itu ke arah Dennis.
Dengan cepat, Dennis pun menangkis tongkat Rei dengan Pisaunya itu. Rei berusaha untuk mendorong tongkatnya itu agar bisa memukul Dennis. Tapi ternyata Dennis juga tidak mau kalah. Ia tidak membiarkan Rei untuk mengenai dirinya.
"Dennis! Dengar aku, Dennis! Woy! Kumohon tenanglah. Aku akan mengeluarkan makhluk berbahaya yang ada di dalam tubuhmu itu!" Rei berteriak.
Dennis masih berekspresi datar dengan mata hitamnya. Lalu tak lama kemudian, ia pun tersenyum sambil memiringkan kepalanya. "Tidak bisa...."
BUAK!
Dennis menendang perut Rei sampai ia terjatuh. Lalu setelah itu, Dennis langsung mengarahkan pisaunya kepada Rei. Pisau itu akan menusuk kepala Rei.
Tapi sebelum, pisau melayang mengenai kepalanya, Rei masih bisa menahan tangan Dennis dan juga pisaunya itu. "Kau juga tidak akan bisa untuk membunuhku!"
Kepala Dennis memiring ke kanan dan ke kiri dan tersenyum lebar. Sambil mendorong pisaunya untuk menusuk kepala Rei, Dennis menjawab perkataan Rei tadi. "Kau juga tidak bisa membunuhku! Hi hi hi...."
"Kumohon Dennis! Aku tidak ingin melukaimu. Jadi tolong jangan begini dan cepat sadarlah! Makhluk itu telah mengendalikan tubuhmu dan kau malah diam saja?!" Rei berteriak. Lalu setelah itu, ia menggulingkan tubuhnya kesamping dan melepaskan tangan Dennis.
Ia sudah tidak kuat lagi menahan pisau itu. Karena jika Rei terus menahannya, maka pisau itu bisa menusuk kepalanya. Dennis yang sekarang ini benar-benar kuat. Sekarang, Rei harus bagaimana?
Ia mengeluh kelelahan dan juga perutnya yang belum sembuh itu terasa sakit setelah Dennis menendangnya tadi.
Rei kembali berdiri, lalu ia menghentikan pergerakannya sejenak untuk mengatur nafasnya yang mulai terengah-engah. Tapi tiba-tiba saja si Dennis malah kembali menyerangnya dengan pisau.
Terpaksa, Rei harus menghindar walah energinya belum sepenuhnya kembali. "Tunggu dulu Dennis! Jangan kau serang aku dulu. Berikan aku waktu untuk–"
"Tidak bisa... karena aku akan membunuhmu sekarang juga! Hi hi hi...."
"Tidak Dennis! Kau tidak mengerti. Kau itu sedang dikendalikan oleh makhluk buatan si Diana itu. Dennis kau dengar aku, kan?"
Dennis tidak peduli. Ia terus mengayunkan pisaunya itu. Dennis akan berhenti jika pisaunya berhasil mengenai tubuh Rei dan melukainya sampai ia mati.
Tenaga Rei semakin melemah. Ia jadi kebingungan sendiri untuk menghadapi temannya yang satu itu. Sambil terus-terusan menghindar, Rei berusaha untuk berbicara keras pada Dennis agar di dalam tubuhnya, Dennis bisa terbangun kembali dan menolak makhluk yang ada di tubuhnya untuk mengendalikan dirinya itu.
Itulah yang diharapkan Rei.
Sambil mundur ke belakang dengan cepat untuk menghindar, tiba-tiba saja ia terselengkat kakinya sendiri, lalu terjatuh. Dennis memanfaatkan kesempatan itu untuk langsung menancapkan pisaunya di atas dahi Rei.
Tapi untuk kali ini, Rei sedikit beruntung karena pisaunya menancap ke aspal lapangan sekolah. Rei sedikit mengeluarkan senyumnya, lalu dengan cepat, ia menonjok wajah Dennis sampai tubuhnya itu terjatuh.
Setelah Dennis terjatuh, Rei kembali terbangun, lalu segera mengambil pisau yang tertancap itu dan langsung melemparnya jauh-jauh agar Dennis tidak memiliki senjatanya lagi.
Rei senang. Ia pikir dengan tanpa adanya senjata itu, Dennis bukanlah makhluk yang berbahaya lagi. Lalu karena masih ada kesempatan, Rei menghampiri Dennis yang masih terduduk di tanah. Ia akan mengeluarkan makhluk yang telah merasuki teman baiknya itu.
Tapi saat baru saja Rei menyentuh kepala Dennis, tiba-tiba saja si Dennis mendongak menatap Rei tajam, lalu tangan kanannya itu langsung menggenggam tangan Rei yang ada di atas kepalanya itu. Lalu dengan cepat, tangan yang satunya lagi Dennis angkat untuk mencekik leher Rei.
Seketika setelah melihat Dennis mencekik Rei dan menjatuhkan temannya kembali ke tanah, tiba-tiba saja Adel berteriak memanggil nama Rei.
Teriakan Adel sempat terdengar oleh Mizuki yang ada di lantai dua. Mizuki melirik ke arah jendela yang ada di sampingnya. Ia melihat keluar jendela ada Rei yang sudah terjatuh di tangan Dennis. Mereka berdua ada di tengah Lapangan. Mizuki bisa melihat mereka berdua lewat kaca jendela di lantai dua.
"Reeei!" Mizuki juga berteriak sambil memukul-mukul jendela kaca di depannya.
"Oh iya~ Dia akan segera mati, loh!" Diana berujar, lalu tangannya ia tempelkan ke jendela. Seketika bayangan hitam muncul dari telapak tangannya.
Mizuki terkejut. Karena setelah munculnya bayangan itu, tiba-tiba saja muncul dua hantu lain di dekat Rei dan Dennis. Dua hantu itu adalah hantu Sadako dengan rambut panjangnya, dan Hantu Teke-teke dengan kelincahannya.
"Tidak!" Mizuki terlihat semakin panik. Karena ia tahu, Diana mengirimkan dua hantu itu untuk membantu Dennis mengalahkan Rei. Sekaligus membunuhnya!
*
*
*
To be Continued-