
"Akihiro di mana Bus-nya?!"
"Entahlah, Rei!" Akihiro menggeleng sambil mengibaskan tangannya ke depan. "Kan aku ini bukan sopirnya. Aku tidak tahu Bus itu ada di mana."
"Hmm... sepertinya Bus di sini jarang sekali lewat. Dan sepertinya, setelah 2 jam yang lalu sudah tidak ada lagi kendaraan yang lewat. Kenapa jalanan di sini sepi sekali?" Yuni bergumam.
Rei kembali melepaskan Akihiro, lalu ia kembali duduk dengan tenang di kursi tunggu di Halte itu. "Huh, kita bisa terlambat ke sekolah ini!"
"Yah... andaikan saja kita jalan kaki dari tadi." Akihiro menimpali.
"Kan kau sendiri yang menyuruh kita untuk naik Bus! Ini semua salahmu!"
"Hei, Rei... kan kamu juga ngapain mau ikut sama aku?"
"Aku pikir kau tahu kalau naik Bus itu lebih mudah. Ternyata kita malah membuang waktu di sini!"
"Lihat! Baru jam 5 sore. Kita masih ada waktu."
"Masih ada gundulmu! Kita di sini sudah lebih dari 3 jam tahu!"
Rei dan Akihiro terus berdebat. Mereka saling menyalahkan tanpa henti. Yuni yang ada di dekat mereka berdua hanya bisa diam saja sambil menutup telinganya. Karena percuma saja jika Yuni menegur kedua temannya itu.
Lalu tak lama kemudian, ada sebuah mobil Van yang berhenti di depan halte itu. Akihiro dan Rei menghentikan pertengkaran mereka, dan langsung menengok ke arah mobil setelah mobil itu membunyikan klaksonnya 3 kali berturut-turut.
Yuni berdiri dari tempat yang ia duduki. Lalu berjalan pelan sampai ke samping tempat Rei berdiri. Tak lama setelah mobil itu berhenti, tiba-tiba kaca mobil di pintu belakang terbuka. Terlihat di sana ada Adel dan juga Mizuki. Tak lupa juga dengan Sachiko yang duduk di bangku tengah.
Adel mengeluarkan kepalanya dan langsung membentak Rei dan Akihiro. "Kakak-kakak ini kenapa bertengkar mulu, sih?!"
"Eh? Adel?"
"Ayo kalian bertiga! Naik mobil kami. Kita ke sekolah sekarang. Tuh, tempat duduk di belakang sedang kosong." ajak Adel.
****
BRMMM....
Di tengah jalan–
Rei, Akihiro dan Yuni akhirnya mendapat tumpangan di mobil keluarganya Adel. Yang mengemudi mobil itu adalah Ayahnya Adel. Ada Ibunya juga di bangku paling depan.
"Terima kasih sudah membiarkan kami menumpang untuk ke sekolah." Ucap Rei.
"Ah, tidak apa-apa. Untuk teman baiknya Adel, saya rela melakukan apa saja untuk kalian, kok! Haha..." jawab Ibunya Adel dengan senang hati.
"Tapi, kenapa Ibu dan Bapak tahu kalau kami ingin ke sekolah?" tanya Yuni dengan nada datar.
"Oh... itu karena kami ingin menyelamatkan anak kami." Ibu Adel tertawa sambil terkekeh. "Kalian bertiga juga ingin melakukan hal yang sama, kan?"
Rei tersentak. Ia menjawab, "Iya. Ta–tapi bagaimana Ibu bisa tahu?"
"Hei, Mizuki. Apa kau yang memberitahu Ibunya Dennis soal itu?" bisik Akihiro pada Mizuki. Kebetulan, Akihiro duduk di belakang bangku Mizuki.
"Kami terpaksa," Mizuki menjawab dengan suara pelan. "Tapi Ibunya Ad terlihat tenang dan tidak panik, loh!"
"Oh iya. Kok aneh, ya?"
"Karena sebenarnya, anak itu datang. Dia kembali lagi untuk membalas dendam pada anak saya." Ibu Adel menjawab pertanyaan Rei tadi.
"Eh? Siapa anak itu?"
"Anak baru di sekolah kalian. Siapa lagi kalau bukan si Diana itu?"
"Apa? Ibu kenal dia?"
"Iya. Dia... adalah kekasihnya anak saya, Dennis. Wanita itu sudah lama sekali bersama dengan Dennis. Dari pertama kali mereka bertemu itu saat awal Dennis SMP, kalau tidak salah. Lalu mereka mulai menjalin hubungan sejak mereka masuk SMA." Ibu Adel menjelaskan. Lalu beliau menengok ke belakang. Menatap semuanya yang duduk di belakangnya.
"Yah... seperti itulah. Kalian pasti terkejut, ya?" Ibu Adel tersenyum.
Akihiro mengangguk. "Iya, sedikit."
Rei sedikit menunduk. "Jadi begitu. Pantas saja Dennis selalu merasa takut saat di dekat gadis itu. Mungkin ia masih terkejut karena mendadak kedatangan mantannya." Pikir Rei dalam hati.
Lalu Rei kembali mendongak, menatap Ibunya Adel dan bertanya, "Tapi... kenapa Diana itu punya niat ingin balas dendam pada Dennis?" tanya Rei.
"Mungkin karena kelakuan Dennis padanya. Karena dulu... Dennis telah mendorong Diana ke jurang. Dennis tidak sengaja melakukan itu. Karena dari awal, Diana memang sudah ada niat untuk membunuh Dennis. Maka dari itu, untuk mencegahnya, secara tidak sengaja Dennis pun mendorong Diana masuk ke dalam jurang. Saat itu, Diana sudah dianggap tidak ada lagi di dalam kehidupan Dennis. Karena ia pikir, Diana sudah meninggal saat itu. Tapi entah kenapa, dia bisa kembali lagi." Jelas Ibunya Adel.
"Tapi bagaimana Ibu bisa tahu kalau Dennis yang sudah mendorong si Diana itu?" tanya Akihiro tak percaya.
Rei mengangguk paham. "Oh jadi begitu. Aku mengerti sekarang. Tapi kok ada yang aneh, ya?" Ia berpikir di dalam hati. "Kenapa saat Ibunya Dennis bercerita seperti itu, ia tidak mengeluarkan ekspresi apapun. Apalagi saat ini kan anaknya diculik oleh si penjahat kecil Diana itu, tapi kenapa Ibunya terlihat tenang saja. Seakan, ia sudah mengetahui rencana si Diana."
"Apa dia tahu banyak tentang Diana? Apa aku harus lebih memperhatikan Ibunya Dennis ini?"
"Nah, kita sudah sampai! Di sini kah seolah kalian?"
Rei yang sedang berpikir tiba-tiba saja terkejut karena Ayahnya Adel mendadak malah menegur mereka. Ayahnya Adel menginjak pedal rem dan secara perlahan, mobil pun berhenti tepat di depan jalan sepetak menuju sekolah.
Setelah mobil berhenti, semua penumpang yang ada di dalamnya pun keluar. Lalu setelah semuanya keluar, mereka semua langsung berjalan masuk ke dalam hutan dengan melewati jalan sepetak yang dikelilingi oleh semak.
Rei dan Adel langsung saja berlari karena mereka merasa ada yang tidak beres dengan sekolah mereka saat ini. Setelah melihat Rei dan Adel berlari melewati semua orang yang ada di sana, seketika Yuni, Mizuki dan adiknya, juga Akihiro pun ikut berlari.
Kecuali dengan ibunya Adel. Beliau berjalan santai sekali. Ayahnya Adel tetap di depan. Dia akan menetap di sana untuk menunggu mobilnya di pinggir jalan.
****
Akhirnya sampai di depan gerbang sekolah. Gerbangnya tertutup dan juga terkunci dari dalam. Semuanya tidak bisa masuk. Lalu Akihiro pun berteriak memanggil Pak Satpam yang ada di dalam.
"Paak! Bapak Satpam! Halooo! Ada yang bisa membukakan kami pintu gerbang sekarang?"
"...."
Tidak ada jawaban apapun dari dalam. Jika gerbang depan tidak bisa terbuka, lalu mereka mau masuk lewat mana?
Akihiro dan Rei sudah mendobrak gerbangnya. Tapi tetap tidak bisa. Karena gembok gerbang itu lumayan besar dan tidak mungkin bisa dibuka dengan mudah tanpa kuncinya.
"Haduh... tidak bisa masuk! Ah payah! Kita sudah susah-susah sampai ke sini!" geram Akihiro sambil menendangi gerbang sekolahnya.
"Eh, anak-anak sebelah sini!" Ibu Adel berseru. Ia ternyata menemukan jalan untuk masuk ke dalam tanpa harus melewati gerbang. Yaitu dengan cara memanjat tembok pembatas. Kebetulan juga, beliau menemukan batu besar yang bisa digunakan sebagai injakan untuk bisa memanjat tembok pembatas.
Semuanya mengikuti cara Ibunya Adel itu. Lalu untuk memberitahu caranya masuk dengan memanjat tembok pembatas, Ibu Adel akan masuk duluan ke dalam sekolah itu.
Lalu diikuti oleh yang lainnya di belakang. Ibu Adel berhasil sampai di atas tembok. Ia berdiri di atas sana, lalu dengan hati-hati ia akan melompat ke bawah.
Tapi setelah sampai di tanah, tiba-tiba saja Ibu Adel terjatuh karena ia telah menginjak sesuatu yang licin yang telah membuatnya terjatuh.
"Ibu! Anda baik-baik saja?" tanya Rei dari atas tembok.
"Iya, aduh! Ibu hanya terpeleset. Kalian hati-hati! Karena mungkin di bawah sini ada lumut yang licin!" Ibu Adel memperingati. Lalu ia kembali berdiri sambil menepuk-nepuk bagian belakangnya yang kotor.
Setelah itu, Ibu Adel melihat telapak tangannya yang bekas membersihkan bajunya tadi. Beliau terkejut karena... di telapak tangannya itu terdapat bercak darah.
"Eh? Aku terjatuh sampai berdarah seperti ini, kah?" gumamnya sambil menengok ke belakang untuk memeriksa baju belakangnya yang kotor.
Tapi sebelum melirik ke arah bajunya yang kotor, Ibu Adel sempat melirik ke arah tembok yang tadi ia panjat. Beliau kembali terkejut. Lalu secara tidak sengaja, ia pun berteriak mengejutkan semuanya yang sedang memanjat tembok pembatas.
Karena melihat Ibu Adel sudah terlihat seperti orang yang ketakutan, Rei pun turun duluan untuk memeriksa keadaanya. "Ibu, Ibu kenapa? Tenang dulu, tenang!"
"I–itu! Di sana... di sana...."
Ibu Adel menunjuk. Rei pun melirik ke arah objek yang ditunjuk Ibunya Adel itu. Seketika Rei langsung mengerutkan keningnya dan mengecilkan pupil matanya. Ekspresi terkejut itulah yang dikeluarkan Rei.
Karena ada hal mengerikan yang ia lihat di hadapannya. Yaitu, di bawah tembok pembatas itu telah ditemukan mayat si Pak Satpam yang biasanya suka menjaga gerbang.
Pak Satpam itu meninggal dalam keadaan yang tak wajar. Tubuhnya tergeletak di sana dengan perutnya yang sudah terkoyak dan isi dalamannya keluar. Sepertinya, sesuatu yang licin yang telah diinjak Ibunya Adel tadi adalah... usus yang keluar dari tubuh Pak Satpam itu.
Pada akhirnya, semuanya berhasil memasuki lingkungan sekolah. Yang terakhir adalah Sachiko. Anak kecil itu sedang digandeng oleh Mizuki saat ini. Mereka semua juga terkejut saat melihat mayat itu.
"Ikh! A–apa ini?! Apa yang telah terjadi di sini?" Akihiro tiba-tiba saja berteriak ketakutan saat ia melihat mayat itu.
"Ooh~ Jadi kalian semua sudah datang, ya?"
Ada suara seorang wanita dari dalam gedung sekolah. Semuanya mencari asal suara itu. Dan akhirnya, Rei lah yang menemukan asal suaranya.
Matanya yang tajam telah melihat sosok Diana yang sedang berdiri di jendela lantai dua di gedung satu. Gadis berambut putih itu, tersenyum sinis pada semuanya.
"Khu~ khu~ Karena semuanya sudah datang, bagaimana kalau kita mulai permainannya?"
*
*
*
To be Continued-