Chika'S Terror In The School

Chika'S Terror In The School
Episode 77– Pembentukan Rencana, part 2


Author note: Cerita ini hanya fiksi. Jadi jangan dianggap kejadian di dalamnya bersifat nyata. Semua adegannya tidak benar ada! Cerita ini dibuat dari imajinasi author saja.


*


*


*


"Baiklah! Kita lanjut," Akihiro kembali menunjuk ke kertas gambarnya dengan pensil. Kali ini, ia menunjuk ke bagian belakang gedung 1. "Di sini! Tempat ini adalah gudang belakang sekolah."


"Iya kami tahu. Lalu apa?"


"Di dalam gudang ini, ada para guru yang dijadikan sandera di dalam sana. Makanya saat di hari pertama ujian, kita tidak melihat guru lain yang mengawasi. Itu karena guru-guru di sini ditahan untuk sementara agar mereka tidak bisa melapor." Jelas Akihiro.


"Tapi... kenapa Ibu kantin masih ada di sini?" tanya Mizuki heran. "Dia tidak ditangkap, apa memang Ibu kantin berhasil melarikan diri dan bersembunyi?"


"Oh, Ibu kantin yang memberitahu ku. Katanya dia memiliki tugas untuk memberi makan kita semua. Makanya, Ibu kantin dibiarkan. Tapi dengan syarat, dia tidak boleh membocorkan rahasia yang dimiliki Bob."


"Informasi?"


"Iya. Seperti tentang, letak CCTV yang aku jelaskan tadi, lalu tempat persembunyian si Bob, tempat guru-guru ditahan dan cara untuk keluar dari sekolah ini!" Jawab Akihiro.


"Jadi... Ibu Kantin juga tahu cara keluar dari tempat ini?" tanya Rei tidak percaya.


"Iya. Karena... sebelumnya, Ibu kantin ini pernah masuk ke dalam ruangan si Bob. Makanya dia tahu dan sekarang dia ingin membantu kita semua. Makanya kalian jangan sampai berisik. Bersikaplah seperti anak biasa. Dan jangan sampai Bob mengetahui rencana kita. Bisa-bisa... nanti Ibu kantin jadi korban karena kita."


"Eh, korban?"


"Iya. Karena kalau Ibu kantin membocorkan rahasia ini, maka dia akan dibunuh. Maka dari itu, aku menunjuk beberapa anak perempuan untuk melindungi Ibu kantin."


Akihiro melihat kertas berisi informasi temannya yang ia catat. Lalu tak lama, ia akan menunjuk beberapa anak perempuan yang akan ia tugaskan. "Akan aku pilih 5 perempuan itu. Pertama, Adel, Lala, Nadya, putri dan Rasya. Kalian berlima, ditugaskan hanya untuk melindungi Ibu kantin. Jika ada yang menyerang Ibu kantin, maka salah satu dari kalian harus berlari untuk memberitahu temanmu yang lainnya untuk menolong. Mengerti?"


Kelima anak yang baru dipilih oleh Akihiro pun mengangguk paham.


Setelah itu, Akihiro akan melanjutkan untuk memilih tugas pada anak-anak lainnya. Ia kembali melihat ke gambaran rencananya lalu mengangguk pelan. Setelah itu, Akihiro kembali membuka mulut. "Itu saja sepertinya. Tujuan kita adalah, pertama membebaskan guru-guru, lalu mengalahkan anak buahnya Bob, dan setelah itu baru ke tujuan utama kita, yaitu... menangkap Bob langsung! Kita pojokan dia di ruangannya. Setelah itu, kita paksa dia untuk mengembalikan sinyal yang sudah ia hack. Lalu setelah itu, beberapa anak yang bisa menggunakan ponsel secepatnya langsung menghubungi polisi dan meminta bantuan."


"Dan satu lagi... aku akan memilih 3 orang untuk menyelinap keluar dari sekolah ini secara diam-diam. Kalau aku lihat dari informasi kemampuan kalian yang sudah aku catat, 3 orang yang ahli dalam menyelinap itu adalah... Arya, Rashino, dan Khanza!"


"Ka–kakak? Kenapa aku?" tanya Khanza ragu. Ia terlihat tidak percaya diri dan kalau dilihat dari wajahnya, anak perempuan dari kelas 2-A itu memiliki sikap yang penakut.


"Iya tentu saja kamu. Karena aku percaya padamu. Katanya kau paling pintar main petak umpet, kan? Nah! Tugasmu yang ini sangat cocok untukmu." Ujar Akihiro berusaha untuk menyemangatinya.


"Ta–tapi Kak Dian... aku takut. Bagaimana kalau para penjahat melihatku nanti. Aku kan tidak bisa berlari cepat." Khanza menunduk dan mengetuk kedua jarinya ke depan.


"Kalau soal itu tenang saja. Kau dikelilingi oleh dua orang hebat yang akan melindungi dan membantumu." Ujar Rashino sambil mengelus-elus dan sesekali menekan kepala Khanza. Arya juga mendekati teman sekelompoknya itu. "Iya. Kau tenang saja. Kita bisa bekerja sama."


Akihiro tersenyum setelah melihat Khanza juga tersenyum dan perasaannya juga sudah membaik. Dia jadi lebih percaya diri karena dalam tugasnya, dia tidak sendirian. Khanza masih memiliki teman yang juga memiliki tugas yang sama sepertinya.


"Baiklah, baiklah! Sekarang untuk anak yang lainnya. Untuk semua yang belum mendapatkan tugas adalah Mizuki, Nashira, Lania, Mizan, Rizky, Oliva, Shinta, Morin, Queen, Azra dan Rangga. Kalian ber... ber... bersebelas, haha... Ah, sudahlah. Intinya kalian-kalian yang masih belum memiliki tugas, maka akan aku berikan sekarang juga. Apa kalian ingin tahu apa tugasnya?"


"Apa tugas untuk kami, Kak Dian?" tanya Rangga dengan penuh semangat.


"Aku senang dapat pertanyaan seperti itu. Nah, tugas kalian adalah... menjaga keadaan dari atas atap. Dari atas atap, tentu kalian bisa melihat satu lingkungan sekolah, kan? Nah, saat di atas, kalian harus berjaga. Jika ada yang memerlukan bantuan, segera bergeraklah untuk menolong."


"Dan... tugas lain untuk anak penolong itu adalah para anak laki-laki. Jika ada yang meminta pertolongan, maka salah satu dari lelaki di kelompok kalian harus turun dari atap dan menghampiri orang yang sedang memerlukan bantuan. Ingat! Kalian harus kerja sama dan jangan ada yang egois. Akan aku beritahu letak kalian di mana saja."


"Untuk Mizuki, Nashira, Mizan, Rizky, Lania, kalian berjaga di atap gedung 1. Dan untuk Oliva, Shinta, Queen, Azra dan Rangga, kalian berjaga di gedung 2. Ingat tempatnya, ya?"


Tapi tiba-tiba saja ada satu pertanyaan yang dilontarkan dari Nashira. Ia bertanya, "Kapan kita akan memulai rencana ini?"


Akihiro tersenyum. Ia sangat menunggu pertanyaan itu. Dengan cepat, Akihiro menjawab, "Malam ini! Sekitar jam 9. Semuanya nanti tidak usah berkumpul bersama lagi. Setelah waktunya, kalian langsung pergi ke tempatnya masing-masing."


"Dan untuk kelompok penyerang Bob, kalian berkumpul dahulu di belakang belakang gedung 1. Karena saat jam 9, aku akan ada di sana. Kita kan akan pergi bersama-sama agar aku juga bisa memberitahu lokasi persembunyian si Bob itu."


"Oh, oke." Rei mengangguk paham. Tapi ada satu yang terlewat. "Tapi... bagaimana dengan CCTV-nya?"


"Soal CCTV jangan khawatir. Seperti yang kubilang sebelumnya, CCTV itu hanya kebanyakan berada di tempat yang luas. Sedangkan kalau di tempat sempit seperti Belakang sekolah, gudang, atau ruangan lainnya tidak akan ada. Makanya aku mengumpulkan kalian di belakang gedung 1 saja. Lagi pula, tempat itu dekat dengan kamar kalian masing-masing, kan?"


"Oh, iya juga." Rei mengangguk. Begitu juga dengan kelompok Akihiro yang lainnya.


Baik, sebelum dibubarkan, Akihiro ingin memberitahu penjelasan lainnya. "Satu lagi, ya? Untuk kelompok yang berjaga di atap tetap harus berhati-hati. Karena CCTV kan ada di setiap lorong. Maka dari itu, agar lebih mudah, kalian harus pergi ke kamar seseorang yang berada di lantai 4. Yaitu lantai paling atas gedung 1. Kira-kira... dari kelompok penjaga yang menetap di gedung 1 itu siapa saja tadi?"


Mizuki menjawab, "Aku, lalu Nashira, Mizan, Rizky, dan Lania saja."


"Oke. Untuk kalian berlima, kalian harus menetap di kamar lantai 4 agar kalian lebih mudah langsung menuju ke atap lewat tangga. Kira-kira... kamar siapa diantara kalian berlima yang berada di lantai 4?" tanya Akihiro.


Semua orang dari kelompok penjaga tidak ada yang menjawab. Sebagian besar, mereka memiliki kamar di lantai 1. Dan yang ada di lantai paling atas hanya Lania saja, yaitu lantai 3.


"Ah, sepertinya tidak ada, ya?" Akihiro tertawa kecil. "Baiklah... kalau begitu, untuk sementara kalian menumpang dulu di kamar siapa gitu yang ada di lantai 4. Bisa, kan?"


"Oke baiklah. Tidak masalah."


"Baik. Terimakasih atas kerja samanya. Dan begitu juga dengan kelompok penjaga gedung 2. Lakukan hal yang sama."


"Tenang saja Dian." Shinta mengacungkan jempolnya. "Kamarku kan ada di lantai 4. Jadi semua kelompokku akan berkumpul di sana mulai dari sore hari!"


"Nah! Itu bagus sekali. Dan oh iya! Bagi kelompok penjaga Jangan lupa juga membawa peralatan yang bisa digunakan untuk menyerang." Ujar Akihiro lagi.


"Senjata seperti apa, kak Dian?" tanya Rangga.


"Senjata apa saja. Seperti sapu, kumpulan buku-buku, dan peralatan lainnya, deh."


"Oke! Akan kami siapkan!"


"Good!" Akihiro mengacungkan jempol. Lalu setelah itu ia memiringkan kepalanya. Melirik ke arah kelompoknya Dennis yang sedang berdiskusi. "Dan untuk kelompok penghancur robot botak sudah siap belum dengan rencana kalian?"


"Tentu saja siap!" Ethan mengangguk. "Semua ini berkat rencana dari Dennis juga."


Dennis tertawa kecil dan ikut mengangguk juga. Akihiro merasa senang semua teman-temannya masih bisa diandalkan untuk mengikuti rencana yang sudah ia bikin. Dan sekarang ini, mereka hanya tinggal menunggu malam tiba!


"Malam ini, bersiaplah Bob! Karena aku akan menghabisi dan membalas perbuatanmu!" tegas Akihiro dalam hati. Ia tidak sabar menunggu matahari terbenam dan munculnya bulan di langit yang gelap.


*


*


*


To be Continued-


Follow IG: @pipit_otosaka8