
Tap tap tap....
Rei akhirnya sampai ke tempat tujuannya, yaitu kamarnya sendiri. Tadinya, ia ingin bertemu dengan Dennis.
Saat di depan pintu, Rei membuka pintu kamarnya. Tapi saat di lihat ke dalam kamar, Dennis tidak ada di sana. Tidak ada siapapun di kamar itu.
Lalu karena Rei tidak menemukan Dennis di sana, ia pun kembali menutup pintu kamarnya lagi. "Haduh... merepotkan sekali. Di mana sih anak itu sekarang?" Gumam Rei setelah menutup pintu.
Rei berbalik badan. Ia akan kembali ke lantai satu. Memasukan kedua tangan ke dalam saku celananya, lalu berjalan santai ke arah tangga. "Kalau Dennis tidak ada di kamar, lalu di mana lagi dia? Aku yakin dia tadi berlari ke arah kamar, kan?" Pikir Rei.
DRRRTTT.... DRRRTTT....
"Eh?" Tiba-tiba Rei merasakan getaran ponsel di saku celana kanannya. Tangan Rei yang ada di dalam sakunya itu pun langsung mengambil ponselnya.
Dari depan, terlihat cahaya hijau kecil yang berkedip-kedip. Itu tandanya ada telepon masuk ke ponselnya. Rei membuka telepon genggamnya itu, lalu menyalakan layarnya.
Dilihat dari layar, tertulis nama 'Wibu abal-abal' di sana. Anggap saja itu Akihiro lah! Yap, ternyata memang benar Akihiro.
"Hmm... gak biasanya Akihiro menelponku. Ah, pasti dia mau main-main lagi! Ah, tidak usah diangkat lah!"
Rei tidak mengangkat telepon dari temannya itu. Dia malah mengabaikannya dan membiarkan nada dering di ponselnya itu terus berbunyi. Rei kembali memasukan ponsel ke dalam saku celananya lalu kembali berjalan menuruni tangga untuk mencari seseorang.
****
"Eh? Rei tidak bisa dihubungi, Bu! Bagaimana ini?" panik Akihiro. Ia kembali menutup ponselnya yang ia gunakan untuk menelpon Rei sebelumnya. Lalu matanya melirik ke arah seorang wanita muda yang ia panggil Ibu Guru itu.
"Ah, kenapa dia mengabaikan teleponnya?! Tidak biasanya. Kalau begitu, biar Ibu saja yang menelponnya." Ibu guru yang bernama Bu Bina itu membuka layar ponselnya.
Bu Bina adalah guru khusus Matematika dan Seni Budaya. Ia dikenal sebagai guru yang galak di sekolahnya. Para murid menjulukinya Guru Rotan, karena ke mana dia selalu membawa kayu tipis panjangnya itu. Ia suka marah-marah dan membentak muridnya. Kan terlihat seram kalau dia marah. Apalagi kalau kena pukulan dari tongkat yang ia bawa itu.
Sekarang ini, Bu Bina sedang menggeser sidik jari telunjuk di layar ponselnya untuk mencari nomor Rei. Akhirnya ketemu. Bu Bina menekannya dan seketika dia akhirnya bisa menghubungi Rei.
****
Saat ini Rei sudah sampai di lorong ke 3 yang ada di lantai paling bawah. Lorong itu dekat dengan UKS dan Ruang Laboratorium. Di sana, tiba-tiba saja ponselnya kembali berbunyi lagi.
"Ah! Anak itu benar-benar, ya? Mau ngapain sih?!" Rei mulai kesal. Soalnya dari awal ia juga sudah dibuat kesal oleh Akihiro dan sekarang ia pikir si Akihiro itu ingin mempermainkannya lagi.
Dengan cepat, Rei pun mengambil ponselnya. Tanpa melihat ke nama orang yang menelpon, Rei yang sudah terlanjur kesal itu langsung mengangkat telponnya begitu saja.
"Apaan sih?! Dari tadi tidak bisa diam! Sekarang kau benar-benar ingin ku pukul, hah?!"
[ Eh? Ini benar-benar kamu, kan, Rei? Kok kamu membentak Ibu?! Apa kamu mau balas dendam sama Ibu ya?! ]
Rei terkejut saat mendengar suara seorang wanita yang tidak asing di telinganya. Lebih tepatnya itu suara wali kelasnya dulu.
"Bu, Bu Bina?! Ma, maaf! Saya pikir tadi si Dian yang menelpon." Rei panik. Tangannya yang memegang ponselnya itu gemetar.
[ Dian siapa?! Memangnya kamu gak lihat nomor Ibu, apa?! ]
"Saya tidak sempat melihatnya, Bu! Maaf!"
[ Hah, sudahlah. DARI TADI KE MANA SAJA KAMU?! DI TELEPON GAK PERNAH MASUK! Kamu mengabaikan Ibu, hah?! ] Bu Bina membentak lagi lewat telepon.
Rei tersentak. Ia menjawab cepat, "Sa, saya sedang sibuk. Ah, memangnya ada perlu apa, Bu?"
[ Kamu sekarang ada di mana? ]
"Saya di... Sekarang ini saya sedang ada di lorong dekat UKS. Ibu meminta saya untuk ke mana, nih?"
[ Ternyata dekat juga. ] Bu Bina bergumam. [ Sekarang kamu ke belakang kantin. Di sini... hah, ada murid yang meregang nyawa dengan cara bunuh diri. ]
Rei terkejut. "Eh? Lagi?! Tapi... kasus pertama belum saya selesaikan, Bu!"
[ Tidak apa, sekarang kamu ke sini saja dulu. Ibu tunggu. Karena Ibu juga ingin menelpon polisi. Dunia ini semakin aneh saja! ]
"Baik Bu! Segera. Saya jalan sekarang!"
TUT!
Bu Bina mematikan teleponnya. Begitu juga dengan Rei. Ia memasukan kembali ponselnya ke dalam saku, lalu langsung berlari secepat yang ia bisa untuk ke tempat yang disuruh gurunya itu.
****
Saat sampai di tempat kejadian, Rei langsung menghampiri Bu Bina yang ada di dekat mayat itu. Ia menerobos kerumunan yang lagi-lagi para murid penasaran yang ingin melihat kejadian itu.
"Bu! Saya datang secepat yang saya bisa!" seru Rei. Ia berdiri di samping Bu Bina.
Bu Bina menengok ke arahnya. "Nah, bagus. Kamu memang anak yang paling bisa diandalkan. Sekarang, kamu coba selidiki kejadian ini. Ibu akan menelpon polisi untuk membantumu menyelesaikan kasus ini."
Bu Bina menekan-nekan ponselnya. Ia mengetik sesuatu. Tadinya, beliau ingin pergi ke tempat yang lebih sepi untuk menelpon. Tapi sebelum itu, ia kembali memanggil Rei. Rei pun langsung datang menghampiri guru itu.
"Ada apa, Bu?" tanya Rei.
"Itu Rei.... Ibu sudah mengetahui saksi dari kejadian ini. Kamu bisa tanya ke dia saja." Jawab Bu Bina cepat sebelum telepon dari polisi itu terangkat.
"Si, siapa saksinya itu?"
"Ah itu si..."
[ Halo? Ini dari pihak kepolisian daerah ***. Ada yang bisa kami bantu? ]
Belum sempat menjawab sepenuhnya, tiba-tiba saja polisi yang Bu Bina telpon itu langsung mengangkatnya. Bu Bina langsung menjauh dari Rei. Ia tidak melanjutkan perkataanya itu.
Rei hanya terdiam. Lalu ia kembali menghampiri mayat yang tergeletak tidak bernyawa itu. Setelah beberapa menit mengamati mayat itu, Rei pun menengok. Ia mencari seseorang.
"Ah, pak satpam!" teriak Rei sambil mengacungkan tangan kanannya. Ia memanggil petugas penjaga yang ada di sekitarnya.
"I, iya? Ada apa?" Pak Satpam itu menghampiri Rei.
"Maaf, pak? Bisakah anda bantu saya?"
"Bantu apa, ya, Dek?"
"Tolong bubarkan semua kerumunan ini, lalu bantu saya membawa korban ini ke tempat lain." Pinta Rei.
Pak Satpam itu mengangguk. Lalu ia menjalankan perintah Rei. Pak Satpam itu akhirnya bisa menjauhkan semua murid yang berkumpul. Lalu tak lama kemudian, bel masuk kelas berbunyi. Saatnya memulai pelajaran ke 3.
Semuanya berlari memasuki kelas masing-masing. Karena semua murid di sekolah itu merasa takut kalau terlambat masuk kelas.
Setelah semuanya pergi, keadaan di sekitar Rei jadi sepi. Sekarang yang tertinggal di sana hanya ada Rei dengan si murid malang yang diduga bunuh diri itu.
Tak lama kemudian, Pak Satpam yang tadi datang kembali menghampiri Rei. Rei sedikit mengeluarkan senyumnya untuk Pak Satpam yang telah membantunya itu. "Sudah pak?"
"Iya. Apakah ada yang bisa saya bantu lagi?"
"Ah, terima kasih. Sekarang, tolong bantu saya membawa murid ini ke tempat lain." Pinta Rei lagi dengan ramah.
"Tapi, Dek, sebelumnya murid ini sudah dipindahkan." Ujar Pak Satpam itu.
Rei terkejut. "Maksud bapak apa, ya?"
"Emm... sebenarnya anak ini ditemukan oleh seseorang. Sebelumnya anak ini tergeletak di dekat menara tua di sana itu. Lalu baru saja tadi saya pindahkan ke sini. Ke tempat yang lebih luas." Jelas Pak Satpam itu.
Rei sedikit berpikir. Lalu ia kembali bertanya pada Pak Satpam itu, "Emm... siapa nama orang yang telah menemukan anak ini? Pasti dia saksi yang melihat kematian anak ini, kan?"
Pak Satpam itu mengangguk. "Iya, Dek. Tadi ada seorang murid cowok. Dialah yang melihat kejadiannya. Dia itu...."
"Aku yang melihatnya."
Rei tersentak. Tiba-tiba ia mendengar suara orang yang berbicara. Suaranya tidak asing lagi baginya. Lalu dengan cepat, Rei menengok ke belakangnya.
"Akulah saksi yang kau cari itu. Benar, kan... Rei?" Seorang lelaki berambut coklat muncul. Seorang anak yang suka bertingkah. Teman dekatnya Dennis. Mantan pacarnya Mizuki. Tak salah lagi. Orang itu adalah Akihiro Daisuke!
*
*
*
To be Continued-